Wanita Simpanan With Three Secret Men

Wanita Simpanan With Three Secret Men
PART 7


__ADS_3

Lucas membuka pintu sebuah kamar rumah sakit, dengan senyuman super hangatnya. Pria itu menghampiri Sarah, lalu memeluk wanita yang sedang terduduk lemah di kasur rawat inapnya. Sesekali Lucas mengusap perutnya, lalu menciuminya dengan kasih.


Wajah Sarah masih sangat pucat karena morning sickness parah yang ia alami pagi ini. Dan semenjak Sarah di nyatakan hamil, Lucas berubah 180 derajat menjadi pria yang sangat posesif kepadanya.


"Lucas..."


"Yaps sayang, gimana? Masih pengen muntah?"


"Hampir setengah hari aku mual Lucas! Dan kenapa aku harus di rawat?"


"Darah kamu rendah sayang, kondisi kamu juga lemah, maka dari itu Dokter saranin kamu untuk di rawat. Dan untuk muntah, kata Dokter itu wajar kok. Awal-awal hamil emang begitu."


"Disini saja Lucas. Aku nggak pernah masuk rumah sakit sebelumnya. Aku takut sendirian, kepalaku sakit!!! Apa orang hamil emang seperti ini?" Isaknya sambil memeluk Lucas erat.


"Cup..sayang...!!! Jangan menangis. Aku bakal temanin kamu terus. Sabar ya? Hamil pertama emang seperti ini sayang."


"Tapi kepalaku sakit. Bahkan aku masih merasa mual sekarang.!!!"


"Iya aku ngerti. Sabar sayang..."


Lucas mendekapnya erat. Ia mengusap-usap perut wanita itu, lalu mendaratkan ciuman yang terus-menerus di pipinya. Pria itu terlihat sangat bahagia. Namun di balik kebahagiaanya itu, ada  raut sendu di matanya. Ada sesuatu yang begitu menganggu pikirannya saat ini.


"Sayang, katanya mau ketemuin aku sama mereka."


"Siapa?"


"Dua pria idiot itu."


"Sebentar lagi juga datang."


Dan benar saja, disaat obrolan itu baru saja keluar, William tiba-tiba masuk dengan nafas terengah-engah. Sepertinya ia sangat khawatir ketika mengetahui kekasih gelapnya itu masuk rumah sakit.


"Heh, menyingkir kamu dari kekasihku. Dasar vampir nggak tau diri." Ucapnya sambil mendorong Lucas menjauh, lalu memeluk Sarah dengan erat. Sarahpun tertawa dengan tingkah kedua prianya tersebut. Terlebih Will, sikapnya yang pecicilan selalu berhasil membuat Sarah tertawa.

__ADS_1


"Jadi benar si vampir ini adalah kekasihmu? Apa untungnya? Tampanan juga aku." Ucap William lagi.


"Hei... yang penting hatinya." sahut Lucas kesal dan William hanya tersenyum sinis.


"Hatiku juga baik. Selembut sutra."


"Sudah Will..!!!"


"Iya sayang. Kamu kenapa masuk rumah sakit? Sakit apa?"


"Aku hamil."


"Hamil? Jadi ini anakku? Sudah kukatakan, kita memang harus segera menikah."


"Stop William, itu anakku. Jangan percaya diri kamu...!!!"


"Heii...!!!"


Dan belum juga selesai pertengkaran keduanya, Kevin tiba-tiba masuk keruangan itu dengan terengah. Sama seperti William ketika pertama kali datang. Belum sempat Kevin menghampiri serta memeluk Sarah, Lucas lebih dulu menariknya keluar dari ruangan bersama William.


"Apa-apan kamu?" Ucap William dengan tatapan tajam, lalu menepis tangan Lucas dengan kasar.


"Dengar, aku mau bicara sesuatu."


"Nggak usah bertele-tele." Sahut Kevin kesal.


"Sarah... Sarah tidak hanya hamil. Tapi ia juga terkena tumor rahim. Ada benjolan besar di rahimnya, dan jika tidak segera diangkat, tumornya akan menjadi kanker ganas." Ucap Lucas dengan berkaca-kaca.


"Angkat saja rahimnya, kalau memang itu jalan terbaik kenapa engga?" Jawab William geram.


"Masalahnya kamu tau sendiri. Setelah rahimnya diangkat, dia tidak akan bisa punya anak lagi."


"Tidak masalah. Aku akan menikahinya. Mau dia bisa punya anak atau engga, aku nggak peduli." Potong Kevin dengan percaya diri.

__ADS_1


"Aku yang akan menikahinya. Biar aku saja." Potong William dan Lucas menatap keduanya tajam.


"Masalah terbesarnya, bagaimana kita akan memberitahukan masalah ini kepada Sarah? Aku nggak sanggup."


"Benar juga. Kita harus hati-hati mengatakannya." Ucap William.


"Lalu, apa ada cara lain Lucas? Cara lain supaya bayinya tetap bisa lahir? Setidaknya jika ada solusi, Sarah nggak akan terlalu down kan?" Sahut Kevin dan Lucas memijit pelipisnya frustasi.


"Histerektomi (pengangkatan rahim atau uterus dengan metode pembedahan) yang dilakukan secara bersamaan dengan operasi caesar saat bayi lahir. Kata Dokter, itu dua tindakan yang dilakukan secara bersamaan dan berbahaya untuk Sarah. Sarah bisa meninggal dunia akibat kehabisan darah."


"Aku nggak setuju. Kita angkat aja rahimnya. Aku nggak siap mengambil resiko sebesar itu."


"William aku ngerti, kita semua ngerti, tapi untuk Sarah itu sangatlah berat. Bagaimana perasaannya jika dia tau, bahwa dia nggak akan bisa punya anak lagi? Dan untuk pengangkatan rahim, itu berarti anaknya juga harus di gugurkan. Sarah pasti sangat hancur." Sela Kevin.


"Jadi, bagaimana cara kita memberitahunya?"


"Biar aku saja. Aku akan memberitahunya." Ucap Kevin lagi, dan semuanya mengangguk setuju.


"Dan aku juga mau ngomong, bisakah kalian mundur? Bisakah kalian merelakan Sarah untukku?" Ucap Lucas dengan santainya.


"Apa kamu bilang? Melepas? Dalam mimpimu *******." Dercak William dengan seringaian sinisnya.


"Aku juga nggak akan melepasnya. Begini saja, kita nggak tau kan? Anak dalam kandungan Sarah anak siapa? Kita tes DNA setelah lahir. Dan siapapun yang DNAnya cocok, dia yang berhak menikahi Sarah."


"Itu berarti, kita akan membiarkan Sarah mengandung, serta mengambil resiko itu?"


"Sarah pasti memilih resiko itu. Lagipula aku yakin, Sarah dan bayinya akan baik-baik saja. Dia pasti akan sembuh. Kita hanya perlu menjaganya, serta memberinya dukungan."


"Baiklah. Aku setuju. Dan sebelum anak itu lahir serta ketahuan siapa ayahnya, aku tidak ingin siapapun diantara kita bercinta dengannya." Ucap Lucas penuh penekanan. Kevin dan William mengangguk setuju.


"Kita akan menjaganya sesuai jadwal yang Sarah berikan. Dan menurut jadwal, ini adalah jadwal William. Silahkan kalian berdua angkat kaki dari sini." Dercak William dengan senyum smirk, serta langsung pergi dengan angkuhnya.


"Dasar brengsek...!!!" Pekik Kevin dan Lucas secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2