Yang Kedua Yang Terbaik

Yang Kedua Yang Terbaik
Bab. 3


__ADS_3

Sore hari itu menjadi saksi bisu kebimbangan hati dan perasaannya Asti. Hingga menjelang magrib, barulah ia beranjak dari duduknya karena teringat jika dia belum masak makanan apa pun untuk Neneknya dan adik sepupunya. Mereka yang kemungkinannya sudah kembali dari ladangnya yang kebetulan hari ini panen singkong dan ubi jalar serta beberapa jenis sayuran hari ini.


"Hari ini aku harus masak yang enak agar, Asmirah dengan nenek bisa menikmati masakanku lagi sebelum aku berangkat ke Ibu kota," cicit Asti.


Asti sudah yakin dengan keputusannya lalu bangkit dari duduknya dan terburu-buru berjalan melewati beberapa meter pematang sawah hingga sampai ke depan rumahnya. Ternyata pintu rumahnya belum terbuka, berarti Nenek dan adik sepupunya belum pulang.


"Nenek belum pulang juga rupanya, apa mungkin mereka panennya banyak, Alhamdulillah kalau seperti itu,"i


Lirihnya Asti.

__ADS_1


Asti bergegas mengambil kunci rumahnya yang ada di dalam saku celananya lalu mengunci kenop pintunya dan segera memegang gagang pintu rumahnya.


Asti tersenyum sumringah, "Alhamdulillah waktunya sholat magrib," cicitnya saat mendengar lantunan adzan berkumandang dari toa masjid yang ada di sekitar kampungnya.


Asti segera bergegas menuju kamar mandi yang ada di belakang rumahnya, untuk segera mandi dan mengambil air wudhu. Alisha melaksanakan shalat Maghrib dengan khusyuknya dan berserah diri kepada Allah SWT dan meminta petunjuk kepada Allah untuk permasalahan yang dihadapinya saat ini.


Setelah melaksanakan kewajibannya, Alisha bergegas menuju dapurnya. Dapur yang hanya berukuran tiga kali dari luas keseluruhan rumahnya, yang berdinding dari anyaman bambu dan lantainya masih berlantaikan tanah.


Walaupun hidup terbilang sangat sederhana dan pas-pasan, tapi Asti selalu bersyukur atas segala resky dan nikmat yang Tuhan Maha Esa berikan padanya. Ia juga tidak pernah menuntut dan meminta lebih kepada Neneknya.

__ADS_1


Setelah dua jenis masakannya jadi barulah Nenek dan adik sepupunya kembali dari ladang. Yaitu tempe mendoan dengan sayur tumis cah kangkung tumis menjadi menu andalannya hampir setiap hari. Kebetulan bahan dari sayurannya hanya tinggal metik dari kebun sayur mayur yang ada di belakang rumahnya.


"Alhamdulillah masakannya sudah jadi, semoga nenek dengan Asmirandah menyukai semua masakanku kali ini," cicitnya Asti.


Ladang yang dikerjakan neneknya adalah milik orang lain, Neneknya hanya mengolah ladang itu dengan bagi hasil dengan pemilik ladang. Dulu mereka memiliki sebidang tanah dan sawah yang sering mereka garap tapi, disaat bapaknya Asti masuk rumah sakit, terpaksa dan dengan berat hati neneknya menjualnya dengan harga yang cukup murah.


"Asmirandah! Apa sudah shalat magrib yuk kita makan dulu, panggil nenek juga yah," teriaknya Asti dari dalam dapur seraya mengatur perlengkapan makannya di atas meja makan.


Mereka pun makan malam walaupun hanya tempe mendoan dan tumis kangkung, tapi mereka sangat bersyukur dengan makanan yang mereka makan saat itu.

__ADS_1


"Masakan kakak Asti malam ini enak banget yah, beda dari hari biasanya walaupun setiap hari masakannya kakak yang paling enak deh best," pujinya Asmirandah yang memuji masakannya dari kakak sepupunya itu.


"Apa yang kamu katakan memang benar adanya karena kakakmu itu selalu membuat perut kenyang dan nantinya tidur jadi enak," timpalnya Bu Hilda neneknya Asti.


__ADS_2