
(Pov Author):
Setelah pertengkaran keduanya tadi di Perusahaan, Anton memutuskan pulang kerumah. Di rumah dia berharap bisa beristirahat dan menenangkan emosinya! Malah mendapat usiran dari Art dan satpamnya.
"Pak Somat, bukain gerbangnya? Gak lihat saya mau masuk?" Ucap Anton kepada Pak Somat satpam dirumahnya.
"Maaf Tuan, saya gak bisa bukain." Jawab Pak Somat.
"Kenapa gak bisa, saya ini majikan kamu!! Masa gak bisa masuk ke dalam rumah saya sendiri?" Tanya Anton heran.
"Maaf lagi Tuan, Nyonya tadi telfon saya!! Kalau Tuan datang kerumah, katanya di larang masuk. Jadi maaf ya Tuan!! Saya gak bisa bukain." Ucap sopan Pak Somat.
Anton yang mendengar penuturan Satpam dirumahnya, malah bertambah emosi. Bahkan stir mobilnya pun menjadi sasaran amukannya juga.
"Shitt." Ucapnya kesal. Anton pun memutar mobilnya dan melajulannya menuju rumah masa kecilnya. Rumah di mana orang tuanya tinggal.
1 jam perjalanan, membuat badan Anton sakit! Di tambah beban fikirannya tentang masalah rumah tangganya dengan Riana.
Saat mobil sudah masuk kepekarangan rumah minimalis tapi indah dan asri, terbesit sedikit penyesalan di hati Anton. Andai dia tidak tergoda dengan rayuan Anggun.
Mungkin dirinya saat ini masih berada di perusahaan sedang berkutat dengan laptop dan berkasnya.
Tidak ingin bertambah pusing. Anton pun memasuki rumah masa kecilnya. Pintu tak nampak di kunci, jadi memudahkan Anton untuk masuk ke dalam.
"Assalamualaikum Bu, bapak! Anton datang nih." Ucap Anton sedikit teriak.
"Ehh bang, kamu datang? Tumben?" Tanya Dira penasaran.
"Gak usah kepo, Ibu mana Dir?" Tanya Anton.
"Gak usah kepo." Jawab Dira mengejek.
"Kamu tuh ya, kalau abang nanya itu di jawab. Jangan jadi adik durhaka kamu." Geram Anton kepada adik perempuannya Dira.
"Ellehhh, sok nasehatin! Situ tuh yang durhaka sama istri, dapat istri cantik malah, di selingkuhin sama tante-tente pula." Cibir Dira langsung berlari masuk kekamarnya.
Tak di hiaraukan suara umpatan sang abang. Dira adalah Anak yang baik dan ceria. Dia pun begitu dekat dengan sang kakak ipar, ketimbang kakak kandungnya.
"Uhhh punya abang kok bloon, cantikan mbak Riana! Ketimbang selingkuhannya." Gerutu Dira yang sudah berada di kamarnya. Dira pun melanjutkan tugas kampusnya.
__ADS_1
Anton pun menunggu ibu dan bapaknya di ruang tamu sampai ketiduran di sofa, dia terbangun saat merasakan ada tangan yang mengelus kepalanya.
Anton pun mencoba mengedip-ngedipkan matanya, agar bisa melihat helas sapa yang mengelus kepalanya.
"Ibuu." Ucap Anton lirih
"Iya bang, ini ibu!!" Ucap Ibu Mia pada putranya.
Bu Mia pun melirik kearah dapur untuk mencari keberadaan menantu kesayangannya dan suami.
"Bang, Menantu ibu gak ikut ya?" Tanya ibu penasaran. Aton pun mulai gelisah, dia belum siap jika ibunya tau. Kalau dia dan Riana akan bercerai.
"Bang, ada apa?? Kasi tau ibu." Ucap Bu Mia lagi, sambil menyentuh tangan Anton.
Anton gugup setengah mati mendapati tatapan penasaran dari ibunya.
"Abang, gak lagi berantem kan dengan mantu ibu?" Tanya Bu Mia masih dengan penasarannya.
"Hufff, maafkan Anton ya buu!! Anton belum bisa jadi suami yang baik buat Riana!! Anton udah selingkuhi Riana Bu dan Riana marah sama Anton." Jelas Anton pada Ibunya.
Bu Mia yang mendengar pengakuan sang anak, sungguh syok di buat. Bukan karena takut miskin, tapi Bu Mia betul-betul menyayangi Riana seperti dia menyayangi Anton dan Dira.
"Maafkan Anton buu." Ucap Anton menunduk. Betul yang di katakan ibunya. Seharusnya dia tidak boleh melakukan ini kepada istrinya.
"Jangan minta maaf ke ibu Anton, minta maaf sana ke istri kamu!!" Tangis ibu Mia pecah mengisi ruangan. Dira yang mendengar suara ibunya yang menangis, panik dan berlari keluar kamar.
"Yaampun ibu kenapa?" Tanya Dira panik, yang melihat ibunya menangis sambil memegangi dadanya. Anton pun yang sadar kalau ibunya mulai tak baik-baik saja! Lalu bergegas membawa ibunya ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Dira maupun Anton hanya diam. Dira sibuk mencoba membangunkan ibunya. Dia pun juga sudah menghubungi ayahnya yang saat ini berada di rumah makan mereka.
***
1 jam sudah mereka menunggu Bu Mia yang saat ini sudah di tangani dokter di ruang UGD. Tampak juga sudah ada Riana dan Delta putra Riana dan Anton.
Mereka berlima pun diam sambil menunggu sang ibu di obserfasi oleh dokter di dalam UGD.
Berselang lama, dokteryang menangani ibu Mia pun akhirnya keluar. Semua yang menunggu pun berdiri menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan ibu saya dokter?" Ucap Anton.
__ADS_1
"Anda sapanya Ibu Mia?" Tanya dokter.
"Saya anaknya dokter!! Dan ini bapak saya." Jawab Anton.
"Mari kalau gitu ikut saja." Keduanya pun berjalan beriringan
Boleh melakukan ini kepada istrinya.
"Jangan minta maaf ke ibu Anton, minta maaf sana ke istri kamu!!" Tangis ibu Mia pecah mengisi ruangan. Dira yang mendengar suara ibunya yang menangis, panik dan berlari keluar kamar.
"Yaampun ibu kenapa?" Tanya Dira panik, yang melihat ibunya menangis sambil memegangi dadanya. Anton pun yang sadar kalau ibunya mulai tak baik-baik saja! Lalu bergegas membawa ibunya ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Dira maupun Anton hanya diam. Dira sibuk mencoba membangunkan ibunya. Dia pun juga sudah menghubungi ayahnya yang saat ini berada di rumah makan mereka.
***
1 jam sudah mereka menunggu Bu Mia yang saat ini sudah di tangani dokter di ruang UGD. Tampak juga sudah ada Riana dan Delta putra Riana dan Anton.
Mereka berlima pun diam sambil menunggu sang ibu di obserfasi oleh dokter di dalam UGD.
Berselang lama, dokteryang menangani ibu Mia pun akhirnya keluar. Semua yang menunggu pun berdiri menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan ibu saya dokter?" Ucap Anton.
"Anda sapanya Ibu Mia?" Tanya dokter.
"Saya anaknya dokter!! Dan ini bapak saya." Jawab Anton.
"Mari kalau gitu ikut saja." Keduanya pun berjalan beriringan yang tersedia di ruang inap ibu Mia.
Saat Anton duduk di sofa yang di tempati juga oleh Dira. Anton mendengar celetukan Dira yang menatapnya sendu.
"Apa sekarang abang sadar, mbak Riana itu wanita baik dan ibu yang baik?" Tanya Dira lirih.
"Maaf Dir, abang menyesal!! Kalau di kasi kesenoatan kedua, abang gak akan sia-sia in Riana lagi." Ucap Anton menyesal.
"Berubahlah Bang, sebanyak apa pun wanita yang hadir di kehidupan abang, tak akan terasa sama dengan dia yang menerima kita apa adanya." Ucap Dira lalu berdiri mendekat ke ranjang ibunya.
Anton merenungi perkataan Dira. Benar yang di katakan oleh adiknya. Riana adalah wanita yang baik, wanita yang mau menerimanya dan menemaninya dari nol. Anton pun berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...