
Hari bangkit dan berkata, "Karena Anda memiliki urusan pribadi yang harus diselesaikan, saya tidak akan menghalangi Anda. Permisi."
Lina mengangguk dan Hari pergi.
Setelah kepergian rekan bisnis nya dua pengawal muncul di pintu, menyeret seorang pria berlumuran darah di antara mereka. Wajah pria itu sangat bengkak sehingga sulit untuk mengatakan seperti apa tampangnya. Pengawal menyeret pria itu ke sudut ruangan agar tidak menodai karpet mahal dengan darahnya.
Lina berjalan mendekat dengan segelas wine di tangannya dan berjongkok di depan pria itu. Cairan merah cerah menodai bibirnya, mengungkapkan sedikit kejahatan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia memiringkan gelas di tangannya dan wine dituangkan ke pria yang berlumuran darah.
"Aduh," keluh pria itu.
Pria di yang berada di lantai itu menjerit kesakitan saat wine mengenai lukanya.
Lina perlahan menuangkan wine ke pria itu sampai gelasnya kosong. Melihat pria yang tergeletak di lantai dengan kesakitan, ia mengulurkan tangannya dan asisten Lina segera mengambil gelas itu dari sang atasan.
"Apakah kamu masih mengingatku?" Lina tersenyum dan bertanya.
Pria di lantai mengangkat wajahnya yang bengkak dengan lemah dan menatapnya ketika ia akhirnya melihat pria yang tersenyum di depannya, seluruh tubuhnya bergetar, "Kamu!"
__ADS_1
Pria berlumuran darah itu adalah pencuri tempo hari.
Melihat keterkejutan dan ketakutan di mata si pencuri, Lina justru tersenyum.
"Kamu memiliki ingatan yang baik. Tidak ada yang berani menodongkan pisau ke arahku, dan tidak ada yang berani menyakitiku. Kamu yang pertama, jadi tentu saja, kamu perlu membayar harga itu, bukankah begitu?" ucap Lina menyeringai.
Setelah itu, dia bangun. Senyum di wajahnya menghilang, dan dia diam tanpa ekspresi.
"Bawa dia pergi dan patahkan anggota tubuhnya," perintah Lina.
Karena ketakutan, pencuri itu melemparkan dirinya ke depan, memeluk kaki Lina sambil berteriak, "Maaf! Jangan bunuh aku. Tolong jangan bunuh aku!"
"Kamu urus sisanya!" perintah Lina.
"Baik Tuan!"
Asisten Lina memberi isyarat pada kedua pengawal itu dengan matanya, dan mereka menyeret pencuri yang menangis keluar ruangan.
Lina langsung menuju ke dinding kaca yang besar, menghadap ke pejalan kaki yang padat seperti semut di bawah gedung-gedung tinggi. Ia memusatkan pandangannya pada titik tertentu, dan senyuman perlahan muncul di sudut mulutnya.
__ADS_1
"Alya Ramadhani," lirih Lina." Aku ingin kamu melakukan sesuatu," lanjut Lina yang bicara pada tangan kanannya itu seperti berbisik tidak ingin ada yang mendengar apa yang ia katakan.
Sementara di tempat lain, ini adalah pertama kalinya Alya datang ke perusahaan media hiburan. Semuanya begitu baru dan jelas baginya. Ia melihat foto-foto banyak selebritas populer yang terpasang di dinding-dinding perusahaan.
Di antara mereka ada bintang pria yang menjadi idola Melody. Alya diam-diam mengambil beberapa foto dari foto bintang pria itu. Ia akan mengirim foto itu ke Melody nanti untuk membuat dia bahagia.
Seseorang yang terlihat seperti sekretaris membawa mereka langsung ke sebuah ruangan.
"Tolong tunggu sebentar," ucap wanita itu pada Alya dan Luna. "Manajer kami akan segera datang," lanjutnya.
"Baik," jawab Luna sambil menatap sekretaris cantik itu keluar.
Setelah beberapa saat, seseorang yang tampak seperti seorang manajer masuk. Setelah berbasa-basi, mereka memulai diskusi.
"Presiden kita ada di kantor hari ini. Dia mendengar bahwa staf dari Damaputra Group ada di sini untuk membahas masalah ini, dan ingin berbicara dengan Anda secara pribadi jika Anda tidak keberatan," ucap laki-laki berperawakan jangkung itu.
Luna dan Alya tersentak kaget. Mereka saling menatap lalu beralih pada manajer.
"Presiden Anda akan menemui kami secara langsung?" tanya Luna dan Alya secara bersamaan.
__ADS_1