
Alya dengan gugup berdiri di dekat meja dan bertanya-tanya apakah Dama akan menyukai hadiahnya.
Setelah jeda, ia perlahan membuka telapak tangannya dan berkata dengan cemas setelah menjilat bibirnya, "Oke, kamu bisa membuka matamu sekarang."
Bulu matanya yang hitam tebal perlahan
terangkat membuka matanya. Dama akhirnya melihat apa yang ada di tangannya, dia melotot tak percaya dan tanpa sadar mengangkat tangannya dan menampar benda itu.
"Ambil itu dariku!"
Dengan tamparan, katak itu terbang keluar dari telapak tangannya.
Alya tercengang dan berdiri dalam keadaan linglung, merenungkan apa yang sedang terjadi.
"Mengapa dia melakukan ini? Dia suka katak, bukan? Kenapa dia terlihat sangat ketakutan sekarang? Apakah dia benar-benar harus menamparnya dengan kasar meskipun dia tidak menyukainya?" Pikir Alya dalam hatinya.
Sambil berdiri di sudut, ia berkata dengan suara dingin dan dalam dengan sejumput rasa jijik, "Alya, aku beri kamu waktu sebentar untuk menyingkirkan hewan kotor itu."
"Kenapa kotor? Lihat betapa lucunya itu!" ucap Alya.
Dama mengepalkan tinjunya dan berteriak dengan marah, "Aku memintamu untuk membuangnya. Apakah kamu mendengarku?"
Alya memelototi pria pendendam itu. Ia bermaksud untuk berbalik dan pergi, tetapi begitu ia berbalik, sebuah ide melintas di benaknya. Tiba-tiba, ia berjalan perlahan ke arahnya dan menunjuk wajahnya dengan curiga.
"Kenapa kamu pucat sekali? Kenapa bibirmu pucat sekali? Tanganmu gemetar. Dama, apakah kamu takut," tanya Alya.
"Aku tidak takut! Kenapa aku harus takut?" Dama dengan keras menyangkalnya sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
Alya tidak bisa menahan tawa.
"Apakah kamu benar-benar takut pada katak?" ejek Alya.
Wow, dia takut kodok! Itu sangat menggemaskan! Pikir Alya.
"Tapi Hana bilang kau suka kodok. Kok bisa takut?" tanya Alya lagi.
Dama meringis jijik.
"Tidak bisakah kamu melihat bahwa Hana sedang menggertakmu?" kata Tama marah.
"Baiklah, jangan takut!" Alya menghiburnya sambil tertawa. "Itu hanya katak Itu tidak akan menggigitmu," ucap Alya.
"Beraninya kau menertawakanku?" hardik Dama.
Dia yang takut pada katak sama sekali tidak mengintimidasi.
Alya membungkuk untuk mengambil katak yang berjongkok di lantai.
"Lihatlah. Sangat lucu."
"Menjijikkan! Jangan kesini!" pinta Dama. Dama memelototinya dengan ganas.
Alya meredam tawanya dan berkata, "Oke, oke, aku tidak akan pergi ke sana."
"Buang!" Dama berteriak.
__ADS_1
"Hmm, kemana kita akan membuangnya?" tanya Alya menggoda.
Alya tidak ingin membuangnya. Dama yang terlihat sangat tidak senang menggertakkan giginya dan menuntut, "Buang sekarang juga!"
"Tidak baik membuangnya. Kita perlu belajar mencintai binatang kecil. Aku turun untuk melepaskannya," ucap Alya.
Dama menghela nafas lega dan berdiri di belakang meja, wajahnya yang tampan dipenuhi dengan penghinaan sekarang.
Alya melengkungkan bibirnya dan hendak keluar tiba-tiba melompat dari tangannya.
Sayang, Alya tidak berhasil menangkapnya.
Katak itu langsung melompat ke arah Dama.
Sebelum Alya bisa bereaksi, ada kilatan bayangan hitam muncul di depannya. Dama sudah bersembunyi di belakangnya dan mencengkeram pakaiannya erat-erat.
Alya menatap langit tak bisa bicara.
"Tuan Dama, di mana dirimu yang dingin dan sombong?" pikir Alya dalam hatinya.
Sambil menggertakkan giginya dan memelototi katak hijau dan lengket yang membuat lengannya merinding, Dama berkata, satu kata pada satu waktu, "Pergi ke meja!"
Alya bertanya, "Kenapa?"
"Ada pistol di laci. Keluarkan dan tembak kodok sialan itu!"
"Apa!" Bibir Alya berkedut tak percaya.
__ADS_1