When I Fall In Love

When I Fall In Love
11. Kakak


__ADS_3

Hal yang paling tidak diinginkan Ilham adalah bertemu dengan sang kakak saat dia sedang bersama teman. Tapi hal itu sekarang justru terjadi, Ilham bertemu dengan kakaknya saat ia sedang bersama teman. Teman perempuan pula, dan perempuan itu adalah orang yang disukainya.


Ilham tahu jika tidak menegur orang yang dikenalnya dan pura-pura tidak melihat itu dosa, jadi dia menegur sang kakak, "Bang Yudha."


Yudha yang merupakan kakak Ilham menengok saat namanya dipanggil, wajahnya yang cukup mirip dengan Ilham tersenyum saat melihat sosok adiknya, "Oh, Ilham, baru pulang sekolah ya?"


"Iya, Abang sedang apa di sini?" tanya Ilham yang merasa cukup penasaran karena jarak rumah kakaknya masih agak jauh dari sini.


"Lagi beli susu untuk ponakanmu. Warung dekat rumah stoknya habis, jadi Abang harus mencarinya di tempat lain."


Ilham mengangguk mengerti. Tapi saat kakaknya berjalan mendekat, mendadak dia punya firasat tidak enak melihat seringai di wajah Yudha.


"Jadi ini pacarmu ya? Mau dianterin pulang?"


Tuh kan. Kenapa sifat usil Ilham harus dimiliki oleh Yudha juga sih? Apa ini semacam sifat turunan mengingat Amel juga kadang suka jahil? "Dia bukan pacarku."


"Masa~? Ilham kan nggak pernah kelihatan dekat dengan cewek, masa ini bukan pacarmu sih?"


"Emang bukan."


Senyum di wajah Yudha semakin terlihat menjengkelkan untuk Ilham, "Kalau begitu ada cewek lain ya yang berstatus pacarmu? Kenalin dong, bawa ke rumah."


"Ilham nggak punya pacar, Bang," Ilham dapat merasakan nada suaranya mulai meninggi karena tingkat kesabarannya sedang diuji.


"Masa adik Abang nggak punya pacar sih? Seharusnya ada dong satu atau dua cewek yang jadi pacarmu."


"Bang..."


"Adik Abang kan punya tampang yang lumayan, pasti ada kan yang naksir? Nggak masalah kok Ilham punya banyak pacar."


"Ilham nggak punya pacar, Bang! Nggak ada yang mau sama Ilham!" jengkel mendengar pendapat Yudha yang seenaknya, Ilham pun mulai mengabaikan situasinya yang sedang berada di tempat umum.


"Abang nggak percaya, masa nggak ada yang mau sama cowok alim kayak Ilham?"


Ilham menatap Yudha dengan sengit, "Iya, Ilham emang alim, tapi itu nggak membuat cewek tertarik pada Ilham."


"Masa Ilham nggak mau sih pacaran? Pasti ada kok cewek cantik yang suka kamu."


"Ilham nggak mau pacaran, Ilham akan melakukan taaruf. Ilham nggak mau jadi cowok brengsek kayak Abang!" merasa puas dengan ucapan yang telah dikatakan, Ilham berbalik pergi tanpa menunggu respon lagi. Dia memang selalu menjadi adik durhaka saat sedang berdebat melawan Yudha.

__ADS_1


Entah dia kurang bersabar, atau kakaknya yang suka sekali menyulut emosi. Pokoknya Ilham pasti lupa segala macam ajaran agama yang ada ketika sudah berhadapan dengan sang kakak.


Langkah Ilham terhenti saat menyadari sesuatu. Dia sedang bersama Ana sekarang, gadis itu sejak tadi masih mengikutinya.


Ilham berbalik untuk menatap Ana yang berjalan di belakangnya, Ana terlihat kaget saat tiba-tiba ditatap, "Ugh, maaf. Lo jadi lihat sisi buruk gue."


Tidak ada kata yang Ana ucapkan, fokus matanya mencoba melihat ke arah lain. Ke mana saja selama tidak menatap Ilham.


Wajar Ana terlihat ingin menghindar. Siapa pun teman yang berada di posisi Ana dan melihat Ilham marah seperti tadi, pasti beranggapan dia tidak sebaik apa yang sudah mereka kenal. 


Tapi seperti inilah salah satu sisi Ilham yang tersembunyi, "Gue nggak bisa mengendalikan emosi kalau udah ketemu Abang gue."


Kakak-adik sangatlah wajar melakukan aksi pertengkaran, apalagi jika keduanya laki-laki. Bahkan ada juga yang sampai memakai kekerasan untuk menyelesaikan masalah.


Sedangkan Ilham dan Yudha cukup memakai kata-kata. Yudha yang tidak pernah bosan menggoda Ilham, dan Ilham yang selalu mengatakan kalimat yang sama untuk menyelesaikan perdebatan mereka. Itu sudah menjadi kebiasaan.


"Kalimat gue tadi kedengeran jahat bangat ya?"


"Iya."


Ilham menunduk, "Sejak SMP gue diajarkan biar nggak mencontoh Bang Yudha."


"Gosipnya benar ya?"


Orang lain pasti menganggap sebagai aib keluarga, sejujurnya Ilham juga merasa sedikit malu. Tapi Ilham tahu, saat dia kelas sepuluh di semester dua sudah beredar gosip tentang keluarganya. Gosip yang mengatakan kakaknya menghamili perempuan sebelum dinikahkan.


Saat itu Ilham bahkan sampai dipanggil guru BK, dipertanyakan mengenai kebenaran dari gosip yang entah bagaimana bisa sampai tersebar di sekolah. 


Gosip yang beredar itu adalah sebuah fakta. Walau kakaknya mau bertanggung jawab dan menikah, tapi apa yang sudah terjadi tidak dapat diubah.


Mereka bahkan sampai pindah rumah untuk menghindari cibiran tetangga. Ilham disuruh masuk pesantren agar tidak seperti Yudha, Amel pun jauh mendapatkan perhatian ekstra dari orang tua, dan Yudha sampai sekarang bahkan masih mendapat nasihat rutin sampai kadang tidak terlalu disambut saat datang ke rumah.


Dan karena juga berjenis kelamin laki-laki, Ilham mengerti pola pikirnya bisa saja sangat berbahaya sampai berpotensi mencontoh Yudha.


Tidak ingin melakukan kebodohan yang sama, Ilham membuat peraturan untuk dirinya sendiri agar tidak terlalu banyak melakukan skinship dengan perempuan yang bukan muhrimnya.


Dan Ilham tahu suatu saat rahasia ini harus diakui olehnya, "...Iya."


Kedua pipi Ilham dipegang oleh Ana untuk dipaksa menatap matanya secara langsung, "Ilham berbeda dengan kakakmu. Apa yang terjadi pada kakakmu nggak ada kaitannya denganmu. Ilham tetaplah Ilham. Kamu nggak perlu merasa ikut malu atau terbebani tentang masalah ini."

__ADS_1


Ilham terteguh melihat mata Ana yang begitu serius saat menatap langsung matanya. Hanya ada beberapa orang yang bisa dengan yakin bicara begini ketika Ilham sendiri bahkan merasa tidak yakin.


Tidak aneh sih langsung berpendapat buruk setelah mengetahui masalah yang terjadi pada Yudha, tapi secara tak langsung Ilham ikut dihakimi karena perbuatan sang kakak, "Kami kakak-adik. Banyak yang mengatakan mungkin aku bisa melakukan hal yang sama."


"Nggak bakal kok! Ilham kan selama ini selalu menjaga jarak dengan perempuan, gue cukup yakin Ilham nggak bakal melakukan hal yang sama.”


Ilham tersenyum tulus. Sangat melegakan yang menghibur adalah gadis yang sudah mengisi hatinya. Ilham bersyukur Ana tidak merubah sedikit pun pandangan mengenai dirinya, "Iya."


Ana menjauhkan tangannya yang tadi sedang menangkup wajah Ilham sambil ikut tersenyum, "Kalau ada orang lain yang membicarakan ini, Ilham cuek aja. Jangan menunduk sambil menunjukkan wajah bersalah lagi."


Ternyata Ana menyadarinya ya? Ilham menggaruk tengkuknya dengan canggung, "Makasih ya, An."


"Ya udah yuk ke parkiran. Mereka berempat pasti udah nunggu kita di rumah sakit."


...∞...


Ilham memang merasa lega karena Ana tidak merubah sikapnya sedikit pun setelah tahu tentang masalah Yudha. Tapi perasaan lega itu sedikit menghilang ketika setelah sampai rumah sakit Ilham mendapat protes dari Refan dan Reno.


"Lo kenapa lama bangat, Il? Lo mampir ke tempat lain dulu setelah dari mini market?"


Jelas sekali Reno sedang mengajukan pertanyaan retoris. Temannya ini pasti tahu Ilham bukan tipe yang suka mampir-mampir dulu saat sudah niat datang ke suatu tempat, "Yang penting sekarang gue udah sampai kan?"


Refan menatap Ilham dengan kesal, "Nyokapnya Ana udah nanyain mulu tahu. Dia cemas anaknya nggak sampai-sampai."


"Gue ketemu sama Abang gue di mini market."


Jawaban dari Ilham langsung menghentikan protesan yang diajukan oleh dua temannya. Mereka tahu Ilham paling tidak suka membahas tentang kakaknya, jadi mereka mengerti ada semacam masalah yang terjadi.


"Emang apa hubungannya dengan lo yang datangnya kelamaan?" pertanyaan yang diajukan oleh Rahma membuat Refan dan Reno menatapnya dengan pandangan syok. Itu pertanyaan sensitif, Ra!


"Gue sempat berantem dulu sama Abang gue," tapi Ilham justru memberi tanggapan dengan begitu santai.


Rahma mengangguk mengerti, "Ternyata Ilham bisa begitu juga ya?"


"Lo pikir gue kayak apaan sih, Ra? Gue sama aja kayak Refan atau Reno tahu."


"Kan lo alim, Il."


Ilham sweatdrop, bukan berarti dia tidak pernah melakukan hal yang salah hanya karena dinilai sebagai cowok alim kan?

__ADS_1


Memang Ilham akan mengaminkan kalau ada orang yang berpikir demikian. Tapi tetap saja Ilham heran dengan ekspektasi terlalu tinggi yang diberikan orang lain padanya.


...➡➡➡...


__ADS_2