
Sebagai kakak dari seorang adik perempuan, Ilham merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan juga melindungi apapun yang terjadi.
Saat ini Ilham memang menomor satukan adiknya dibanding siapa pun. Dia tidak peduli dengan tanggapan teman-temannya yang memprotes pola pikir seperti itu. Mereka mengatakan kalau Ilham hanya fokus menjaga adik, dia tidak akan pernah bisa memiliki pacar.
Nyatanya memang belum butuh kok. Kan sudah ada yang membuat repot dengan harus melakukan aksi antar jemput ke mana pun. Karena telah disibukkan, mana mungkin Ilham sempat memikirkan untuk memiliki pacar.
Ada juga sih alasan lain yang mendasari Ilham belum punya pacar. Tidak banyak perempuan yang mau berinteraksi dengannya gara-gara image alim yang terlanjur menyebar di sekolah. Karena tidak dekat dengan perempuan, bagaimana bisa Ilham jatuh cinta lalu memiliki pacar?
Memikirkannya saja sudah membuat pusing, terasa semakin melelahkan lagi karena sekarang sedang dihadapkan dengan sikap sang adik yang menjengkelkan.
Wajar lah rasa sabar Ilham mulai habis. Adiknya tadi menelepon agar secepatnya dijemput di rumah teman karena sedang melakukan kerja kelompok, tapi begitu sudah dijemput, Ilham ternyata masih disuruh menunggu lagi.
Kan agak menyebalkan sudah buru-buru berangkat mengendarai motor ke rumah yang berlawanan arah dari rumahnya, ternyata kegiatan kerja kelompok belum selesai dilakukan.
"Kenapa Amel hobi bangat sih buat gue nunggu gini?" Ilham menggerutu sambil mencoba mengirim chat WhatApp lagi ke Amel -adiknya-.
Sudah lima menitan berlalu sejak Ilham memberi kabar sudah sampai dan sedang berada di luar pagar berwarna hitam ini, tapi belum ada satu pun orang yang keluar dari rumah.
Kan panas kelamaan nungguin begini.
Mencoba sabar dengan beristigfar pun terasa sia-sia karena emosi Ilham lebih mendominasi. Ingin marah pun tidak bisa dilakukan karena bagaimanapun Ilham tetaplah sayang pada Amel.
Kok punya satu adik perempuan saja sudah sangat dipusingkan begini ya? Bagaimana kalau nanti Ilham punya pacar yang memiliki sifat sejenis dengan Amel coba?
Oke, abaikan hal yang belum pasti dan fokus dulu dengan keadaan saat ini. Dibanding capek menunggu, lebih baik coba bertamu di rumah mewah ini, "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Lho, Ilham?"
Ilham yang sedari tadi sibuk menatap layar ponsel beralih menatap seseorang yang menjawab salamnya, "Ana?"
Yang muncul dari dalam rumah dan kini sedang berdiri di dekatnya adalah Anandia Setiani. Perempuan yang baru hari Minggu kemarin benar-benar sudah menjadi temannya.
"Kenapa ada di sini?"
__ADS_1
"Gue ingin jemput adik gue. Ini rumah lo?"
Mendapat anggukkan dari Ana, Ilham langsung mengerti dengan kondisi tidak biasa yang sudah terjadi, "Adik kita ternyata seumuran ya? Gue nggak tahu."
Ana tersenyum sambil membukakan pagar rumahnya, "Gue nggak nyangka suatu saat lo bakal datang ke rumah gue gini."
Ilham ikut tersenyum saat mendengar candaan itu, "Gue di sini aja, An, lo nggak perlu repot-repot. Emang mereka masih lama?"
"Gue sekalian buka pagar karena kelihatannya mereka udah siap-siap mau pulang."
Karena Ana adalah pemilik rumah yang pastinya melihat sendiri apa yang terjadi di dalam, Ilham lebih mempercayai ucapannya dibanding janji tidak pasti dari sang adik, "Emang mereka belajar apa sih?"
"Kayaknya semacam drama deh buat pelajaran seni."
Oh, itu menjelaskan kenapa Amel baru pulang di jam empat sore. Pelajaran seni untuk drama kan tidak bisa dilakukan dengan cepat karena harus membuat, menghafal, dan melatih apa yang mau dipresentasikan, "Adik gue nggak ngerepotin kan?"
"Sama sekali nggak kok. Nyokap justru senang ada teman anaknya yang main ke rumah."
Saat melihat ada beberapa perempuan berseragam SMP keluar dari rumah Ana, Ilham langsung memanggil nama sang adik, "Amel!"
Untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini Ilham kembali menghela napas, "Tolong ya jangan suka buat Aa nunggu terlalu lama. Aa Ilham juga punya tugas sekolah tahu."
Amel menunjukkan wajah memelas, "Amel janji nggak akan melakukannya lagi kok."
Ilham memejamkan matanya untuk mencoba ekstra bersabar mendengar janji yang sama diucapkan lagi oleh Amel, "Ya udah, ayo pulang. Sana pamitan dulu sama teman-temanmu."
"Gue pulang duluan ya!" Amel beralih menatap teman-temannya yang sudah berdiri di dekat Ana.
"Amel enak bangat bisa dijemput pacar."
"Iya, baik bangat sih pacar lo mau jemput segala."
Secara spontan Ilham langsung menatap Ana saat mendengar kalimat yang pastinya dapat menimbulkan kesalahpahaman.
__ADS_1
Ana memberikan tatapan yang seolah berkata 'jadi Ilham sudah punya pacar?'
Ilham menggelengkan kepalanya dengan tegas seolah memberi bahasa isyarat 'dia bukan pacarku.'
"Ayo, A, kita pulang!"
Sadar dengan keberadaan Amel yang sudah berada di boncengan motornya, Ilham hanya bisa mendesah lelah. Sebenarnya ini juga merupakan kesalahannya sering membiarkan disalahpahami sebagai pacar Amel. Ilham ingin adiknya di sekolah tidak didekati cowok, dan lagi Amel juga tidak peduli dengan itu.
Jadi, yah beginilah. Teman-teman Amel sudah sangat sering salah paham. Tapi ini pertama kalinya ada teman Ilham yang salah paham.
"Gue pulang ya, An. Assalamualaikum," tapi merasa tidak tepat memberi penjelasan sekarang, Ilham menjalankan motornya pergi setelah mendengar jawaban salam dari Ana.
"Aa Ilham kenal sama kakak temanku?" tanya Amel saat mereka sudah cukup jauh pergi dari rumah Ana.
Karena menghabiskan masa SMP di pesantren, Ilham tidak punya teman perempuan. Sama sekali tidak ada, bahkan sampai membuat Ilham yang menegur seorang perempuan dianggap sebagai suatu hal yang aneh.
Ilham sangat maklum jika Amel bisa sampai penasaran, "Maksudnya Ana? Dia teman sekelas Aa."
"Kayaknya Aa dekat sama dia sampai diajak ngobrol segala."
Dekat? Ilham mengernyit bingung. Kok dibilang dekat padahal yang dilakukan cuma pamit dan mengucapkan salam doang? "Yang jelas salah paham tadi harus dijelaskan."
"Aa suka ya sama dia?" tanya Amel dengan nada bersemangat.
Kesimpulan macam apa ini? Bagaimana bisa Amel langsung mengatakan Ilham suka pada Ana hanya karena interaksi kecil yang tadi dilakukan? "Bukannya suka, tapi Aa nggak mau ada gosip lain yang beredar di sekolah. Aa sudah merasa cukup dengan gosip tentang Abangmu."
Amel seketika tidak melanjutkan menggoda Ilham. Dia sangat sadar diam-diam Ilham memikul beban dengan adanya sebuah gosip mengenai kakak tertuanya.
Karena tidak mau membuat mood Ilham memburuk, Amel mencoba mencari bahan pembicaraan lain, "Oh ya, A, kan tugas kelompok Amel menampilkan drama dan harus dipresentasikan minggu depan, jadi Amel sering ke rumah teman begini. Nggak apa kan?"
"Selama Amel mau dijemput sama Aa, Ibu juga pasti nggak keberatan kok."
Amel melingkarkan tangannya di pinggang Ilham dengan senang, "Iya, makasih ya, A. Aa Ilham emang yang terbaik!"
__ADS_1
"Aa juga senang punya adik seperti Amel yang sangat penurut."
...➡➡➡...