When I Fall In Love

When I Fall In Love
20. Hany


__ADS_3

Kedatangan satu teman lamanya sudah membuat Ilham cukup merasa dipusingkan. Memang Alfi merupakan teman yang masih mau menjalankan hubungan persahabatan tanpa pernah mengolok-olok Ilham karena apa yang sudah dilakukan Yudha.


Tapi Ilham tetap merasa tidak terima karena Alfi terus bernostalgia mengenai masa kecil mereka, saat di mana Ilham sedang jahil-jahilnya. Ilham kan ingin melupakan masa itu!


Dan yang semakin membuat pusing adalah tindakan Ilham yang kemarin sedikit di luar batas. Karena yang sudah dilakukannya kemarin, hubungan Ilham dengan Ana menjadi sangat aneh sekarang.


Ilham terlalu terang-terangan menunjukkan rasa sukanya, tapi dia justru pernah mengatakan menolak melakukan pacaran ataupun taaruf. Sekarang dia sudah menjadi cowok tidak bertanggung jawab dengan membiarkan hubungan ini menggantung.


Ilham menghela napas, kenapa dia aneh bangat sih? Tapi saat melihat gadis yang sedang dipikirkannya itu sedang berdiri di dekat ruang guru, kegelisahan Ilham seketika menghilang.


Sebelum sempat menegur, Ilham mengernyit bingung saat menyadari keberadaan perempuan lain yang berdiri di depan Ana. Kok rasanya familiar ya?


"Oh, Ilham juga baru datang ya?" menyadari keberadaan Ilham yang sudah berdiri di sampingnya, Ana bertanya untuk memberi sapaan.


Ilham mengangguk, menatap perempuan yang ada di hadapannya dengan pandangan bertanya. Perempuan ini terasa asing bagi Ilham, tapi entah kenapa seperti sudah dia kenal juga.


Ana yang mengerti pertanyaan tanpa suara itu berniat menjawab, "Dia mu–"


"Jadi ini beneran Ilham!!" belum Ana selesai bicara, mendadak Ilham sudah dipeluk oleh perempuan yang menjadi objek rasa penasarannya.


Eh? Dengan cepat Ilham melepaskan pelukan dengan panik. Kenapa dia tiba-tiba dipeluk begini?


"Gue Hany, mantan lo. Masa lo nggak ngenalin gue sih?"


Sejak kapan Ilham punya mantan? Setelah lulus SD saja langsung masuk pesantren, kapan bisa pacarannya coba? Tapi Ilham dapat mengenali gadis ini setelah sebuah nama tersebut.


Hany Handayani, teman masa kecil sekaligus tetangganya yang dulu hobi digodain terus oleh teman-temannya yang cowok karena punya badan gemuk, dan Ilham selalu mencoba membela dengan balik menjahili mereka.


Sekarang Hany sudah tidak gemuk seperti dulu, dia cantik. Terlalu cantik sampai membuat Ilham merasa seperti sedang bertemu dengan seorang model, "Lo beneran Hany?"


Hany kembali memeluk Ilham, "Gue kangen sama lo."


Ilham kembali menjauhkan Hany darinya, "Kita bukan muhrim, nggak usah peluk-peluk."


"Nggak usah kaku gitu deh. Kita kan pacaran."

__ADS_1


Melihat gerak-gerik Hany yang ingin kembali memeluknya, Ilham bersembunyi di belakang punggung Ana yang hanya menjadi penonton, "Pacaran apaan? Gue nggak ingat pernah nembak lo."


Hany memasang wajah cemberut yang terlihat menggemaskan, "Dulu kan lo selalu nolong gue, jadi gue suka sama lo. Dan gue bertekat berubah biar bisa jadi perempuan yang pantas untuk lo, Il."


Untuk ke dua kalinya Ilham memperhatikan Hany dengan seksama. Meski gadis ini sudah menjadi begitu cantik dan memiliki tubuh proporsional yang membuat mata laki-laki refleks menatap ke beberapa tempat, Ilham tetap tidak punya ketertarikan apapun pada Hany, "Gue dulu nolong bukan karena suka sama lo Han, sorry."


"Tapi sekarang lo jadi suka kan sama gue? Gue udah cantik begini cuma buat lo loh," Hany mengibaskan rambut panjangnya sambil tersenyum.


"Nggak."


Mendengar penolakan Ilham yang dilakukan tanpa berpikir dulu, Hany merengut kesal, "Kok nggak suka? Jangan-jangan lo udah punya pacar ya?"


Ilham menatap wajah Ana yang masih kebingungan, dia tidak mau gadis yang disukainya sampai salah paham. Walau tergolong nekat, Ilham harus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, "Iya, ini pacar gue."


"Eh?" bukan hanya Hany, tapi Ana juga ikut terkejut dengan jawaban yang Ilham berikan.


Ilham menunjukkan senyum seolah sudah memenangkan sesuatu, "Jadi jangan ganggu gue lagi ya, Han? Ya udah yuk An kita ke kelas! Biar orang lain aja yang nganter Hany ke kelasnya."


Tanpa mau menunggu respon Hany, Ilham menarik pergelangan tangan Ana agar mau mengikutinya. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa harus ada lagi orang dari masa lalu yang muncul di hidupnya.


Memang Ilham dulu sudah berbuat banyak hal baik pada Hany, tapi kenapa gadis itu sekarang memendam keinginan menjadi pacarnya sih?


Tapi dibanding harus memusingkan Hany, ada perempuan lain yang harus Ilham berikan penjelasan. Sebelum sampai pintu kelas XI - PH, Ilham memberhentikan langkahnya dan menatap Ana, "Maaf tentang yang tadi, gue sama sekali nggak nyangka Hany ternyata suka sama gue."


"Tapi kenapa harus bilang kalau kita pacaran?"


Ilham memejamkan kelopak matanya sejenak kemudian membukanya lagi untuk menatap wajah Ana dengan serius, "Karena gue suka sama lo, dan gue nggak mau Ana sampai salah paham tentang Hany. Dia cuma teman gue sejak kecil, dan nggak akan pernah lebih dari itu sampai kapan pun."


Melihat Ana diam dan tak memberi respon apa-apa, Ilham melepaskan tangannya yang masih memegang pergelangan tangan Ana, "Gue mengatakan ini bukan karena ingin menghindari Hany, gue serius ingin jadi pacar Ana."


"Ilham!"


Sebelum Ana memberikan jawaban dan sebelum Ilham bicara lagi, mereka sama-sama dikagetkan dengan panggilan itu. Dengan kompak mereka cepat-cepat saling menjauh dan melihat ke arah yang memanggil.


Ada Refan yang datang dari arah belakang Ilham dan sepertinya tidak menyadari keberadaan Ana, "Eh, gue ganggu ya?"

__ADS_1


Ilham menatap Refan dengan sengit seolah mengatakan 'iya, lo ganggu bangat'.


Bukannya merasa bersalah, Refan malah tersenyum usil, "Udah sana lanjutin lagi pacarannya, gue nggak bakal gangguin kok."


Ilham istighfar, dengan langkah malas dia berjalan memasuki kelas. Sepertinya pernyataan cintanya harus ditunda dulu, "Apa sih lo? Jangan buat gue makin bete deh."


Refan mendekati Ilham kemudian berbisik, "Lo ditolak?"


"Gue bete karena cewek lain."


Refan mengernyitkan dahi dengan bingung, setahunya perempuan yang dekat dengan Ilham hanya ada Ana dan Rahma saja. Dan tadi Rahma berangkat ke sekolah bersama Refan, jadi bukan dia pelakunya, "Siapa? Tumben ada cewek yang bisa bikin lo jutek gini."


"Nanti juga lo tahu."


...∞...


Kebiasaan Ilham saat sedang jam istirahat tetaplah sama, datang ke mushola untuk salat. Dan karena terlalu fokus mendengarkan guru mengajar, Ilham sampai melupakan kejadian penting yang terjadi tadi pagi.


Baru juga mau beranjak keluar dari kelas, Hany sudah dulu muncul, "Ilham, gue nggak terima kalau lo punya pacar. Pokoknya lo harus jadi pacar gue."


Ini apa sih? Kenapa Hany jadi pemaksa begini? Padahal dulu dia gadis polos yang sering menangis, "Emang kenapa gue harus jadi pacar lo? Masih banyak cowok lain yang mau jadi pacar lo, Han."


"Gue maunya sama lo, Il. Cuma lo yang baik sama gue, beda dengan cowok lain."


Apa bedanya coba? Ilham menghela napas, tidak mengerti dengan perubahan sikap Hany, "Maaf, Han, tapi lo nggak bisa menggantikan orang yang udah ngisi hati gue."


Pandangan Hany beralih ke arah Ana yang masih berada di dalam kelas, "Apa bagusnya cewek itu sih? Gue jauh lebih cantik dari dia."


Siapa pun juga sependapat Hany jauh lebih menarik dibandingkan Ana, tapi hal yang membuat Ilham jatuh cinta pada Ana bukanlah fisiknya. Karena sedikit tidak terima dengan ucapan ini, Ilham menyentil kening Hany dengan pelan, "Bagi gue dia cantik, apalagi dia rajin beribadah."


Hany yang tidak dapat menjawab ucapan Ilham terlihat semakin kesal, "Oke, fine. Gue nyerah. Tapi lo jangan nyesel udah nolak gue."


Melihat Hany yang berjalan pergi, Ilham menghela napas dengan lega. Masalah yang satu ini akhirnya selesai juga, tapi sebelum ada teman sekelas yang sempat bertanya, Ilham bergegas kabur menuju mushola.


...➡➡➡...

__ADS_1


__ADS_2