When I Fall In Love

When I Fall In Love
13. Perbandingan


__ADS_3

Ilham dan Ana itu tidak ada cocok-cocoknya. Yang satu alim sampai sulit menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya. Yang satu lagi tomboy dan membuatnya mudah memiliki banyak teman cowok.


Jika melakukan perbandingan begini, Ilham bingung dengan dirinya sendiri karena sudah jatuh cinta pada Ana.


Padahal tipe perempuan yang Ilham sukai tuh memakai hijab dan terlihat sangat mematuhi agama. Tapi ternyata tipe bisa dengan mudah diabaikan saat hati sudah bicara.


Padahal di kelas jelas-jelas ada perempuan yang masuk kategori itu, hanya saja Ilham malah merasa masih kurang memperdalam ilmu agama dengan melihatnya saja. Dan uniknya perempuan itu sudah menjadi pacar dari cowok paling bermasalah di sekolah.


Ilham memperhatikan pasangan tidak biasa itu dari kejauhan. Bingung bagaimana siswa troublemaker bisa berpacaran dengan cewek alim. Dua orang itu kan sudah seperti versi lain dari Ilham dan Ana.


Punya sifat bertolak belakang seperti dua kutub magnet yang berbeda, tapi bisa saling tarik-menarik dengan perbedaan yang ada.


"Putra dan Ajeng pacaran kan ya?" ingin meyakinkan dirinya, Ilham bertanya pada Refan yang bukan merupakan tipe orang cuek sepertinya.


"Apa perlu dipertanyakan lagi?"


Jika hanya dilihat dari jauh, cowok yang memiliki nama lengkap Naufal Putrawan itu seolah masih berjuang mendapatkan hati perempuan yang memiliki nama Ajeng Maharani. Mereka sama sekali tidak terlihat seperti sepasang kekasih.


Apa jika Ilham pacaran dengan Ana akan begitu juga jadinya? "Gue nggak ngerti bagaimana mereka bisa pacaran."


"Dari yang gue dengar sih katanya Ajeng mau pacaran dengan Putra karena bisa menerima apa adanya."


Ilham mengernyit, kok alasannya klise begitu? "Maksudnya?"


Jari telunjuk Refan mengarah ke pasangan yang duduk di meja kantin yang cukup jauh dari tempat mereka sedang duduk, "Lo tahu seperti apa penampilan Ajeng yang nggak pakai hijab?"


Angkatannya dan seluruh kakak kelas sangatlah tahu seperti apa Ajeng yang tidak berhijab. Fotonya sudah tersebar untuk mencegah rumor aneh yang nyaris menimbulkan masalah besar, "Rambutnya pendek bangat, dia terlihat lebih tomboy dibanding Ana."


"Nggak semua cowok mau punya pacar yang penampilannya kayak cowok juga kan? Wajar lah Ajeng mau buka hatinya buat Putra."


"Masa? Gue merasa yang dilakukan Putra hal yang biasa aja."


"Meski lo punya pemikiran kayak gitu, jangan pernah katakan lagi deh. Lo bisa merusak hubungan orang lain tahu."


Kok Ilham dituduh bisa merusak hubungan orang lain? Dia kan cuma ingin mencuri cara yang dipakai Putra saat melakukan pendekatan ke Ajeng.


Ilham butuh referensi untuk menunjukkan rasa sukanya ke Ana dengan tepat, "Gue nggak mungkin melakukannya."


Refan menghela napas, dia juga percaya Ilham mustahil melakukan sesuatu yang terkesan kurang kerjaan begitu, "Tapi kan lo punya banyak kesamaan dengan Ajeng. Jujur aja ya, kalian sangatlah cocok."

__ADS_1


Cocok karena sama-sama mendapat image alim ya? Bukannya tidak menarik jika dua orang yang memiliki sifat terlalu sama bisa berpacaran? Yang namanya pasangan kan harus melengkapi kekurangan masing-masing.


Buktinya dari sekian banyak pasangan yang menjalani status pacaran, Ilham cuma sadar mengenai hubungan yang dijalani oleh dua orang dengan sifat bertolak belakang antara Putra dan Ajeng saja.


"Ngomong-ngomong, kenapa lo mendadak kepo, Il? Jarang bangat lo mau bahas hubungan percintaan orang lain."


Kedua netra Ilham kembali tertuju pada Refan yang duduk di hadapannya, "Gue mendadak kepikiran sesuatu aja."


"Mikirin apa emangnya?"


"Gue bingung karena banyak yang heran lihat gue akrab dengan Ana. Padahal kan udah ada Putra dan Ajeng yang telah resmi berpacaran."


Refan memutar bola matanya, "Nggak ada yang berani menyuarakan keanehan pasangan itu. Beda jadinya kalau yang terlibat adalah lo dan Ana."


Curang! Masa karena Putra adalah siswa bermasalah di sekolah jadi tidak dikomentari, sedangkan Ilham kebalikannya, "Bukannya masih terlihat wajar Ana yang bisa dekat dengan cowok mana pun dekat juga dengan gue?"


"Emang bisa dekat dengan cowok mana aja, kecuali lo, Ilham. Ana tahu lo nggak mau terlalu dekat dengan cewek, jadi dia juga coba menghindar agar nggak terlalu dekat dengan lo."


Apa iya? Ilham memasang wajah berpikir, mencoba mengingat apa yang sudah terjadi.


Sejak kelas sepuluh, memang Ana tidak pernah mendekatinya sedikit pun. Satu-satunya perempuan yang paling sering melakukan interaksi dengan Ilham cuma Rahma, itu juga karena faktor Refan yang keseringan bersama dengan Rahma.


"Lo baru sadar?" tanya Refan dengan nada tidak percaya saat melihat ekspresi yang ditunjukkan Ilham.


"Walau Ana tomboy, tapi dia masih bisa menghargai prinsip lo ya? Rara kadang nggak sadar loh jika lo juga bisa merasa risi."


Ana memang terkesan sangat berhati-hati saat sedang bersama dengannya. Saat dulu melakukan uji nyali saja, Ilham duluan yang mencoba mengajak bicara, "Gue lagi menyamakan Rahma dengan Ana, Fan. Lo nggak perlu cemburu."


Refan masih memasang ekspresi cemberut, "Semua cowok pasti merasa cemburu saat cewek yang disukainya menceritakan tentang lo dan puji lo terus."


Memang Ilham tahu sudah menjadi topik pembicaraan antara Refan dan Rahma? "Ya udah sih, Fan, yang penting gue nggak suka Rahma."


"Yakin?" tanya Refan dengan mimik wajah serius.


Yang disukai Ilham adalah Ana, tentu dia seratus persen yakin, "Gue nggak mau masuk ke hubungan rumit lo, Reno, dan Rahma. Gue cuma bisa doain Rahma supaya dapat laki-laki yang baik untuknya."


Refan menunjukkan raut wajah tidak suka mendengar doa yang diucapkan Ilham terdengar menyebalkan untuknya, "Iya deh yang udah jadi bucinnya Ana sampai mata nggak mau lepas untuk ngeliatin mulu. Ajak pacaran aja sana daripada hubungan kalian gantung nggak jelas.”


Apa Ilham memang sesering itu memperhatikan Ana sampai dikatai budak cinta segala? “Masih banyak yang nggak gue tahu tentang dia.”

__ADS_1


“Ana emang orangnya tertutup kali. Gue aja masih sering dibuat penasaran meski termasuk salah satu cowok yang terlalu dekat dengan Ana.” 


Ilham mengernyit bingung mendengar fakta ini, "Tertutup?"


Jari telunjuk Refan mengarah ke Ilham, "Itu kesamaan yang gue dapat dari lo dan Ana. Kalian sama-sama nggak mau bicara tentang sesuatu yang bersifat pribadi."


Ilham terdiam, sadar ucapan Refan sangatlah benar. Dia selalu menghindari obrolan yang membahas tentang keluarga, terutama kakaknya.


Mereka baru berteman selama satu tahun lebih beberapa bulan, Ilham belum benar-benar yakin Refan tulus menjadi temannya atau bisa berubah pikiran karena hal sepele, "Maaf tentang itu. Gue masih belum siap menceritakan semuanya."


Dengan pasrah Refan menghela napas, "Tapi dengan itu lo dan Ana jadi punya satu kesamaan."


"Gue nggak tahu Ana juga tertutup tentang kehidupan pribadinya. Padahal kita diizinkan menjenguk ibunya kan?"


"Nadia yang sering pulang bareng Ana sampai sekarang nggak tahu letak pastinya rumah Ana. Dan kalau ada tugas kelompok, Ana selalu menghindar agar nggak dikerjakan di rumahnya. Emang dia menyembunyikan apa coba?"


"Gue pernah ke rumah Ana."


Refan menatap Ilham dengan pandangan tidak percaya, "Serius? Kok lo bisa ke sana? Terus rumahnya kayak gimana sampai Ana menghindar agar nggak ada temannya yang mampir ke sana?"


Karena tujuannya ingin menjemput adik yang sedang kerja kelompok di rumah teman, awalnya Ilham juga tidak tahu. Tapi karena Refan membahasnya, Ilham baru menyadari sesuatu.


Ana tinggal di komplek perumahan yang bisa dikatakan mewah. Jika melihat Ana yang selalu biasa-biasa saja, entah dari sikap atau pun penampilan, sangat tidak disangka mengetahui ternyata gadis itu berasal dari keluarga kaya.


Mendadak Ilham minder, tidak yakin dia pantas mendapatkan Ana. Rintangannya terasa berat, tapi ada juga sedikit keuntungan yang masih dimiliki sih, "Adik kami ternyata teman sekelas juga. Saat lagi jemput Amel yang lagi kerja kelompok, ternyata rumah Ana yang gue datengin.”


"Jadi seperti apa rumahnya Ana?" tanya Refan yang terlihat begitu penasaran.


Rumah tingkat dua dengan desain modern yang membuat siapa saja sepakat untuk mengategorikan sebagai rumah orang kaya, "Kalau Ana nggak mau mengatakannya, gue juga nggak mau menjelaskannya. Dia pasti punya semacam alasan sampai menghindar agar teman-temannya nggak main ke rumahnya kan?"


Karena tidak menerima jawaban pasti, Refan semakin terlihat penasaran, "Nggak ada yang aneh-aneh kan?"


"Lo mikir apa emangnya, Fan? Gue dan Ana ternyata tinggal di rumah yang sama? Nggak ada yang aneh kok sama rumah Ana," jelas Ilham yang merasa heran dengan rasa ingin tahu Refan.


"Refan, Ilham, gue punya info menyenangkan yang harus kalian tahu."


Secara bersamaan Ilham dan Refan melihat ke arah Reno yang tiba-tiba menghampiri mereka, "Info apaan?"


Reno tersenyum senang, "Kita bakal mengadakan uji nyali lagi di sekolah."

__ADS_1


"Hah?"


...➡➡➡...


__ADS_2