Yang Kedua Yang Terbaik

Yang Kedua Yang Terbaik
Bab. 6


__ADS_3

Azizah berjalan ke arah dalam lalu ia kemudian mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu jati itu yang warna catnya sudah pudar yang awalnya berwarna coklat tua.


"Sudah tua tapi, tenaganya masih kuat saja, Nenek makan apaan sih?" Cicitnya Azizah tapi masih mampu di dengar oleh Asmirah, Asti dan Bu Hilda.


"Nenek sudah yah marahnya kasihan sama Bibi loh, entar cantiknya hilang dan tidak cantik cetar membahana lagi," gurau Asti yang menahan tawanya melihat apa yang mereka lakukan. Padahal Azizah sudah duduk santai di atas kursi kayu.


Rumah yang sangat sederhana itu menjadi saksi bisu selama beberapa tahun terakhir ini ini. Asti yang dibesarkan dengan penuh limpahan kasih sayang harus ditinggalkan sementara waktu demi mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta.


Walaupun Asti hanyalah anak sambung dari bapaknya tapi, kasih sayang yang dia dapatkan sungguh besar dan tulus dari semua anggota keluarganya.

__ADS_1


Barang-barang Asti semuanya sudah diangkat oleh adik sepupunya Asmirandah. Mobil rental yang akan mengantar mereka hingga ke kota sudah terparkir di pinggir jalan raya yang depan rumahnya dengan sabar menunggu keberangkatan mereka.


"Insya Allah… ini jalan yang terbaik aku pilih dan tempuh, aku tidak harus terbebani dengan masalah lainnya Aku harus fokus bekerja sambil mengumpulkan uang untuk kuliah dan jika ada waktu aku akan mencari keberadaan mama," batinnya Asti.


Asti langsung memeluk tubuh renta itu, jasa-jasa nenek Hilda sangatlah besar dan tanpa kasih sayang Neneknyalah mungkin Asty tidak akan ada hingga sekarang. Asty memeluk tubuh Neneknya dengan sangat erat.


"Cucuku, carilah Mama kamu, ingat alamat rumahnya ada di dalam buku kecil yang kemarin nenek berikan padamu nak, ingat baik-baik pesan nenek," tutur Bu Hilda.


"Nenek hanya berharap padamu Nak, jangan lupakan nenek apa pun yang terjadi, kalau kamu ada waktu luang, janganlah lupa kabari nenek," pintanya Bu Hilda di hadapan neneknya.

__ADS_1


"Maafkan saya yah Nek, selama ini sudah menyusahkan Nenek, kadang aku juga tidak mendengar perkataan dari Nenek, tapi aku sangat bahagia dan bersyukur karena berkat kebaikan dan ketulusan Nenek aku bisa hidup seperti sekarang ini," tuturnya Asti semakin merapatkan pelukannya seakan-akan tidak ingin berpisah dengan Neneknya itu, air matanya semakin menetes membasahi pipinya.


Suara klakson dari mobil yang dibunyikan oleh supir tersebut membuat Alisha terpaksa melepas pelukannya itu.


"Pergilah nak, insya Allah Nenek baik-baik saja, Kamu jaga diri baik-baik yah, jangan lupakan kewajiban kamu Nak, sesibuk apapun kamu nantinya," Nenek Hilda menghapus jejak air matanya cucu kesayangannya yang semakin mengucur deras tanpa hentinya.


"Azizah jaga Nenek baik-baik yah, kalau kamu ingin bicara dengan kakak kamu datang ke rumahnya Mbak Azizah untuk meminta siapa pun yang bisa menghubungi sayai untuk menelpon Kakak," pinta Asti lalu memeluk tubuh adiknya itu.


"Kakak jangan lupakan Asmirandah yah, kalau Kakak sampai di Kota untuk telpon aku yah," pintanya Asmirah pun semakin kencang tangisannya dan memeluk pinggang kakaknya.

__ADS_1


Mbak Azizah pun ikut bersedih, karena seumur hidupnya Asti ini untuk pertama kalinya dia meninggalkan Neneknya. Sekalipun Asti tidak pernah meninggalkan Neneknya begitu pun juga dengan Neneknya jika bepergian ke daerah lain pasti memboyong serta cucu-cucunya.


"Ayok nak, supaya kita sampai di Kota tidak terlalu larut malam," bujuk Mbak Azizah menyeka air matanya lalu menarik tangan adik sepupunya itu.


__ADS_2