Zahro

Zahro
5- Cinta Segitiga


__ADS_3

Sudah 2 Minggu Zahro berada di pesantren. Kasus mbak Yuni juga sudah terselesaikan, dan para pelaku dijatuhi hukuman penjara selama empat tahun sesuai yang dikatakan oleh Elvina.


Suasana pondok sudah berjalan dengan normal. Walaupun begitu masih ada beberapa santri yang membicarakan kasus mbak Yuni, ataupun membicarakan para pelaku pembully.


Hari ini hari Jum'at, sesuai agenda kegiatan di pagi ini setelah mengaji Al-Qur'an di Ning Adiba, para santri diwajibkan ikut melaksanakan kerja bakti.


Hari Jum'at adalah hari dimana hari yang ditunggu-tunggu oleh semua santri. Karena hari Jum'at, hari liburnya para santri di pesantren ini. Hari dimana bisa bersantai, dan keluar diarea pesantren dan biasanya waktunya dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore. Walaupun begitu, mengaji kitab maupun Al-Qur'an masih dilaksanakan.


Zahro menyapu halaman depan ndalem bersama teman-temannya. Mereka menyapu sambil mengobrol, sedangkan Zahro dan Elvina hanya menyimak saja.


Seorang gadis berjilbab hitam baru saja keluar dari ndalem dengan membawa gembor yang berisi air. Gadis itu menyiram tanaman yang berada di depan ndalem dengan telaten, sesekali ia melantunkan sholawat. Sepanjang kegiatan gadis itu tidak luput dari pandangan Zahro dan kawan-kawan.


"Dia mbak Asia, seorang abdi ndalem dan sudah lulus satu tahun yang lalu. Umurnya 19 tahun, tapi sudah menjadi incaran dua Gus."


Zahro, Elvina, Aqilla, Azkia, Hasya, dan Friska mereka serempak menoleh ke arah kiri. Dan disana ada Rani yang berdiri memegang sapu lidi, serta tadi suaranya seperti bisik-bisik.


Tidak Fidyah tidak Rani, mereka sama-sama sumber informasi. Bagaimana mereka secepat itu mendapatkan informasi yang lengkap, mengingat mereka baru saja mondok disini dari 2 Minggu yang lalu. Zahro jadi penasaran.


"Asia!"


Mereka semua sontak saja menoleh kembali kearah Asia. Seorang laki-laki berjalan mendekat kearah Asia yang sedang menyiram tanaman.


"Dia Gus Azka, umurnya 19 tahun. Baru mondok sekitar 5 bulan yang lalu, tapi sudah kepicut sama mbak Asia. Gus Azka ini dari Jakarta, dan baru saja lulus SMA Bangsa Jakarta pusat. Sekarang Gus Azka melanjutkan pendidikan kuliah di universitas yang sama dengan Gus Zidan." Rani menjelaskan sangat detail. Padahal mereka semua tidak ada yang membutuhkan informasi sedetail itu.


Elvina menarik bibir Rani gemas. "Heh Ran, setelah tak pikir-pikir kowe iki sudah kayak pemandu wisata wae. Yang harus menjelaskan secara detail."


Rani menepis tangan Elvina yang berada di bibirnya. "Tangan mu mambu basin!" Sungut gadis itu kesal.


"Iya, Gus Azka?"


Azka tersenyum lebar menatap sang pujaan hati, lalu ia menyodorkan kresek putih kehadapan Asia. "Nih gado-gado kesukaan yayang Asia. Tadi aku beli di depan, di makan ya?"


Asia menatap Azka dengan pandangan tidak enak. Mau tak mau gadis itu mengambil pemberian Azka, sebagai bentuk menghormati. "Syukron Gus, tapi aku enggak enak sama yang lain. Jadi Gus Azka enggak usah kasih aku apa-apa lagi,"


"Pasti gara-gara tuh orang ya?" Azka menatap penuh selidik.


"Siapa orang yang kamu Bilang, dek Azka?"


Apakah ini akan ada drama keluarga? Lumayan dapat tontonan gratis. Zahro tidak pernah berfikir bahwa keluarga ndalem terjadi konflik menyukai satu perempuan yang sama.


Laki-laki berkaos hitam lengan panjang baru saja muncul dari ndalem. Laki-laki itu menatap tenang Azka, namun tatapannya mengisyaratkan peringatan.

__ADS_1


"Nah kalau dia Gus Zidan. Adik kedua Gus Zikri. Gus Zidan ini baru saja menyelesaikan sidang skripsi, umurnya 22 tahun. Bentar lagi juga lulus. By the way kuliah di Universitas Negeri Surabaya_"


Elvina melototi Rina yang terus berbicara menjelaskan satu-satu. "Hust! Kenopo kowe terus menjelaskan?"


Rina membalas tatapan Elvina dengan tenang. "Eum, biar kalian tidak bingung dengan alur ceritanya. Biar kalian tahu juga kisah seorang dua Gus yang memperebutkan abdi ndalem, kisah ini booming banget tau di pesantren. Awalnya kisah ini hanya mengisahkan Gus Zidan yang mencintai mbak Asia, lalu datanglah Gus Azka yang ikut juga suka kepada mbak Asia pandangan pertama. Entah pelet apa yang digunakan mbak Asia sam_"


Friska menutup mulut Rina dengan telapak tangannya, agar gadis itu tidak mengoceh terus-menerus. Kalau boleh jujur, rasanya Friska ingin sekali menjahit mulut Rina agar tidak terus mengoceh.


Azka menatap sebal Zidan. "Lah udah tahu kan? Pake nanya lagi Lo,"


Asia menundukkan kepalanya. Mereka mulai lagi. Ia jadi malu jadi tontonan para santri yang tidak sengaja lewat.


"Mbak Asia sibuk mboten?" Gus Zidan bertanya dengan nada lembut, berbanding balik ketika ia berbicara kepada Azka.


"Sibuk! Kenapa emangnya?" Bukan Asia yang menjawab, melainkan Azka yang menjawab dengan ketus.


Zidan menatap tajam Azka, begitu juga Azka yang membalas menatap tajam Zidan. Seolah mereka berbicara lewat tatapan.


Zidan memutuskan tatapannya, beralih menatap pujaan hatinya yang lebih pendek darinya. "Ummi minta sampean belanja bulanan, dan ummi juga minta saya yang mengantar." Wajah Asia berubah sendu, dan Zidan menyadari itu. "..Eh kamu tenang saja, ada dek Halwah juga ikut kok jadi kita tidak hanya berdua,"


Azka berdecih sinis. "Halwah pun jadi alasan, bilang aja kalau Lo mau modus sama yayang Asia kan? Ngaku aja Lo, Mas!"


Mendengar Asia dipanggil yayang oleh Azka, Zidan merasa kesal dan tidak terima. Adik sepupunya itu lancang sekali. Dengan kesal Zidan menyentil bibir Azka, agar tidak memanggil Asia dengan sebutan menjijikkan itu.


"Lah kok ngamok? Ya suka-suka gue lah, orang Asia jodoh gue."


Asia memandang dua orang itu malas. Nah kan! Kumpulnya dua Gus itu memang tidak pernah akur, walau sehari.


"Sudah Gus. Kok kalian malah bertengkar, sih?"


"Dia duluan!"


Zidan dan Azka saling tunjuk, seakan tidak mau kalah.


"Ya sudah mbak Asia, kita berangkat ke pasar aja ya? Jangan urusin makhluk satu ini," Zidan tersenyum lembut sampai dua lengsung pipinya kelihatan.


Tidak akan Azka biarkan manusia satu ini berjalan berdua dengan Asia. Azka sangat mengetahui sepupunya itu ingin memanasi dirinya dengan cara modus ke Asia.


Azka merangkul pundak Zidan yang lebih tinggi. "Mau ke pasar kan? Ya udah sama gue aja, gue ngerti kok! Gini-gini gue pernah nganterin Bunda ke pasar, ya walaupun cuman jadi sopir. Tapi enggak apa, kalau Lo ragu ntar gue ajak Najma sekalian. Tante Fina enggak bakal ngamuk kok, kalau yang nemenin Lo belanja itu gue bukan yayang Asia."


"Ta_"

__ADS_1


"HALWAH NAJMA!"


Mata Zidan melotot ketika Azka teriak memanggil adik dan sepupunya. Dengan refleks ia mengeplak lengan Azka.


"Aduh! Kdrt Lo sama gue," Azka menatap masam Zidan.


"Jangan teriak Az, di denger orang lho Ndak bagus. Jaga tata Krama sampean,"


Azka memutar bola matanya malas. Tidak berselang lama dua gadis datang dari ndalem dengan terburu-buru.


"Ada apa, Mas Azka?"


Azka kembali merangkul Zidan lalu menggiringnya keluar."Ikut kita ke pasar. Untuk yayang Asia, aku izin keluar."


"Eh Azka, sakit leher Mas! Kamu tuh ya, gini-gini aku tuh Mas kamu."


Halwah maupun Najma melongoh tidak percaya menatap punggung mas sepupunya. Sepupunya satu itu kelakuannya memang selalu bikin geleng kepala. Mau tidak mau Halwah dan Najma ikut menyusul.


Sepeninggalan mereka, Asia kembali masuk ndalem. Dirinya sudah cukup malu dilihat banyak santri, apalagi 7 santriwati yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari halaman ndalem.


"Ini sudah selesai dramanya?" Hasya bertanya dengan wajah polosnya.


"Tidak cukup, lanjut part 2."


Semua mata tertuju menatap Rani, namun gadis itu menggelengkan kepalanya seolah berkata bukan dirinya yang berbicara.


"Kalian santri baru ya?"


Mereka sontak saja menoleh kebelakang. Hampir saja mereka semua tersungkur karena kaget akibat keberadaan dua laki-laki yang memiliki wajah yang serupa.


"I-iya Gus." Rani menjawabnya dengan gugup.


"Kenalan yuk, siapa tahu kita jadi besti."


Zahro melongo tidak percaya. Mengapa Gus di pesantren ini pada abnormal? Mungkin hanya Gus Zikri yang keliatan normal dari semua Gus di sini.


Gus Azka, Gus paling bucin dan jauh dari Gus kebanyakan. Mungkin karena ini baru pertama kali Gus Azka berada dilingkungan pondok, Zahro memakluminya. Gus Zidan, Gus malu-malu tapi mau dan enggak mau kalah sama Gus Azka dalam mengejar Asia. Gus kembar, Gus paling friendly. Dan terakhir Gus Zikri, Gus tertua yang Sholeh alim. Paling bener dari semua Gus, itu bagi Zahro. Namun kendalanya adalah Gus Zikri umurnya terpaut jauh darinya.


Semua memang memiliki wajah yang rupawan. Zahro jadi bingung mau ngecrushin yang mana? Kalau dua Gus bucin itu, sepertinya tidak. Dua Gus kembar boleh juga, umur mereka hanya terpaut dua tahun. Atau mungkin Gus Zikri, tidak apa jika umur mereka berjarak 8 tahun. Umur hanya angka kan?


Sibuk memikirkan mau memilih yang mana, sampai Zahro melupakan satu hal yang penting. Apakah semua Gus itu mau sama dirinya?

__ADS_1


...T O B E C O N T I N U E D...


__ADS_2