
Serangkaian pertanyaan ini memang kurang eksplisit dari yang sebelumnya, tetapi pikiran Alya menjadi kosong setelah mendengarnya. Ia membeku sejenak, menganga mulutnya untuk menjawab tapi tidak ada kata yang keluar.
Saat semua orang mengunci tatapan penasaran mereka padanya, ia menjilat bibirnya yang pucat untuk sedikit membasahinya.
"Kita semua adalah orang dewasa, dan aku yakin semua orang di sini pasti memiliki cinta pertama kita," jawab Alya berusaha untuk pura-pura tepat tenang.
Alya mengetahui kesalahannya kali ini dan tidak menjawab pertanyaan secara langsung seperti yang ia lakukan pada giliran sebelumnya.
Penanya bertanya lagi, "Apakah kamu pernah mencintainya?"
"Ya, aku mencintainya," ucap Alya tersenyum. "Dan aku juga membencinya," gumam Alya dalam hatinya. Seketika wajah Alya menjadi pucat ketika ia memikirkan orang itu.
"Aku masih muda dan naif ketika aku jatuh cinta dengan dia. Kemudian, dia meninggalkanku, dan cinta pertamaku berakhir begitu saja," jelas Alya.
Suasana tiba-tiba menjadi sedikit canggung karena mereka bisa melihat bahwa Alya tidak terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Oke, babak selanjutnya!" kata Luna, meredakan situasi yang agak canggung.
Alya menghela nafas lega, akhirnya sesi pertanyaan untuk nya berakhir.
Alya, yang sudah lama duduk diam seperti patung di sofa, tiba-tiba bangkit dan berkata, "Aku merasa mengantuk, jadi aku izin ke kamar kecil untuk membasuh muka. Permisi. "
Semua orang mengangguk.
"Oke. Kamu tahu di mana toiletnya, kan?" tanya Luna.
Begitu Alya pergi, Luna meletakkan gelas di tangannya dan memelototi Jeni yang tadi bertanya. "Jani, Alya itu pendatang baru. Dapat dimengerti jika kamu ingin menggodanya, tapi pertanyaannya terlalu banyak, kamu dapat menyinggung dia."
"Aku tidak tahu dia begitu sensitif. Dan aku hanya mengajukan pertanyaan yang sangat umum," ucap Jeni menjulurkan lidahnya.
"Minta maaf padanya saat dia datang nanti," pinta Luna.
__ADS_1
Jeni bergumam dengan suara rendah, "Aku tidak melakukan kesalahan. Mengapa aku harus meminta maaf."
Tria diam-diam keluar dengan ponselnya. Ketika ia tidak bisa mendengar suara di telepon, ia bertanya dengan rasa ingin tahu, "Tuan Dama, apakah Anda masih di sana?"
Ada keheningan panjang di telepon. Dama duduk diam dengan dokumen kontrak di lututnya seolah-olah sedang berpikir. Jo menyaksikan dengan rasa ingin tahu ketika Dama mencubit kontrak itu begitu keras hingga jari-jarinya memutih.
"Ada apa denganmu? Tadi kamu baik-baik saja, tapi kenapa ekspresimu tiba-tiba berubah?"
Sebelum Jo bisa menyelesaikannya, Dama bangkit dan melepas headphone-nya dengan tatapan tidak ramah. Ia menggendong Jasmine dan berkata, "Aku tidak menandatangani kontrak hari ini. Kita akan membicarakannya di lain hari."
"Berengsek!" umpat Jo.
Jo menghentakkan kakinya dengan marah. Ia tahu bahwa Dama tidak dapat diprediksi, tetapi ia tidak menyangka dia bisa begitu kejam mempermainkan dirinya.
Dama Membawa Jasmine yang tak sadarkan diri terjatuh dengan pelukannya. Ia menoleh ke belakang sebelum keluar seraya berkata, "Karena kamu tahu apa yang dipertaruhkan, kamu juga harus tahu bahwa akan sulit bagimu untuk melakukan apa pun di kota ini tanpa izinku. Jadi sebaiknya kamu memohon kepadaku untuk beberapa hari lagi. Mungkin kamu mampu membuat aku bahagia dan aku dengan senang hati menandatangani kontrak denganmu."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Dama pergi dengan memapah tubuh Jasmine. Sementara Jo yang menyaksikan dua orang itu hilang dari pandangan matanya hanya mampu mengepalkan tangannya untuk melampiaskan amarahnya.