
Tangisku pecah, aku tertunduk hingga akhirnya berlutut di hadapan Bapak dan Emak, mereka berusaha membangunkanku dan memelukku, cinta kasih mereka sudah kurasakan selayaknya orang tua kandungku sendiri.
Sama sekali tidak pernah kurasakan mereka membedakan perlakuan antara aku dan Eti, mereka tulus dan ikhlas menghidupiku hingga aku sebesar ini, sungguh aku malu karena aku sering menyusahkan mereka.
Bapak sesekali mengalihkan haruku dengan melontarkan nada - nada ejekan yang sering Bapak lakukan kepadaku
"euh, dasar si tukang cepirit, cengeng". Seloroh Bapak
Aku hanya tersenyum kecil mendengar candaan Bapak sembari mengusap tangisku
"Udah, udah, kamu kesini teh Bapak seneng, Bapak pengen lihat kamu ngedalang, ayo sok ngedalang". Pinta Bapak
Bapak beranjak dari duduknya dan mengambil Wayang Cepot dari kamarku
"sok, nih maenin". Ucap Bapak sembari menyodorkan Cepot kepadaku.
Aku masih belum mampu tegar atas kenyataan ini tapi Bapak sesekali menggoyang - goyangkan cepot di depanku untuk menghiburku, ah..sudahlah, tidak ada guna juga aku terus bersedih.
Kuambil cepot lalu kulontarkan lawakan - lawakan khasnya, Bapak terbahak - bahak mendengarkannya, Emak pun sesekali tersenyum kecil, dan Emak beranjak dari duduknya untuk memasak makan siang kami.
Aku teringat kembali, Pak Dadang hingga kini masih tak dapat kuhubungi, ku ambil ponselku dan masih tidak ada balasan dari beliau, kucoba kembali meneleponnya tapi nomornya tidak aktif.
Tiba - tiba aku khawatir, aku takut ada sesuatu menimpa Pak Dadang, harus melalui siapa lagi aku menghubunginya, tak satupun aku menyimpan kontak orang rumahnya.
Aku keluar rumah untuk duduk santai di bale bambu buatan Bapak, lalu aku berpikir tentang sedikit cerita mengenai asal usul keluargaku, aku berpikir bahwa dalang sakti itu adalah Abah Armayi.
Ceritanya sama persis dengan yang diutarakan oleh Tara dan Pak Dadang, liontin ini menguatkanku bahwa mungkin saja aku adalah cucu Abah Armayi, jika demikian, pantas saja lelaki tua itu memiliki dendam kepadaku.
Tapi aku masih berpikir, apa hubungannya dengan Tara?. Pak Dadang yang katanya mendapatkan petunjuk tetapi sampai sekarang tak dapat aku hubungi, petunjuk apa yang beliau dapat?.
"de, hayu makan, udah siap nih". Panggil Emak dari dapur
Aku bergegas menuju dapur dan senangnya aku ketika mengetahui Emak memasak sayur lodeh dan ikan asin sepat, aku lantas buru - buru menyendok nasi dan sayur lodeh, ini sungguh nikmat.
Di sela - sela kami makan, kemudian aku menanyakan kampung orang tua kandungku, tapi Emak tidak tahu dimana dan Bapak hanya menjawab bahwa kakekku berasal dari sebuah Desa di Kabupaten tetangga.
Lantas aku meminta ijin untuk pergi kesana, aku ingin sekali mengetahui asal usul keluarga kandungku disana.
"udah, abisin dulu makannya". Ujar Emak
Aku menambah porsi makanku, Emak tampak senyum melihat aku makan begitu nikmat.
Selepas makan, aku bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat ke Desa keluarga kandungku
"mak, pak, Dede berangkat dulu ya". Pamitku
Aku berangkat menggunakan motor Bapak, karena Bapak kebetulan tidak berjualan hari ini.
Sesampainya di Kabupaten tetangga ini, aku berta- tanya arah menuju Desa tujuanku, kurang lebih 2 jam perjalanan aku tempuh dan sampailah aku di Desa yang kutuju.
Aku bertanya kepada penduduk sekitar tentang Abah Armayi, karena aku yakin Beliau adalah kakekku, namun tak satupun warga mau menjelaskan mengenai Beliau.
Penduduk disini sedikit aneh, sorot matanya rata - rata sinis kepadaku, tapi aku tetap berusaha sopan. Kembali aku menanyakan hal ini kepada penduduk lainnya, namun semua sama, semua bungkam.
Ada apa ini?, aku tak menemukan jawaban satupun mengenai Abah Armayi hingga tak terasa aku sudah sampai di Desa sebelahnya, disana aku pun menanyakan perihal Abah Armayi.
Dan syukur, ada seseorang yang bersedia menjelaskan.
"Akang kalo nanya Abah Armayi di Desa itu mah nggak akan ada yang jawab kang, mereka masih takut sama terror kejadian masa lalu". Jawab seseorang itu
Dia menjelaskan bahwa setelah Abah Armayi meninggal, seluruh turunan dari Abah Armayi telah dihabisi oleh dalang Anta Kusuma, Anta Kusuma ini adalah dalang yang tersaingi oleh Abah Armayi hingga kariernya meredup.
Menurut penuturan orang yang sedang kuajak bicara ini, Anta Kusuma tidak ingin ada generasi penerus dari Abah Armayi, dan dia memanfaatkan pesugihan wayang iblis untuk menaikan popularitasnya.
Wayang Iblis itu sering memakan korban untuk dijadikan tumbal pesugihannya, tapi berhasil diredam oleh Abah Armayi di masa lalu.
"kalau nggak salah mah sekarang diterusin sama anaknya, kalau nggak salah mah nama anaknya itu teh Teja Kusuma". Pungkas seorang lain kepadaku.
Hah, ternyata Teja Kusuma itu?.
Lalu ada seorang lagi menanyakan kepadaku, kenapa aku mencari tahu tentang Abah Armayi?.
"saya cucunya". Jawabku
tiba - tiba semua orang disitu menyuruhku pergi, mereka berkata tidak mau ada korban kebiadaban Anta Kusuma di Desa mereka
"jangan - jangan lelaki tua itu adalah Anta Kusuma?". Ucapku dalam hati.
Aku lekas pergi dari Desa itu dan kembali ke Desa kakekku, aku kembali menanyakan dimana makam kakekku kepada seseorang.
"tuh disana, udah lah kang, jangan cari masalah disini, kalo akang ke makam Bah Armayi sama aja akang cari masalah, seda pati bakal ngejar akang". Pungkas seorang lelaki kepadaku.
Seda Pati?. Dan aku semakin yakin jika aku memang benar - benar cucu dari Abah Armayi
"Saya cucunya Abah Armayi". Jawabku
sontak semua orang disitu masuk ke rumahnya dan menutup pintu rapat - rapat.
Aku bergegas ke makam kakekku, aku mencari - cari letak dimana dia berada, sampai kutemukan makamnya sudah ditutupi rerumputan dan tidak terurus.
Lalu aku bersihkan dan kucabuti rumputnya, dan tiba - tiba angin berhembus kencang menggoyangkan ranting dan daun beringin di belakangku.
Aku merasakan ada sesuatu di atas pohon beringin itu, tapi aku tidak tahu itu apa, lalu aku menengok ke arah pohon itu dan.
"Hahh..".
Aku kaget setengah mati melihat sosok manusia yang berlumuran darah di wajah dan dadanya, tiba - tiba menyeruak bau bangkai dan bau amis darah menusuk hidungku.
Terdengar samar - samar suara gamelan berlaras Madenda di telingaku, dan kulihat sosok lelaki tua itu muncul dari balik pohon beringin, dia membawa wayang seda pati di tangan kirinya.
Dia tertawa jahat, sembari menepuk - nepuk seseorang yang berlumuran darah itu
"sudah kuduga bahwa kau adalah cucu terakhir Armayi yang hilang itu, kau akan bernasib sama seperti dia". Teriaknya kepadaku
Sirulak si eling - eling, wayang pati dadi eling
Lalakon wayang, wayang sing tan jiwaning
__ADS_1
Pati sukma pati raga, raga sing tan sampurnaning
Kersaning lalakon, lalakon ing patining jalma
Hiyahh...
Dia membaca mantra seperti itu, mantra itu adalah mantra untuk memasukan jiwa iblis kedalam sebuah benda mati, tiba - tiba sosok manusia penuh darah itu mendekatiku perlahan, semakin dekat, semakin dekat dan.
Hahh, itu Tara Arjuna
"kau apakan temanku Tara, kau manusia setan?". Bentakku kepadanya
"hahaha... Temanmu ini mengadakan perjanjian denganku, tapi dia mengingkarinya, jiwanya tak akan pernah sempurna, dia akan menjadi budakku selamanya". Jawabnya
Hah, ternyata Tara Arjuna adalah pengikut pesugihan wayang seda pati, aku tidak percaya, sungguh tidak percaya, ini sungguh diluar nalarku.
"dia sudah kuperingatkan untuk tidak menghentikan pemujaan sebelum waktunya tapi dia tidak menurutinya, dan dia harus mati". Tambahnya.
"lalu apa maumu hah?". Teriakku
TURUNAN ARMAYI HARUS BINASA!!!. dia berlari ke arahku, dengan seda pati di tangan kirinya dan wayang buta di tangan kanannya, sontak akupun berlari menjauhinya
Dia semakin cepat, akupun mulai kehabisan nafas tapi aku terus berlari sekuat tenagaku, dan kulihat seda pati terbang dan hampir mendekatiku, aku semakin tak kuat untuk terus berlari.
"kau harus mati Dede Jatnika"
Dia masih mengejarku dan tiba - tiba muncul seseorang yang tak kukenal dari depanku, dia berjalan cepat ke arahku dia berambut panjang dan membawa sebilah keris di tangannya
Tidak, siapa lagi ini, mati aku.
"sini kau anak muda, diam disana". Dia berbicara kepadaku dan menyuruhku bersembunyi di balik sebuah batu berukuran besar.
Siapa dia ini?
"disini rupanya kau Anta Kusuma". Ucapnya
Hah, ternyata benar lelaki tua itu adalah Anta Kusuma, ayah dari dalang misterius yang bernama Teja Kusuma itu.
Dia segera menyabet wayang seda pati dengan kerisnya hingga dia jatuh ke tanah, lelaki tua itupun mendekat, dan aku hanya mengintip dari balik batu
"mau apa kau Cokrodijoyo, ini bukan urusanmu hah?". Pungkas Anta Kusuma kepadanya
Siapa Cokrodijoyo ini?, aku bahkan tak mengenalinya seumur hidupku
Wayang seda pati pun diambilnya dan tiba - tiba Anta Kusuma kembali menghidupkan seda pati, dia duduk bersila dan membaca jampi - jampi memanggil iblis - iblis.
Tapi Kakek Cokrodijoyo ini membalas dengan aji - aji seperti ini
**Lumaksana sekar sarkara mrih,
Pininta maya maya’ng geng ulah,
Kang minangka pituture,
Duk masih awing-awang,
Nanging Sang Hyang Wisesa,
Kang kocap rumuhun,
Meneng samadyaning jagad,
Datan arsa masik jroning tyas maladi,
Ening aneges karsa.
Amurweng anggana ‘ngganya titis,
Titising driya tan ana kang liyan,
Pribadi dating asuwe,
Miyarsakken swara sru,
Tan katingal uninya kadi,
Genth, sakala kagyat,
Sarya non antelu,
Gumantung neng awang-awang,
Gya cinandhak sinanggeng asta pinusthi,
Dadya tigang prakara.
Saprakara dadya bumi langit,
Saprakarane teja lan cahya,
Manik maya katigane,
Kalih para samya sujud,
Ing padane sang maha muni,
Sang Hyang Wisesa mojar,
Dhateng Sang Hyang Guru,
Eh Manik wruhanireki,
Sira iku ananingsun ingsun iki,
Estu kahananira,
Ingsun pracaya saklir-kalir,
__ADS_1
Saisine jagad pramudita,
Sira wenang ndadekake
Kudengar itu seperti Mantra Bathara Guru, Anta Wijaya tiba - tiba memuntahkan darah dan bergegas pergi meninggalkan kami, dan tiba - tiba jasad hidup Tara juga menghilang
Dia berteriak
"aku bersumpah akan membunuhmu Cokrodijoyo"
Aku perlahan keluar dari balik batu dan mendekati lelaki tua yang bernama Cokrodijoyo ini
"Bapak siapa?". Tanyaku
Tiba - tiba dia memelukku dan mengusap - usap kepalaku
"Nak, aku kakekmu, aku Bapak dari Ayahmu". Ucapnya
Hah, ternyata beliau adalah Kakek dari Ayahku, berarti Abah Armayi adalah kakek dari ibu kandungku, bagaimana bisa beliau sampai kesini dan mengetahuiku sedang dalam bahaya?.
"aku sudah mencarimu selama 24 tahun, hampir setiap minggu aku ke Desa ini, berharap aku dapat menemuimu disini, karena aku yakin kau masih hidup dan suatu saat akan kesini". Ujarnya
"firasatku tiba - tiba membawaku kesini, dan benar saja, sahabatku disini memberitahuku bahwa ada anak muda mencari tahu tentang Armayi, dan aku yakin itu kamu cucuku, dan segera aku kesini ke makam ini". Tambahnya
"Lalu kenapa Kakek membiarkan Ayah & Ibu mati hah?". Bentakku
Beliau tak mau menjelaskan lebih jauh, lalu beliau mengajakku ke sebuah makam yang terletak diujung, disana terdapat 2 makam dengan nisan tanpa nama.
Beliau memberitahuku bahwa itu adalah makam Ayah dan Ibu kandungku, tangisku pun tak dapat kubendung, aku menangis di pusara ayah dan ibuku sembari memegang batu nisannya, aku hanya berharap dapat melihat wajah mereka.
Kubersihkan makamnya, dan ku usap - usap kembali batu nisan ayah dan ibu, disela - sela tangisku, aku berucap dalam hati dan meminta restu ayah dan ibu untuk mengakhiri semua rentetan kejadian ini dan menyelesaikan hidup Anta Kusuma.
Angin kembali tiba - tiba berhembus kencang
Tiba - tiba kakek membangunkanku dan lekas mengajakku segera pergi dari tempat ini, aku bangun dan berpamitan ke pusara ayah dan ibu
Tapi kuingat motor bapak kutinggalkan dekat makam Abah tadi, aku lekas kembali ke makam Abah untuk mengambil motorku, dan aku berpamitan ke pusara Abah.
Kubonceng Kakek Cokrodijoyo menuju rumahku, kami tak berbicara banyak, kami saling diam dan aku sedikit kesal karena masih memikirkan kenapa Kakek membiarkan orang tuaku mati di tangan Anta Kusuma
Setibanya di rumahku, kakek Cokro kukenalkan pada Bapak dan Emak, kakek Cokro tiba - tiba memeluk Bapak
"Terimakasih, telah merawat dan menjaga cucuku nak". Ucap kakek kepada Bapak
Lalu Kakek bercerita mengenai kejadian 24 Tahun lalu,
"aku tinggal sangat jauh dari sini, aku berasal dari Provinsi yang berbeda, 24 Tahun lalu ayah dan ibumu pergi ke kampung ibumu untuk ikut memakamkan Armayi ketika dia meninggal, aku tidak bisa ikut karena aku sedang merawat mendiang nenekmu yang sedang sakit parah, ibumu masih mengandungmu waktu itu, seminggu kemudian ayahmu menyuratiku mengabarkan bahwa kau telah lahir dan diberi nama Raden Pramudyo Yuswantoro Cokrodijoyo, tapi sejak itu dia tidak pernah kembali dan tak pernah memberikan kabar, sebulan kemudian aku ke Desa tadi dan mendengar kabar bahwa ayah dan ibumu telah tewas dibunuh Anta Kusuma, dia membunuh Ayah dan Ibumu karena mereka tidak mau menyerahkan wayang seda pati yang telah ditidurkan dan dimasukan ke kotak oleh Armayi, aku sangat terpukul dan dendam kepada Anta Kusuma, kucari dia dan ketika kutemui dia ,kami sempat bertarung, tapi aku kalah dan syukur aku masih selamat karena aku bersembunyi di rumah seseorang yang kini jadi sahabatku, lalu setelah situasi tenang, aku diajak sahabatku ke makam ayah dan ibumu, tapi aku hanya menemukan 2 makam yaitu makam Ayah dan Ibumu, disitulah aku yakin kau selamat"
Ternyata aku telah berburuk sangka kepada Kakek, Bapak dan Emak pun hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Kakek, sesekali Emak mengusap - usap kepalaku dan tangan Emak tak lepas menggenggam tanganku.
Bapak kemudian meminta maaf kepada Kakek karena memberiku nama Dede Jatnika, karena waktu Ayah dan Ibu menitipkanku kepada Bapak, Bapak lupa menanyakan namaku.
"Duh de, nama asli kamu teh bagus yah, Raden Prakoso.... Euhh apa tadi lupa?". Ujar Bapak dengan nada humornya
"Raden Pramudyo Yuswantoro Cokrodijoyo Bapak". Jawabku
"Tah, eta...da susah atuh lah". Tambah Bapak sambil tertawa ringan, kamipun ikut tertawa.
Kakek meminta ijin kepada Bapak untuk membawaku ke kampung kakek, beliau menuturkan bahwa ada yang harus diberikan kepadaku.
"Aeh Bapak, nggak usah minta ijin atuh, kan dia cucu Bapak". Ujar Bapak Kepada Kakek
"Yo wis, kalo begitu kulo pamit nggeh". Pamit kakek
Akupun mengemas seluruh bajuku dan berpamitan dengan Emak dan Bapak, Emak Memelukku dan menciumiku sambil berucap
"Disini akan jadi tempat kamu pulang sampai kapanpun, Emak tetap Emakmu"
Aku kembali memeluk Emak dan menciumi Emak, Bapak sesekali mengusap kepalaku.
Aku dan Kakek pun pergi meninggalkan rumah.
Tiba - tiba terdengar
"Bruakk"
Aku kembali dan Bapak bergegas ke kamarku, kulihat wayang rahwana keduaku yang kusimpan di kamar rumah jatuh ke lantai dan menimpa alat musik Tarawangsa ku.
Perasaanku tiba - tiba tidak enak.
"Ah paling kesenggol kucing itu mah, tuh jendelanya juga kebuka, udah biar Bapak yang beresin". Ujar Bapak sembari mempersilakan kami untuk berangkat.
Bersambung...
***
.
.
.
.
.
Pesan Penulis :
Bahwa mantra / aji - aji yang ditulis diatas bukanlah mantra / aji - aji karangan atau rekaan penulis, melainkan benar ada di dalam kenyataan, baik mantra pemanggil jiwa maupun mantra Bathara Guru
Note :
mantra Bathara Guru adalah mantra kebaikan, jadi akan baik jika diucapkan orang baik
Tapi aji-aji pemanggil jiwa tadi?
Harap berhati - hati, jangan kosongkan pikiran, jangan lengah
__ADS_1