
Tapi kemana perginya lelaki tua itu, setelah aku turun dari mobil tak lagi kulihat lelaki tua itu, kemana dia menghilang?
"Ada apa de?". Tanya Pak Dadang
"Aku melihat lelaki tua yang kuceritakan ke Bapak kemarin, lelaki tua yang ada di Wayangan Dalang Teja Kusuma itu pak". Jawabku tergesa - gesa
Tanpa pikir panjang, Pak Dadang mengajakku untuk melanjutkan perjalanan, beliau berkata bahwa bukan waktunya aku menyelesaikan semua ini sekarang.
Aku menuruti saja karena akupun sebenarnya tidak tahu harus bagaimana aku bersikap pada lelaki tua itu kalaupun aku berhasil mengejarnya, aku lantas berpikir.
"kenapa harus Tara?". Batinku
Sepanjang perjalanan menuju rumah Pak Dadang kami tak berbicara sepatah katapun, hanya sesekali beliau meminjam pemantikku untuk menyalakan rokoknya, akupun hanya bisa terus berpikir bagaimana ini bisa terjadi.
Sampai di rumah Pak Dadang, kami duduk sejenak di teras depan rumah, kulihat Pak Dadang terus menerus membakar rokoknya seolah dia sedang memikirkan suatu hal yang rumit.
"sudah pak, bapak nggak berhenti - henti ngerokok dari tadi!". Tegurku
Tapi beliau tidak mempedulikan teguranku, tak satupun juga kata terucap dari mulutnya, sesekali aku membuka obrolan ringan, dari urusan asmaraku dengan Dini Riyanti si gadis cantik arek suroboyo hingga urusan kejadianku dengan si Rendi Darmawan, tapi beliau tak sedikitpun tertarik dengan pembicaraan itu.
"sudah, kamu mandi, makan lalu tidur sana, dari kemarin kita belum mandi, belum makan, belum tidur". Ucap Pak Dadang memotong pembicaraanku.
Pak Dadang tampak begitu gundah, apa yang beliau pikirkan?. Ya sudah, akhirnya aku menuruti perintahnya.
"neng, neng". Teriak Pak Dadang memanggil asisten rumah tangganya
"ya pak". Jawabnya
"kasih si Dede handuk & alat mandi yang ada di gudang, terus neneng siapin makan buat kita ya!". Pinta Pak Dadang
Bi Neneng sang asisten rumah tangga pun menuruti perintah beliau, aku lekas ke kamar mandi untuk membersihkan daki - daki yang sudah menempel dari kemarin.
Aku letakan kepalaku dibawah guyuran shower air sembari kedua tanganku menempel dinding kamar mandi, aku tertunduk dan masih tidak rela dengan kematian Tara, air mataku tak terasa keluar kembali.
Perlahan kuambil shampoo, kucuci rambut ini dengan mata tertutup, tiba - tiba ketika aku sedikit membuka mata dan
"Arrggghhh".
Aku berteriak sangat kencang, aku melihat bayangan seseorang muncul di kaca cermin dan seketika menghilang, aku bergegas membasuh kepalaku, aku pastikan kembali dengan melihat sekeliling kamar mandi
"aya naon de". Teriak Pak Dadang
Aku bergegas membilas badanku dan segera keluar dari kamar mandi
"itu pak, itu... Euh, barusan saya lihat ada sesuatu di kamar mandi tadi, saya lihat bayangannya di cermin". Jawabku dengan tegang.
Pak Dadang melihat seisi kamar mandi namun tak menemukan apapun yang aneh di dalam
"udah, pake baju, ayo makan, mandi lama banget!". Ujar Pak Dadang
ternyata sudah hampir 1 jam aku di kamar mandi, akupun lekas ke kamar untuk ganti baju, ternyata Pak Dadang sudah mempersiapkan baju bersih miliknya untuk kupakai.
Sungguh aku semakin takut, perasaanku semakin tidak karuan atas semua ini, apa yang harus aku lakukan untuk mengakhiri teror ini?.
Bi Neneng sudah mempersiapkan makanan kami di meja makan, kulihat sambal terasi, ikan asin, jengkol goreng dan tahu goreng seketika membangkitkan selera makanku dan sejenak melupakan semua ini.
di tengah kami bersantap Pak Dadang berbicara kepadaku
"Besok, kamu pulang ke kampungmu, coba ngobrol sama ibu kamu tentang liontin yang kamu pakai itu". Ujar Pak Dadang
Beliau memberitahuku, bahwa aku harus tahu sejarah liontinku ini hingga akhirnya aku yang memakainya, supaya ada sedikit petunjuk atas semua kejadian yang terjadi ini.
Beliau menjelaskan, semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak jatuh terpeleset di dekat lelaki tua itu, ketika aku terpeleset itulah mungkin si lelaki tua itu tak sengaja melihat liontinku, liontin yang sama dengan yang Abah Armayi kenakan, diapun mungkin merasa harus segera menghabisi nyawaku sebelum "permainannya" dimulai.
Lantas aku berpikir, kenapa harus Tara yang mati terlebih dahulu, Tara tidak ada urusan dengan semua ini, dia hanya menjelaskan sedikit yang dia ketahui akan semua ini, seharusnya jika demikian, akulah korban pertamanya. Akupun menanyakan hal tersebut ke Pak Dadang namun beliau tak tahu jawabannya.
Semua sudah terjadi dan masih ada misteri yang belum terpecahkan, beliau berucap bahwa akan membantuku untuk menyelesaikan semua ini, aku merasa sedikit lega dengan pernyataan beliau, setelah makan kami memutuskan untuk bersantai sejenak di ruangan belakang rumah sebelum tidur.
Kami berbincang mengenai falsafah dan ajaran Adiluhung dari Sang Hyang Bhatara Guru atau Manik Maya.
Manik Maya adalah adik bungsu dari Sang Hyang Bhatara Ismaya atau Lurah Semar dan Sang Hyang Bhatara Antaga atau Togog sang adik kedua Lurah Semar. Begitu panjang lebar kami berdiskusi mengenai hal tersebut hingga kami lupa bahwa kami belum tidur seharian ini.
Tak terasa waktu ternyata sudah menunjukan jam 10 malam, aku meminta izin untuk pulang ke kosan, namun Pak Dadang tidak mengijinkanku untuk pulang, beliau memintaku untuk tidur di rumahnya.
Kuturuti permintaan beliau karena memang akupun sudah sangat mengantuk, lekas aku diantarkan ke kamar untukku tertidur, tak lama akupun mulai tertidur lelap dan semakin nyenyak.
Tiba - tiba
"Bruuuuaaaakkkkkk"
aku mendengar sesuatu yang terjatuh dengan keras dari arah kamar tempat Pak Dadang menyimpan wayang Rahwana.
Aku terbangun dan segera keluar untuk memastikan apa yang terjadi, ternyata Pak Dadang pun mendengarnya, beliau pun bergegas berlari ke arah kamar itu dan segera membuka kunci kamar itu.
Kami terkejut mendapati bahwa Wayang Rahwana yang disimpan di dalam kotak itu sudah berada di lantai dan kotaknya pun hancur berantakan, wayang Rahwana itupun mengalami kondisi yang sama dengan wayang Rahwana milikku.
Kain sarungnya penuh dengan robekan dan wajahnya penuh dengan luka sayatan
"dia sudah disini". Ucap Pak Dadang tiba - tiba sambil melihat ke arah luar
"apa, apa, bapak bilang apa barusan maaf?". Tanyaku spontan
Pak Dadang membereskan semua puing - puing kotak yang hancur dan membawa Rahwana keluar dari ruangan itu
Kami duduk di teras belakang dengan Rahwana yang disimpan diatas meja, Pak Dadang kembali merokok dengan raut muka penuh kecemasan.
"ada apa pak". Tanya istri Pak Dadang yang ikut keluar dari kamarnya.
Tiba - tiba
"bapak....". Teriak suara Bi Neneng dari dalam kamarnya,
kami bergegas berlari ke arah kamar Bi Neneng.
"aya naon neng?". Tanya Pak Dadang
Bi Neneng memberitahu kami jika dia melihat ada seseorang melintas di luar kamarnya, terlihat bayangannya dari jendela kamarnya, ternyata Bi Neneng ikut terbangun karena suara tadi, tapi dia takut untuk keluar kamar.
Kami bergegas menuju halaman samping, tapi kami tak menemukan apapun, kami berkeliling mengitari seluruh sudut luar rumah, namun tak juga menemukan apapun.
Kami pun kembali ke halaman belakang, sembari berjalan kami menduga bahwa sosok tadi itu ada kaitannya dengan kejadian ini, lalu saya bertanya ke Pak Dadang.
__ADS_1
"Pak, kenapa dia kesini?". Tanyaku
"entahlah de, saya juga berpikir ada yang janggal, pola kejadiannya berbeda dengan cerita kejadian di masa lalu, menurut cerita, dulu dia hanya membunuh siapa saja yang tidak menyaksikan pertunjukan dalangnya hingga selesai". Pungkas Pak Dadang
"tapi sekarang beda, ada apa dengan Tara?". Tambahnya
Kami terus berdiskusi mengenai hal ini sembari berjaga - jaga, dan kami sangat serius untuk mengakhiri semua kejadian ini.
"lantas, sekarang saya harus bagaimana?". Tanyaku kepada Pak Dadang
Namun beliau sepertinya sudah buntu dan tak satupun jawaban keluar dari mulutnya.
Jika aku harus mengambil wayang itu, bagaimana cara aku mengambilnya, dan dimana harus kuambil?. Aku tidak tahu dimana lelaki tua dan wayang itu berada.
Hari sudah semakin pagi, suara ayampun berkokok sudah terdengar dari setiap sudut, mataharipun sudah mulai tampak sedikit, tapi kami tidak sama sekali mengantuk, kami terus berdiskusi mengenai hal ini.
"lebih baik kamu sekarang bergegas temui ibumu di kampung". Ujar Pak Dadang
Aku tak berpikir panjang, dan tak lama aku segera berpamitan, aku berencana kembali ke kost ku terlebih dahulu untuk membawa beberapa pakaian, motor kunyalakan, dan aku lekas berangkat.
Sialnya, sepanjang perjalanan aku masih terus saja memikirkan semua yang terjadi ini, lama - lama aku merasa kesal karena pikiranku tersandra wayang persetan itu, tak terasa akupun sampai di kost ku.
"********...". Teriakku ketika aku membuka pintu kamarku.
Aku mendapati wayang rahwanaku sudah hancur dengan kepala dan badan terpisah, dan badannya hancur berkeping - keping.
Keberanianku mulai sedikit timbul untuk mengakhiri semua ini, keberanian yang datang karena sudah mulai merasa jengah dengan semua ini, tapi rasa takut itu masih lebih besar daripada keberanianku.
Tak kuhiraukan lagi semua ini, bahkan aku sama sekali tak membereskan serpihan - serpihan wayang rahwanaku, aku sudah mulai merasa lelah juga dengan semua rentetan teror ini.
Aku segera mengemas pakaianku, dan aku pergi menuju terminal bus antar kota, kali ini aku menggunakan angkutan kota untuk sampai ke terminal, motor tuaku kutinggalkan di kost.
Tak lama aku menunggu, Bus tujuan ke kampungku pun segera diberangkatan, aku duduk di kursi kernet karena tak kebagian tempat duduk, tapi ini bukan masalah buatku, malah aku menikmatinya
Sepanjang perjalanan, pak supir tak putusnya memutar lagu - lagu dangdut lawas, mulai dari lagu - lagu Ken Dedes, Rhoma Irama, Elia Kadam hingga Fenty Noer, dia sungguh menikmati alunan kendang dan sulingnya, terdengar sesekali dia ikut bernyanyi.
Aku yang dari tadi terdiam, memberanikan diri untuk bercengkerama dengan kernet, kulihat di bajunya dia bernama Iwan, dia duduk di lantai samping pak supir dengan beralaskan kardus
"Kang Iwan, mangga". Ujarku sok akrab sembari menawarkan rokokku kepadanya
Kang iwan tampak tak sungkan menerimanya, kamipun terlarut dalam obrolan yang seru
Kang iwan dan pak supir ini cukup humoris, terdengar sesekali mereka saling bertukar candaan konyol dan tak jarang mereka tertawa terbahak - bahak, sayapun mencoba menawarkan rokok kepada pak supir.
"Kang Ujang, mangga silakan". Tawarku kepadanya
namun dia menolaknya, ujarnya dia punya rokok, aku juga sok akrab dengan pak supir, kulihat di bajunya tertulis nama Ujang dan akhirnya kami bersenda gurau bertiga.
Sudah lebih dari 4 jam perjalanan dan masih sekitar 6 jam lagi aku sampai di tujuan, akupun mulai terasa mengantuk, tak terasa aku tertidur.
Tak lama aku tertidur
"kang...kang". Kang Iwan kernet membangunkanku untuk sejenak beristirahat di rest area.
Nafsu makanku tidak ada, aku tak ikut makan bersama penumpang lainnya, aku hanya membeli segelas kopi dan 2 buah pisang goreng hanya untuk menemaniku merokok.
Kembali terlintas pikiranku akan semua kejadian itu, aku masih berpikir kenapa harus Tara?. Terus berpikir dan akhirnya aku menemukan sedikit petunjuk, aku ingat Tara pernah mengeluh karena setelah lulus, dirinya tak kunjung mendapatkan panggilan pentas.
Tapi aku tak yakin dia melakukannya, tapi kenapa dia tahu detail tentang seda pati, dan kenapa dia memiliki lukisannya?. Pikiranku terus terpacu untuk menemukan jawaban.
Operator rest area sudah memanggil kami semua untuk kembali melanjutkan perjalanan, aku masuk ke dalam bus dan kembali duduk di kursi kernet.
Ketika bus memutar untuk parkir, tak sengaja kulihat sosok yang tak asing di seberang jalan dan saat bus sudah hendak masuk ke jalan.
"Pak..pak, stop pak". Spontanku kepada pak supir
bus berhenti mendadak dan aku bergegas lari keluar menuju seberang jalan, aku kembali melihat lelaki tua itu tersenyum ke arahku, aku geram dan ingin menghajarnya, tapi dia kembali tiba - tiba hilang dari pandanganku saat ada bus lain melintas di depannya.
"Aya naon, udah cepetan!". Teriak Kang Ujang Supir kepadaku
Akupun segera kembali masuk ke dalam bus,
"aya naon kang?". tanya kang iwan kernet
"enggak kang". Jawabku menyembunyikan kejadian yang terjadi.
Aku tak habis pikir, kenapa dia selalu mengikutiku kemanapun, apa maunya?. Sial, aku semakin berat memikirkan semua ini.
Aku terus menyambung rokokku hingga aku merasa sesak sendiri karenanya, sesekali aku batuk. Kang Iwan menawariku air minum dan tanpa sungkan aku menerimanya.
Kusudahi rokokku, paru - paru ini semakin sesak kurasa, sepanjang perjalanan aku terus melamun, tak kudengar lagi juga bercandaan kang iwan dan kang ujang, ternyata kang iwan pergi ke belakang untuk tidur sejenak.
Aku seolah menggantikan posisinya, aku memberi aba - aba setiap Pak Supir ingin menyalip kendaraan di depan, nampaknya pak supir juga terlihat lelah, sesekali kulihat dia menguap
"Setel lagi musiknya kang, biar nggak ngantuk". Ujarku kepada Pak Supir
"oo siap". Jawabnya
Haripun mulai berganti malam, sekitar 2 jam lagi aku tiba, pak supir semakin kencang melajukan bus ini.
Tiba - tiba gawaiku ku berbunyi
"De, udah sampe?". Tanya Pak Dadang dalam pesan whatsapp
"belum pak, sebentar lagi". Balasku
"Saya lagi di rumah Tara, saya dapet petunjuk, gila ini de, ga masuk akal ini, tapi nanti kita bahas kalau kamu sudah sampai di rumah". Balas Pak Dadang.
Batinku penasaran, petunjuk apa yang beliau dapat itu?
Aku tiba di terminal bus kampung halamanku, hari sudah malam, sudah tidak ada angkutan desa untuk mengantarkanku ke rumah, aku coba menghubungi Eti adik perempuanku untuk meminta bapak menjemputku di terminal.
"Halo, nong... Bapak udah tidur?". Tanyaku kepada Eti melalui ponselku, aku memanggilnya jenong.
"Ya a, Bapak udah tidur dari tadi, kenapa a?". Jawab Eti
"aa di terminal, mau minta jemput bapak, udah nggak ada angkot euy". Ujarku
"ya udah, Eti bangunin dulu atuh ya". Pungkasnya
__ADS_1
Aku menolaknya, aku tak ingin mengganggu istirahat Bapak karena aku tahu bapak pasti lelah setelah seharian sibuk di sawah dan siangnya berjualan panci keliling kampung menggunakan motor tuanya.
Terpaksa aku berjalan kaki menuju rumah, rumahku cukup jauh dari terminal dan ojek hanya sesekali ada disini karena mayoritas orang di desaku jarang bepergian.
Kubakar rokokku, dan aku mulai berjalan ke arah rumah, setelah cukup jauh dari terminal, suasana mulai sunyi sepi tak ada tanda - tanda kehidupan sejauh mataku memandang.
Aku terus berjalan dengan sedikit rasa takut karena jalanan begitu sepi dan berharap segera tiba, tapi aku sedikit lega karena tak jauh di depanku aku melihat ada seseorang sedang duduk di kursi warung yang sudah tutup
Semakin dekat aku dengannya, lalu kusapa dia
"punten pak". Ucapku
Tiba - tiba dia tertawa kencang, aku terkejut dan menengok ke arahnya, dan ternyata dia adalah lelaki tua itu.
Aku terdiam sejenak, dan dengan cepat kudekati dia
"maumu apa hah?". Teriakku kepadanya
"jangan sekali - kali kau ganggu urusanku, atau akan semakin banyak darah mengalir". Jawabnya
"biadab". Teriakku sambil mengepalkan tanganku untuk meninju wajahnya
Tapi dengan cepat sekali dia berpindah posisi, aku kaget dibuatnya, ilmu apa ini?.
Terdengar suara motor melaju ke arahku, aku spontan mengalihkan pandanganku ke arah motor itu dan lelaki tua itu sudah menjauh sembari berteriak ke arahku
"darah berikutnya akan mengalir malam ini". Teriaknya sambil tertawa, aku mengejarnya dan dia semakin menjauh.
Ternyata motor yang kudengar itu adalah motor Bapak
"Dede". Panggil bapak kepadaku sembari memutar arah
"Ehh.. Bapak". Jawabku
"Kamu teh kenapa jalan kaki atuh, bukannya suruh si jenong bangunin Bapak?". Tanya Bapak
Aku memberitahu Bapak kalau aku tidak enak jika harus membangunkan Bapak, tapi ternyata Bapak terbangun lantas Eti memberitahunya karena Eti masih terjaga, sehingga Bapakpun bergegas menjemputku, akupun meminta untuk mengemudikan motor dan Bapak kubonceng di belakang.
Bapak bertanya padaku kenapa aku pulang mendadak dan tidak memberikannya kabar, aku hanya menjawab kalau aku tiba - tiba kangen Emak, sepanjang perjalanan Bapak bercerita tentang Emak yang semakin hari semakin galak, akupun hanya tersenyum.
Setibanya di rumah, ternyata Emak juga terbangun karena suara motor Bapak tadi, Emak menyambutku dengan teh hangat dan pisang goreng buatan Eti tadi sore.
"ai kamu kenapa balik, aya naon?". Tanya Emak
"henteu mak, Dede cuma kangen sama Emak". Jawabku
Emakpun bertanya panjang lebar mengenai banyak hal hingga urusan kuliahku, Emakpun begitu marah saat mendengar bahwa aku harus mengulang 1 tahun lagi
"heh belegug, Emak teh pusing kuliahin kamu teh, udah 7 tahun Emak ngeluarin duit, mending kalau duit kecil, sabaraha puluh juta yang udah Emak keluarin buat kamu hah, mikir atuh maneh teh mikir belegug". Ucap Emak dengan emosi.
Aku hanya tertunduk mendengar omelan Emak, aku tak berani menjawab sepatah katapun, Bapak berusaha menenangkan Emak dan memberitahunya kalau ini sudah malam.
"Eh, udah mak, udah jam 10 malem ini teh". Ujar Bapak kepada Emak.
Bapak pun menggiring Emak untuk masuk kamar, sementara Si Jenong hanya tertawa kecil melihatku dimarahi Emak, lantas akupun menjahili dia dengan mengarahkan kentutku ke wajahnya sembari lewat depan dia yang sedang asyik menonton TV.
"Koplok maneh mah". Marah Eti kepadaku
Aku pun tertawa terbahak - bahak sembari berlari ke kamarku dan segera mengunci pintu dari dalam, akupun mengambil handukku dan segera mandi, keringatku sudah berkerak rasanya.
Setelah mandi akupun berbaring, dan memikirkan ucapan lelaki tua itu tadi, maksudnya apa dia bicara seperti itu?. Aku teringat, aku harus mengabari Pak Dadang jika aku sudah tiba.
Aku menghubunginya melalui pesan whatsapp namun tak kunjung di balas, mungkin beliau sudah tidur, aku juga sudah mengantuk dan tak lama aku tertidur pulas.
Hari pun sudah pagi.
"Dede, bangun, kamu teh jam segini masih tidur". Teriak Emak membangunkanku
Akupun terbangun karena teriakan Emak, lantas aku keluar kamar dengan mata yang masih mengantuk, aku berjalan ke arah dapur dan Emak sudah memasak gorengan bala - bala kesukaanku, langsung seketika kulahap
"Heh, dasar jorok, cuci muka dulu kamu teh". Ucap Emak sambil menepak tanganku.
Segera akupun ke kamar mandi untuk cuci muka dan kembali ke meja makan untuk menikmati bala - bala hangat buatan Emak, disitu Emak bercerita tentang hasil panen yang tak sebesar biasanya.
Aku mendengarkan cerita Emak sembari memeriksa ponselku, Pak Dadang tak kunjung membalas juga, ada apa ini?. Kucoba meneleponnya dan tidak juga dijawab.
Aku semakin penasaran, Pak Dadang kenapa rupanya, kulupakan sejenak, akupun menceritakan semua yang terjadi kepada Emak dan akhirnya menanyakan asal usul liontin yang kukenakan ini.
"nggak tahu Emak juga". Jawab Emak
Selepas itu Emak tiba - tiba terdiam dan segera pergi dari meja makan, aku bingung, apa yang salah dari ucapanku barusan?. Aku coba mengikuti Emak dan menanyakannya kembali, tapi Emak tidak mau menjawabnya.
"Tanya aja Bapak tuh". Jawab Emak sembari menunjuk ke arah Bapak yang baru pulang dari sawah.
Kulihat mata Emak berkaca - kaca lalu akupun bertanya kepada Bapak, Bapak hanya geleng - geleng kepala sembari membenahi cangkul dan sepatu bootsnya.
Lantas Bapak duduk, disitu ada aku, Emak dan Bapak, sebelum berbicara, Bapak meminta maaf kepadaku, lho, ada apa ini?.
"De, liontin itu sudah kamu pakai semenjak kami menerimamu". Ujar Bapak.
"Hah, maksudnya gimana?". Tanyaku bingung
Bapak akhirnya membuka rahasia yang sudah 24 tahun tersimpan rapi, Bapak memberitahuku bahwa aku bukanlah anak biologis mereka, orang tuaku menitipkanku dari aku berusia 1 bulan.
Dunia serasa berhenti berputar ketika aku menerima kenyataan bahwa aku bukanlah anak biologis kedua orang tuaku, aku kaku dan sangat tak percaya semua ini.
Bapak memberitahuku jika orang tua biologisku menitipkanku kepada Bapak ketika Bapak dan Emak baru menikah, kala itu Bapak baru pulang dari pasar malam dan melihat orang tua biologisku sedang berlari di jalan kampung yang sepi sembari menggendongku.
Lalu menurut Bapak, mereka menuturkan bahwa mereka adalah anak dari dalang sakti yang mempunyai kekuatan supranatural yang hebat, ketika itu mereka menitipkanku kepada Bapak karena keluarganya sedang diterror dalang yang sedang mencari wayang pesugihan miliknya.
Bapak menyampaikan kepadaku apa yang orang tua kandungku ceritakan, kira - kira begini
Dalang itu tahu bahwa kakekku menyimpannya, sebelum meninggal, kakek berpesan untuk tidak sekalipun memberitahu wayang itu ada dimana kepada siapapun, sehingga orang tua biologisku yang diteror oleh dalang itu
Sebelum disimpan oleh kakekku, wayang itu sering digunakan oleh dalang setan itu untuk mencari tumbal pesugihannya, sehingga wayang itu harus dikunci mati.
Wayang itu disimpan kakekku setelah ditandingkan dalam pertunjukan wayang dengan wayang Rahwana dan wayang pesugihan itu kalah, wayang pesugihan itu ditandingkan tidak dengan digerakan oleh dalang, tapi dia digerakan oleh kekuatan iblis jahat.
Dan wayang itu dikunci di dalam sebuah kotak dan diikat tali yang terbuat dari kulit kerbau putih, karena hal itu orang tuaku takut jika aku juga diincar oleh dalang itu untuk dibunuh.
__ADS_1
Dan orang tuaku berpesan kepada Bapak, mereka akan kembali jika mereka selamat, tapi setelah 24 tahun mereka tidak pernah kembali.
Bersambung...