
Alya meneguk minumannya dan berkata, "Mungkin dia ingin bersantai juga melepas penat seperti yang lain."
Luna manggut-manggut.
"Ayo mainkan beberapa permainan," ajak Luna.
Alya tidak punya pilihan selain mengikutinya.
Mereka duduk mengelilingi meja berbentuk persegi panjang. Mereka berencana bermain Truth or Dare.
Alya tidak keberatan sejak dulu ia telah sering memainkan game ini di sekolah. Ia pikir lebih baik ia bergabung dengan mereka untuk berbaur agar lebih dekat lagi.
Di sisi lain, Tria datang ke sudut yang sunyi, ia segera mencari nomor kontak seseorang dan menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.
Butuh waktu cukup lama baginya untuk menyambungkan panggilan itu. Jelas, penerima pasti tidak mengharapkan ia menelepon pada jam ini.
"Tuan Dama, ini saya Tria." Tria menyapa dengan sopan saat panggilan yang ia lakukan terhubung.
Dama mengangkat alisnya seraya "Apa ada?" tanya Dama mengangkat alisnya seraya menghisap rokok yang ada di sela jari-jari tangannya.
"Ini tentang Nona Alya. Anda meminta saya untuk segera melapor kepada Anda jika dia memiliki aktivitas. Saya sekarang berada di ruang karaoke bersama dia dan rekan-rekan yang lain. Mereka akan bermain game sekarang. Saya telah merenungkannya dan memutuskan untuk memberitahu Anda," ucap Tria.
Suara di ujung telepon bergema di telinga Dama. Ada suara musik, teriak seseorang, dan segala macam kebisingan.
Dama menggosok alisnya pelan dan mendengus, "Maksudku saat dia di kantor, bukan setelah bekerja."
Tria ternganga bingung dan diam-diam menyalahkan dirinya sendiri, "Sialan, aku salah."
__ADS_1
"Maaf, Tuan Dama. Saya pikir …."
"Apa yang dia lakukan sekarang?" Dama menyela sebelum Tria bisa menyelesaikan ucapannya.
Tria tertegun.
"Apa?" tanya Tria.
"Karena kamu sudah meneleponku, katakan padaku, apa yang dia lakukan sekarang?" tegas Dama. Ia paling tidak suka harus mengulang apa yang ia katakan.
Tria sadar dan berkata, "Oh, dia sedang bermain kebenaran atau tantangan dengan rekan-rekan sekarang."
Dama mengangkat alisnya dan berkata, "Duduklah di dekat mereka, dan jangan tutup teleponnya."
Tria tersenyum licik dan berkata, "Baik, Tuan."
Jasmine bersandar lemah di pelukan Dama saat ini karena wanita itu sedang mabuk. Ketika ia berbicara di telepon, Jasmine mengulurkan tangan dan mengaitkan di leher Dama.q
"Dama," panggilan Jasmine manja.
Dama ingin mendorongnya menjauh, tetapi Jasmine memegang pinggangnya erat-erat dan membenamkan wajahnya di pelukannya.
Dengan cemberut, Jasmine merengek, "Aku pusing dan tidak enak badan. Kamu antar aku pulang, ya."
"Di mana asistenmu?" Dama bertanya dengan suara rendah.
"Aku tidak tahu."
__ADS_1
Jasmine memeluknya erat-erat, tidak mau melepaskannya. "Antar aku pulang, oke? Aku ingin tidur."
Dama mengerutkan kening dan melihat ke arah wajah Jasmine yang berada dalam pelukannya. Jasmine terlihat sangat pucat dan mendesah, seperti menahan sakit. Sementara Jo yang duduk di seberang sofa, mendecakkan lidahnya dan tersenyum penuh arti.
"Hei, dengan wanita cantik di pelukanmu, apakah kita masih akan membicarakan bisnis atau apa?" tanya Jo sinis.
Dama segera menyingkirkan tubuh Jasmine yang mabuk itu. Ia membungkuk sedikit untuk mengambil gelas anggur merah dari meja, lalu memutarnya tetapi tidak meminumnya.
Dama menatap ke depan dengan matanya yang gelap, mendengarkan keributan di ujung telepon dengan headset yang ia pasang di salah satu telinganya.
Jo, yang duduk di hadapannya, berdecak lagi.
"Jika aku tidak mengenalmu, aku tidak akan tahu dari penampilanmu yang macho dan karismatik. Aku dengar kamu sangat lihai menembakkan senjata untuk melawan musuh."
"Apakah dia menyindirku?" batin Dama menyipitkan mata ke arahnya.
Dama kemudian mengambil kontrak kerja di meja dan membolak-baliknya dengan santai.
Dama bahkan tidak mengangkat pandangannya sambil menjawab dengan tenang, "Jika kamu ingin tahu tentang keahlianku saat ini, kita bisa pergi ke lapangan tembak suatu hari nanti untuk mengujinya."
Jo mengangkat tangannya. "Keterampilan menembakmu tidak terkalahkan. Tidak ada yang bisa memecahkan rekormu sampai sekarang. Aku akan mempermalukan diriku sendiri jika aku berpikir untuk bersaing denganmu dalam menembak."
"Cerdas."
Jo memelototi Dama, ia tak bisa berkata-kata.
Suara lembut Alya terdengar di telinga Dama saat ia sedang membaca kontrak.
__ADS_1
Kedengaran Alya seperti gilirannya untuk memilih kebenaran atau tantangan, membuat ia berhenti sejenak membaca lembar demi lembar yang ada di tangannya.