WAYANG IBLIS

WAYANG IBLIS
DALANG MISTERIUS


__ADS_3

 


Sepertinya sudah menjadi kebiasaan, motor tuaku ini selalu saja mogok disaat aku sedang terburu - buru. Sialnya aku lupa membawa peralatan mekanik daruratku, terpaksa aku harus menuntunnya ke bengkel terdekat.


Mana hari ini adalah batas waktu terakhirku untuk mengajukan proposal skripsiku, Ya Tuhan... Salah apa aku ini?, aku menuntun motor CB 125 keluaran 1975 ini pelan - pelan, berharap dapat aku temukan bengkel yang dapat memperbaiki motor tua ini.


Dan sial, sudah hampir 1 kilometer aku menuntun motor ini, tak juga aku temui bengkel, kakiku rasanya sudah berat untuk terus melangkah menuntun motor tua sialan ini, kenapa dulu harus aku beli motor ini?


Terima kasih Tuhan, akhirnya melihat ada sebuah bengkel kecil di depanku, dengan sedikit semangat aku upayakan agar cepat sampai bengkel tersebut, rasa senang dan tenang ketika sudah sampai di bengkel ini, si mekanikpun memperbaiki motorku hingga dia kembali hidup normal,


"hahh...ternyata masalahnya hanya kabel businya sudah terlalu rapuh", kembali aku memacu sepeda motorku menuju kampus, waktu sudah menunjukan jam 5 sore, aku harap petugas administrasi fakultas belum pulang, aku sangat terburu - buru hingga aku lupa bahwa motorku ini memiliki rem yang tidak begitu pakem, dan "bruaakkkk" sampai di parkiran kampus aku menabrak pos penjaga pintu masuk parkiran, si petugas parkirpun sontak marah sejadi \- jadinya.


Tapi aku masa bodo, kuparkirkan motorku dan aku berlari menuju gedung Fakultas seni dan budaya, dan... Terima kasih Tuhan, ruangan Administrasi Fakultas belum tutup, aku serahkan semua persyaratan yang diperlukan untuk pengajuan proposal skripsiku itu,


tapi... Aku masih diliputi kesialan, petugas administrasi fakultas menyuruhku untuk menemui dosen pembimbing proposalku, dia bilang bahwa dosen pembimbingku itu berpesan bahwa aku harus mengubah tema skripsiku, entah apa yang membuatnya berpikir aku harus mengubah semuanya ini?, "mbak, lalu bagaimana...ini kan hari batas terakhir pengumpulan proposal skripsi?" tanyaku, "tadi pak Setiawan bilang, kamu temuin beliau dulu...dan beliau meminta kami memberikan waktu 3 hari untuk kamu mengubah semuanya,!!!... Udah sana" jawabnya.


Aku Dede Jatnika, mahasiswa Jurusan Pedalangan di Fakultas Seni & Budaya kampus ini, dan mungkin aku adalah mahasiswa satu - satunya yang belum juga lulus setelah 7 tahun kuliah di kampus ini, berat memang menekuni sebuah bidang keilmuan yang menuntut banyak sekali pemahaman dari beragam aspek keilmuan lainnya.


Tapi aku tak pernah menyerah, aku mengetahui diriku ini memang kurang cerdas dalam menghafal dan menyusun alur cerita pewayangan, bukan hal mudah juga bagiku untuk membuat lelucon - lelucon ketika aku mementaskan Cepot, Dawala & Gareng.


Apalagi ketika aku bersuara Bima...ahh, pasti temanku bilang, malah seperti suara orang ngeden...tapi aku yakin, suatu saat aku akan menjadi legenda seperti Abah Asep Sunandar Sunarya atau seperti Ki Manteb Sudarsono.


Ya Tuhan, kesialan apa lagi ini?... Aku mendapat pesan sms dari Pak Dadang dosen Garap Pakeliran, dia bilang bahwa nilaiku dianulir karena aku dianggap menjiplak makalah akhir dari temanku, sial...sial...sial..., padahal si Rendi itu yang jiplak makalahku, rasanya ingin kupukuli si Rendi... itu yang ada di pikiranku saat ini, entah apa salahku sampai aku mendapat sial terus menerus seperti ini?.


Aku berlari menuju ruang dosen, dan akan kujelaskan bahwa si Rendi yang menjiplak makalahku, bukan aku yang menjiplak makalah dia, aku sampai di ruang dosen dengan nafas tersengal - sengal, tanpa permisi aku masuk ke ruang dosen... Sontak membuat kaget para dosen yang ada di dalam.


"Kamu Dede,,,kamu nggak diajarin sopan santun hahh...maen masuk aja", teriak salah satu dosen ke arahku, semua dosen menatapku sinis,


"sini kamu Dede" sahut pak Dadang. "ahhh sial... Aku habis kali ini" ucapku dalam hati, dan si Rendi sudah lebih dahulu ada di meja Pak Dadang, dia tertunduk dan sepertinya habis kena marah, lalu perlahan mendekati meja Pak Dadang dengan kepala tertunduk.


"Apa kamu bisa jelaskan, kenapa makalahmu sama persis dengan makalahnya Rendi Darmawan?" tanya Pak Dadang kepadaku


"eeuu...euuu...maaf pak, itu Rendi yang menjiplak makalah saya" jawabku


"Kalian sama saja, dalam kelas saya, saya tidak akan mentoleransi perbuatan curang sekecil apapun, kamu dan Rendi Darmawan, tidak saya luluskan dalam mata kuliah saya, kalian harus mengulang kelas saya tahun depan!"


Pak Dadang berbicara dengan keras dan lantang sembari menggebrak mejanya, sontak membuat seisi ruangan terdiam dan kaget melihat ke arah Pak Dadang dan aku, sedangkan aku?...


Aku hanya bisa pasrah dan menunduk mendengar kenyataan bahwa aku akan 1 tahun lagi kuliah disini, harapanku menjadi dalang sepertinya terputus disini, rasanya dunia sedang tidak berpihak kepadaku.


Rasa kesal, emosi dan geram kepada si Rendi aku bendung agar semuanya tidak semakin runyam.


Setelah habis aku disemprot ocehan Pak Dadang, aku dan Rendi berjalan keluar, aku jalan beriringan di belakang Rendi.


Sesampainya di luar ruang dosen, aku tak kuasa membendung lagi emosiku kepada Rendi, hingga akhirnya aku lepaskan pukulanku ke arah kepalanya hingga dia tersungkur, dan di kepalaku hanya ada "lu pantas dapet ini Rendi",


setelah melihat rendi tersungkur, aku lantas melanjutkan berjalan ke arah parkiran dengan tenang dan rasa puas telah menghajar perusak impianku, aku nyalakan motor bututku untuk pergi dari kampus ini, dan ocehan security yang tadi mengumpatku pun tak aku hiraukan.


Kupacu sepeda motorku sembari berharap ada sebuah keajaiban yang datang kepadaku, dengan rasa kesal yang masih ada dalam hati, aku pun hanya bisa melamun sambil mengendarai motorku, jauh sudah aku berjalan tak tentu arah dan tujuan.


Dan emosi ini tidak mampu juga membendung rasa laparku, aku ingat...dari pagi aku belum makan, di depan aku melihat ada warung makan, tanpa pikir panjang akupun lekas kesana untuk mengisi perut kurusku ini, akupun memakan hidangan yang telah kupesan dengan lahapnya, meskipun hanya dengan lauk oseng kacang panjang dan sambal teri, namun sungguh terasa nikmat ditambah teh tawar hangat yang sesekali aku minum agar makanan itu lancar masuk ke perutku.


sambil lahap aku makan, aku tidak sengaja menguping sebuah obrolan dari kedua orang yang sedang asyik mengobrol di samping meja makanku, mereka membicarakan sosok dalang wayang golek yang kurang terkenal yang akan melakukan pentas di desa mereka, aku pun penasaran dan bertanya kepada mereka


 


"memangnya dalang dari mana dia Pak?" tanyaku


"kita teh kurang tau juga pastinya mah kang, saya mah cuma dapat kabar ajah kalau Pak Kades di tempat kami teh mau ngadain wayang golek buat acara ruwatan kampung, karena kampung saya teh lagi paceklik kang" pungkas bapak - bapak itu kepadaku


"ruwatan?... Kapan itu pak? Tanyaku kembali


"Iyah kang, katanya mah malam jum'at ini di lapangan Desa... Tapi sayah mah nggak akan nonton kang ah, serem kalau acara ruwatan mah...kalau pulang sebelum acara selesai, suka dicegat buta di jalan" jawab kembali si bapak itu dengan logat sundanya yang sangat kental


 Dalam hatiku penasaran, siapa Dalang ini? namanya Ki Dalang Teja Kusuma, bahkan aku belum pernah sekalipun mendengar nama dalang ini, selepas makan, aku kembali melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk kembali ke tempat kosku, sepanjang perjalanan aku masih dihantui rasa penasaran.


Siapa Teja Kusuma ini, sesampainya di kamarku, aku mencari - cari informasi melalui Google untuk mencari tahu siapa Teja Kusuma, dan dari mana dia berasal, tapi semuanya nihil, tak ada satupun informasi mengenai siapa dalang itu


ahh.. Akhirnya aku buang rasa penasaran itu, akupun memainkan wayang favoritku yang kumiliki dan ku simpan di dekat tempat tidurku,,Astrajingga, atau orang biasanya menyebutnya Cepot hingga aku lupa semua yang terjadi di hari ini.


Hari pun kemudian berganti, dan hari ini adalah hari kamis malam jum'at, dan aku ingat, aku masih penasaran dengan sosok dalang Teja Kusuma, akupun memutuskan untuk menyaksikan pertunjukan wayang golek Ki Dalang Teja Kusuma itu, akupun bergegas untuk segera datang ke desa dimana pertunjukan wayang golek itu dilangsungkan,


waktu sudah menunjukan pukul 6 sore, akupun memacu motorku dengan kencang agar tidak terlambat untuk menyaksikan pembukaan, karena biasanya pagelaran wayang dimulai selepas isya, aku sangat senang sekali mendengar rajah bubuka yang dilantunkan dalam setiap dimulainya pertunjukan wayang golek.

__ADS_1


Dan aduh sialnya, aku tidak tahu jalan ke arah desa itu, akupun lantas bertanya kepada seseorang yang sedang berjalan di pinggir jalan untuk menanyakan arah menuju desa itu, dia menunjukan arahnya dan dia bilang cukup jauh dan juga aku harus melintasi hutan lebat yang cukup menyeramkan, "ahh masa bodo, aku tidak takut sama begituan" gumamku dalam hati.


Lalu aku meneruskan perjalanan, dan benar saja...aku harus melewati hutan yang gelap dan jalannya berlubang, tak satupun aku melihat orang melintas di jalan ini, padahal ini masih jam 7 malam, dan sampailah aku di lokasi setelah menempuh 2 jam perjalanan dengan motor bututku.


 


Syukurlah... ternyata aku tidak terlambat dan acarapun belum dimulai, aku melihat penontonpun cukup sepi dan ini sudah jam 8 malam. "ahh...dasar...rakyat Indonesia, menghargai budayanya sendiripun sulit, haduhh sepi gini" ucapku menggerutu, lalu aku melihat penjual kacang rebus di samping panggung sedang menjajakan dagangannya, tanpa pikir panjang aku berjalan ke arah tukang kacang rebus itu untuk membelinya supaya aku bisa santai menonton pagelaran wayang sambil ngemil kacang rebus. Tak sengaja aku mencium bau kemenyan begitu kuat menusuk hidungku dari arah panggung, aku menoleh ke arah panggung dan aku kaget juga terheran - heran melihat begitu banyak sesajen di belakang wayang - wayang yang disiapkan


"untuk apa ini?" tanyaku dalam hati, aku belum pernah melihat ritual seperti ini di pagelaran - pagelaran wayang golek sebelumnya, sesajen itu tepat berada di barisan Wayang Pandawa & Kurawa yang membentang di kanan dan kiri panggung wayang. Terlihat ada satu sosok lelaki tua di belakang tempat duduk dalang sedang komat - kamit entah membaca mantra apa dengan anglo yang sedang membakar kemenyan di hadapannya.


Bau kemenyan itu semakin kuat, si lelaki tua itu kemudian memutar - mutar salah satu wayang yang dibungkus dengan kain putih di atas pembakaran kemenyan itu, "wayang apa itu" hatiku bertanya penasaran. Perlahan lelaki tua itu membuka kain putih pembungkus wayang itu.


Dan, tidak... Wayang apa itu, aku tidak pernah melihat sosok karakter wayang seperti itu, wayang itu terlihat sudah tua dan rapuh, juga warnanya sudah pudar. Dia berwarna merah darah dengan mulut yang menganga dan bergigi panjang, sudah puluhan bahkan ratusan pagelaran wayang aku saksikan namun aku tak pernah sama sekali melihat sosok wayang yang menyeramkan seperti itu.


Mataku seolah tak mau melepaskan pandangan kepada wayang itu, si lelaki tua terus memutar perlahan wayang itu di atas pembakaran kemenyan, dan tiba - tiba. "kang", huhh aku kaget bukan main, si penjual kacang menegurku untuk meminta uang kacang yang aku beli.


 


"oo iya, sabaraha mang?" ucapku


"lima ribu kang" jawab si penjual kacang


 Dan aku kembali menolehkan pandanganku ke arah panggung namun lelaki tua itu sudah tidak ada, begitu juga wayang aneh yang tadi kulihat juga sudah tidak ada disitu.


Nayaga pun memulai musik pembuka pertunjukan, menandakan pertunjukan akan segera dimulai. Dalang pun sudah siap di posisinya, lawang sigotaka atau gunungan sudah diayunkan oleh sang dalang ke kanan ke kiri dan diputar - putar


Aku segera mengambil posisi di depan panggung, suara gamelan pun dipelankan mengiringi kakawen sang dalang,


 


"Kembang sungsang dinang kunang


Kotak kurawis wayang


Lindu nira bumi bengkah


Adam adam babu hawa


Siskang danur wilis


Anwas anwar ngagelaraken


Malih kang danur citra


Nurcahya nursari nurjati


Dangiang wayang wayanganipun


Semar sana ya danar guling


Basa sem pangangken-angken


Mareng ngemaraken Dat Kang Maha Tunggal


Wayang agung wineja wayang tunggal


Wayang tunggal"


Begitu kira - kira sang dalang ber murwa dan lawang sigotaka sudah tertancap di tengah - tengah panggung wayang. Tiba - tiba suara gamelan terhenti dan sang dalang menyampaikan pesan dengan berbahasa sunda yang kira - kira begini artinya


"ini adalah pagelaran wayang untuk ruwatan, saya mohon kepada penonton untuk menyaksikan pertunjukan ini hingga selesai dan jangan ada yang tertidur, tolong hormati leluhur"


Menurutku itu biasa saja, hanya sekadar pertunjukan ini tidak kehilangan penonton di tengah - tengah pertunjukan, memang seorang dalang dituntut untuk kreatif dalam menyampaikan isi - isi pesan pewayangan.


Semakin larut aku menikmati pertunjukan ini karena sang dalang membawakan lakon berjudul "Jabang Tutuka", Jabang Tutuka ini mengisahkan kelahiran sosok Gatot Kaca, gatot kaca adalah salah satu figur kesukaanku.


Sampailah pada bagian komedi yang seperti biasa dilakonkan oleh Cepot, Dawala dan Gareng. Aku tertawa terpingkal - pingkal menyaksikan lawakan mereka, "dalang ini menurutku begitu mahir dalam suara, gerak dan cara dia membawakan cerita tapi kenapa dia tidak terkenal?" ucapku dalam hati.


Jam pun sudah menunjukan jam 12 tepat dan penontonpun masih tidak terlalu ramai, mungkin karena dalang ini tidak terkenal


Kantung kemihku tidak bisa diajak kompromi, aku harus buang air kecil karena sudah hampir 1 jam aku menahannya karena aku sangat terlarut dalam pertunjukan ini, aku berjalan agak jauh ke belakang panggung untuk mencari semak \- semak karena tidak ada toilet umum disini. Dan setelah kubuang semua amoniak itu aku merasa lega dan berjalan kembali ke depan panggung.


Tak sengaja aku melihat si kakek tua itu di belakang panggung sambil bersila, tapi kenapa wayang aneh tadi ditancapkan di depan dia?, kenapa tidak dibawa dalang, kenapa juga lelaki tua ini ada disini. Perlahan aku mendekatinya, dan aku terkejut bukan main.

__ADS_1


Aku melihat lelaki tua ini sedang seperti berkomunikasi dengan wayang usang dan aneh itu, dan aku...aku melihat kepala wayang itu mengangguk - angguk dengan sendirinya, setan apa ini hah?.


Tak sengaja aku terpeleset dan jatuh di dekat lelaki tua itu, dia menoleh ke arahku dengan tatapan yang begitu menyeramkan, akupun bergegas berlari kembali ke depan panggung namun lelaki tua itu terus menatap ke arahku hingga aku luput dari pandangannya.


Ya Tuhan, apa itu tadi?.


Aku berusaha tenang seolah tak terjadi apa - apa dan kembali menyaksikan pagelaran wayang, tapi benakku tetap tak mampu menghilangkan rasa penasaran dan ketakutan tadi.


Aku sangat ingin pulang tapi aku takut akan mitos yang aku dengar dari bapak - bapak yang aku temui di warung makan kemarin, juga dalang pun tadi berpesan harus menonton hingga selesai.


Tak tenang, takut, panik semua bercampur aduk aku rasakan, bahkan alur cerita wayang di depanku ini pun sudah tak fokus aku saksikan.


Aku tengok ke kanan kiriku, tiba - tiba aku merasa ada sesuatu yang janggal, aku kembali mencium aroma aneh perlahan - lahan menusuk indera penciumanku.


Ini bukan aroma kemenyan atau aroma apapun yang aku cium tadi, ini seperti aroma bunga kuburan baru yang bercampur aroma pandan, "apa ini?" tanyaku dalam hati.


Lambat laun aroma ini semakin kuat dan seketika berubah menjadi aroma tak sedap, seperti bau amis atau semacam daging yang membusuk.


Aku perhatikan kanan kiriku kembali, namun aku tak melihat apapun yang menjadi sumber aroma itu. Tapi, tapi sepertinya ada yang salah dengan wajah beberapa orang penonton di dekatku, tatapan mereka begitu kosong tanpa ekspresi.


Aku semakin diliputi rasa takut, namun aku berusaha untuk tetap tenang hingga pertunjukan ini selesai. Aku tetap memfokuskan mataku ke arah panggung, aku tak mau tengak - tengok kanan kiri lagi, sungguh aku terlalu takut untuk ini.


Waktu menunjukan pukul 02:00 dini hari, dan terlihat dalang akan menyudahi pagelaran ini, musik - musik penutup sudah dimainkan. Benar saja tepat 02:30 lawang sigotaka pun ditutup, menandakan acara sudah selesai.


Aku lega rasanya ini sudah berakhir, tapi aku sadar ini masih terlalu gelap untuk aku pulang,


"duhh...gimana ini?". Gumamku,


tak ada pilihan lain kecuali aku memaksakan untuk pulang.


Motor kunyalakan dan bergegas aku meninggalkan lokasi ini, baru berjalan sekitar 300 meter aku berhenti


 


"aku berarti harus lewat lagi hutan gelap yang tadi!". Ucapku


"aduh, gimana ini?, kenapa aku jadi penakut gini sih?". Aku merengek pada diriku sendiri


 Aku putuskan dengan segala keberanian yang tersisa, aku terus berjalan pulang dengan motorku, ku kebut sekencang - kencangnya.


Lubang, kerikil dan ranting yang mengganggu tak aku hiraukan, di benakku hanya ingin cepat sampai ke tempat ramai.


Desa tempat pagelaran wayang tadi begitu sepi, rumah pun terlihat berjauhan, aku perkirakan mungkin hanya ada sekitar 100 rumah disana.


Sampai aku di hutan yang mengerikan ini, aku semakin kencang memacu motorku, dan aku merasa sangat lega setelah berhasil melewati hutan itu.


Setelah 1 jam lebih aku berjalan, akhirnya aku sampai di tempat keramaian, tepatnya di simpang pertigaan penghubung ke jalan desa tadi dengan jalan raya.


Ahh sial, motorku kehabisan bensin, namun kali ini aku sedikit beruntung karena tak jauh dariku aku melihat penjual bensin eceran masih buka.


 


"Mang... beli bensin". Ucapku sedikit teriak agar membangunkan si Bapak penjual bensin yang sedang terlelap.


"Emmm...iya, iya kang, berapa liter?". Si Bapak penjual bensin menjawab dengan kaget dan langsung berdiri dari bangku warung yang panjang tempat dia tertidur


"2 liter we mang". Jawabku


"Oh iya, ngomong - ngomong dari mana pagi - pagi buta gini kang?". Tanya si Bapak


"Abis nonton wayang di Desa sana". Kujawab sembari menunjukan arah desa tadi


"Oh, berani banget akang kesana ih, mamang mah udah lama disini juga ga berani ke desa itu mah". Pungkas si Bapak


"Memangnya desa itu kenapa mang?". Tanyaku


"Ah..pokona mah serem kang, jadi 20 ribu kang bensinnya". Jawab si Bapak yang terlihat tak mau menjelaskan lebih jauh tentang desa itu.


 Akupun berpamit dan berterima kasih kepada si bapak Penjual bensin itu, namun pernyataannya menambah rasa bingung di otakku, ditambah dengan rangkaian kejadian yang aku alami tadi rasanya aku perlu mencari tahu apa sebenarnya semua ini.


Jam 04:30 aku tiba di kamar kostku dengan mata yang sudah sangat mengantuk dan badan yang sudah sangat ingin berbaring di atas kasur, akupun terlentang dan mataku perlahan menutup.


"Bruakkk"... Aku reflek terbangun mendengar suara itu, aku sangat terkejut melihat.....

__ADS_1


 


Bersambung....


__ADS_2