
"ayo ayo sini le". Ucap kakek Cokrodijoyo mengajakku masuk ke rumahnya
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, aku tiba di rumah kakek, rumah yang memiliki arsitektur Jawa Tradisional, asri, nyaman, dan masih alami membuatku larut dalam suasananya, damai rasanya
Aku dibuatkan minuman seperti jamu yang mereka sebut wedang uwuh oleh Eyang Sutarti istri kedua kakek, sepeninggal nenekku, kakekku bercerita bahwa beliau menikah lagi dengan Eyang Sutarti hanya agar memiliki teman di masa tuanya.
Sembari menunggu minuman agak dingin, kakek mengajakku melihat potret - potret Ayah dan Ibu yang tersimpan di ruang keluarga, aku melihat wajah mereka begitu bersahaja dalam potret itu.
"yah, bu, anakmu disini". Ucap batinku seraya memanggil mereka untuk datang
Lalu kakek menunjukan potret Abah Armayi dalam satu potret pernikahan ayah dan ibu, Abah begitu gagah mengenakan beskap dalam potret itu.
"le, rene le, iki ono anake Kasmuji". Ucap kakek dalam pembicaraan di ponselnya
"nelpon siapa kek, lalu Kasmuji siapa?". Tanyaku
"nelpon pak lik mu Sumarjo, om mu, Kasmuji iku Bapakmu le dan ibumu namanya Neneng Kartika". Jawab kakek
Ternyata nama Ayahku adalah Kasmuji dan Ibuku adalah Neneng Kartika, seandainya mereka tahu aku disini, pasti mereka akan sangat bahagia.
Kakek memberitahu bahwa ayahku dua bersaudara, ayahku anak paling besar dan om Sumarjo adalah adik ayah.
"lalu kek, kalau ibu berapa bersaudara?". Tanyaku
"euh..nganu...lali kakek, pokoke banyak sodara - sodarane, Mbah Armayimu itu istrinya banyak, kalo ndak salah istrinya ada empat, dan anaknya pun banyak le, kakek lupa persisnya ada berapa anaknya". Jawab kakek
Aku kembali ke kursi, kuminum wedang uwuh tadi, begitu segar kurasakan
"lalu kek, kemana semua saudara - saudara ibu, dan sepupu - sepupuku?". Tanyaku kembali
"semua sudah ndak ada le, yang kakek dengar hanya ada satu muridnya Armayi saja yang selamat, tapi semenjak kejadian itu entah hilang kemana dia, kalo ndak salah namanya Setiawan atau siapa lah, Kakek lupa". Jawab kakek sembari memandangi potret ayah dan ibuku
"Setiawan?, apa mungkin itu Setiawan Dosen Pembimbing Skripsiku?". Batinku
tiba - tiba aku jadi ingat kalau Pak Dadang hingga sekarang masih belum dapat dihubungi, kucoba lagi menghubungi Pak Dadang tapi nomornya pun tidak aktif.
"duh, kemana nih aki - aki ya?". Batinku
aku semakin cemas dan tidak karuan, pikiranku saat ini hanya terfokus ke Pak Dadang, ada apa dengan Beliau ini?
"le, le, sini". Panggil Kakek
"iya kek, ada apa?". Tanyaku
ternyata paman Sumarjo tiba di rumah kakek, paman Sumarjo spontan memelukku dan tangisnya seketika lepas, wajar saja jika beliau seperti itu, 24 tahun beliau tidak mengetahui keberadaanku.
Kami saling bertukar cerita, dan paman sumarjo menceritakan sepupu - sepupuku yang merupakan anaknya
Aku mendengarkan cerita banyak tentang ayahku dari Paman, dari masa kecil ayah hingga nakalnya ayah di usia remaja hingga tak terasa haripun berganti malam.
Paman begitu gembira dengan kehadiranku, sampai akhirnya kakek memotong pembicaraan paman dan menceritakan seluruh kejadian yang menimpa Ayah Ibu dan keluargaku.
Hingga kakek memberikanku penjelasan bagaimana Abah Armayi dapat menyelesaikan semua terror terror dari seda pati.
"Abahmu itu mungkin salah satu dalang yang menolak akan sifat antagonist dari Rahwana, Abahmu itu bahkan berpikir bahwa Sengkuni saja sosok hebat dimatanya, itulah mengapa abahmu itu sangat cinta dengan sosok Rahwana". Cerita Kakek
Batinku terkejut mendapati bahwa Aku memiliki pandangan yang sama terhadap Rahwana dengan Abah Armayi, akupun demikian, bagiku Rahwana atau Dasamuka adalah sosok yang mengagumkan.
"lalu kek, bagaimana bisa Abah menghentikan semua Terror itu?". Tanyaku
"Abahmu memiliki jiwa yang tulus dan memiliki rasa cinta yang besar terhadap semesta ini, yang kakek tahu, bahkan untuk menginjakan kakinya di tanah saja, dia berdo'a dulu meminta ijin kepada Sang Pencipta agar tanah yang diinjaknya tidak membawanya kepada keburukan, bahkan juga yang kakek tahu abahmu itu kalau panen, berdo'anya saja bisa panjang ketika sebelum panen dimulai, ya, intinya ketulusan untuk menyelamatkan rakyat banyak yang membuat abahmu itu dapat dengan mudah menghentikan perilaku jahat Anta Kusuma". Cerita Kakek
Dari sekian banyak cerita kakek, akhirnya aku memiliki kesimpulan bahwa seorang dalang tidak hanya harus piawai bermain pertunjukan wayang, namun harus berkehidupan yang selaras dengan alam.
Berpengetahuan luas adalah modal dasar dari seorang dalang, supaya karya - karya pertunjukannya syarat akan makna dan seorang dalangpun dituntut memiliki pemahaman yang tinggi akan kaidah - kaidah kehidupan.
"kek, bagaimana dulu Abah Armayi mengambil seda pati dari Anta Kusuma?". Tanyaku
"dia mengundangnya". Jawab Kakek
"mengundangnya?, bagaimana caranya kek?". Tanyaku
"sepengetahuan kakek, ketika cahaya purnama ke empat belas, dia akan mencari tumbal ke 13 nya, disaat itulah abahmu menumbalkan muridnya si setiawan itu atau siapalah kakek juga lupa, hanya untuk mengundang seda pati, ketika dia datang, abahmu sudah siap menangkapnya dan menarungkannya dengan Rahwana dalam sebuah pertunjukan, kakekmu hanya memegangnya, tangan dan badannya digerakan oleh kekuatan iblis, dan kakekmu melawannya dengan Wayang Rahwana". Cerita Kakek
"apa semudah itu kek?". tanyaku kembali
"tentu tidak, menurut abahmu barang siapa yang memainkan Rahwana, harus sejiwa dengan Rahwana itu sendiri". Jawab Kakek
Persis sama dengan apa yang diceritakan Pak Dadang tempo hari, "hanya dia yang memiliki ketulusan yang sama dengan Rahwana lah yang mampu membuat Rahwana berjiwa".
"lalu bagaimana cara mengundangnya kek?". Tanyaku
"yang kudengar dari cerita abahmu, buat acara pagelaran wayang dengan sebelumnya memotong ayam cemani di belakang panggung dan biarkan darahnya berceceran di belakang panggung, tutupi darahnya dengan kain putih, itu kesenangan si seda pati itu". Ujar Kakek
tiba - tiba gawaiku berbunyi, ah ternyata Pak Dadang menghubungiku akhirnya.
kuangkat ponselku
"Sampurasun, ya pak.. Halo, Halo Pak, Pak, Pak?". Pak Dadang tidak bicara sepatah katapun, hanya kudengar suara gemuruh angin dari ponselnya.
Pikiranku semakin bertanya - tanya, sebenarnya ada apa dengan Pak Dadang ini?
Setelah banyak aku menggali informasi dari Kakek, aku memutuskan untuk kembali ke kost ku, sembari aku pun penasaran apa yang terjadi dengan Pak Dadang
Aku berpamitan kepada kakek, setelah kurang lebih 2 hari disini, dan sebelum aku pulang, kakek memberikan sesuatu untukku.
"le, iki Doso Muko, bawa sana dan tandingkan dengan Seda Pati". Ujar Kakek
Kakek memberiku wayang kulit Dasa Muka, nama lain dari Rahwana.
"ini kan wayang kulit, pemahamanku sedikit sekali tentang wayang kulit". Batinku
"O..iya, terimakasih kek". Ucapku
"Sing eling le, kamu harus eling bahwa tidak ada kekuatan di dunia ini yang melebihi kekuatan Sang Maha Pemilik Semesta Raya ini, owah ana gingasring, kahanan iku soko kersaning Gusti kang murbahing Jagad". Pesan Kakek Cokro kepadaku
__ADS_1
"Apa artinya kek?". Tanyaku
"Nanti juga kamu tahu sendiri le, wes mlaku kono". Jawab kakek
Aku lekas pergi dari kediaman Kakek, Paman Sumarjo mengantarkanku ke stasiun kereta dan waktu sudah menunjukan jam 1 siang hari.
Sepanjang perjalanan menuju stasiun Paman Sumarjo kembali bercerita banyak tentang kehidupan Kakek dan saudara - saudaraku sembari melajukan motor antiknya, paman berpesan kepadaku untuk kembali kesini, ke tanah leluhurku.
Aku tiba di stasiun kereta pukul setengah 2, kereta yang akan membawaku ternyata sudah tiba, aku bergegas menuju loket penjaga dan sampai lupa bersalaman dengan Paman, hehe, dasar aku.
Aku masuk ke dalam gerbong 13, mencari - cari kursiku, dan aku mendapat kursi di dekat jendela, sebenarnya ini bukan kursi kesukaanku, aku lebih suka duduk di kursi tengah, tapi sudahlah.
Semboyan keberangkatan sudah terdengar, lokomotif pun mulai melaju perlahan, kubuka botol airku dan sudut mataku menatap ke persawahan di samping stasiun.
"********". Ucapku tiba - tiba dan air minumku termuntahkan
Aku melihat Anta Kusuma si lelaki tua biadab itu di pematang sawah melambai tersenyum ke arahku, ingin sekali aku turun dari kereta ini dan mengajaknya berduel, namun kereta semakin melaju kencang.
Aku hanya mampu kesal tanpa berbuat apa - apa, terus kupandangi dia sembari mengacungkan kepalanku kepadanya
"tunggu saja, kau akan binasa Anta". Batinku
Dan pikirku langsung tertuju kepada kakek, aku takut kakek dalam bahaya, karena bisa saja si Anta Kusuma ini menemui Kakek dan mencelakainya, lalu kucoba menghubungi kakek.
"opo cah bagus?". Tanya Kakek di ponsel
Aku menceritakan bahwa aku melihat Anta Kusuma di dekat Stasiun Kereta, seperti biasa dia hanya tersenyum kepadaku.
"tenang saja, dia tidak akan berani berhadapan dengan kakek, kakek tahu persis dia seperti apa". Jawab Kakek
Aku sedikit lega mendengarnya.
Sepanjang perjalanan aku memikirkan banyak hal hingga aku lelah sendiri, dan tanpa terasa aku tertidur pulas
Tepat Jam 21:00 aku dibangunkan seorang pramugari kereta, kagetnya bukan main, aku pikir aku kelewatan stasiun tujuanku, ternyata dia hanya menawariku makanan dan selimut.
Aku menolak selimut, aku hanya memesan makanan karena perutku juga terasa lapar, setelah makan, keretaku berhenti agak lama di salah satu stasiun, aku memutuskan keluar gerbong untuk sekedar merokok.
Gawaiku tiba - tiba berbunyi, masuk sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal berbunyi
"diam, atau semua akan mati"
hah, siapa ini, apa maksudnya?
Semboyan berangkat kembali terdengar, aku bergegas masuk ke gerbong.
kucoba hubungi nomor itu dan sialnya tidak aktif, kubalas pesannya namun tidak ada jawaban pula.
Lalu aku coba kembali menghubungi Pak Dadang, dan nomornya masih tidak aktif juga, batinku tiba - tiba tidak enak, aku coba hubungi Emak melalui Eti. Ahh, sial di kereta sinyal ponsel jelek sekali.
Setelah beberapa saat, sinyalpun kembali normal tapi nomor Eti pun tidak aktif, pikirku mungkin ini sudah malam, mungkin Eti sudah tidur dan mematikan ponselnya, tapi aneh, setahuku biasanya Eti jam segini belum tidur, biasanya dia teleponan dengan pacarnya si Sodikin.
Aku semakin tidak tenang karena pesan singkat tadi, ditambah semua kontak orang terdekatku tidak bisa dihubungi, kucoba juga mengirim pesan whatsapp ke Eti, namun hanya centang 1, artinya nomornya memang tidak aktif.
Hingga tiba di stasiun tujuanku, akupun masih tidak tenang, waktu menunjukan pukul 03:00 Pagi, aku bergegas keluar stasiun dan memesan Ojek Online, langsung kuarahkan tujuanku ke rumah Pak Dadang.
Setibanya di rumah Pak Dadang, kulihat tidak ada lampu yang menyala, semua mati. Aku meneriakkan salam ke arah rumah hingga berkali - kali namun tak ada yang menjawab.
Ini masih terlalu pagi untuk bertamu memang, tapi aneh, kenapa tidak ada satupun lampu di rumah ini yang menyala, bahkan lampu luarpun padam.
Aku memutuskan untuk ke jalan utama depan perumahan ini, untuk mencari kopi dan tempat singgah menunggu hingga hari mulai cukup terang.
Ternyata tidak jauh dari rumah Pak Dadang ada warung kopi, aku singgah disitu dan memesan kopi hitam dengan sedikit gula.
"Kang, tahu Pak Dadang yang rumahnya disitu kan?". Tanyaku kepada penjaga warkop
"iya tahu kang, kenapa gitu?". Dia balik bertanya kepadaku
"oh, enggak kang, rumahnya gelap banget ya, orangnya kemana ya?". tanyaku kembali
"euh, nggak tau atuh yah, da udah beberapa hari ini teh nggak kelihatan si Pak Dadang teh, si neneng pembantunya juga biasanya mah suka nitip belanja ke saya, tapi udah beberapa hari ini enggak kelihatan juga". Jawabnya
Kemana ini Pak Dadang, aku semakin cemas dibuatnya, kubakar kembali rokokku, kuminum sedikit demi sedikit kopiku yang masih panas, melihat - lihat ponselku, rupanya nomor Eti belum aktif juga, ini aneh, biasanya dia bangun subuh dan dia selalu memeriksa ponselnya, karena si Sodikin kekasihnya selalu mengucapkan salam pagi.
Hari mulai terang, kopiku pun sudah habis, aku memutuskan kembali ke rumah Pak Dadang.
"sampurasun,,,sampurasun". Teriak salamku
Tapi tak juga ada yang menjawabnya, lalu aku melihat di dalam ada sosok seseorang, aku berteriak ke arahnya.
"Pak, Pak,". Teriakku
Tapi sosok itu tidak menjawabnya, kuputuskan untuk meloncati pagar karena aku khawatir itu bukan Pak Dadang, kucoba buka pintunya namun terkunci, kugedor - gedor dengan keras namun juga tidak ada yang menanggapi.
Kuintip dari tirai yang sedikit terbuka, seketika dengkulku lemas, mulutku kaku, aku terkejut melihat Bi Neneng sudah terbujur kaku bersimbah darah di ruang tamu.
Kudobrak Paksa pintu namun terlalu kuat, aku tak mampu mendobraknya, aku pergi keluar, aku berlari mencari - cari rumah Pak RT dan memberitahu tetangga sekitar.
Orang - orang sekitar kemudian berhamburan menuju rumah Pak Dadang, kamipun beramai - ramai mendobrak rumahnya dan semua terkejut melihat Bi Neneng yang sudah tak bernyawa dengan darah di sekujur tubuhnya
Kucoba dekati dengan seksama, Bi Neneng Tewas dengan wajah penuh sayatan dan luka tusukan di dada sebelah kirinya, tubuhnya sudah mengeluarkan bau tak sedap, sepertinya dia sudah tewas beberapa hari.
Aku kemudian mengitari seisi rumah untuk mencari Pak Dadang beserta istrinya, namun aneh, setelah aku berkeliling sana sini aku tidak menemukan Pak Dadang atau istrinya.
Aku hanya mendapati sanggar wayangnya sudah luluh lantak seperti telah terjadi pengrusakan, dan banyak darah yang sudah mengering berceceran.
Lalu bayangan siapa yang kulihat tadi?
Aku bersama warga setempat mengurus jenazah Bi Neneng untuk segera dimakamkan dan membersihkan sisa - sisa darah yang sudah mengering, sembari membereskan rumah yang berantakan, warga pun bingung dengan keberadaan Pak Dadang.
Kucoba menelepon Pak Dadang, namun tetap tidak dapat tersambung.
"ada apa sih ini ya?". Batinku
Aku masih berdiam di Rumah Pak Dadang setelah semuanya selesai dengan keadaan rumah sudah sepi, aku masih ingin menunggu kepastian sebenarnya kenapa dan ada di mana Pak Dadang.
__ADS_1
"Bruggg". Tiba - tiba kudengar suara pintu tertutup dengan kencang.
Betapa kagetnya aku dibuatnya, lekas aku berjalan menuju pintu yang terbanting itu, aku pikir itu hanya angin yang mendorong pintu, tapi ternyata.
"Pak, kamana wae Pak?". Tanyaku
Pak Dadang datang setelah sekian hari menghilang, namun dia tidak menjawab pertanyaanku sama sekali, dia hanya duduk di kursi dan memalingkan badannya dari arahku.
"Pak?". Panggilku sembari perlahan melihat wajahnya.
Astaga, aku terkejut melihat Pak Dadang berlumuran darah dan tiba - tiba dia menyerangku.
"kau harus mati, arrggghhhh". Teriaknya sembari mengacungkan sebilah pisau kepadaku
Aku spontan berjalan mundur, melempar segala apapun yang dapat kupegang, ini bukan Pak Dadang, aku yakin bukan dia, aku yakin Pak Dadang ada yang mengendalikan.
Aku berlari ke arah belakang rumah dan Pak Dadang mengejarku
Wuoosss...
Aku melihat sesuatu terbang di atasku, dan
"Haaaahhhh". Kagetku
Aku melihat Tara Arjuna pun ada disini untuk membunuhku, dia pun memegang sebilah belati yang siap untuk dihunuskan kepadaku.
Sialnya aku terjatuh, Pak Dadang menyerangku, menusukku membabi buta, sebisa mungkin aku hindari serangan demi serangannya, kemudian aku bangkit.
Aku berlari menghindari mereka, dan berlari ke arah keluar rumah, aku lompati pagar dan meminta bantuan warga, namun anehnya tak ada satupun warga yang mendengar, suasana menjadi sepi seperti kota mati
Aku berlari ke arah depan gerbang perumahan ini, akupun mendapati Warung Kopi tadi sepi, tak ada satupun manusia disana, bahkan penjualnya pun tidak ada.
Aku terus berlari ke arah jalan besar, dan anehnya juga tak ada satupun manusia bahkan kendaraan melintas, tiba - tiba aku seperti berada di dunia yang tidak nyata.
Terus, terus aku berlari tak tentu arah hingga aku menemukan seseorang setelah jauh sekali aku berlari, aku merasa selamat disini.
Kudekati orang itu dengan nafas tersengal - sengal, sudah sangat lelah aku berlari, dekat semakin dekat namun aku sudah tidak kuat, akupun tersungkur di dekat orang itu, orang itupun mendekatiku.
"Bangun maneh". Ucapnya
Ternyata itu Pak Setiawan dosen pembimbingku
"Hah...Bapak, pak, itu pak..". Ujarku meracau
"Saya tau, kamu tidak sedang di duniamu, kamu sedang berada di alam lain yang merupakan kebalikan dari alam nyata". Pungkasnya
Aku bingung dengan penjelasannya, apa maksudnya
"Pak Dadang, Tara yang kamu lihat bukanlah yang sebenarnya, Pak Dadang tewas beberapa hari lalu, Jasadnya ditemukan bersimbah darah dengan wajah penuh sayatan dan tusukan di jantung, Pak Dadang ditemukan tewas di kampus setelah selesai melihat anak semester 6 praktikum". Pungkasnya
"hahhh...". Kagetku
"Sudah ayo jalan, kita keluar dari dunia ini, ini perbuatan seda pati yang membawamu masuk ke dunia ini". Ujar Pak Setiawan
Pak setiawan hanya mengibaskan Gunungan yang dipegangnya dan tiba - tiba keadaan kembali normal, aku mengajak Pak Setiawan untuk ke rumah Pak Dadang, barang - barangku masih tertinggal disana.
"Cepet ya, jangan lama - lama". Pungkas Pak Setiawan
aku bergegas masuk ke rumah Pak Dadang untuk mengambil barang - barangku dan segera kembali ke mobil Pak Setiawan dan pergi ke suatu tempat yang disebutkan Pak Setiawan, di perjalanan aku beranikan diri bertanya
"Ngomong - ngomong, kenapa Bapak disini?". Tanyaku
"Kakekmu yang membawa saya kesini". Jawabnya
"Hah, kakek?... Bapak kenal Kakek Cokro?". Tanyaku kembali
"Bukan, Abah Armayi". Jawabnya
Pak Setiawan ternyata adalah benar satu - satunya nayaga Abah Armayi yang selamat, seperti yang diceritakan Kakek Cokro.
"sebelum hari kematian Pak Dadang, dia bercerita tentang liontin yang kamu pakai itu, saya sih langsung nggak ragu, kamu pasti cucu Abah, karena kalung itu khas banget kepunyaan abah, lalu setelah kematian Pak Dadang, saya cari - cari kamu, karena saya mengerti kamu adalah target utama si Anta Kusuma". Cerita Pak Setiawan
"lalu kenapa harus Pak Dadang yang tewas?". Tanyaku
Pak Setiawan enggan menjawabnya, dan tibalah kami di suatu tempat yang cukup jauh dari keramaian kota, desa ini bernama Purba Setra, entah apa maksudnya Pak Setiawan mengajakku kemari.
Akhirnya Pak Setiawan menjelaskan bahwa disini adalah tempat Abah Armayi mendapat petuah tentang keilmuan wayang, ini adalah Desa dimana guru Abah Armayi tinggal.
Pak Setiawan membawaku ke salah satu Cucu dari guru Abah Armayi.
"sampurasun... sampurasun". Ucap salam Pak Setiawan di depan salah satu rumah yang cukup megah.
"rampes". Jawab seseorang yang kelihatannya dia adalah salah satu pekerja di rumah ini
"mau ketemu siapa Pak?". Tanya dia
"Kang Sanjaya ada?". Jawab Pak Setiawan
Kami dipersilakan masuk dan diminta menunggu di ruang tamu, Kang Sanjaya adalah salah satu Cucu dari Aki Wikatma yang merupakan guru dari Abah Armayi.
Kang Sanjaya pun menemui kami, dan Pak Setiawan mengobrol basa - basi sebelum bicara pokok permasalahan, akhirnya saya diminta untuk menjelaskan segala yang terjadi kepada Kang Sanjaya.
Tanpa ragu - ragu Kang Sanjaya membawaku ke sebuah ruangan tempat Aki Wikatma mengajarkan ilmu pewayangan kepada Abah Armayi.
Kang Sanjaya memintaku tinggal disini untuk berlatih segala keilmuan tentang wayang, termasuk untuk menghentikan kebiadaban Anta Kusuma dan wayang seda patinya.
"Bukan cuma kamu, sayapun dalam bahaya". Tegas Pak Setiawan
"Waktu itu saya masih berumur 13 Tahun, saya masih terlalu muda untuk menjadi nayaga sebenarnya, saya melihat sendiri bagaimana Abah menaklukan seda pati, dan saya pernah jadi umpan tumbal seda pati oleh Abah, lalu selepas Abah meninggal, semua nayaga dan turunan Abah menjadi target pembantaian Anta Kusuma, termasuk saya". Cerita Pak Setiawan
"lalu kenapa bapak bisa selamat?". Tanyaku
"Saya kabur kesini, ke tempat ini, Anta Kusuma tidak akan berani menginjakkan kakinya disini". Ujar Pak Setiawan
Bersambung...
__ADS_1