
"Ada apa ini?"
Seorang pria paru baya keluar dari ndalem. Sontak saja mereka langsung menundukkan kepala ta'dzim. Beliau Gus Ali, anak pertama kiai Yusuf sang pimpinan pesantren.
"Ini Gus mereka pelaku pembullyan yang dialami oleh almarhumah mbak Yuni. Kita sangat mengharapkan mbak Yuni mendapatkan keadilan, dan pelaku pembullyan ini mendapatkan hukuman," ungkap Elvina dengan berani tidak ada gentar disorot matanya.
Sindi menunduk takut. Gus Ali memang ramah kepada semua santri, tapi beliau sangat tegas dan tidak main-main ketika memberikan hukuman. Bisa Sindi pastikan bahwa kali ini dia dan teman-temannya tidak perna lolos. Mereka akan dihukum yang seberat-beratnya.
Gus Ali memangut-mangut. "Saya tadi sudah membicarakan masalah ini kepada Buya. Kamu jangan khawatir Nduk, mbak Yuni akan mendapatkan keadilan. Kalian serahkan saja kepada kita,"
Elvina mengangguk ta'dzim. "Iya Gus. Kalau bisa mereka semua dipenjara, jangan sampai lolos dengan hukuman jeruji besi hanya karena di bawah umur. Saya bisa pastikan umur mereka tidak ada yang dibawah umur. Pembullyan sudah ada di pasal 345 KUHP, dan diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang itu sampai melakukan bunuh diri. Sudah jelas bahwa mbak Yuni melakukan bunuh diri seusai dibully oleh mereka."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Elvina membuat mereka maupun Gus Ali melongo. Mengapa gadis itu sangat mengetahui tentang pasal?
Friska tersenyum mengejek menatap kakak kelas yang wajahnya sudah pias. "Mampus kalian."
Gus Ali menganguk ta'dzim. "Saya akui kamu pintar, Nak. Semoga kelak kamu menjadi seorang pemimpin penegak keadilan." Elvina tersenyum mendengarkan pujian dari putra sulung pengasuh pesantren. Gus Ali bergantian menatap keempat gadis yang menjadi pelaku korban bullying. "Untuk kalian berempat ikut saya ke ndalem. Dan kalian berenam kembali ke asrama."
***
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
"Waalakums salam warahmatullahi wabarakatuh Ning."
Ngaji malam baru saja telah usai. Ning Fina, istri dari Gus Ali. Beliau mengajar Kitab Ta’Limul Muta’allim, kitab yang menjelaskan adab-adab seorang penuntut ilmu sebagai kunci akses dalam belajar. Ning Fina terkenal dengan keramahan dan kelembutan, tidak heran banyak santriwati yang menyukai dan mengagumi sosok dari Ning Fina.
"Setelah ini kalian segera kembali istirahat, agar besok bisa tahajutan." Itulah yang selalu Ning Fina katakan sebelum dirinya benar-benar meninggalkan santriwati.
"Baik Ning Fina."
Zahro, Aqilla, Azkia, Elvina, Friska, dan Hasya mereka berjalan beriringan menuju kamar. Sebagai anak baru, Zahro hanya bisa ngikut mereka dibelakang tanpa berani ikut dalam perbincangan. Dia memang tipe gadis yang susah bergaul, namun kalau sudah sangat akrab dia akan lebih extrovert dari teman-temannya.
__ADS_1
Sepajang perjalanan banyak yang menyapa mereka. Kecuali Zahro. Ya itu benar! Lagi pula bagaimana bisa gadis nolep seperti Zahro bisa dikenal banyak orang? Walaupun suka menjadi ekor teman-temannya, tapi itu tidak menjadikan seorang Zahro terkenal.
"Azkia!" panggil seseorang yang membuat perjalanan mereka seketika terhenti. Mereka membalikkan badan.
Tampak ada dua gadis berjilbab polos dan motif. Melihat wajah teman-temannya yang tersenyum ramah, bisa Zahro tebak bahwa mereka saling mengenal.
"Rani dan Fidyah, kalian dari asrama mana?" Hasya tersenyum ramah.
"Kita asrama Khadijah, satu kamar sama Ning Halwah dan Ning Najma lho," ungkap Fidyah dengan tersenyum lebar. Tercetak jelas di wajah Rani maupun Fidyah, bahwa mereka amat senang satu kamar dengan Ning di pondok ini.
Rani menganguk antusias. "Sudah cantik, baik, dan Sholehah lagi. Kurang apa sih mereka tuh? Jadi insicure aku,"
Kurang garam. Batin Zahro menatap malas kerikil dibawahnya.
"Oh ya? Ih beruntungnya kalian, aku jadi iri." Friska ikut menimpali.
Topik ngobrol malam ini adalah tentang dua Ning yang bagaikan artis papan atas yang terus disanjung. Bukannya Zahro tidak suka dengan dua Ning itu, melainkan mereka teman-temannya yang berlebihan sekali ketika berbicara sebaik apa dan secantik apa Ning Najma dan Ning Halwah.
Zahro memandang punggung mereka yang perlahan menjauh. Dirinya kembali sendirian. Tidak punya teman dan jauh dari keluarga.
Netra Zahro menangkap seseorang pria memakai baju koko putih yang baru saja keluar dari masjid. Sepertinya pria itu baru saja tadarusan. Zahro menatap pria itu tanpa kedip, sayang kalau melewati satu detik pergerakan sang pria itu.
"Masyaallah sekaligus epribadeh. Berwibawa, maskulin, hidung mancung, kulit kuning langsat, tinggi, dan Sholeh. Fix! sih ini type ku banget."
Elvina memberhentikan langkahnya, sontak saja mereka juga ikut berhenti. Elvina menatap satu persatu teman-temannya. "Zahro mana?"
"Oh ya, ngendi arek iku?" celetuk Friska menoleh kanan kiri.
"Masih dibelakang mungkin," Azkia berkata dengan nada lembut. Cucu dari ustadzah Halimah sudah tidak diragukan lagi bibit bebet bobotnya.
Elvina menoleh kebelakang. Dan benar yang dikatakan oleh Azkia, di sana ada Zahro yang sedang menatap seseorang. Kening Elvina mengerut, ada apa dengan temannya? Elvina berjalan menuju Zahro, sedangkan matanya mengikuti arah pandang temannya.
__ADS_1
Pantesan. Elvina menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengira perempuan seperti Zahro, tidak terlalu memperdulikan kaum adam. Ternyata sama saja seperti teman-teman lainnya.
Elvina merangkul pundak Zahro. "Lagi lihatin Gus Zikri ya?"
Mendengar suara Elvina, sontak saja Zahro mengalihkan pandangannya kearah temannya. Zahro tersenyum kikuk, "eum anu.. tadi enggak sengaja lihat saja,"
Elvina tersenyum menggoda, ia mencolek pipi Zahro yang membuat gadis itu semakin malu.
"Memang ya, pesona Gus Zikri tidak dapat dialihkan," celetuk Aqilla berjalan mendekat bersama teman-teman yang lain.
"Gus Zikri guanteng rek!" Friska ikut menimpali.
"Kira-kira Gus Zikri sudah menikah apa belum, ya?" Hasya bertanya dengan wajah polosnya menatap teman-temannya.
Zikri sudah pergi dari kawasan masjid sedari tadi, namun para perempuan tidak hentinya membicarakan pria itu.
"Gus Zikri itu masih lajang, umurnya juga baru 24 tahun." Rani berkata dengan senyuman lebar yang memperlihatkan gigi gingsulnya sebelah kanan. Sangat manis. Zahro yang perempuan saja suka melihatnya, apalagi yang laki-laki.
Fidyah menganguk antusias. "Beliau itu dulunya mondok di pondok pesantren At-Taqwa Yogyakarta dari SMP sampai SMA dan ngabdi sambil kuliah juga. Bulan lalu Gus Zikri baru saja lulus S2 di Universitas Gadjah Mada. Gus Zikri M.M. hebat banget kan? Beruntungnya yang jadi istrinya Gus Zikri. Sudah Sholeh, ganteng, mapan, pintar, dan kaya."
Elvina mengangkat sebelah alisnya. "Dari mana kamu tau itu semua? Dan dari mana kamu tau kalau Gus Zikri kaya dan mapan?"
Fidyah menggaruk tengkuknya. "Tadi aku tanya sama Ning Halwah, yang notabenenya adik dari Gus Zikri. Kalau soal mapan dan kaya, itu aku ngarang. Hehe.."
Elvina menghembuskan nafas lelah. Seharusnya ia tidak usah bertanya soal itu, karena pastinya gadis berlengsung pipit itu mengetahui segala informasi yang ada di pesantren ini. Mengingat dulu waktu sekelas di SMP, Fidyah selalu update tentang berita terbaru. Sudah seperti Intel sekolah.
Fidyah dan Rani dulu perna sekelas bareng Elvina waktu kelas tujuh, dan di kelas 8 mereka pisah dan tidak perna sekelas lagi.
"Hust! Ndak baik membicarakan orang, apalagi yang bukan mahram. Dosa tau!" Azkia melotot menatap teman-temannya, bukannya takut mereka justru tertawa melihat mata sipit gadis itu yang dibuat melotot.
Zahro juga ikut tertawa. Wajah Azkia tampak lucu, jadi sayang jika tidak ikut tertawa. Azkia seorang Chindo-Jawa, mata sipit dan kulit putih, jadi tidak heran jika Azkia beda sendiri diantara yang lain. Chindo Sholehah. Itulah sebutan buat Azkia.
__ADS_1
...T O B E C O N T I N U E D...