
"Tuan Lina?" sapa Alya dalam sambungan teleponnya.
Lina tersenyum bahagia seraya menjawab, "Nona Alya Ramadhani, apakah kamu masih ingat aku?"
"Tentu saja! Kamu penyelamatku. Bagaimana aku bisa melupakanmu?" ucap Alya merendahkan dirinya. "Ngomong-ngomong, Tuan Lina, bagaimana Anda tahu nomor teleponku?" tanya Alya penasaran. Seingatnya ia tidak memberikan nomor ponselnya saat itu, serta ia tidak pernah memberikan pada sembarang orang.
"Apakah kamu lupa? Aku memintanya kemarin," kelakar Lina.
Alya bergumam pada dirinya sendiri, "Apakah aku melupakan ini saat aku mabuk kemarin?"
Lina mengubah topik pembicaraan, "Nona Alya Ramadhani, alasan aku menelepon hari ini karena aku ingin mengundang Anda makan."
Alya tampak menyesal karena tidak bisa, padahal ia masih berhutang pada dia.
"Maaf, aku tidak punya waktu hari ini. Aku sedang sibuk dengan pekerjaan sekarang, dan aku akan pergi makan malam dengan rekan- rekanku malam ini." Alya seharusnya tidak menolak undangan itu untuk bentuk terima kasih pada dia, tapi ia benar-benar tidak punya waktu.
"Oh begitu." Lina seperti kekecewaan terlihat jelas dalam nadanya.
"Luna, itu bukannya PT. FF ada di depan. Mengapa kita tidak turun ke sini dulu?" ajak Alya.
__ADS_1
Lina mengangkat alisnya ketika ia mendengar apa yang diucapkan oleh Alya.
"Benar, kita turun di sini saja," ucap Luna pada sopir taxi.
Alya turun dari Taxi bersama Luna. Saat ia tidak mendengar ada suara di ponselnya, ia bergumam, "Aku tidak menutup telepon. Mengapa tidak ada suara?"
"Ehem, aku masih di sini." Lina menyahut cepat.
Alya merasa malu dan berkata, "Oh, maaf. Lagi pula, aku harus kembali bekerja sekarang. Aku akan menelepon kamu lain kali."
Saat Alya hendak menutup telepon seketika Lina bertanya, "Apakah kamu ada di PT. FF?"
Lina tersenyum saat ia mendengar ucapan Alya dari sambungan teleponnya.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Selamat bekerja," ucap Lina. "Aku akan menantikan pertemuan kita berikutnya," lanjut Lina.
"Uh, aku juga menantikannya." Alya tersenyum dan menjawab dengan sopan.
Lina mengakhiri panggilan dan melempar ponselnya ke samping. Matanya menyipit dan melesat ke sekeliling saat ia menggosok dagunya, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Duduk di sofa, seorang pria yang sedang merokok cerutu berkata dengan suara serak, "Apakah ini idemu? Mendekati wanita Dama, lalu mendekatinya?"
Lina melirik pria itu dan berkata dengan datar, "Hari Santosa, Anda hanya rekan bisnis saya. Urusan pribadi saya tidak ada hubungannya dengan Anda."
Ada sedikit peringatan dalam kata-katanya, untuk rekan bisnisnya itu.
Hari tersenyum dan mengangkat tangan. "Oke, saya tidak akan bertanya tentang rencana Anda, tetapi jika Anda membutuhkan bantuan, Anda dapat datang kepada saya kapan saja. Anda tahu bahwa Anda dan saya memiliki satu pikiran tentang Damaputra jadi saya akan mencoba yang terbaik untuk membantu Anda dimanapun aku bisa."
Lina mengerutkan kening dan tidak mengatakan apa-apa.
Pada saat ini, seseorang mengetuk pintu.
"Tuan Muda Lina."
"Masuk!" perintah Lina
Lina bangkit, berbalik dan menuangkan segelas anggur di gelasnya yang sudah kosong.
Saat pintu terbuka, orang kepercayaan Lina masuk dan dengan sedikit menundukkan kepala lalu menatap seraya berkata, "Tuan Muda Lina ada tamu yang mencari Anda."
__ADS_1
"Bawa mereka masuk!" perintah Lina.