
Eh kenapa? Kamu ada masalah ya?
Ya kira kira gitu lah.. jadi gini.. tadi aku sama Raysha main nerobos pintu masuk taman. Raysha nyadar katanya kok sepi nih taman.. Raysha duga, itu taman ditutup. Kita main nerobos karena emang mau main ke taman. Eh pas di cek, bener Fay...
Hahaha, pasti kamu malu banget ya?
Iya lah, mana ada sih yang gak malu? Semua orang yang lalu lalang disitu merhatiin kita semua... Ya otomatis aku jadi langsung lari pulang kerumah nih, bawa muka merah kaya habis dipanggang.
Hahahaha... Kamu kalau udah ngoceh lucu dah, Ra! Udah dulu ya, aku mau bantu Nozie pangkas tanaman nenek aku dulu... Bye... Kamu kalau kesepian lagi ya tinggal jalan jalan kek, atau main sama Raysha lagi.
Oke, makasih kamu udah luangin waktu ngobrol buatku. Bye...
Aku menutup ponsel. Aku bosan. Bosan sekali... Aku ingat, papa pernah bilang "kalau mama sama papa gak ada, coba cari surat."
Meski aku gak tau apa kata papa waktu itu, aku mengangguk saja.
__ADS_1
Sekarang aku akan coba mengerti tentang yang papa bicarakan itu. Aku bingung sebenarnya... Surat? Pergi? Surat... pergi... Surat pergi? Surat.. pergi? Ya! Itu dia, surat pergi! Ah, lebih tepatnya surat izin pergi. Aku mencari surat izin pergi/pemberitahuan dan semacamnya itu lah. Setelah sekian lama aku mencarinya, akhirnya ketemu, ternyata surat itu ada di ruang tamu, yah aku tidak menyadarinya sih.. dan aku langsung mengambilnya. Aku membaca isi surat tersebut, dan isinya adalah...
"Zhayra, papa sama mama mau pergi dulu... Maaf gak bilang atau izin ke kamu dulu ya... soalnya harus cepat cepat pergi... Papa sama mama mau pergi ke bandara, Zhayra pasti tau kan.. Papa sama mama mau ke bandara buat jemput kakak kesayangan nya Zhayra, Zen.. Zhayra kan udah besar, jadi gak perlu ikut lagi... Jaga rumah ya, jaga diri juga... Besok pagi, In Syaa Allah mama sama papa pulang... Oh iya, ada satu lagi yang Zhayra harus tau, karena bandara nya jauh, jadi malamnya terpaksa nginap dulu di penginapan.. Uang buat belanja makanan ada di atas meja depan yaa..."
Itulah isi surat itu. Aku mengerti. Aku memang menunggu kak Zen pulang. Aku hanya duduk diam di sofa. Sekarang sudah siang hari, aku harus membeli makanan untuk makan siang. Aku membeli makan siang di warung makanan tegal.
Sepulang membeli makanan, aku memilih untuk pergi ke alun alun taman. Bukan taman yang tutup tadi, ya.. Taman yang satunya lagi, yang tidak jauh dari rumahku. Tiba-tiba...
"Zhay, Zhayra... Zhayra..." panggil seseorang di kejauhan sana.
Lantas aku menoleh, siapakah yang memanggilku ini. Oh, ternyata dia. Henra, yah, Henra. Satu satunya teman laki laki yang dekat denganku.
"Emangnya aku gak boleh ya, disini." jawab nya menyindirku.
"Ih kamu... Terus, kamu ngapain? Tumben disini... Rumahmu kan agak jauh... Kita kan beda perumahan Hen... Kamu di perumahan Xavier, aku di perumahan Teryan. Jauh..." kataku.
__ADS_1
"Aku mau disini, yah... karena aku pengen ada di dekat kamu..." jawab Henra. Wajahku memerah, mendengar jawaban yang terucap dari mulutnya.
"Apaan sih, Hen. Kamu kesini sama siapa?" tanyaku.
"Eh? Aku kesini sendiri lho... Biar bisa berdua sama kamu.." gombalnya lagi. Wajahku memerah untuk yang ke sekian kalinya.
"Henra! Udah ah..." sahutku.
"Sorry Zhay...Kamu kesini kok sendiri?" tanyanya lagi. Berbeda dengan lainnya yang memanggilku "Ra", Henra lain. Dia memanggilku "Zhay".
"Anu, Hen... Orang tuaku pergi... Jadi, jadi, aku... Emm..." aku sedikit canggung, karena Henra terus menatapku dalam dalam.
"Aku... Sendiri, di... rumah, Hen..." kataku.
Henra hanya manggut manggut.
__ADS_1
"Zhay, kamu sendiri ya dirumah? Gimana kalau aku...." kata Henra.
Bersambung... Penasaran apa yang Henra ucapkan? Tunggu di Eps selanjutnya, yaitu Eps 15 ya... Omong-omong, Author punya ide lanjutan novel ini lagi... Jadi author memutuskan untuk menyudahi hiatus novel ini. Bye