Wanita Kesayangan Tuan Dama

Wanita Kesayangan Tuan Dama
Bab 41


__ADS_3

"Tidak! Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?"


Alya terkejut dan bingung. 


"Dama belum menelepon rumah sakit? Atau, apakah dia hanya mencoba menakut-nakutinya dengan peringatannya tadi malam?" batin Alya.


Sebelum mengakhiri telepon, Alya berkata, "Dokter, jika terjadi sesuatu pada ayahku, tolong segera hubungiku," pinta Alya.


 "Tentu saja."


Menjauhkan ponselnya, hatinya berantakan, bertanya-tanya apakah Dama akan begitu berdarah dingin untuk mendorongnya ke jalan buntu.


Alya sedang tidak mood sepanjang hari. Dari waktu ke waktu, ia akan memeriksa teleponnya, tetapi tidak ada panggilan telepon atau pesan teks.


Di tempat gym.


Seseorang berbaring di lantai dengan keringat di sekujur tubuhnya, Hamid menatap ke depan dengan bingung. Ia diseret ke gym oleh pria yang mengerikan sejak pagi dan mereka terus berolahraga sampai sekarang tanpa istirahat.


Pria mengerikan itu melempar bola ke arahnya dan berkata dengan datar, "Bangun, lanjutkan."


"Aku tidak ingin melakukannya lagi! Aku lelah!" teriak Hamid.


Hamid tidak bergerak dan mengeluh.

__ADS_1


 "Ini hari liburku hari ini. Bisakah kamu melepaskanku?" pinta Hamid memohon.


Ya, pria mengerikan itu adalah Dama.


"Bodoh, ada apa dengannya hari ini? Dia menyeretku keluar rumah pagi-pagi sekali dan mulai berlatih seperti orang gila! Kami telah bermain bola basket, sit-up, russian twist, bicep curl, reverse lunge dan memanah! Dia melakukan latihan apa pun yang paling menguras tenaga serta energi!" umpat Hamid.


Hamid hanya bisa menggerutu pada dirinya sendiri. Ia sangat lelah dari semua latihan keras sehingga ia tidak bisa bangun.


Dama meliriknya dengan dingin, dengan penghinaan di matanya.


Hamid mendengus dan berkata, "Bung, bolehkah aku tahu masalah apa yang kamu temui dalam hidupmu, sehingga kamubperlu melecehkan diri sendiri seperti ini?"


Latihan olahraga yang tidak manusiawi semacam ini sangat menakutkan.


Ada sesuatu yang mencurigakan. Hamid segera bangkit dan mengejarnya. 


"Hei, Dama, bicaralah padaku. Mengapa kamu pergi sebelum kamu menyelesaikan kata-katamu?" teriak Hamid.


Hamid hendak mengaitkan lengannya di bahu Dama ketika Dama melambaikan tangannya.


"Untuk mengeluarkan tenaga," ucap Dama.


Kemudian ia pergi dengan sikap dingin.

__ADS_1


"Untuk mengeluarkan tenaga? Tenaga macam apa?" gerutu Hamid.


Hamid tidak bisa mengerti ucapan Dama.


Cara terbaik untuk mengeluarkan tenaga harus bersama seorang wanita. Mengapa dia datang ke sini untuk mengeluarkan tenaga? Pikir Hamid.


***


Di klub hiburan.


"Ini hadiahku hari ini. Dama, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau," ucap Hamid merasa sangat senang.


Hamid memeluk seorang gadis cantik di pelukannya dan berkedip genit sambil tersenyum ke arah dia yang juga menatapnya.


"Kau sudah menjaga kebersihan hidungmu selama ini. Kenapa kau tidak memanjakan dirimu malam ini?"


Di ruangan remang-remang, Dama sedang berbaring di sofa dengan mata terpejam. Jakunnya menonjol keluar dari tenggorokannya, yang sangat seksi dan 


menarik.


"Apakah kamu pikir aku seperti kamu?" Dama meletakkan satu tangan di dahinya dan berkata pelan.


Hamdi memutar matanya ke arah Dama karena ucapannya yang tercela. Jika bukan karena Dama sedang dalam suasana hati yang buruk, dia akan berdebat dengannya saat itu juga.

__ADS_1


Hamid mengedipkan mata pada gadis di sebelahnya, yang membuat gadis pintar itu langsung mengerti isyaratnya dan membungkuk ke arah Dama sambil berkata, "Tuan, izinkan aku menghibur Anda."


__ADS_2