Yang Kedua Yang Terbaik

Yang Kedua Yang Terbaik
Bab. 4


__ADS_3

"Asmirandah tolong bantuin kakakmu untuk bersihkan semuanya, kasihan kakakmu jika harus sendirian membersihkan seluruhnya," pintanya Bu Hilda.


"Siap nenek, tapi kak Asti ada syaratnya yah! Boleh kan?" Tanyanya Asmirah dengan senyuman yang penuh harap dan arti.


Asti melihat sekilas ke arah Asmirah sebelum menjawab pertanyaan dan permintaan dari adik sepupunya itu," kamu emangnya mau apa dan kenapa meski ada syarat segala kalau ingin menolong orang lain sih," ketusnya Asti yang menatap jengah ke arah adiknya itu.


Asmirandah tersenyum cengengesan, sebelum menjawab pertanyaan dari kakaknya itu," a-nu i-tu kak bantu kerjain tugasku dari Pak guru mau kan?" Tanyanya Asmirah dengan penuh harap tapi agak gagap waktu ia berbicara.


Berselang beberapa saat kemudian, mereka membersihkan seluruh ruangan dapur agar tikus dan kucing tidak berdatangan ke dalam dapur jika mereka sudah tertidur pulas. Setelah mereka makan seperti biasanya, Asti membersihkan seluruh perlengkapan dan peralatan masak dan makannya dia cuci hingga bersih.


Asmirandah bergabung dengan neneknya di dalam ruangan keluarga untuk menonton salah satu acara tv di stasiun televisi swasta.

__ADS_1


Asti melihat sekilas ke arah neneknya berada, "Ini saat yang tepat untuk berbicara dengan Nenek tentang tawaran dari kakak sepupunya Mbak Azizah,"


Asti pun berjalan ke arah ruang keluarga, neneknya dan adiknya Asmirandah sedang nonton sinetron di salah satu stasiun televisi swasta yang bergambar ikan terbang itu.


Layar kaca yang berukuran 24 inci itu masih berwarna hitam putih, tapi gambar dari TV itu masih sangat jelas gambarnya. Mereka belum memakai tv layar datar karena tidak memiliki uang lebih untuk membeli yang baru.


Asmirah dan neneknya tertawa terbahak-bahak melihat akting dari salah satu artis sinetron tersebut.


"Nenek, Mbak Azizah memanggil saya untuk membantunya bekerja di rumah majikannya, apa saya boleh ikut ke sana?" Tanya Asti dengan hati-hati yang mendudukan bokongnya ke atas kursi kayu jati itu.


Neneknya hanya melihat sepintas wajah cucunya tersebut. Lalu kembali menyeruput kopinya yang masih mengepulkan asapnya itu dengan pisang goreng dan singkong goreng jadi pelengkap dan teman minum Neneknya kala itu.

__ADS_1


Asti menatap penuh harap dan cemas ke arah neneknya. Sebenarnya sedari dahulu, dia Ingin ke Ibu Kota Jakarta, setelah mengetahui jika Ibu kandungnya masih hidup dan tinggal di Kota Jakarta, dari itu lah juga alasan yang kuat untuk membuatnya tertarik menerima permintaan dan tawaran dari kakaknya tersebut.


Azizah adalah anak dari sepupu bapaknya Azizah yang sudah hampir 8 tahun bekerja di Kota Jakarta. Bibi Asti bekerja sebagai asisten rumah tangga di salah satu rumah di Jakarta.


"Kalau kamu ingin berangkat kerja silahkan Nak, Nenek tidak akan menghalangi Kamu, nenek hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk cucu Nenek," ucapnya sambil memegang tangan Alisha.


"Tapi, bagaimana dengan Nenek, pasti nenek akan kesepian tanpa Asti di sini dan siapa yang akan masakin untuk Nenek nanti jika aku pergi,"


tuturnya Asti disertai dengan air matanya yang sedari tadi tertahan di ujung pelupuk matanya akhirnya terjatuh juga.


"Hal itu tidak perlu kamu risaukan masalah itu semua, pergilah insya Allah nenek akan baik-baik saja," tutur Neneknya Bu Hilda yang membujuk cucunya, lalu menghapus air matanya Asti yang sudah membanjiri wajahnya.

__ADS_1


Mereka saling berpelukan dan saling meluapkan kesedihan karena mereka akan berpisah keesokan harinya. Asti pun akan mengikuti jejak kakaknya untuk bekerja di Ibu Kota besar Jakarta.


__ADS_2