
"aku bersembunyi disini, Anta Kusuma tidak akan berani menginjakkan kakinya disini". Tutur Pak Setiawan
"kenapa pak?". Tanyaku
Kang Sanjaya menimpal pembicaraan
"Seda Pati lahir di padepokan ini, dahulu wayang sedapati dibuat hanya untuk menjadi pelengkap peran antagonis dalam pertunjukan Abah Wikatma, lalu Anta Kusuma yang kala itu merupakan murid kesayangan Abah Wikatma merasa iri dengan pencapaian Abah Armayi yang begitu cepat tersohor, lalu Anta Kusuma mempelajari ilmu hitam yang bernama "surup jiwa" , yang mana ilmu hitam itu adalah ilmu untuk memasukan jiwa iblis ke dalam sesuatu, lalu Anta Kusuma memanfaatkan seda pati untuk membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya, dahulu Anta Kusuma pernah hampir tewas disini karena kekuatannya tidak cukup kuat untuk melawan orang - orang disini, maka dari itu sampai kapanpun dia tidak akan berani menampakkan batang hidungnya disini". Tutur Kang Sanjaya
"lalu mengapa sekarang wayang seda pati itu menjadi media pesugihan". Tanyaku
"sebenarnya bukan menjadi media pesugihan, tidak ada itu namanya wayang pesugihan, hanya saja karena wayang sedapati itu memiliki jiwa iblis, makanya barangsiapa yang mendekati segala perbuatan - perbuatan iblis, iblis itu akan memberikan segala yang dimintanya yang akhirnya iblis itu akan menjadikannya budak, karena memang tugas iblis hanya untuk mengelabui manusia". Lanjut Kang Sanjaya
Semakin aku mengetahui segala sesuatu yang terjadi, semua semakin terang benderang, aku berharap secepatnya dapat memusnahkan segala perilaku jahat Anta Kusuma dan wayang seda patinya.
Pembicaraan kami semakin melebar, mulai dari hal fundamental hingga kesulitan - kesulitan dalam pentas pewayangan, Kang Sanjaya begitu lengkap memaparkan segala sesuatunya.
Kang Sanjaya membawaku ke kamar untuk menyimpan barang - barangku di kamar yang sudah disiapkan, aku mengeluarkan barang - barangku sembari mengobrol santai dengannya, dia sedang memastikan kamar yang akan aku tinggali baik - baik saja.
Aku mengeluarkan wayang kulit Rahwana dan terlihat Kang Sanjaya cukup tertarik dengan wayangku ini
"dapat dari mana ini?". Tanyanya sembari memegangnya dengan seksama
"itu dari kakekku, kakek dari ayahku". Jawabku
"dari motif ukirannya, ini sepertinya kepunyaan Ki Jiwo Drajat, dalang wayang kulit yang pernah berduet dengan Abah Armayi, kala itu mereka mementaskan dua jenis wayang sekaligus, wayang kulit dan wayang golek, Ki Jiwo Drajat memang selalu membuat sendiri wayangnya dan memiliki motif ukiran yang khas". Tutur Kang Sanjaya.
Wah, ini hebat, rasanya baru kudengar ada pertunjukan dengan dua jenis wayang secara bersamaan, aku dipersilakan istirahat karena besok aku akan diajari segala tehnik yang benar dalam mendalang juga cara untuk mengalahkan seda pati.
__ADS_1
Kasurnya lumayan empuk, tiba - tiba aku ingat, Bapak dan Emak biasanya menanyakan kabarku kalau aku kembali ke kota, tapi sampai saat ini aku belum juga berkomunikasi dengan Emak, kucoba hubungi melalui Eti, dan nomornya masih tidak aktif juga, ada apa ini?
Aku melamun memandangi langit - langit kamar sembari diliputi rasa cemas akan keberadaan keluargaku, aku tetap berusaha berpikir positif dan menghalau segala pikiran - pikiran negatifku.
"De, dede..". Kang Sanjaya memanggilku dari luar kamar.
Aku beranjak dan membuka pintu, ternyata Kang Sanjaya mengajakku untuk bersantap makan malam, semua makanan sudah tersaji di meja makan, ada lenca, timun, ikan asin, sambal terasi, tahu tempe goreng dan pete, ini sungguh luar biasa bagiku, makanan ini memang makanan paling juara menurutku.
"Pak Setiawan kamana kang?". Tanyaku
"Pulang dia, katanya mau mempersiapkan dirinya buat jadi nayaga kamu". Jawab Kang Sanjaya
Hah. Pak setiawan akan menjadi nayagaku?, rasanya ini mimpi, dosen pembimbingku akan menjadi pengiring wayangku, ini luar biasa.
"Katanya, kamu mewarisi keahlian Abah Armayi, dan Kang Setiawan ingin kembali bernostalgia dengan Abah Armayi". Tutur Kang Sanjaya.
Kang Sanjaya menawariku rokok kretek sembari menunggu Asistennya membuatkan kopi untuk kita disini, akhirnya Kang Sanjaya menceritakan sedikit kenangannya bersama Abah
"Abah kamu itu memiliki jiwa yang humoris tapi tegas dalam kehidupan, dia tidak pelit ilmu, kepada siapa saja dia tak segan menularkan pemahamannya, ya seperti yang diajarkan Abah Wikatma". Tutur Kang Sanjaya
Lalu aku menanyakan perihal kenapa harus aku yang menghentikan langkah Anta Kusuma dan wayang seda patinya?
"liontinmu!, Aku kebetulan cukup dekat dengan Abah Armayi, sepeninggal ayahku, aku sering sekali ikut Abah Armayi dalam pertunjukan wayangnya, abah Armayi memiliki banyak sekali cucu, seingatku beliau memiliki 32 Cucu, ya ketika aku mendengar cerita Kang Setiawan, aku sangat bersyukur bahwa ternyata ada cucu Abah Armayi satu - satunya yang selamat, dan yang diberikan liontin itulah yang selamat, karena Abah pernah berpesan bahwa yang mewarisi liontinnya lah yang akan menjadi penggantinya". Tutur Kang Sanjaya.
"Kang, aku ini sangat buruk dalam mementaskan wayang, kenapa harus aku?, sedangkan banyak dalang - dalang lain yang pernah menjadi murid Abah". Sahutku
"nanti juga kamu tahu jawabannya". Jawab Kang Sanjaya
__ADS_1
haripun semakin larut malam, kulihat Kang Sanjaya sudah menguap, terlihat bahwa dirinya sudah mengantuk namun mungkin dia segan untuk mengakhiri pembicaraan, akupun meminta ijin untuk beristirahat dan benar saja, Kang Sanjaya sudah sangat mengantuk.
Lekas aku ke kamarku, aku berbaring dan kembali memeriksa gawaiku, berharap ada kabar balasan dari Eti, dan leganya ternyata ada pesan dari Eti
begini pesannya
"aa, hp neng error, ini abis di service, oia a..kemarin ada yang ke rumah, tau-tau ngobrol sama si bapak, kakek - kakek gitu a, nggak tau ngobrol apa sama si bapak".
Kakek - kakek?, siapa dia
Tanpa berpikir panjang aku segera menelepon Eti
"halo a, aya naon?". Tanya Eti
"Eta kemarin kakek - kakek siapa?". Tanyaku balik
"enggak tahu atuh a, sok ini tanyain we ke bapak". Pungkas Eti
"ya de, jadi gini, kemarin teh kakek - kakek itu tiba - tiba ada di depan rumah, lagi bengong aja lihatin rumah, udah we sama bapak teh ditanya "bade kasaha bah?", nah dia teh tiba - tiba ngomongin masalah wayang geura de, atuh bapak teh bingung nya, udah we sama bapak teh diajak masuk, tapi kita cuma di bale - bale tempat nongkrong kamu, dia teh tiba - tiba nanyain kamu, gini cenah "kahade anak sia anu jalu, bejakeun sing kuat, da nu kuat nu ngingu" (hati - hati anakmu yang lelaki, kasih tahu harus kuat, karena yang kuatlah yang memelihara)". Tutur Bapak
Apa maksudnya kakek itu berbicara seperti itu?, dan siapa dia ini?
Aku bertanya panjang lebar mengenai kakek - kakek itu kepada bapak, namun bapak pun ternyata lupa namanya, seperti biasa bapak selalu lupa nama orang, dan hanya keterangan itu yang aku dapat dari Bapak, akupun lega karena Bapak dan Emak ternyata baik - baik saja.
Tapi sosok kakek itu masih mengganjal di pikiranku, siapa dia?. Akupun tak terasa terlelap,
Bersambung...
__ADS_1