
"Tidak perlu Kamu risaukan masalah itu semua, pergilah insya Allah Nenek akan baik-baik saja," tutur Neneknya yang membujuk cucunya, lalu menghapus air matanya Alisha yang sudah membanjiri wajahnya.
Mereka saling berpelukan dan saling meluapkan kesedihan karena mereka akan berpisah. Alisha pun akan mengikuti jejak Bibinya untuk bekerja di Ibu Kota besar Jakarta.
"Insya Allah... Nenek dengan adikmu Asmirandah akan selalu baik-baik saja, kamu harus jaga diri baik-baik di rumahnya orang Nak, Nenek sangat menyayangimu walaupun kamu hanya cucu sambungku," lirihnya Neneknya Bu Hilda seraya menyeka air matanya.
Hari minggu menjadi hari keberangkatan mereka, tetapi Mbak Azizah mendapatkan informasi dari rekan kerjanya yang ada di Jakarta, dia harus segera pulang hari ini juga. Sehingga keberangkatan mereka pun dipercepat dari jadwal semula.
"Asti, apa kamu sudah siap Nak?" Teriak Mbak Azizah dari depan rumahnya yang kebetulan tidak tertutup pagarnya.
__ADS_1
Nenek Hilda segera berjalan ke arah depan pintunya setelah mendengar teriakan dari cucunya itu. Bu Hilda melihat cucu keponakannya dengan penuh rasa jengkel dan dongkol.
"Kamu kebiasaan belum berubah masih sama seperti dahulu, kalau masuk di rumah itu, harus beri salam terlebih dahulu sebelum berteriak, kamu seperti Tarzan saja," sarkas Nenek Hilda.
Nenek Hilda menggelengkan kepalanya melihat sikap dari keponakannya yang masih betah hidup menjanda itu. Azizah adalah janda muda yang tidak memiliki anak seorang pun. Ia menikah dengan suaminya tiga tahun lalu, tapi hanya bertahan tiga bulan saja pernikahannya bertahan karena keegoisan keduanya.
Bu Hilda yang kebetulan mendengar suara cemprengnya Azizah dan selalu membuatnya jengkel tapi, cukup terhibur dengan tingkahnya Azizah apa adanya itu.
"Ampun Nenek Hilda yang baik hati, telingaku sakit loh nih, apa Nenek ingin melihat cucu cantiknya nenek jadi cacat yang gak punya daun telinga lagi?" Gurau Azizah.
__ADS_1
Azizah segera berlari ke arah cermin untuk memeriksa kondisi telinganya yang sudah jelas memerah walaupun tenaga dan kemampuan Bu Hilda hanya pelan saja. Azizah segera memeriksa kondisi telinganya yang menurutnya sudah memerah.
Bu Hilda menatap jengah ke arahnya Azizah,"Makanya kalau masuk rumah ingat lah selalu untuk mengucapkan salam terlebih dahulu," Nenek Hilda.
Azizah berjalan ke arah dalam lalu ia kemudian mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu jati itu yang warna catnya sudah pudar yang awalnya berwarna coklat tua.
"Sudah tua tapi, tenaganya masih kuat saja, Nenek makan apaan sih?" Cicitnya Azizah tapi masih mampu di dengar oleh Asmirah, Asti dan Bu Hilda.
"Nenek sudah yah marahnya kasihan sama Bibi loh, entar cantiknya hilang dan tidak cantik cetar membahana lagi," gurau Asti yang menahan tawanya melihat apa yang mereka lakukan. Padahal Azizah sudah duduk santai di atas kursi kayu.
__ADS_1
Rumah yang sangat sederhana itu menjadi saksi bisu selama beberapa tahun terakhir ini ini. Asti yang dibesarkan dengan penuh limpahan kasih sayang harus ditinggalkan sementara waktu demi mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta. Walaupun Asti hanyalah anak sambung dari bapaknya tapi, kasih sayang yang dia dapatkan sungguh besar dan tulus dari semua anggota keluarganya.