
Seorang gadis remaja duduk di balai-balai yang ada di pinggir pematang sawahnya. Tatapan matanya tertuju pada hamparan sawah yang sudah menguning yang siap dipanen. Ia menatap tak jemu padinya yang sebentar lagi akan siap dipanen.
"Aku harus berterus terang kepada nenek, aku tidak ingin terus menyusahkan Nenek, sudah cukup nenek membesarkan dan mendidik aku selama ini," batinnya Asti.
Rambutnya berterbangan diterpa angin sore hari itu. Tingginya cukup ideal, dengan postur tubuh yang semampai layaknya seorang model. Kulitnya putih halus walaupun sering terpapar sinar matahari jika dirinya berada di Sawahnya.
Banyak yang tidak menyangka jika Asti adalah hanyalah gadis desa asli. Yang kesehariannya hanya bekerja di sawah. Gadis yang baru sekitar satu tahun lalu menamatkan pendidikannya di bangku Sekolah Menengah Atas.
"Insya Allah… setelah aku bekerja nanti aku ingin menabung dan mempersiapkan semuanya untuk melanjutkan pendidikan aku di universitas," gumamnya Asti yang duduk termenung.
Walaupun prestasinya yang tidak termasuk kategori siswa yang berprestasi, tapi cukup diperhitungkan oleh guru-gurunya sewaktu masih sekolah.
__ADS_1
"Aku ingin sekali membalas kebaikan dan jasa-jasa nenek yang sudah berjuang dan berkorban demi kebaikanku juga," cicitnya Asti.
Asti kadang mewakili sekolahnya untuk ikutan lomba mata pelajaran olahraga dan selalu mendapatkan juara satu atau dua setingkat Kecamatan, Kabupaten bahkan pernah menjadi juara 2 tingkat Provinsi.
Gadis itu bernama Asti Aprilia Yuswandari, gadis yang baru berusia 19 tahun itu. Awalnya Neneknya ingin menguliahkan dirinya di Universitas ternama di ibu kota, tapi Asti menolaknya dengan halus rencana baik dari neneknya itu.
Asti sangat sadar diri dan tidak ingin membuat neneknya semakin kesulitan, apa lagi untuk kebutuhan sehari-harinya saja mereka sudah banting tulang bekerja di sawah dan juga ladangnya.
Di wajahnya sangat terlihat jelas keraguan dan kebimbangan yang menyelimuti hati dan pikirannya.
"Aku tidak mungkin seperti ini terus harus bergantung pada belas kasihnya nenek, apalagi pekerjaan dan penghasilan nenek setiap hari semakin menurun saja, mungkin jalan yang terbaik dan solusinya adalah menerima tawaran dari Bibi saja," batinnya Asti.
__ADS_1
Burung-burung beterbangan yang sesekali hinggap di atas tumbuhan padinya sambil mematuk padi yang sudah menguning itu sudah tidak dihiraukan lagi. Menyemarakkan suasana sore hari itu tapi, sama sekali tidak menggangu kegiatannya yang menimbang keputusan apa yang seharusnya ia cari.
"Mungkin sebaiknya Aku utarakan semuanya di hadapan Nenek terlebih dahulu baru bisa mengambil keputusan dan langkah apa yang harus aku ambil, aku juga tidak ingin mengecewakan Bibi yang sudah jauh-jauh ke sini," lirihnya lalu bangkit dari duduknya dan tidak lupa menggoyang tali pengikat alat khusus yang dipakai untuk mengusir burung-burung.
"Ya Allah mantapkan hatiku, mudahkanlah urusanku dan jalanku untuk berangkat ke Jakarta untuk bekerja, semoga di sana aku bisa mengirimkan uang untuk nenek," cicitnya Asti yang sudah memantapkan hatinya dengan jalan yang sudah ia tentukan dan pilih.
Baru selangkah melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba terhenti lagi,
hatinya sedang bimbang dan ragu apa harus mengikuti dan memenuhi permintaan dari Bibinya itu. Hingga kembali terduduk di tempatnya semula.
Sebagian kakinya dia celupkan ke dalam air yang kebetulan ada saluran irigasi pas dekat sawahnya yang mengalirkan air untuk sawah-sawah yang kekurangan air, sehingga mereka dalam setahun bisa hingga tiga kali menanam padi.
__ADS_1