
Cup!
Cup!
Cup!
Lucas memberi ciuman bertubi-tubi setelah mengantar Sarah pulang ke apartementnya. Meski sudah bersama selama seminggu lebih di Hongkong, itu tidak membuat Lucas puas.
"Aku pamit sayang. Apa harus menemuimu ada jadwalnya seperti itu? Aku ingin bersamamu malam ini."
"Kamu mau ikutin jadwal atau nggak sama sekali?"
"Iya deh."
Lucas langsung pergi begitu saja. Seperti biasa, pria itu kembali dengan sifat dinginnya lagi. Entah apa yang ada di pikirannya, Sarah sulit sekali menebaknya. Terkadang ia cerewet, terkadang ia pendiam, terkadang penurut, tapi kadang-kadang susah diatur. Mungkin hanya Sarah saja yang dapat mengerti akan sifat acaknya itu.
Dan baru saja pintu apartemennya di tutup untuk Lucas, bell pintu apartementnya kembali berbunyi. Sudah pasti itu William, karena ini jadwalnya. Lucu memang, hidup di lingkupi dengan 3 pria sekaligus. Dan meski ketiga pria itu di beri jadwal seketat mungkin oleh Sarah, ketiganya menurut dan tak pernah menuntut macam-macam.
Baru saja Sarah membuka pintu, pria itu langsung memeluknya dengan erat. Sepertinya ia sangat rindu, sampai-sampai, Sarah kesusahan bernafas karena pelukannya.
"Aku kangen sekali sayang." Ucapnya dengan pelukan gemas.
"Aku nggak bisa nafas William. Kamu mau aku mati?"
"Maaf. Dan wowww siapa yang memberikanmu kalung ini sayang?" Tanya Wil sambil menilik kalung pemberian Lucas yang Sarah pakai.
"Beli lah." elaknya.
"Kenapa tidak bilang kalau mau? Aku bisa belikan sayang, kamu nggak perlu beli barang pakai uang kamu. Bukanya kamu bilang ingin menabung?"
"Masuk dulu Will..!!! Kamu ini cerewet sekali, astaga..!!!"
__ADS_1
Sarah selalu di buat tersenyum dengan kehadiran Will. Pria itu selalu bisa membuatnya tertawa, dengan sikap cerewetnya.
Ketiga pria yang Sarah miliki memang punya sifat yang berbeda. Dan perbedaan sifat mereka itu, seakan menjadi pelengkap di hidup Sarah. Kevin dengan sifat super romantisnya, sabar, dan lembut. William dengan sifat super cerewet dan humorisnya. Lucas? Entahlah, Lucas sulit di tebak. Dia bisa menjadi apa saja untuk Sarah. Meski dia sedikit pendiam, tapi hanya Lucas tempat curhat ternyaman di saat Sarah down.
Tetapi meski Will suka pecicilan, Will adalah pria yang paling bisa membaca pikirannya. Will paling mengerti isi hatinya. Dan Will paling mengerti jika perasaanya sedang buruk.
"Kenapa matamu sembab hmm? Habis menangis? Ada apa? Apa liburanmu tidak menyenangkan?"
"Will, aku lelah sekali."
"Apa sesuatu menganggu pikiranmu?"
"Aku hanya lelah."
"Baiklah kalau tidak mau cerita. Kamu sudah makan?"
"Aku tidak berselera."
"Aku akan menginap disini sampai jadwalku habis. Kurasa kamu membutuhkanku."
"Selalu deh bahas hal itu! Aku udah sering banget bilang sama kamu. Pernikahanku hanya di jodohkan, itu pernikahan bisnis yang di perintahkan orang tua. Aku tidak mencintainya! Yang kucintai itu kamu. Kamu..!!!"
"Aahhh udahlah jangan bahas itu. Sekarang aku lapar Will."
"Mau aku masakin?"
"Mau. Ayo kita masak, aku kangen banget pasta buatan kamu."
"Cium aku dulu dong, biar semangat." Ucapnya sambil memonyongkan bibir, lalu didekatkannya kepada Sarah.
Dengan senyum manisnya, Sarah meraih tengkuk William, lalu mencium bibir pria itu dengan sedikit intens. **********, serta dengan gencarnya bertaut lidah. Williampun dengan senang hati menyambut lidah wanita itu. Dan setelah saling memagut mesra selama beberapa menit, mereka langsung menuju dapur untuk memasak.
__ADS_1
William mempunyai resto pasta yang cukup terkenal di beberapa negara. Ia juga seorang chef. Tidak heran jika ia jago memasak. Selain ia mempunyai restonya sendiri, ia juga mengelola perusahaan keluarga. Jadi jangan tanya seberapa tajirnya pria itu.
"Sayang. Kalau aku bercerai dengan istriku, bisakah kamu menikah denganku?" Tanya Will tiba-tiba, hingga membuat Sarah yang sedang minum tersedak ketika mendengarnya.
"Apa maksudmu Will?"
"Jika aku memilih menceraikannya, aku hanya akan punya retaurant saja. Aku tidak akan menjadi pewaris perusahaan lagi. Tapi resto aku cukup kok, buat nafkahin kamu. Aku pengen banget kita nikah. Aku pengen hidup dengan orang yang aku cintai Sarah. Dan orang itu adalah kamu."
"Will.."
"Kalau kamu mau ngomong cuman buat rendahin diri kamu sendiri, jangan katakan. Emangnya kenapa kalau kamu ******? Aku cinta sama kamu. Aku nggak peduli masa lalumu."
"Tapi Will, aku nggak mau kamu ninggalin keluarga kamu cuman buat aku."
"Tapi aku sayang sama kamu. Sejak kamu bilang kalau kamu punya kekasih lain, aku takut banget kehilangan kamu sayang! Aku pengen miliki kamu seutuhnya."
"Will aku ini nggak pantes buat kamu."
"Kamu pantas!"
Sejurus dengan kalimat itu, William langsung memeluknya. Mendekap tubuh Sarah, lalu memberinya ciuman mesra pada bibirnya.
Sarah tidak mengerti kenapa ketiga prianya, menuntut dan memintanya menikah dengan mereka. Harusnya dia sebagai wanita yang melakukan hal itu kan? Ini malah sebaliknya.
Lalu jika ini benar terjadi, siapakah yang akan Sarah pilih?
...***...
Kalian team siapa guys?
Sar- Kev ?
__ADS_1
Sar - Will
Sar - Luc