
Teng Teng Teng
Bel pun berbunyi menunjukkan waktu pukul sebelas siang.
Dosen kelas pun langsung keluar begitu juga dengan murid-murid.
"Valen, apa kau sedang sibuk?" Tanya pemuda yang ternyata adalah Tio.
Valen segera mengarahkan pandangannya kearah Tio dan berkata.
"Tidak, memang ada apa?" Tanya Valen balik.
"Ahh, aku hanya ingin mengajak mu jalan-jalan saja sambil menikmati udara." Kata Tio.
Valen pun merenungkan terlebih dahulu ajakan dari Tio.
"Baiklah, aku ikut." Kata Valen.
Lalu keduanya pun keluar kelas bersama dan pergi menuju tempat parkiran.
Sesaat setelah sampai di tempat parkiran. Tio pun langsung berjalan kearah mobilnya.
"Wow, ini mobil mu?" Tanya Valen.
Mobil yang digunakan oleh Tio adalah BMW X5, mobil dengan bentuk SUV dan juga teknologi yang cukup canggih.
(Mobilnya)
"Tentu saja, ini adalah mobil keluaran terbaru." Kata Tio.
Walaupun Valen bukan orang yang mampu untuk membelinya, tetapi setidaknya ia tahu tentang mobil yang ada didepannya.
"Baiklah, ayo masuk." Kata Tio.
Keduanya pun memasuki mobil dan duduk bersebelahan.
Valen cukup kagum dengan interior yang ada didalam mobil Tio.
Tidak berlama-lama, mereka berdua pun segera jalan menuju gerbang keluar.
Banyak sorot mata yang tertuju kepada mobil yang dimiliki oleh Tio. Bagaimana tidak, diumur yang masih muda ia membawa mobil yang harganya sangat mahal.
'Heii, gila juga dia membawa mobil seperti itu ke kampus' Kata salah satu murid.
Tetapi Tio yang menjadi sorot perhatian pun hanya mengabaikannya dan lanjut mengendarainya kejalan raya.
Valen pun akhirnya membuka pembicaraan.
"Enak ya menjadi orang kaya." Kata Valen. (enak bgt bang, saya juga mau:)
"Hahh, tapi tetap saja walaupun aku kaya tidak ada yang tulus berteman kepada diriku. Mereka hanya mendekati ku karena aku adalah anak dari seseorang kaya raya." Kata Tio mengeluh.
Valen pun hanya tertawa kecil mendengar itu.
"Yaa, itulah pertemanan. Kau harus bisa memilih yang mana bisa dijadikan teman dan mana yang tidak." Kata Valen.
Tio pun tersenyum mendengar nasihat dari temannya.
"Itu benar, dan kau adalah satu-satunya teman yang tidak memandang apapun dariku." Kata Tio.
Yap, Valen dan Tio berteman memang benar-benar berteman bukan yang hanya memandang kasta atau harta.
Mereka berdua pun melanjutkan pembicaraan dan sampai ketika Valen tiba-tiba dibuat terdiam.
'Ada apa ini, insting ku menjadi lebih sensitif.' Kata Valen dalam hati.
Valen merasakan ada yang tidak beres, dan benar saja tepat ketika mobil Tio melewati lampu merah. Dari arah kanan ada sebuah truk yang melaju sangat kencang.
"Awass." Teriak Valen.
Valen yang melihat itu langsung segera menarik kemudi yang ada ditangan Tio dan mengarahkannya kearah kiri.
Drittt
Cittttt
Akhirnya mereka berdua pun tidak jadi ditabrak oleh truk yang sedang mengebut itu.
"Huftt huftt, apa-apaan itu." Kata Tio heran.
Butuh waktu bagi Tio mencerna apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Truk itu sedang melaju kencang padahal lampunnya sudah merah." Kata Valen.
"Sialan, kalau aku tahu bakal aku tuntut dia." Kata Tio.
Tetapi yang membuat Tio heran adalah bagaimana Valen mengetahui kejadian itu.
"Kau, bagaimana kau tau akan ada kejadian itu?" Tanya Tio.
"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa ini hanyalah insting." Kata Valen.
Heran dengan perkataan temannya, Tio tidak membahasnya lagi dan lanjut mengendarai mobilnya.
Waktu menunjukkan pukul 15.00, karena sudah sore hari Tio pun mengantar Valen.
"Baiklah, terimakasih dan hati-hati." Kata Valen.
"Hahaha, santai saja kawan." Kata Tio sambil tertawa.
Lalu Tio pun lanjut mengendarai mobilnya pulang.
Kriettt
Valen pun membuka pintu dan memperlihatkan sebuah ruang tamu.
Setelah merapikan sepatunya ia pun berjalan menuju kamarnya yang berada diatas.
Kriett
Pintu kamarnya pun terbuka dan Valen langsung segera merebahkan tubuhnya dikasur.
"Hufttt, insting Werewolf memang berguna." Kata Valen.
Sudah tidak terhitung jumlahnya insting Werewolf menyelamatkan dirinya.
Setelah merasa tidak ada kegiatan, Valen pun memutuskan untuk berolahraga disore hari di taman yang berada didekat rumahnya.
Di taman
'Huftt Huftt Huftt'
Terlihat Valen sedang berlari santai dengan menggunakan pakaian olahraganya.
Banyak sorot mata tertuju kepada dirinya, bagaimana tidak. Memiliki wajah yang tampan dan memiliki tubuh yang bagus, sudah pasti dirinya akan dijadikan bahan sorotan tanpa terkecuali.
Yap, begitulah jika menjadi orang tampan.
Tidak peduli dengan omongan orang lain, Valen tetap melanjutkan tujuan dirinya berada disini.
Setelah beberapa saat, Valen pun memberhentikan aktivitas larinya dan mulai beraktivitas seperti. Push up, Back up, Chin up, Pull up, Squat, Dan lainnya.
Setelah melakukan itu semua dalam beberapa menit, valen langsung berjalan menuju tempat Vending Machine minuman yang ada di taman.
Glukk Glukk
"Hahhh, segarnya." Kata Valen.
Valen pun duduk di bangku yang sudah disediakan di taman.
Merasa tujuannya sudah terpenuhi, Valen pun hendak berjalan pulang tetapi ia urungkan niatnya karena suatu hal.
'Bau darah.' Kata Valen dalam hati.
Insting Werewolf nya pun seketika aktif dan Valen pun segera berjalan menuju sumber bau darah itu.
Ketika ia melewati salah satu gang, ia melihat ada sebuah bercak darah yang menempel pada dinding. Valen pun segera menghampiri dan menginvestigasinya.
'Masih segar, kemungkinan terjadi beberapa saat yang lalu.' Kata Valen dalam hati dan tanpa disadari mata merahnya bersinar didalam gang.
Tidak mau berurusan terlalu jauh, Valen pun hendak meninggalkannya. Tetapi secara mengejutkan ia mendengar suara permintaan tolong.
'T-tolong'
Samar-samar Valen pun segera berlari cepat menuju sumber suara tersebut.
'Pertigaan gang belok kiri.'
Insting Valen benar-benar merasakan apa yang terjadi.
Lalu Valen pun memperlambat larinya dan berhenti tepat didepan gudang kosong.
'Disinikah.' Kata Valen. ( klo tandanya " berarti berbicara secara langsung ya, klo tandanya ' berarti bicara dalam hati atau gumam).
Valen pun tidak seperti pahlawan-pahlawan yang asal-asalan langsung masuk, tetapi ia berjalan masuk secara perlahan sambil memperhatikan kondisi sekelilingnya.
__ADS_1
'Didalam ada 4 orang sedang berkumpul dan sepertinya mereka menculik seseorang.' Kata Valen.
Menyelinap dengan hati-hati, Valen pun mengintip dan melihat seorang wanita sedang disekap dan ditutup mulutnya oleh sumpelan kain.
Lalu salah satu komplotan penculik itu pun mengeluarkan sebuah ponsel dan menelepon seseorang.
"Boss, kita sudah mendapatkan target." Kata salah satu komplotan penculik.
Lalu mereka pun berbincang-bincang tanpa tahu ada yang sedang mengawasi kegiatan mereka.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menjaganya terlebih dahulu sampai anda datang." Kata komplotan penculik.
'Sepertinya sudah saatnya aku membantunya.' Kata Valen.
Dengan ancang-ancang, Valen pun bergerak dengan cepat dan menumbangkan mereka secara bersamaan.
Daakkk Dakkk Dakkk
Valen memukul tengkuk mereka dengan cukup keras dan berhasil membuat mereka pingsan.
Tidak mau lama-lama, Valen pun segera berjalan kearah wanita yang menjadi korban tersebut.
"Hei, bangunlah." Kata Valen.
Samar-samar mendengar suara, wanita itu pun membuka matanya dan memperlihatkan Valen sedang membuka ikatan yang ada pada tubuhnya.
"Kau bisa berjalan?" Tanya Valen.
Wanita itu pun menganggukkan kepalanya dengan perlahan dan membuka sumpelan yang ada di mulutnya.
"Terimakasih sudah mau membantu diriku." Kata wanita itu.
Valen pun menganggukkan kepalanya lalu memberikan kode kepada wanita itu untuk berjalan.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua pun berhasil keluar dari tempat itu dan berjalan mencari tempat yang lebih aman.
Tidak lama kemudian mereka berdua pun telah sampai ditepi jalan raya.
"Baiklah, karena sudah sampai disini aku pergi terlebih dahulu." Kata Valen.
Saat hendak berjalan, tiba-tiba tangan Valen ditahan oleh wanita itu.
"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih." Kata wanita itu dengan tersenyum.
"Dan boleh aku tahu nama mu?" Tanya wanita itu.
Valen pun segera berkata kepada wanita itu.
"Jika kau ingin mengetahui nama seseorang, sebutkan dulu nama dirimu." Kata Valen.
Wanita itu pun tertegun beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
"Ah, maafkan aku. Perkenalkan namaku adalah Sinta Agustin." Kata Sinta.
"Namaku adalah Valen." Kata Valen.
"Baiklah Valen, aku tidak akan melupakan kebaikan ini." Kata Sinta.
"Terserah dirimu saja." Kata Valen lalu ia pergi meninggalkan Sinta.
Merasa sudah jauh, Sinta pun tersenyum.
"Pemuda yang menarik." Kata Sinta lalu ia mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi ia sembunyikan.
"Halo, jemput aku." Kata Sinta.
Lalu tidak lama setelah itu sebuah mobil SUV yang sangat mewah, datang dan keluar seorang dengan perawakan layaknya pengawal.
"Maaf Nona, silahkan masuk." Kata si pengawal.
Lalu Sinta pun masuk kedalam mobil, dan mobil itu pun berjalan.
'Valen ya, suatu saat nanti pasti kita akan bertemu lagi.' Kata Sinta.
Valen tidak mengetahui identitas wanita yang baru saja ia selamatkan.
...----------------...
YOOOO chapter 3 nehh jangan lupa like,komen nya para sepuhhhh.......
(Sinta Agustin)
__ADS_1