When I Fall In Love

When I Fall In Love
2. Dekat


__ADS_3

Karena selalu menjadi pembaca doa ketika upacara bendera dan mau menjadi imam saat sedang salat di mushola sekolah, wajar Ilham dikenal semua guru plus semua murid sebagai cowok yang sangat mematuhi agama.


Tapi sesungguhnya alasan Ilham rutin diminta melakukan dua tugas itu sampai menjadi siswa populer karena suara yang dimilikinya.


Suara serak yang lembut didengar telinga saat Ilham melafalkan ayat-ayat suci Alquran sudah menjadi semacam candu, terutama bagi kaum hawa.


Ada banyak perempuan yang kagum, suka, senang, sampai berharap bisa menjadi pacar Ilham. Tapi karena Ilham tidak mau menyentuh perempuan secara sembarangan sampai terasa sulit didekati, belum ada yang terlihat berhasil melakukan pendekatan.


Justru karena sifat itulah Ilham dipandang sebagai cowok berkelas yang semakin membuat banyak perempuan geregetan.


Selama ini tidak ada satu pun perempuan yang mendapat perhatian lebih dari Ilham. Ilham mana mungkin mau melakukan basa-basi tidak penting pada perempuan.


Seharusnya sih begitu.


"Ana juga baru datang ya?"


Wajar Ana merasa bingung dan terperangah saat Ilham menegurnya dengan pertanyaan retoris. Karena saat ini Ana sudah berada di sekolah, lalu sedang berjalan menuju parkiran, sangat jelas apa jawabannya kan?


Memang setelah kegiatan uji nyali kemarin, Ana ingin mulai berteman dengan Ilham. Tapi tidak disangka Ilham yang justru menegurnya duluan.


Ilham berjalan mendekat kemudian sedikit menunduk untuk menyamakan pandangan dengan Ana, "Kok bengong?"


Ana langsung mengalihkan pandangan untuk menutupi rasa terkejutnya, "Maaf, gue belum terbiasa aja."


"Terbiasa dengan apa?"


Terbiasa dengan Ilham yang mengajaknya bicara duluan. Cowok ini seperti sengaja keluar dari zona amannya hanya untuk melakukan interaksi dengan Ana. Kan jadi merasa bersalah, "Bukan apa-apa. Gimana kalau kita langsung ke kelas aja?"


Meski tahu Ilham masih menunjukkan raut ingin tahu, tapi Ana langsung mengarahkan kakinya berjalan menuju ke dalam bangunan sekolah.

__ADS_1


Memang selama ini ada banyak jenis teman cowok yang Ana punya di sekolah. Dari badboy, troublemarker, playboy, sampai yang memiliki wajah manis. Tapi beda ya jika si cowok punya sifat alim?


Hanya dengan jalan beriringan saja sudah membuat Ana serba salah. Kemarin Ana juga merasakan hal yang sama, tapi kini semakin bertambah karena ada beberapa orang yang memperhatikan dengan pandangan bingung.


Jelas lah bingung, mereka kan memiliki sifat yang terlalu berbeda. Yang satu tidak mudah dekat dengan perempuan, yang satu lagi justru mudah dekat dan punya banyak teman laki-laki. Ana merasa aneh dengan situasi ini, "Ngomong-ngomong, hari ini kita piket bareng kan?"


"Iya, kita kebagian yang setelah jam pulang ya?"


Mendadak ingat dengan tugas piket kelas yang dilakukan hari ini, Ana menemukan topik obrolan yang tepat untuk memecah kesunyian di antara mereka, "Iya, Ilham nggak boleh bolos piket loh."


"Apa gue pernah melakukannya?" tanya Ilham dengan nada heran.


"Biasanya kan Ilham dapat giliran pagi, siapa tahu lo bolos karena kebagian tugas yang setelah selesai sekolah."


Ilham tersenyum geli mendengar tuduhan itu, "Nggak bakal. Gue yang minta tugas siang, nggak mungkin gue melalaikan apa yang udah diminta."


"Hari ini adik gue ada kerja kelompok, jadi nggak masalah gue menghabiskan waktu yang agak lama di sekolah."


Jadi alasan Ilham meminta shift piket pagi karena ingin menjemput adiknya setelah pulang sekolah ya? Ana mengangguk mengerti, "Adik Ilham cewek kan ya?"


Ilham mengangguk sekali untuk mengiyakan, "Sekarang dia kelas dua SMP."


Walau tak dekat dengan Ilham, Ana pernah mendengar dari teman-teman sekelas mengenai sifat protektif Ilham pada sang adik. Karena terlalu over, awalnya banyak yang salah paham dengan menyangka Ilham sudah memiliki pacar, padahal yang sering Ilham hubungi adalah adik sendiri.


Mungkin kakak laki-laki memang mudah merasa khawatir dengan adik perempuannya ya? Karena yang dimiliki Ana adalah adik perempuan juga, dia tidak tahu Ilham masuk kategori berlebihan atau yang dilakukannya merupakan hal wajar.


Saat menyadari sudah sampai kelas, Ana berjalan ke arah bangkunya yang berada di baris paling belakang tanpa menghiraukan Ilham lagi. 


Sejujurnya Ana tidak ingin mengambil tempat duduk yang paling jauh dari papan tulis, tapi berhubung guru sering mengacak-acak pembagian tempat duduk, Ana hanya bisa menurut dan pasrah.

__ADS_1


"An, tadi lo berangkat bareng Ilham?"


Ana menatap ke arah Nadia yang sedang berdiri di samping mejanya, "Nggak, tadi ketemunya di parkiran kok."


Nadia meletakkan sapu yang dipegangnya kemudian menunduk untuk berbisik, "Gue tadi lihat kalian ngobrol di lorong, sejak kapan kalian dekat?"


Melihat gerak-gerik temannya, Ana mengerti arti kata 'dekat' yang dimaksud. Kedekatan yang dijalani perempuan dan laki-laki sebelum masa pacaran. Tapi tentu saja hal ini tidak mungkin terjadi di antara Ana dan Ilham. Bahkan mustahil.


"Nggak usah lebay, Nad. Lo tahu gue bisa dekat dengan siapa aja kan? Nggak aneh dong gue juga bisa ngobrol dengan Ilham?"


Nadia sangat tahu mengenai sifat Ana, tapi berhubung yang tadi bersama dengan temannya ini merupakan cowok tidak biasa, wajar Nadia penasaran, "Ilham kan nggak mudah didekati. Bisa bersamanya adalah hal yang sangatlah spesial tahu."


Spesial ya? Jika mengingat bagaimana sifat Ilham selama ini, Ana menyetujui pendapat Nadia. Tapi apa tidak berlebihan sampai disalahpahami menjalin hubungan istimewa segala? Memang di mana mencurigakannya cewek tomboy punya teman cowok?


"Jadi, sejak kapan kalian dekat?" karena Ana tidak memberi komentar, Nadia mengulang pertanyaan yang sama dengan ekspresi wajah ingin tahu.


"Sejak uji nyali kemarin?" merasa tidak yakin harus memberi tanggapan seperti apa, Ana justru menjawab dengan kalimat tanya.


Meski Nadia menunjukkan ekspresi wajah tidak puas, Ana harus menghentikan obrolan mereka karena Nadia mesti menyelesaikan tugas piket sebelum bel masuk berbunyi. Dengan terpaksa, Nadia pun menurut meneruskan tugasnya.


Setelah memastikan Nadia sudah tidak memperhatikannya, Ana menatap ke arah tempat duduk Ilham yang berada di baris depan.


Perasaan perempuan yang pernah mengobrol dengan Ilham bukan hanya Ana saja deh, tapi kenapa hanya dia yang ditanggapi dengan cara tidak biasa?


Apa terlalu aneh cowok alim berteman dengan cewek tomboy? Jika dipikirkan, mereka memang sudah seperti sisi magnet yang saling bertolak belakang. Tapi kan di kelas juga ada pasangan yang lebih aneh lagi yang memasangkan siswa troublemaker dengan cewek alim.


Ana menghela napas. Sudahlah, rasanya memusingkan memikirkan hal ini. Selama tidak merugikan, terserah saja orang mau berkata apa.


...➡➡➡...

__ADS_1


__ADS_2