
Viona tersadar karena merasakan sakit dikepalanya , ia mencoba mengingat kejadian yang baru terjadi . Air matanya mengalir mengingat perbuatan Fernando yang baru ia terima , Viona meraba dadanya yang kembali penuh bekas merah keunguan hasil perbuatan Fernando seperti yang ia alami dimalam saat ia pertama kali bertemu dengannya .
Mata Viona menangkap sebuah kertas yang tertulis di atas nakas yang berisi catatan dari Fernando . Dibawah catatan itu terdapat sebuah amplop berwarna coklat yang bertuliskan tulisan " read me " .
Viona membuka amplop itu dengan perlahan jantung Viona mendadak seperti ingin berhenti ketika membacanya , itu adalah berkas kontrak yang dibuat Fernando untuknya .
Berkas itu adalah perjanjian selama nikah kontrak antara Fernando dan dirinya , belum hilang rasa kagetnya Viona kembali dikejutkan saat membaca pasal-pasal yang tertera diberkas itu yang diantaranya
- pihak kedua harus tinggal dirumah pihak pertama .
- pihak kedua tidak boleh melawan atau berusaha kabur lagi dari pihak pertama .
- pihak kedua harus siap melayani pihak pertama jika pihak pertama menginginkan pihak kedua
- pihak kedua tak diperbolehkan bersentuhan dengan lawan jenis siapapun itu walaupun itu adalah pasien pihak kedua .
" ini gila " teriak viona jengkel sambil melempar berkas itu ke arah dinding hingga berkas itu berhamburan di udara .
Viona tau Fernando tak akan mungkin melepaskannya , satu hal yang ia sesali adalah kenapa ia berfikir bahwa Fernando akan berubah . Andai saja Viona bisa sedikit egois dan memikirkan dirinya sendiri ia memilih untuk tak kembali ke Kanada . Saat Viona membuang berkas pemberian Fernando ia melupakan secarik kertas yang ada diatas berkas itu , perlahan Viona mengambil kertas yang berisi tulisan resep dari dokter pribadi Fernando yang telah merawat luka di kepalanya .
Deg ...
" aku tau siapa yang bisa menolongku sekarang " ucap Viona dalam hati , ia kemudian berganti pakaian dan dengan cepat merapikan berkas-berkas yang ia buang tadi .
Viona dengan cepat keluar dari apartemennya dengan membawa sebuah tas yang berisi beberapa baju dan barang penting miliknya yang berisi dokumen dan paspor berserta sejumlah uang cash yang ia miliki . Setelah memastikan kalau tak ada anak buah Fernando yang berjaga Viona langsung berlari ke arah tangga darurat karena ia tak mau mengambil resiko kalau nanti akan bertemu dengan Fernando atau anak buahnya di lift .
Dengan cepat Viona lari ke jalan raya dan mencegat taksi ia lalu menghubungi seseorang yang ia harap bisa menyelamatkan dirinya dari genggaman Fernando . Tak begitu lama akhirnya taksi yang Viona naiki sampai disebuah restoran tempat seseorang yang sudah menunggunya .
__ADS_1
" profesor Frank " panggil Viona pada profesor Frank yang tengah duduk di sebuah kursi sambil menikmati segelas capuccino .
" dokter Angel " sahut profesor Frank dengan tersenyum , rupanya orang yang Viona hubungi adalah profesor Frank adik kandung Fernando .
Viona langsung berjalan cepat ke arah profesor Frank dan langsung memeluk profesor muda itu sembari menangis .Melihat Viona menangis membuat profesor muda itu terenyuh hatinya , ia kemudian membelai rambut sepundak Viona mencoba menenangkan .
" bawa aku ke tempat tinggalmu " pinta Viona lirih diantara tangis nya .
" apa maksudmu dokter Angel ? " tanya profesor Frank kaget karena ia tau wanita seperti apa dokter Angel yang sedang ia peluk itu .
" i wanna show you something but not on here please. ... " ucap Viona dengan memohon .
Profesor Frank melepas pelukannya lalu mendudukkan Viona di kursi lalu mencium kening Viona dengan cepat tanpa sempat Viona hindari , kain kasa yang membalut luka dikeningnya sudah ia copot sehingga tak ada orang yang menyadarinya jika tak dilihat dengan seksama begitu pula dengan profesor Frank yang tak dapat melihat luka itu . Viona hanya diam menerima perlakuan dari profesor Frank ,ia tak cukup tenaga untuk berdebat dengan pria yang ada dihadapannya saat ini .
Profesor Frank kemudian berjalan ke arah kasir dan membayar pesannya sambil membawa satu kantong yang berisi makanan yang sudah ia pesan sebelumnya , ia menghampiri Viona dan mengajaknya keluar dari restoran untuk naik ke mobil sport miliknya yang sudah terparkir apik di depan restoran .Dengan perlahan profesor Frank memakaikan sabuk pengaman pada Viona , lalu memasang sendiri sabuknya lalu memacu mobilnya meninggalkan restoran itu menuju rumahnya . Viona hanya duduk lemas sambil menatap pemandangan melalui kaca yang ada disampingnya tanpa menghiraukan pertanyaan profesor Frank , karena masih lelah akhirnya Viona memejamkan mata dan akhirnya tertidur pulas di dalam mobil .
" dokter Angel bangun , kita sudah sampai " bisik profesor Frank sambil menyentuh pundak Viona .
" heiii kau berdarah , ada apa denganmu dokter Angel !!! " tanya profesor Frank dengan panik saat melihat cairan merah itu mengalir diwajah Viona .
" ayo masuk please " mohon Viona dengan memelas .
Profesor Frank kemudian memilih mengikuti permintaan Viona , ia membimbing Viona masuk ke dalam rumahnya . Sejak lulus dari kuliah kedokteran profesor Frank memilih tinggal di rumahnya sendiri dari pada tinggal bersama Fernando sang kakak . Sejak kematian kedua orang tua mereka hubungan kakak adik itu hanya akur di depan publik saja padahal aslinya mereka sudah tak bertegur sapa .
Viona menatap rumah milik profesor Frank memang jauh lebih kecil dari istana milik Fernando tapi ia merasa lebih aman berada disana , dengan masih digandeng oleh profesor Frank Viona menaiki tangga rumah itu lalu masuk ke dalam rumah . Profesor Frank hanya tinggal seorang diri di rumah itu , pekerja rumah tangganya hanya datang di pagi hari untuk membersihkan rumahnya dan membuat makanan untuknya lalu pulang di sore hari .
Profesor Frank mengajak Viona masuk ke dalam kamar yang ternyata adalah kamar utama dirumah itu yang berarti itu adalah kamar milik profesor Frank .
__ADS_1
" duduk disini biar aku bersihkan luka di keningmu " titah profesor Frank sambil meminta Viona duduk di ranjangnya .
Viona mengangguk pelan , ia meletakkan tas punggungnya di ranjang besar milik pria tampan itu . profesor Frank kemudian mengambil perlengkapan dokternya dikamar sebelah lalu kembali menghadap Viona yang sudah duduk manis sambil mengikat rambutnya ala kuncir kuda . Profesor Frank kemudian mulai memberikan anestesi pada sekitar kening yang terluka itu karena ia ingin merapikan bekas jahitan yang terlepas itu .Dengan menahan sakit Viona hanya diam saja ketika profesor itu bekerja menjahit kembali luka di keningnya .
" kenapa kau bisa terluka seperti ini dokter ? luka ini akan berbekas kalau tidak ditangani secara tepat " ucap profesor Frank setelah selesai memasang kain kasa di luka Viona .
Bukannya menjawab pertanyaan mantan atasannya itu Viona justru menangis hingga membuat pria yang ada dihadapannya bingung , profesor Frank hanya memeluk Viona sebagai dukungan moral yang dapat ia berikan sambil menunggu Viona puas menangis .
" kalau kau tak mau cerita aku tak memaksa dokter " ucap profesor Frank sambil melepas pelukannya pada Viona yang sudah terlihat lebih tenang itu .
" buka bajuku " pinta Viona tiba-tiba hingga membuat kaget profesor yang ada dihadapannya itu .
" do it !!! " imbuh Viona sambil memejamkan matanya .
Darah profesor muda itu langsung berdesir mendengar permintaan wanita yang ia sukai itu , ia hanya tak menyangka kalau dokter yang terkenal tertutup itu bisa sevulgar ini . Profesor Frank kemudian membuka pakaiannya sendiri terlebih dahulu lalu membuka celana jeans yang ia kenakan lalu ia buang dilantai , dengan cepat ia berjalan ke arah Viona yang masih memejamkan matanya itu . Perlahan ia mencium pipi Viona yang masih tak bergeming itu namun terasa sangat dingin tapi profesor Frank tak menyadarinya , ia terlalu fokus mendengar kalimat yang terucap dari bibir Viona tadi untuk membuka pakaiannya .
Perlahan profesor Frank membuka resleting jaket yang Viona pakai dan ia tersenyum ketika melihat kemeja yang ada dibalik jaket itu , setelah berhasil membuka jaket itu profesor Frank dengan pelan membuka kancing baju Viona satu demi satu . Mendadak ia hentikan kegiatannya saat melihat bekas kissmark yang berhamburan di sekitar leher dan dada Viona , ia kaget saat melihat tanda merah keunguan yang masih baru itu .Saat ia akan mengkonfirmasi pada Viona ia baru menyadari bahwa Viona sudah menangis tanpa suara sejak tadi hingga membuat profesor Frank makin bingung .
" aku belum menyentuhmu dokter , kau kenapa ? siapa yang melakukan ini padamu ??" tanya profesor Frank sedikit kecewa karena melihat Viona yang mempunyai tanda cinta buatan pria itu .
Alih-alih menjawab pertanyaan profesor muda itu , Viona justru bangkit dari duduknya lalu membuka tas miliknya dan mengerluarkan amplop yang berisi surat kontrak dari Fernando . Dengan ragu profesor Frank menerima amplop pemberian Viona dan membaca isi amplop itu .
" Fernando bajingan !!!!! jadi semua yang terjadi padamu adalah perbuatan hewan itu ?? " teriak profesor Frank marah setelah membaca dokumen dokumen itu .
" jawab dokter Angel " hardik profesor Frank tak sabar .
" dia ingin membuatku sebagai pemuas nafsunya , aku tak mau profesor tolong selamatkan aku ... hiksss hiksss ..aku tak mau hidup seperti itu huaaa " tangis Viona akhirnya pecah saat diberondong pertanyaan oleh profesor Frank .
__ADS_1
Profesor Frank langsung memeluk Viona dengan erat , ia merasa bersalah karena sudah berfikir yang tidak-tidak sebelumnya . Dia benar-benar sudah sangat marah pada kakaknya saat ini , kalau saja Viona tak menahannya ia pasti sudah langsung pergi sejak tadi untuk membuat perhitungan dengan kakak kandungnya itu .
" menikahlah denganku dokter Angel .... " ucap profesor Frank pada Viona