When I Fall In Love

When I Fall In Love
1. Ilham & Ana


__ADS_3

Memasangkan dua orang yang memiliki sifat yang bertolak belakang tidak mungkin bisa dilakukan dengan mudah, dan tidak mungkin juga dilakukan dengan cara biasa.


Itulah yang sedang Anandia Setiani pikirkan karena baru saja dipasangkan dengan Ilham Ibrahim saat mau melakukan uji nyali.


Uji nyali yang dilakukan oleh beberapa anggota murid sekelas, pengundian menentukan pasangan dilakukan secara random. Benar-benar random sampai membuat Ana yang tomboy bisa dipasangkan dengan Ilham yang alim.


Bangunan sekolah tiga lantai yang kini menjadi tempat melakukan uji nyali sudah mulai menunjukkan suasana horor saat jam menunjukkan angka tujuh malam. Padahal saat pagi dan siang hari selalu ramai oleh siswa-siswi yang berlalu lalang di koridor atau membuat semacam keributan di kelas. Ana baru tahu tempatnya bersekolah bisa memberi kesan yang sangat berbeda saat sudah malam begini.


"Oke, jadi masuknya bergilir setiap satu menit sekali ya! Kalian harus memutari sekolah dari lantai satu sampai lantai tiga. Dan uji nyalinya dinyatakan selesai setelah semua kembali berkumpul di parkiran sekolah."


Saat mendengar instruksi dari Reno yang bertindak sebagai pemimpin karena dia lah pencetus ide, Ana berhenti memperhatikan suasana dan mulai fokus dengan apa yang mau dilakukan.


Tidak ada yang salah dengan rute uji nyali yang sepertinya dibuat secara mendadak, yang Ana permasalahkan adalah pasangan uji nyalinya.


Meski harus Ana akui dia memang tipikal cewek tomboy yang mudah dekat dengan lawan jenis, tapi sampai detik ini dia tidak pernah sekalipun mengobrol dengan Ilham.


Cowok itu menunjukkan sifat alim yang terkadang sampai berlebihan. Ana yang menyadari sifat itu mencoba menghargai dengan tidak memperlakukan Ilham sama seperti cowok lainnya.


Selama satu tahun mereka menjadi teman sekelas, Ana berhasil tidak melakukan interaksi apapun dengan Ilham, tapi semua berakhir hari ini.


Sungguh Ana sangat tidak tahu bagaimana cara menghadapi cowok alim. Berdiri bersampingan dengan jarak kurang dari tiga puluh centi saja sudah terasa sangat salah.


"Apa lo takut, An?"


Karena tiba-tiba diajak bicara, Ana terlonjak kaget. Bagaimana tidak kaget coba jika cowok yang selama ini cukup pendiam pada kaum hawa mendadak mengajak bicara terlebih dulu?


"Nggak juga. Gue justru cukup suka suasana kayak gini, rasanya menantang," meski merasa bingung, Ana tetap mencoba menjawab dengan jujur.


Sebuah senyum terukir di wajah Ilham, "Lo benar, ini pasti bakal menyenangkan."


Secara refleks Ana ikut tersenyum, senang mendapati cowok yang menjadi pasangan uji nyalinya ternyata memiliki pemikiran yang serupa dengannya.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya giliran Ana pun tiba. Ilham yang berinisiatif menerangi jalan langsung menyalakan fungsi senter di ponselnya, "Ayo!"


Dengan perlahan, Ana menaiki anak tangga mengikuti langkah Ilham dari belakang sampai mereka berada di lantai dua.


Satu per satu ruang kelas kosong dilewati begitu saja tanpa adanya topik obrolan yang dilakukan. Ilham bukan tipe yang mau mengobrol basa-basi pada perempuan. Ana yang mengetahui sifat itu jadi tidak tahu bagaimana caranya memulai topik pembicaraan lagi.


Sambil mencoba mencari bahan obrolan, diam-diam Ana memperhatikan wajah Ilham. Ada pancaran tak biasa di mata cowok ini, "Ilham sangat suka melakukan aksi uji nyali ya?"


Ilham balik menatap Ana dengan ekspresi keheranan, "Apa gue terlihat menikmatinya?"


Ana mengangguk. Ilham mungkin sedang tidak menunjukkan senyum senang, tapi matanya merefleksikan semacam antusiasme.


Ilham kembali mengarahkan pandangan ke depan, "Gue suka menikmati situasi menantang yang menguji keberanian begini. Kalau Ana?"


"Lumayan suka juga."


Karena Ilham tidak memberi tanggapan, Ana memilih diam agar tidak membuat Ilham merasa risi.


Tapi karena Ilham berjalan cukup cepat tanpa tahu ada perbedaan stamina di antara mereka, Ana menarik kemeja putih yang dipakai cowok itu untuk memberi isyarat agar mau memelankan langkahnya.

__ADS_1


Walau kemejanya yang tidak dikancing tertarik sampai kaus putihnya mulai terlihat dengan jelas, Ilham tidak protes, dia cukup peka dan mulai memelankan langkahnya sampai berjalan sejajar dengan Ana.


"Mau coba masuk ke ruang kelas kita?" saat berada di dekat ruangan yang diberi tanda XI - PH, Ilham bertanya sambil menunjuknya.


Merasa mulai capek setelah mengelilingi lebih dari setengah bangunan sekolah, Ana merasa mampir sebentar merupakan pilihan tepat, "Boleh."


Setelah masuk ruangan, Ilham langsung menyusuri kelas untuk mengitarinya. Sedangkan Ana memilih duduk di atas meja yang berada di baris paling depan dekat dengan pintu karena ingin mengistirahatkan kakinya sejenak.


"Meski nggak terlalu seru, tapi suasananya cukup untuk dikategorikan serem ya?"


Mendengar tanggapan dari Ilham, Ana tersenyum karena akhirnya ada lagi pembicaraan yang dilakukan. Dia lama-lama tidak tahan dengan kediaman yang sedari tadi terjadi, "Iya. Lumayan buat bulu kuduk bergidik karena ada suara pintu yang digerakkan angin dan suara jangkrik yang jadi backsound."


"Ini bukan sekedar jalan-jalan malam di gedung sekolah yang sedang kosong kan?"


Ana terkikik pelan, "Rasanya kayak nggak ada tempat lain buat jalan-jalan aja sampai harus pilih sekolah kosong begini."


"Cuma orang pacaran yang ingin berbuat mesum aja yang mendatangi tempat kayak gini malam-malam."


Seketika Ana diam, entah kenapa tubuhnya mendadak tegang mendengar kalimat yang diucapkan Ilham. Walau punya banyak teman cowok, tapi kan Ana tidak pernah berduaan di tempat sepi begini. Wajar kewaspadaannya seketika meningkat.


Memang mereka berdua tidak berpacaran. Saling suka juga tidak. Tapi mau setomboy apapun Ana, dia tetaplah perempuan. Dan mau sealim apapun Ilham, dia tetaplah laki-laki.


Untuk pertama kali dalam hidupnya Ana merasa sangat waspada dan tidak tenang saat sedang bersama lawan jenis seperti ini.


Tapi Ana buru-buru menepis pikiran buruknya mengingat image alim Ilham, benar-benar alim sampai meminimalisir agar tidak keseringan menyentuh perempuan. Sangat mustahil cowok ini melakukan hal aneh hanya karena suasana sedang mendukung. Lagian Ana juga merasa dirinya tidak semenarik itu sampai mampu membuat Ilham mau berbuat dosa.


"Apa udah istirahatnya, An?"


Setelah keluar dari kelas, Ana melihat keberadaan pasangan uji nyali lain yang berjalan beberapa langkah di depannya.


Ada jarak yang membuat Ana tidak bisa mendengar pembicaraan meski terlihat jelas apa yang sedang dilakukan dua orang itu.


Si cewek merangkul lengan cowoknya dengan erat, entah murni merasa takut atau hanya sekedar mencari kesempatan bermesraan. Dan saat dua orang itu masuk kesalah satu ruangan, Ana berdecak jengkel.


"Berbuat mesum di tempat gelap begitu."


Tidak perlu menyuarakan pikiranmu, Ilham! Ana juga baru saja berpikir hal yang sama. Dan lagi tadi mereka berdua juga habis masuk ke ruang kelas kosong kan? Tidak pantas kau secara gamblang mengatakan hal itu.


"Udahlah positif thinking aja. Nggak semua orang pacaran melakukan hal aneh di tempat gelap seperti yang sedang kita pikirkan saat ini."


"Jadi Ana juga berpikir hal yang sama? Gue pikir acara uji nyali ini aja yang mendadak berubah jadi acara menonton orang pacaran."


Ana sweatdrop, Ilham yang alim ternyata memiliki pola pikir seperti remaja pada umumnya ya? Terasa luar biasa cowok ini terang-terangan mengatakan hal yang sedang dipikirkannya, padahal Ana yang punya pemikiran serupa mencoba menahan diri. 


"Apa Ilham nggak ngerasa terganggu dengan posisi baju kayak gitu?" karena obrolan mereka mendadak melantur, Ana mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal yang membuatnya penasaran.


Kemeja yang dipakai Ilham sejak tadi ditarik oleh tangan kanan Ana. Kemeja ini bahkan bisa dikatakan sudah terlepas jika bagian lengannya tidak tersangkut di tangan Ilham.


Ilham merapikan posisi pakaiannya tanpa menghiraukan keberadaan tangan Ana, "Nggak ganggu kok. Lagian bukannya Ana jauh lebih nyaman narik kemeja gue dalam suasana seperti ini?"


Ana jauh lebih merasa nyaman jika diizinkan memegang tangan Ilham dibandingkan harus menarik-narik kemeja seperti ingin melepaskannya.

__ADS_1


Eh, tunggu dulu, kenapa Ana terkesan berharap Ilham mau menyentuhnya? Walau seandainya dia pingsan sekalipun, cowok ini pasti lebih memilih berteriak minta tolong daripada langsung melakukan tindakan sendiri, "Udahlah lanjutin aja jalannya. Kalau kita memperdebatkan ini mulu, nggak ada selesainya."


Ilham menatap Ana sambil menyeringai, "Jangan-jangan Ana mulai takut ya?"


"Gue nggak takut tahu! Lo aja yang jalannya kecepetan," gerutu Ana yang secara refleks memukul pundak Ilham menggunakan tangan kirinya yang bebas.


Padahal tadi kan Ana sudah mengatakan dia juga cukup menyukai acara uji nyali ini, lalu kenapa Ilham menuduhnya sedang merasa takut coba? Lagian jika disuruh takut, yang Ana takutkan adalah hal nyata, bukan sesuatu yang tidak berwujud.


"Oh, kalian berdua udah selesai? Gimana tadi? Menantang kan?"


Tanpa sadar rute uji nyali sudah diselesaikan dan kini mereka berada di tempat parkir sekolah. Di sini sudah ada dua orang lain yang entah kenapa lebih cepat menyelesaikan uji nyali dibanding yang tadi memulai terlebih dulu.


Dahi Ana mengerut tidak mengerti karena dua orang ini memiliki jenis kelamin yang sama. Bukannya uji nyali dilakukan secara berpasangan? Lalu ke mana perginya pasangan dua orang ini? Bagaimana bisa Reno dan Refan sampai sini tanpa pasangan masing-masing?


"Oh, sepertinya kalian menikmatinya ya? Sungguh pasangan yang sangat nggak biasa."


Lupa dengan keberadaan tangannya, Ana buru-buru melepaskan ujung kemeja putih Ilham yang ditariknya, "Apa sih? Kalian berdua juga aneh karena bisa bersama sekarang."


"Gue tahu kalian suka cewek yang sama, tapi gue nggak ngerti kenapa cewek itu justru nggak ada di sini sekarang," gumam Ilham sambil memberi tatapan aneh.


Refan berdecak kesal, "Nggak usah dibahas deh! Mending bahas mengenai kalian berdua aja, apa menyenangkan?"


"Biasa aja," jawab Ana dan Ilham nyaris secara bersamaan.


Reno tersenyum meledek, "Masa? Bukannya kalian sampai masuk-masuk kelas segala? Apa nggak ada kejadian menarik yang terjadi?"


"Gue nggak mungkin melakukan hal mesum, Reno Faisal Aryanto."


Ana, Reno, dan Refan secara serempak langsung memfokuskan perhatian pada Ilham. Sama-sama terkejut dengan apa yang baru dikatakannya.


"Apa? Kalian nggak percaya?" tanya Ilham yang tidak mengerti kenapa mendadak diperhatikan.


Reno menggaruk tengkuknya, "Padahal yang gue maksud apa lo mengatakan suka pada Ana atau semacamnya, tapi kenapa lo mengartikannya sejauh itu deh?"


"Nggak nyangka lo bisa berpikir sejauh itu, Il. Gua pikir lo terlalu alim," gumam Refan yang merasa cukup takjub dengan penemuan barunya.


"Gua cowok normal tahu!"


Perandaian semua cowok sama saja ternyata memang benar adanya ya? Ana pikir sebelumnya ada tipe langka seperti Ilham yang alim dan tidak punya pikiran aneh-aneh, tapi ternyata teman sekelasnya ini hanyalah cowok normal biasa.


Sepertinya ekspektasi Ana terhadap Ilham berlebihan ya? Nyatanya semua orang tidak ada yang sempurna. Ilham juga demikian, meski dikenal dengan image alim, tapi Ilham masih bisa melakukan hal yang salah.


Tapi Ana sama sekali tidak merasa kecewa dengan fakta baru yang ia dapat dari Ilham. Ini justru membuat Ilham terlihat sama seperti cowok lainnya.


Mungkin cowok ini mempunyai prinsip untuk tidak menyentuh seseorang yang bukan muhrimnya, tapi bukan berarti dia menolak memiliki teman perempuan.


Ana ternyata salah sudah seenaknya berpikir Ilham tidak bisa berdekatan dengan perempuan. Nyatanya cowok ini baik-baik saja dan tidak terlihat risi sedikit pun saat melakukan interaksi dengan lawan jenis.


Mulai besok sepertinya Ana harus memulai dari awal lagi hubungan pertemanannya dengan Ilham.


...➡➡➡...

__ADS_1


__ADS_2