
(Pov Riana):
'Sudah jam 12 malam, tapi kenapa Mas Anton belum pulang juga ya??' Ucap ku dalam hati. Jujur saja rasa kawatir menusuk relung hati ku, saat jam segini suami belum berada di rumah.
"Kamu kemana si mas?? Jam segini belum pulang, mana udah mau jam 1 pagi?" Gumam ku. Baru saja aku akan duduk, aku mendengar suara deru mobil Mas Anton memasuki Carpot rumah. Gegas ku buka pintu dan menyambutnya.
"Mas, kamu kok baru pulang dini hari sih?" Tanya ku penasaran. Tampak sekali raut keterkejutan di wajah suami ku saat ku hampiri.
"K-kamu kenapa belum tidur Ri?" Tanya Mas Anton gugup.
"Gimana mau tidur, kalau suami jam segini belum ada di rumah." Jawab ku.
Hufttt "maaf ya Ri, Mas lagi banyak kerjaan di kantor!! Ada proyek baru yang bakal masuk." Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah Mas Anton masuk ke dalam rumah. Setelah mengunci pintu, aku masuk ke dalam kamar.
Seperti yang ku duga kalau Mas Anton berada di kamar mandi. Aku pun memunguti pakaian kotor yang berserakan di lantai.
"Kebiasaan nih Mas Anton, suka banget naruh pakaian kotornya di lantai." Gumam ku. Saat ingin memungut kemeja putih yang di pakai tadi oleh Mas Anton. Mata ku terbelalak saat melihat bekas lipstick yang menempel di bagian depan kemeja Mas Anton.
Seketika dada ku bergemuruh hebat, sekelebatan di masa lalu langsung melintas di bayangan ku.
Aku menggeleng cepat saat membayangkan penghianatan yang pernah di lakukan mantan suami ku. Seketika lamunan ku buyar saat mendengar suara Mas Anton memanggil ku.
"Sayang kamu kenapa, kok melamun?" Tanya Mas Anton. Ku netralkan degup jantung ku dan segera ku berbalik menghadap Mas Anton yang sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Mas." Panggil ku.
"Iya sayang kenapa?" Jawab Mas Anton.
"Kenapa ada bekas lipstick di kemeja putih kamu?" Tanya ku dingin sambil menatap Mas Anton tajam. Seketika dia menghentikan gerakan mengeringkan rambutnya. Handuk yang semula di tangannya kini sudah berada di meja rias.
"Jawab Mas, kenapa diam saja?" Tanya ku dengan raut wajah datar.
"Mmm, itu mungkin bekas lipstick Lia, iya tadi Lia jatuh saat menemaniku meeting dengan klien.tapi saat jatuh, Lia malah menubruk ku." Jelas Mas Anton. Aku menatap matanya, ada kebohongan di sana. Tapi aku tidak ingin ceroboh dan membuat rumah tangga ku karam lagi.
"Kamu gak berbohongkan Mas?" Tanya ku memancingnya.
"Kamu nuduh aku Ri?" Ucapnya melototkan matanya.
__ADS_1
"Aku gak nuduh kok Mas, kan aku cuma nanya. Kalau gak bener, ngapain marah sih." Ucap ku enteng.
"Sudah, sudah.. aku capek, mau istirahat." Ucapnya lalu berbaring membelakangi ku yang masih berdiri.
"Baiklah Mas, aku akan percaya sama kamu. Tapi kalau kamu mencoba bermain serong!! Aku gak akan tinggal diam saja." Kata ku. Lalu berlalu turun ke bawah untuk menaroh pakaian kotor di ruang loundry.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, aku akan bangun saat subuh dan membuat sarapan, serta menyiapkan keperluan suami ku Mas Anton. Untuk bagian bersih-bersih sudah ada Art yang akan datang pagi hari dan pulang saat sore hari. Dan untuk urusan memasak aku yang akan memasak sendiri di rumah ini.
"Bi, tolong masakan saya di tata ya?? Saya mau ke atas, mau panggil Bapak." Ucap ku kepada Bi Inem.
"Siap Nya." Ucap Bi Inem sambil memberi hormat, aku hanya tertawa melihat kekonyolan Art ku.
Aku pun bergegas masuk kekamar. Ku lihat Mas Anton sudah berada di dalam kamar mandi. Aku pun menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh Mas Anton nanti saat kekantor.
Saat ingin keluar kamar, terdengar suara notifikasi pesan dari handphone suami ku. Yang kemudian berganti sebuah nada dering panggilan, ku lihat Mas Anton belum keluar dari kamar mandi untuk melihat sapa yang menelfon. Mungkin suara shower yang keras membuat dirinya tidak mendengar panggilan masuk.
Aku pun mendekat denganniat ingin mengangkat, tapi saat ingin ku angkat! Telfon tiba-tiba mati. Tampak riwayat penelfon dengan nama Anggun.
Deghhh...
Nama itu kembali membuat ku bernolstagia ke dalam rumah tangga ku yang lalu.di mana membuat ku mengingat sesosok wanita cantik tapi murahan yang tega menghancurkan kebahagiaan wanita lain, demi ambisinya sendiri.
Lamunan ku pun buyar saat notifikasi pesan masuk, dengan nomor pengguna yang bernama Anggun. Aku langsung saja melotot saat membaca isi pesan anggung yang sedikit manja.
"Mas, kamu jadikan sebentar siang beliin aku perhiasan yang aku mau." (Anggun).
Biar saja nanti akan ku cari tau sendiri, saat ini aku hanya perlu biasa-biasa saja dan merasa bodoh. Tapi setelah tau siapa Anggun itu. Maka aku akan bermain mengikuti alur.
Aku pun turun ke lantai satu dan menuju ruang makan. Tak berselang lama, Mas Anton datang dengan setelan kantor yang sudah ku siapkan. Dia pun duduk di hadapan ku, lekas ku siapkan sarapannya dan segelas kopi hitam tampa gula ke sukaannya.
Ku tatap dirinya yang sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sampai dia menyadari kalau aku hanya menatapnya tampa ikut sarapan juga.
"Kamu kenapa Ri liatin aku nama Anggun.
Deghhh...
__ADS_1
Nama itu kembali membuat ku bernolstagia ke dalam rumah tangga ku yang lalu.di mana membuat ku mengingat sesosok wanita cantik tapi murahan yang tega menghancurkan kebahagiaan wanita lain, demi ambisinya sendiri.
Lamunan ku pun buyar saat notifikasi pesan masuk, dengan nomor pengguna yang bernama Anggun. Aku langsung saja melotot saat membaca isi pesan anggung yang sedikit manja.
"Mas, kamu jadikan sebentar siang beliin aku perhiasan yang aku mau." (Anggun).
Biar saja nanti akan ku cari tau sendiri, saat ini aku hanya perlu biasa-biasa saja dan merasa bodoh. Tapi setelah tau siapa Anggun itu. Maka aku akan bermain mengikuti alur.
Aku pun turun ke lantai satu dan menuju ruang makan. Tak berselang lama, Mas Anton datang dengan setelan kantor yang sudah ku siapkan. Dia pun duduk di hadapan ku, lekas ku siapkan sarapannya dan segelas kopi hitam tampa gula ke sukaannya.
Ku tatap dirinya yang sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sampai dia menyadari kalau aku hanya menatapnya tampa ikut sarapan juga.
"Kamu kenapa Ri liatin aku nama Anggun.
Deghhh...
Nama itu kembali membuat ku bernolstagia ke dalam rumah tangga ku yang lalu.di mana membuat ku mengingat sesosok wanita cantik tapi murahan yang tega menghancurkan kebahagiaan wanita lain, demi ambisinya sendiri.
Lamunan ku pun buyar saat notifikasi pesan masuk, dengan nomor pengguna yang bernama Anggun. Aku langsung saja melotot saat membaca isi pesan anggung yang sedikit manja.
"Mas, kamu jadikan sebentar siang beliin aku perhiasan yang aku mau." (Anggun).
Biar saja nanti akan ku cari tau sendiri, saat ini aku hanya perlu biasa-biasa saja dan merasa bodoh. Tapi setelah tau siapa Anggun itu. Maka aku akan bermain mengikuti alur.
Aku pun turun ke lantai satu dan menuju ruang makan. Tak berselang lama, Mas Anton datang dengan setelan kantor yang sudah ku siapkan. Dia pun duduk di hadapan ku, lekas ku siapkan sarapannya dan segelas kopi hitam tampa gula ke sukaannya.
Ku tatap dirinya yang sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sampai dia menyadari kalau aku hanya menatapnya tampa ikut sarapan juga.
"Kamu kenapa Ri liatin aku aku kayak gitu?" Tanyanya heran.
"Ahh tidak Mas, aku hanya mikirin Delta!! Saat ini dia lagi ngapain ya di puncak sama teman-temannya?" Jawab ku. Delta adalah Putra kami yang saat ini duduk di bangku TK.
"Oh, aku pikir kamu kenapa lihatin aku kek gitu." Tanyanya cuek.
Setelah sarapan pagi, Mas Anton pun berangkat kekantor. Rencananya nanti aku akan ke salon dan ke Mall. Soal chat Anggun yang masuk ke handphone Mas Anton, biar saja dulu. Aku akan menyusun rencana untuk mencari bukti dan akan ku tunjukkan kepada mertua ku kalau anak laki-lakinya tak sebaik yang mereka ucapkan kepada orang tua ku.
Sekitar jam 9 pagi, aku pun bergegas ke salon untuk melakukan perawatan wajah dan badan. Sudah hampir 2 bulan aku tidak melakukan perawatan, karena sibuk mengurusi perusahaan ayah ku yang beberapa hari ini sempat terbengkalai karena ayah harus badrest karena sakit kolestrolnya.
__ADS_1
Tidak ada yang tau kalau aku adalah anak orang kaya urutan ke 2 di kota ku. Kenapa?? Karena ayah ingin hidup sederhana, makanya ayah menempati rumah minimalis. Begitu juga dengan mantan Suami ku dulu. Sampai sekarang pun dirinya tidak tau kalau aku anak konglomerat.
BERSAMBUNG...