
"Dari mana kamu Lucas?" "Apa urusanmu?"
"Aku ini istrimu..!!! Lalu apa maksudmu dengan surat perceraian ini?"
"Aku ingin kita bercerai. Aku nggak tahan lagi hidup dengan wanita posesif kaya kamu. Kamu pikir aku nggak tau, kalau kamu itu nggak mandul? Kamu nikah sama aku cuman pengen uang kan? Murahan. Sekarang aku minta kamu pergi dari sini. Calon istri aku bakalan tinggal disini sebentar lagi."
"Lucass...!!!!" "Pergi...!!!!"
"Kamu tega sama aku..? Siapa wanita itu? Beritahu aku! Siapa jalang itu..!!! Kamu lebih pilih jalang itu dari pada aku?"
"Iya, iya dia memang jalang. Dan aku sudah dibuat tergila-gila olehnya. Dan kamu benar. Aku lebih pilih jalang itu dari pada kamu. Jalang itu selalu ada untukku, mengerti aku, tidak sepertimu..!!!"
"Lucas please, kita bisa perbaiki semuanya. Kalau kamu pengen punya anak, oke, oke..!!! Aku akan berhenti jadi model. Aku akan memberimu seorang anak."
"Telat. Kita udah cerai. Sekarang kamu pergi dari hadapanku. Lagipula, jalang itu sudah memberiku anak."
Lucas tersenyum sinis, lalu beranjak pergi dari sana. Meski wanita itu berteriak kencang memanggilnya, Lucas tidak peduli. Keputusan Lucas sudah bulat. Ia sudah di butakan oleh cintanya kepada Sarah. Sarah sudah terlanjur membuatnya nyaman. Dan Sarah sudah terlanjur mengambil separuh dari hatinya.
"Aku akan menunggu kedatanganmu di rumahku Sarah..!! Aku yakin sekali, itu anakku. Aku sangat mencintaimu. Kamu akan menjadi milikku seutuhnya."
Sudah berjam-jam William berceloteh ria menceritakan ini dan itu. Ia berusaha keras untuk selalu membuat Sarah tertawa, dan itu selalu berhasil. William sangat mencintainya. Dan William percaya, anak dalam kandungan Sarah adalah anaknya. William
yakin, dialah yang akan memiliki Sarah nantinya.
__ADS_1
"Kalian aneh. Sudah tahu aku ada main sama 3 orang sekaligus. Masih aja peduli sama aku. Kalian bahkan ikutin jadwal yang aku kasih." kekehnya sambil tertawa.
"Karena kita semua mencintaimu. Termasuk aku, akulah yang paling mencintaimu."
"Mulai deh..."
Williampun merebahkan diri di samping Sarah, lalu memeluknya erat. William terus tersenyum menatap wajah wanitanya. Ia merasa sangat bersyukur, jika dialah yang akan menjadi suaminya nanti.
"Sayang, siapa yang paling kamu cintai diantara aku, Kevin, sama si
vampir?"
"Kenapa tanya begitu?" "Aku ingin tau."
"Entahlah. Yang pasti kalian adalah pelengkap dalam hidupku. Kevin dengan pemikiran dewasanya, kamu yang
"Pilih satu."
"Aku tidak bisa. Malah aku ingin, kalian kembali ke istri kalian saja. Dan kamu juga tidak perlu menjagaku seperti ini. Aku hanya anemia. Bukan sakit kanker atau semacamnya."
"Aku sama dia akan segera bercerai. Tanpa adanya kamupun, aku memang akan bercerai. Karena aku nggak cinta sama dia. Dan kebetulan setelah ketemu kamu, aku merasakan cinta di hati aku buat kamu Sarah. Aku sayang banget sama kamu. Kamu harus janji nggak boleh pergi Sarah. Tetaplah disisiku. Tetaplah jadi Sarah yang kuat, apapun yang terjadi." Ucapnya panjang lebar, lalu mencium bibir Sarah singkat.
"Sejak kapan William jadi melankolis seperti ini? Ada apa? Ada yang menganggu pikiranmu? Aku memang wanita kuat Will. Kalau aku lemah, aku udah mati dari dulu. Beban hidup aku terlalu berat." Candanya sambil tertawa.
__ADS_1
"Itulah kenapa aku mencintaimu. Kamu berbeda." "Kamu kenapa sih Will?"
William tak menjawab. Pria itu hanya tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya nyaman pada dada Sarah sambil mendekap tubuhnya.
"Tidurlah, kamu pasti lelah kan? Kamu lagi hamil. Jangan tidur terlalu malam. Dan... tidak masalah kan? Jika aku memelukmu seperti ini saat tidur? Hanya memeluk saja."
"Hmmmm."
Dan disaat moment kebersamaan mereka baru akan dimulai, 2 orang pria yang tak di harapkan oleh William datang. Lukas dan Kevin tiba- tiba membuka pintu kamar rawat inap tersebut, sambil membawa bantal dan selimut.
"Kami akan menginap disini." Ucap Lukas singkat. Dan Kevin langsung menarik William hingga pria itu tersungkur jatuh dari atas kasur.
"Apa-apan kalian? Apa ini? Ini jadwalku bersama Sarah. Kalian menganggu sekali..!!! Demi Tuhan..!!! Aku sangat marah dan risih sama kedatangan kalian."
"Berisik..!!! Aku dan Kevin hanya tidak percaya dengan otak mesummu."
"Sarah sayang, bisakah kamu usir mereka untukku?" Pinta William dengan wajah memelas, dan Sarah hanya tertawa geli. Sarahpun memeluk gulingnya, lalu memejamkan mata. Ia memilih untuk mengabaikan para prianya yang sedang berdebat.
"Kita berdua sama-sama suami sirihnya. Cih... punya hak apa kamu mengusir kami?
Tidur di lantai. Awas saja kalau berani memeluk Sarah seperti tadi." Kicau Kevin dan Lucas mendukungnya. Lucas bahkan terus memeluk William, supaya pria itu tidak bisa mendekati Sarah secara diam-diam disaat semua tertidur.
"Aku bukan gay..!!! Vampir sialan..!!!" Teriak William geram.
__ADS_1
Namun bukannya melepas, Lucas malah semakin mengeratkannya. Bahkan Kevin ikut-ikutan memeluknya dari sisi lain, hingga William tak bisa berkutik lagi.
"Bangsat..!!!" Teriaknya sekali lagi, dan diabaikannya sama semua orang.