WAYANG IBLIS

WAYANG IBLIS
SEDA PATI


__ADS_3

"Bruakkk"... Aku reflek terbangun mendengar suara itu, aku sangat terkejut melihat wayang - wayang koleksiku yang kusimpan di rak dinding tiba - tiba jatuh berhamburan.


"kenapa ini, padahal raknya masih utuh" tanyaku sendiri, sungguh aneh dan tak masuk akal, tidak ada angin atau kucing yang menyelinap ke kamarku, aku memeriksa seisi kamarku dan tidak aku temui tanda - tanda keanehan satupun.


Aku menuangkan air ke dalam gelas brilik klasik pemberian mantan pacarku untuk sekadar mengurangi rasa kagetku, lalu aku bereskan kembali seluruh wayang koleksiku ini, aku sangat kaget bukan main ketika aku mengangkat wayang Rahwana yang tertumpuk diatas wayang Hanoman milikku.


"Astaga, kain putih apa ini?". Ucapku terkejut


Aku melihat selembar kain putih yang cukup usang menutupi wajah wayang hanoman, kain putih yang sudah memudar bahkan sudah sedikit rapuh, aku tak pernah memiliki kain ini sebelumnya, ini sungguh aneh, sebenarnya ada apa ini?.


Kain berukuran tak terlalu besar, namun cukup untuk membungkus wayang. Tiba - tiba aku teringat kembali kepada wayang aneh si lelaki tua tadi malam, aku ingat dia membungkus wayang itu dengan kain seperti ini.


Wayang rahwana di tangan kiriku masih ku genggam sembari aku menatapi kain ini, terus aku melamun mencari makna apa yang sebenarnya sedang terjadi ini, otakku terus berpikir tentang ini tanpa sama sekali tubuhku bergerak.


"Hahhhh"... Aku terkejut mendengar nada dering handphone ku yang tiba - tiba menyala.


Kusimpan sejenak kain itu dan tanpa sadar aku masih menggenggam Rahwana di tangan kiriku, aku jawab panggilan di handphone ku, ternyata ibuku yang menelepon


"De, gimana kamu disana?, sehat - sehat aja kan?" tanya Emak dengan suara lembut


"Alhamdulillah sehat mak, emak gimana disana?". Jawabku


hingga puluhan menit emak telpon, kami membicarakan banyak hal, mulai dari panen yang tak menghasilkan banyak hingga menceritakan kekesalan Emak terhadap tingkah Bapak.


Begitulah Emak kalau bicara, semua keluar tanpa saringan, kadang aku kasihan sama Bapak yang sering sekali dimarahi Emak di usia tua ini, tapi beruntung Bapak selalu sabar menghadapi Emak, memang the best Bapakku ini.


Percakapanku dengan Emak pun berakhir, tanpa sadar aku masih saja menggenggam Rahwana di tangan kiriku, akupun kembali ke tempat dimana aku meletakan kain putih tadi.


Gila, ini gila, ini nggak wajar, kain itu hilang entah kemana, aku semakin panik. Aku simpan Rahwana ke tempatnya dan aku melompat ke atas kasurku, menutup kepalaku dengan bantal dan aku sangat ketakutan.


Aku bingung, entah harus berbuat apa, entah kepada siapa juga aku harus menceritakan ini, tidak akan ada yang percaya jika aku ceritakan. Perlahan aku memberanikan bangun dari tempat tidurku, aku menengok ke arah dimana kain putih tadi aku simpan.


Perlahan aku berjalan, menengok kanan kiriku memastikan dimana kain itu sekarang, tapi tetap juga tidak aku temukan. Akupun berusaha kembali menenangkan diriku dan duduk di tepi ranjangku sembari kembali melamunkan kejadian - kejadian ini


Pandanganku tak sengaja tertuju kepada Rahwana, Rahwana pun menghadap ke arahku dengan tatapan tegasnya, semakin fokus aku menatap rahwana, seolah aku mendapatkan sebuah pesan yang tak kumengerti.


Kucoba menghubungi salah satu temanku, namanya Tara Arjuna, dia adalah adik tingkatku di kampus namun dia lebih dulu lulus.


"Hallo, Sampurasun... Tar". Sahutku


"Rampes, iya kang... Ada apa?" Jawab Tara


Lalu aku membicarakan seluruh rangkaian kejadian yang aku alami sedari di Pagelaran Wayang semalam hingga kejadian kain putih tadi.


Tara begitu serius mendengarkan semua ceritaku, kebetulan Tara juga satu - satunya temanku yang mempelajari fenomena - fenomena astral seperti itu, Tara memberitahuku untuk tetap tenang dan memintaku untuk tidak membicarakan hal ini ke siapapun dan tetap berhati - hati, karena menurutnya ini berasal dari sebuah kekuatan ilmu hitam jahat yang cukup kuat.


Kekuatan itu sedang berusaha mendekat kepadaku, begitulah yang Tara sampaikan kepadaku. Setelah lama aku berbicara dengan Tara hingga pembicaraan itu berakhir, aku semakin dibuat penasaran, untuk apa kekuatan jahat itu mendekatiku?, apa ini ada hubungannya dengan Dalang Teja Kusuma dan Lelaki Tua itu?


Tak terasa waktu sudah senja, perutku tiba - tiba berontak meminta asupan nutrisi, ya aku lapar. Aku keluar dari kamarku, berjalan kaki menuju depan gang untuk melihat - lihat makanan apa yang nikmat untuk sore hari ini.


Pilihanku jatuh kepada Nasi Tutug Oncom, aroma khas oncom goreng berbumbu kencur itu sangat menggoda perutku, tanpa pikir panjang kupesan porsi double dengan gorengan tempe hangat, begitu lahap aku menyantap makanan nikmat ini hingga tak sadar aku telah menghabiskan 7 potong tempe mendoan, maklum dari semalam aku belum makan pula.


Perutku sudah berdamai, sejenak aku bersantai di warung ini sembari membersihkan sisa - sisa makanan di sela - sela gigiku, hingga selesai tegukan teh tawar terakhir akupun lekas membayar makananku.


Aku berjalan kembali menuju kamar kosku, hari sudah mulai gelap, asyik aku berjalan, tiba - tiba aku melihat seseorang sedang berdiri bersandar ke tembok gerbang kostku,


"siapa itu?", tanyaku sendiri


aku dekati orang itu, dia mengenakan pakaian pangsi serba hitam dengan kepala dikerudungi kain hitam, ketika aku semakin mendekat, dia beranjak dari tempatnya.


Dia pergi sebelum aku sempat melihat wajahnya, dia berjalan menjauh membelakangiku lalu setelah agak jauh dia berbalik memperlihatkan wajahnya kepadaku


"Dia...dia...", mataku terbelalak, mulutku tiba - tiba seperti terkunci tak kuasa menahan kaget saat aku melihat wajahnya, dia adalah lelaki tua itu. Dia terus berjalan menjauhiku dan aku benar - benar merasa kaku untuk bergerak mengejar dia hingga dia hilang dari pandanganku.


Untuk apa dia disini, aku bergegas berjalan menuju kamarku, ku kunci rapat - rapat, ku ambil smartphone ku untuk segera menelpon Tara namun berulang kali ku hubungi Tara tidak menjawab panggilanku,


"duh...kenapa ini si Tara, tidak biasanya dia begini" kesalku


hingga 13 kali aku menghubunginya, dia sama sekali tidak menjawab, aku semakin panik.


Tanpa pikir panjang aku memutuskan untuk menemui Tara di rumahnya, aku bergegas menuju garasi, aku nyalakan motor tuaku, dan dengan cepat aku keluar dari gang tanpa sempat aku menutup kembali pintu garasi.


"Ya Tuhan". Aku berteriak kencang, tak sengaja aku menyenggol seorang pejalan kaki ketika aku melaju kencang ke arah luar gang, dia terjatuh tersungkur ke dalam got di kiri jalan.


Aku turun dari motorku untuk menyelamatkannya, ya aku tahu aku salah, aku harus bertanggung jawab atas kesalahanku. Setelah kuamati, syukurnya dia tidak mengalami luka serius, hanya saja badannya penuh dengan lumpur got yang berbau tak sedap.


"Maaf,,,Maaf mas". Ucapku dengan perasaan bersalah


"Euhhh... Sialan, pake makanya mata lu, itu mata bukan asesoris". Jawab dia sangat kesal


"iya mas, maaf mas, saya buru - buru, mas nggak kenapa - kenapa kan?". Jawabku


Setelah dia memakiku habis - habisan, akhirnya kita sepakat berdamai dan aku kembali melajukan motorku, kali ini aku mengendarainya tidak terlalu kencang, aku masih shock karena kejadian barusan.


Pikiranku kacau, kalut dan terus melamun sepanjang perjalanan dan aku tiba di rumah tara dengan penuh rasa kikuk


"Sampurasun... Tara". Teriakku di depan rumah Tara


Berkali - kali aku memanggilnya, hingga akhirnya dia menjawab salamku setelah hampir 15 menit aku di depan rumahnya


"rampes., duh kang maaf, maaf saya ketiduran". Ujar dia sembari terburu - buru membukakan pagar


 Aku dipersilakan duduk di kursi terasnya, dan diberitahunya ternyata dia sedang sendirian di rumah,


"pantas saja susah sekali bangunnya". Batinku


Tanpa ada basa basi lagi aku menceritakan kejadian yang kualami dari setelah menonton pagelaran Wayang Ki Dalang Teja Kusuma hingga kejadian tadi


Tara begitu serius memperhatikan setiap ucapanku, dia seperti sedang menerawang sesuatu, tiba - tiba tanpa sadar terdengar Tara bicara


"Dia dibangunkan". Ucap Tara perlahan


"Hah..apa apa?, gimana?". Jawabku spontan


"Euh..enggak,, enggak kang, hehe". Pungkas Tara seperti menutupi sesuatu


Tara mengajakku masuk untuk melanjutkan pembicaraan di dalam rumah karena hari semakin malam, aku masih penasaran dengan apa yang Tara sebut "dia dibangunkan" tapi aku belum berani bertanya karena sepertinya Tara kurang berkenan menjelaskannya.


Tara memiliki banyak koleksi benda - benda purbakala dan barang antik di rumahnya, setiap sudut rumah diisi dengan benda - benda seperti keris hingga kujang kuno peninggalan jaman dahulu, aku selalu terkesima setiap berkunjung ke rumahnya, takjub melihat benda - benda yang ada di rumahnya.


"saya mandi dulu ya kang, akang santai aja di ruang tengah". Ucap tara


"OK, sip". Jawabku


Aku penasaran dengan seluruh isi rumah ini, karena aku belum pernah melihat seluruh isi rumahnya, setiap aku berkunjung kesini aku hanya duduk santai di teras atau di kamar dia.


Selagi dia mandi, aku memanfaatkan waktu untuk melihat seisi rumah ini, rumahnya sangat besar dan memiliki gaya rumah jaman kolonial, perlahan aku berjalan sambil melihat - lihat hingga tak sadar aku berjalan menuju lorong ke arah gudang rumah.


Tiba - tiba, aku terdiam dengan penuh rasa tegang melihat sosok lukisan kecil yang terpampang di ujung lorong, mataku terbuka lebar, kaku dan.


"Hahh". Aku sangat terkejut, Tara berteriak memanggilku

__ADS_1


"Tara, sini deh sini". Panggilku balik


Tara pun mendekatiku


"Ini lukisan wayang apa, aku nggak pernah lihat tokoh ini?". Tanyaku


Tara terlihat sedikit ragu untuk memberitahuku, namun akhirnya dia menjelaskan secara lugas itu siapa.


"ini namanya Seda Pati kang, wayang ini bukan wayang pertunjukan, wayang ini memiliki jiwa iblis yang digunakan untuk mencari tumbal oleh orang - orang jahat di masa lalu yang ingin memperoleh kedigdayaan dan kedudukan tinggi secara instan lewat pesugihan". Jawab tara dengan lugas


"ini wayang yang aku lihat di pagelaran wayang Teja Kusuma yang dipegang lelaki tua itu kemarin". Timpalku dengan penuh ketakutan sembari menunjuk lukisan itu.


"dia sudah dibangunkan kang, Seda Pati telah lama dimasukan ke kotak dan ditidurkan oleh Abah Armayi karena perilaku jahatnya banyak memakan korban di masa lalu". Tara menjelaskan sembari menarikku menjauh dari lukisan itu


Tara menceritakan kisah Seda Pati begitu detail dan penuh misteri, tapi dia tidak tahu banyak tentang sosok Abah Armayi yang dia sebut tadi setelah aku tanyakan secara menyeluruh.


Lalu apa hubungannya denganku?, mengapa lelaki tua itu tiba - tiba muncul menemuiku?, sungguh aku sangat dibuat bingung oleh rangkaian peristiwa ini.


"dia sedang mencari korban pertama kang!". Tiba - tiba Tara berbicara di tengah lamunan kebingunganku. Aku sangat terkejut dengan ucapannya, membuatku berprasangka bahwa aku adalah calon korban pertamanya.


"dan dia pendendam kang!". Kembali Tara sampaikan kepadaku, semakin takut dan bingung aku dibuatnya. Akupun menghentikan penjelasan Tara secara spontan.


 Aku meminta ijin untuk menginap di rumahnya karena aku masih terlalu takut untuk kembali ke kamar kost ku dan ini sudah cukup malam juga setelah aku dan Tara berbicara banyak, Tara pun mengijinkan dan mempersilakanku tidur bersamanya di kamarnya.


Kebetulan kamarnya cukup luas dan ada Konsol Game yang cukup menarik, untuk mengalihkan pikiranku, aku ajak Tara bermain game sepak bola kegemaran kami. Namun akhirnya mata ini tak sanggup lagi terbuka lebar, aku sudah sangat mengantuk, aku pun meminta ijin untuk tidur


Kami tidur terpisah, aku di kasur lantai dekat TV dan Tara di tempat tidurnya. Aku pun terlelap.


Di tengah malam sekitar jam 1, perutku tiba - tiba berkontraksi


"huhh..segala mules lagi jam segini". Aku terbangun sambil menahan perutku


aku keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi dekat kamar, aku tuntaskan rasa mules ini, dan lega akhirnya.


Aku keluar dan bermaksud kembali ke kamar, namun langkahku terhenti karena aku mendengar suara aneh dari lantai 2 rumah ini, perlahan aku berjalan ke atas untuk memastikan suara apa itu, suara itu terdengar dari salah satu kamar yang berada di ujung belakang lantai 2


Aku dekati perlahan, suara itu semakin jelas terdengar dari dalam, aku penasaran dan membuka pintunya pelan - pelan, dan


"A...a...a... Astaga, Ya Tuhan... a...a...apa itu?". kaget bukan kepalang, aku melihat sebuah gong besar berayun sendiri ke depan ke belakang dan sesekali memantul dinding di belakang tempat gong itu disimpan.


Tanpa pikir panjang, kututup pintu dan kembali ke kamar dengan tergesa \- gesa, tiba - tiba.


"abis ngapain kang?". Tegur Tara sembari terduduk di kursi sofa dekat tangga.


Aku sangat terkejut dengan teguran Tara, akupun menceritakan alasanku kenapa sampai ke kamar atas itu kepadanya sembari gugup dan kikuk karena dia sepertinya tidak berkenan dengan apa yang kulakukan barusan, pandangannya begitu sinis.


"dia emang gtu, suka gerak sendiri tiba - tiba". Sahut Tara


"i..i..iya Tar, ko bisa gtu ya?". Tanyaku


"sudah kang, bukan urusan akang". Pungkas Tara dengan nada yang sinis


Akupun meminta ijin untuk kembali ke kamar dan melanjutkan tidurku, tara hanya mengangguk dan tak bicara sepatah katapun, di kamar aku hanya terlentang dengan lengan di dahi sembari menatap langit - langit kamar.


Aku berusaha berpikir untuk memecahkan teka - teki ini, sepertinya ini akan menjadi petualangan panjang bagiku dan mataku masih tak mau terpejam hingga waktu sudah sepagi ini


Tara tak kunjung kembali ke kamar, ini sudah jam 4 pagi padahal, aku yakin dia kesal karena kejadian tadi, tapi kenapa dia harus kesal?. Apa ada yang dia sembunyikan?.


Tak terasa akupun tertidur


"kang, kang, bangun kang, udah jam 10". Tara membangunkanku sembari menepuk2 kakiku


"eumm...ehh, iya tar, sorry kesiangan bangunnya". Jawabku dengan mata masih lengket


Kami berdua sarapan kupat tahu yang telah Tara siapkan di atas meja makan, lezat sekali kupat tahu ini rasanya.


 Akupun meminta maaf atas perilakuku tadi malam kepada Tara, tapi Tara hanya tersenyum sembari menikmati makanannya, lalu akupun bertanya pelan - pelan tentang gong yang kulihat tadi malam.


"nggak biasanya dia (gong) begitu kang, terakhir saya lihat dia berayun gitu pas pertama saya bawa kesini, setelah itu nggak pernah lagi". Jawab Tara


"bawa dari mana?". Tanyaku kembali


"dulu saya dikasih sama seseorang, dia berpesan katanya kalau gong itu bergerak, artinya sedang ada bahaya, makanya saya langsung nggak tenang tadi malam". Ujar Tara


Batinku semakin tidak karuan mendengar penjelasan Tara, kupat tahu pun berubah menjadi tak sedap lagi, aku kembali berpikir untuk mencari jawaban atas segala yang terjadi ini.


Aku masih tidak habis pikir, kenapa Tara memiliki lukisan wayang aneh itu? Dan kenapa dia juga begitu mengerti tentang kisah wayang seda pati itu?.


Pertanyaan demi pertanyaan kian menyeruak di kepalaku, tapi aku berusaha tetap tenang menghadapi semua ini.


"lalu, aku harus gimana ini tar?". Tanyaku


"saya masih terlalu minim ilmu untuk ini kang, tapi mungkin akang bisa tanya ke Pak Dadang". Jawab Tara


"hahhh... Pak Dadang?, Pak Dadang dosen kita?". Ucapku kaget


"iya kang, seinget saya Pak Dadang pernah bercerita masalah wayang seda pati ini ketika saya bimbingan skripsi sama beliau setaun yang lalu". Ujar Tara


Ya Tuhan, kenapa harus Pak Dadang, aku yakin dia masih benci padaku atas kejadian tempo hari, tapi aku juga butuh orang yang faham atas segala kejadian yang menimpaku ini.


Aku berpamitan dan pergi dari rumah Tara, kembali kulajukan motor bututku ini, sepanjang perjalanan aku terus berpikir mengenai semua ini, semua pikiranku buntu dan tak kunjung kutemukan jawaban.


Ah, daripada aku terus larut dalam pikiranku, lebih baik aku temui Pak Dadang saja, masa bodo dengan makalahku, aku berhenti sejenak untuk menelepon Pak Dadang, aku sampaikan bahwa aku ingin bertemu dengannya hari ini.


Ternyata tak seperti dugaanku, Pak Dadang mengijinkanku untuk menemuinya di rumahnya nanti malam, aku pun sedikit lega dan kuputuskan untuk kembali ke kosan, badan ini sudah lengket dan bau karena aku sungkan untuk mandi di rumah Tara tadi.


Tiba di kamarku, aku bersantai sejenak dan kurebahkan badanku di atas kasur, tak sengaja mataku mengarah ke wayang rahwana di depanku, kuperhatikan sepertinya ada yang aneh dan tidak wajar.


"astaga, kenapa ini". ucapku terkejut


kudapati wayang rahwanaku penuh luka goresan, dan kain sarungnya robek.


Kembali kuperhatikan seisi kamarku, aku mencari - cari penyebab kenapa wayang rahwanaku hingga seperti ini, tak kutemui kejanggalan apapun di sekitar kamarku, sungguh aneh, apa yang terjadi.


Waktu menunjukan sudah sore, aku bergegas mandi dan bersiap - siap untuk pergi ke rumah Pak Dadang, rumah Pak Dadang cukup jauh dari kosanku, kira - kira 2 jam perjalanan.


Di perjalanan aku masih saja memikirkan semua ini, dan aku sangat berharap Pak Dadang punya solusi atas semua kejadian yang kualami ini.


Setibanya di rumah Pak Dadang, aku dipersilakan masuk dan aku diajak bicara di ruang sanggar wayang miliknya, sanggar itu terletak di halaman belakang rumahnya, suguhan kopi panas dan singkong rebus dari istri Pak Dadang menemani obrolanku ini.


Ternyata Pak Dadang tak semengerikan yang aku kira, beliau begitu rendah hati dan halus di rumah, lalu akupun menceritakan seluruh rangkaian kejadian hingga seluruh percakapanku dengan Tara kepada beliau.


"Seda Pati?" Pak Dadang spontan memotong pembicaraanku


akupun mengangguk dan tak meneruskan pembicaraanku.


"dari mana si Tara Arjuna tahu jika wayang itu adalah Seda Pati?". Tanya Pak Dadang kepadaku


akupun bingung, apa yang harus aku jawab


"maaf pak, kata Tara Bapak pernah menceritakannya ke Tara". Jawabku ragu

__ADS_1


Pak Dadang menyangkalnya, beliau menuturkan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah membicarakan tentang Seda Pati sedetail itu ke Tara, dan bahkan Pak Dadang pun tak pernah menceritakan ciri fisik si wayang seda pati itu.


Aku pun semakin bingung atas semua ini, lalu Pak Dadang menyuruhku untuk tinggal di rumahnya demi keamananku, aku semakin bingung dengan semua ini, kenapa Pak Dadang menjadi setegang ini?.


Tiba - tiba Pak Dadang mengajakku ke sebuah ruangan yang ada di samping kiri sanggar, sebelum masuk ruangan itu Pak Dadang tampak mengucapkan sesuatu yang entah apa itu.


"pun sapun sampurasun, nun paralun ka para karuhun". Ucap Pak Dadang saat membuka pintu ruangan itu.


Tidak ada apa - apa di ruangan itu, hanya ada kotak hitam berukuran kurang lebih 1 meter persegi dan ruangannya sangat sejuk juga wangi kayu gaharu yang dibakar.


Pak Dadang membuka kotak itu dan memintaku mengeluarkan sebuah wayang rahwana yang tersimpan di dalamnya, ku angkat wayang itu. Dan tiba - tiba Pak Dadang terkejut


"Hahh...kamu, kamu siapanya Abah Armayi?". Tanya Pak Dadang dengan terkejut


Aku jelaskan kepada Pak Dadang bahwa aku juga bingung dengan pertanyaan Pak Dadang, karena aku saja tidak tahu siapa Abah Armayi, aku hanya mendengarnya dari Tara.


"Kamu punya kalung itu dari mana?". Tanya Pak Dadang sembari menunjuk kalungku


Kalungku memiliki liontin yang berbentuk gunungan wayang atau lawang sigotaka dengan bahan emas, liontin itu memiliki ukiran berbentuk mata satu di puncaknya dan memiliki ukiran Rahwana dalam Wayang Kulit di bawahnya.


Aku jelaskan kepada Pak Dadang bahwa aku memiliki kalung ini sedari kecil, Emak yang memberikannya kepadaku, lalu Pak Dadang mengajakku ke sebuah ruangan lain, disana beliau menunjukan sebuah photo tua.


"Siapa ini?". Tanyaku


"Ini Abah Armayi, coba kamu perhatikan liontin yang dipakainya". Jawab Pak Dadang


Aku sangat bingung, kenapa Liontinku sama persis dengan yang Abah Armayi pakai, aku jelaskan kembali kepada Pak Dadang bahwa aku sama sekali tidak mengenal siapa Abah Armayi, bahkan tak pernah juga terdengar cerita tentang beliau dari keluargaku.


Pak Dadang memberitahuku bahwa dia yakin jika sebenarnya aku memiliki hubungan dengan Abah Armayi, karena menurutnya tidak mungkin aku mengenakan kalung yang sama jika aku tak mempunyai hubungan apapun.


"Pantas saja Seda Pati mengejarmu". Ujar Pak Dadang


Aku semakin takut karena ucapan Pak Dadang, ternyata karena kalung ini semua rentetan peristiwa itu terjadi, aku tak pernah menginginkan kalung ini, ingin rasanya kubuang kalung ini, tapi aku ragu karena ini pemberian Emak.


"Kamu punya wayang Rahwana di rumahmu?". Tanya Pak Dadang


"Euu.. Punya Pak". Jawabku


Beliau bertanya mengenai kondisi wayangku, aku jelaskan semuanya bahwa kondisi wayangku tiba \- tiba penuh dengan bekas goresan benda tajam di wajahnya, dan bahkan sarungnya penuh dengan robekan.


"Pasti, dia Pasti akan mengincar Rahwana terlebih dahulu". Ujar Pak Dadang


Beliau menjelaskan bahwa wayang rahwana yang memiliki jiwa lah yang dapat menghentikan langkah seda pati, itu alasannya kenapa beliau menyimpan wayang rahwana di sebuah kotak khusus dan ruangan tersendiri.


Beliau menjelaskan bahwa wayang rahwana yang kupegang tadi adalah wayang yang Abah Armayi gunakan untuk mengalahkan seda pati, beliau menjelaskan bahwa satu \- satunya cara untuk mengalahkan kekuatan seda pati.


Aku harus mengambilnya dan melakukan pertunjukan untuk membuatnya bertarung dengan Rahwana, bukan dengan sembarang Wayang Rahwana tapi Wayang Rahwana yang memiliki jiwa.


Bulu kudukku berdiri mendengar penjelasan Pak Dadang, aku tidak mengerti dengan maksud Rahwana yang berjiwa


"maksud dari Rahwana yang berjiwa itu apa Pak?". Tanyaku


Dan Pak Dadang kemudian bercerita


"Rahwana adalah tokoh wayang yang memiliki ketulusan cinta yang sangat besar, bahkan dia tak segan mempertaruhkan gelar raja dan Negara Alengka Dirja hanya demi seorang Shinta, bahkan ketika Shinta berganti wujud dan berubah nama menjadi Maitili, Janaki dan Widehi sekalipun Rahwana tetap teguh pada cintanya kepada Shinta, karena Rahwana mencintai Dzatnya Shinta bukan fisik, rupa atau namanya, Rahwana akan berjiwa jika dimainkan orang yang memiliki ketulusan seperti dia".


Tiba - tiba terdengar bunyi pesan masuk ke gawaiku


"Kang, Tolong". Tara menyampaikan SMS seperti itu kepadaku, lalu segera ku telepon dia tapi berkali - kali dia tak menjawab panggilanku, ada apa ini?.


sekali lagi aku meneleponnya dan tara menjawab


"dia disini kang". Jawab tara


"Halo...halo.. Tara, dia siapa, halo...halo.... Tara, Tara". Tanyaku dengan tegang kepadanya, dan kudengar teriakan Tara seperti jauh dari gawainya.


Lekas kuberitahu ini kepada Pak Dadang, dan Pak Dadang sontak berteriak


"cepat, kita ke rumah Tara, dia sudah memulainya". Pungkas Pak Dadang sembari menarikku keluar


"dia siapa pak, apa maksudnya dimulai pak?". tanyaku


"ahh cepat kamu, Tara dalam bahaya ini". Ucap Pak Dadang sembari tergesa - gesa mengambil kunci mobilnya


Kami bergegas menuju rumah Tara dengan mobil antik Pak Dadang, beliau menjalankan mobilnya dengan kencang, akupun dibuat ketakutan dengan cara mengemudi Pak Dadang.


"Ahhh... ini macet kenapa lagi?". Ucap Pak Dadang dengan penuh kesal


Berkali - kali Pak Dadang membunyikan klaksonnya, namun jalan tak kunjung berangsur lancar, beliau memutuskan untuk memutar balik dan mengambil jalan lain


Pak Dadang memacu mobilnya begitu kencangnya hingga tak sengaja kami menyenggol mobil lain


"woii g**lok, stop woi, tanggung jawab mobil aing rusak yeuh an***g". Teriak marah pengendara mobil yang tersenggol Pak Dadang


Namun Pak Dadang tak menghiraukannya, kami terus berpacu melawan waktu agar cepat sampai ke rumah Tara.


Setelah perjalanan yang menegangkan, kami sampai di rumah Tara, kami berteriak memanggil Tara dari luar pagar, namun tak ada jawaban apapun


Kami memutuskan untuk meloncati pagar, dan mendobrak masuk ke dalam rumahnya, kucari dia di kamarnya tapi tidak ada, kucari di setiap ruangannya dan tidak ada


Lantas kucari di lantai 2 di kamar tempat dia menyimpan gong aneh itu, kubuka pintu perlahan dan kudapati Tara sudah tewas mengenaskan, dia pergi dengan wayang buta tertancap menghujam jantungnya dan penuh luka sayatan di wajahnya


Aku terdiam lemas, dan tak kuasa menahan badanku, aku terduduk perlahan dengan punggung menempel di dinding, tangisku pecah, sembari menatap Jasad tara yang berlumuran darah.


"Tara......". Teriakku di samping Jasadnya


Pak Dadang pun tak kuasa menahan haru, kulihat beliau begitu terpukul dengan kematian Tara namun beliau berusaha tetap tegar.


Pak Dadang mengajakku mengangkat jasad Tara untuk dibawa ke bawah, kamipun mencoba menghubungi keluarga Tara yang sedang pergi ke luar kota


Aku menjelaskan kepada ayahnya mengenai kejadian ini, dan ayahnya pun tak kuasa mendengar kejadian ini, mereka bilang akan segera pulang.


Bersama Pak Dadang kumandikan jasadnya sembari menunggu keluarganya tiba, hingga kami bungkus dengan kain kafan, berselang 8 jam kami menunggu, tibalah keluarga tara


Mereka tak kuasa menahan tangis atas kepergian anaknya yang tewas mengenaskan, akupun kembali menangis sembari menjelaskan seluruh kejadian kepada ayah Tara di ruang tengah dekat tangga, ayah tara hanya mendengar ucapanku dengan tatapan kosong, aku pun berusaha menenangkan ayahnya.


Setelah pembicaraan selesai aku perlahan menjauh dari kerumunan keluarganya. Aku berjalan perlahan ke arah lorong halaman belakang, aku penasaran dengan lukisan seda pati yang terpampang disana, dan tidak. Lukisan itu hilang!!!, aku sangat terkejut mendapati lukisan itu sudah tidak ada di tempatnya


"De, de". Pak Dadang memanggilku


"Iya pak". Jawabku


"Ayo, Ambulan sudah datang". Ujar Pak Dadang


Aku dan Pak Dadang lekas meninggalkan rumah untuk segera beranjak ke tempat pemakaman Tara, tiba di pemakaman, kami semua kembali diliputi haru


Jasad Tara telah terkubur dengan tanah, aku masih tak percaya atas semua ini!. Aku mengangkat kepalaku, aku melihat sosok lelaki berbaju serba hitam berada agak jauh dari pemakaman, dia seperti memperhatikan ke arah kami sendirian


Ini aneh, siapa dia?. Tapi aku tak terlalu menghiraukannya, karena kami sedang berdo'a di depan pusara Tara Arjuna, setelah seluruh prosesi selesai akupun beranjak dari pemakaman bersama Pak Dadang.


Kami masuk ke dalam mobil, dan ketika kami mulai berjalan, aku melihat sosok lelaki berbaju hitam tadi berjalan memunggungiku di depan kami, setelah kulewatinya ternyata dia adalah lelaki tua itu, dia tersenyum ke arahku

__ADS_1


Aku meminta Pak Dadang untuk berhenti, dan aku turun untuk mengejar lelaki tua itu, tapi...


Bersambung....


__ADS_2