Zahro

Zahro
6- Kesurupan


__ADS_3

Sholat Jum'at baru saja telah usai. Di halaman kantor pengurus tampak ramai tidak seperti biasanya. Suara teriakan dan pekikan menjadi background siang ini.


Ada beberapa santriwati dan santriwan yang mengalami kesurupan, membuat beberapa pengurus dan ustadz kewalahan. Entah bagaimana asal usulnya yang membuat siang ini menjadi kesurupan berjamaah.


Beberapa santriwati berlari ketakutan menuju asrama, ada juga yang menonton dari kejauhan. Zahro yang baru saja menyelesaikan sholat Dzuhur di asrama menjadi bingung ketika di luar terdengar suara yang sangat ramai.


"Kamu mau kemana, Zahro?" Langkah Zahro berhenti ketika Hasya berbicara. Gadis itu sepertinya baru saja kembali dari kerusuhan.


"Aku mau lihat. Memangnya ada apa sih, kok ramai banget?"


"Ada kesurupan masal. Mending kamu di sini aja deh, jangan ke sana takut kamu keikut kesurupan." Raut wajah Aqilla menunjukkan ketakutan. Gadis itu sangat parno dengan yang namanya berbau mistis.


"Aku mau lihat bentar." Tanpa memedulikan perkataan dari teman-temannya Zahro berjalan menuju tempat kesurupan masal.


Selain penasaran dia juga memiliki insting yang menyuruhnya ke sana. Bicara mengenai kesurupan, dulu perna juga tetangganya mengalami kesurupan gara-gara darah haid.


Zahro yang waktu itu masih berusia 10 tahun tidak tahu apa-apa tentang sedang apa yang terjadi, seingatnya dulu ia melihat sesosok wanita rambut panjang dengan lidah yang menjuntai ke lantai. Sosok itu berada ditubuh tetangganya.


Melihat sosok itu Zahro kecil hanya berdiri kaku melihat sosok tersebut. Itu hantu paling menyeramkan yang pernah Zahro lihat. Walaupun seram, Zahro tidak takut terhadap hantu itu. Justru waktu itu Zahro hanya melihat biasa, namun sosok itu mengerang marah lalu menghilang.


Entah apa yang terjadi, Zahro tidak faham. Zahro bercerita kepada kedua orang tuanya tentang sosok yang baru saja ia lihat, namun reaksi orang tuanya tampak biasa saja seolah sudah mengetahui. Setelah itu Zahro dibawah ke kakeknya yang seorang ustadz di daerah sana, dari ke rumah kakeknya Zahro sudah tidak bisa melihat mereka lagi. Zahro menduga bahwa mata batinnya ditutup oleh sang kakek.


Walaupun mata batinnya sudah ditutup, Zahro masih bisa merasakan keberadaan mereka. Instingnya selalu kuat.


Semakin mendekati lokasi tempat kesurupan masal, hawanya semakin panas dan pengap. Zahro bisa merasakannya, tapi untungnya sekarang ia sudah tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata. Jadi ia tidak perlu ketakutan melihat berbagai bentuk yang tidak wajar dari mereka.


"Minggir Kon Kabeh! Akhh!"


"Jalok tulong, loro Kabeh awak ku."


"Tulong pedotno rantai Iki."


Berbagai teriakan dan perkataan dari santri yang kesurupan. Suara mereka begitu memilukan, dan mengistirahatkan kemarahan serta dendam.


Zahro memegangi dadanya yang terasa sesak. Tanpa ia sadari, ia telah merasakan perasaan dari mereka semua. Rasa pilu, sakit, dendam, kesedihan, kekecewaan, kemarahan dan masih banyak lagi.


"Mbak sampean mau kemana? Jangan kesana Mbak," cegat salah satu pengurus santriwati.


"Aku mau lihat, Mbak,"

__ADS_1


"Ojo, engko malah nyahut tok sampean." Tubuh Zahro ditahan oleh salah satu pengurus.


Suasana begitu sesak, membuat Zahro susah untuk mengintip. Perlahan orang-orang bergeser ketika salah satu gadis kesurupan berjalan mendekati Zahro.


Gadis berjilbab army tampak berjalan dengan membungkuk, dan seketika itu pandangan Zahro jadi berubah seketika. Semua tampak terlihat dengan jelas sekarang. Tubuh Zahro menegang seketika, ini... Mata batinnya kembali terbuka?


"Nduk, cah ayu," Zahro melihat seorang nenek bersanggul dan memakai kebaya putih ditubuh gadis berjilbab army.


Nenek itu membelai pipi Zahro. Semua orang diam tidak berkutik. Zikri datang dengan tergesa-gesa menghampiri gadis itu, mulut laki-laki itu komat-kamit seolah membaca doa untuk mengusir sosok di dalam santriwati.


"Sampean pergi Mbak, biar saya tangani ini." Zikri berkata dengan tegas namun tidak membentak.


Kalau situasi normal maka Zahro akan merasa senang seorang Gus berbicara kepadanya. Namun ini situasi genting, Zahro tidak bisa berfikir jernih.


"Kon ojo melu-melu cah bagus, aku pengin ngomong Karo cah ayu," santri yang kesurupan nenek-nenek itu menatap tidak suka Zikri.


Zikri terus membacakan doa-doa untuk mengusir sosok itu. Bukannya kepanasan, sosok itu justru tertawa sambil mengikuti bacaan Zikri.


"Iku Izhar Syafawi, di woco kudu jelas. Mondok mu kurang suwi cah bagus. Wes ora usah moco-moco ra guna soale, malah engko tak warai Kowe isin. Moso Gus diwarai karo Mbah seng dudu menungso,"


Mendengar nenek itu berbicara menggunakan bahasa Jawa, membuat mereka semua tergelak. Bukan karena bahasa dari sosok itu, melainkan karena sosok itu membenahi bacaan Zikri.


Sosok nenek itu menunduk ta'dzim seolah menghormati Zahro. Lalu tersenyum hangat menatap Zahro.


"Aku Iki asli kene. Wes suwi jogo pesantren Iki. Biyen aku jogo KH. Zulfikar, pendiri pesantren Iki. Tapi sak uwese beliau wafat, wes ora Ono seng tak jogo. Aku ora sudi jogo keturane beliau, dadi aku mutusno jogo pesantren Iki."


"Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya Mbah. Mengapa disini mereka masuk ke tubuh para santri ya Mbah?"Zahro bertanya dengan nada paling halus yang ia punya, takut menyinggung sosok nenek tersebut.


Bukan tersinggung dengan pertanyaan Zahro, justru nenek itu tersenyum. Senyuman yang masih sama seperti tadi.


"Mereka seng negatif ngamuk amargo awakmu Nduk. Lah sing positif, mereka segan karo awakmu."


Dirinya? Zahro tidak paham. Jadi ini semua karena dirinya? Bagaimana bisa?


"Kulo Mbah? Lah kpriye Mbah?"


Nenek itu tertawa renyah. "Dudu awak mu Nduk, lebih tepate seng jogo awakmu. Mereka yang merasuki santri kene energinya negatif semua. Tapi sampean tenang ae, aku iso ngusir mereka semua. Makhluk kene ora Ono seng wani bantah omongan ku, mereka podo tunduk."


Zahro semakin dibuat tidak paham dengan nenek itu. "Yang jaga Zahro sinten, Mbah?"

__ADS_1


"Durung waktune sampean ngerti cah ayu. Sosok iku ilmune duwur, duwur iku daripada aku. Beliau laki-laki, menggunakan sorban bewarna putih serta tongkat yang selalu dibawanya. Wajahnya masih mudah, sekitar umur tiga puluhan. Tapi aku yakin, kalau umurnya sudah berabad-abad."


"Dia jin? Apa wali?" Gumam Zahro pelan namun masih bisa di dengar oleh nenek itu.


Nenek itu menggelengkan kepalanya pelan. "Dudu. Suatu saat sampean bakal ngerti dewe. Pesane Mbah, apapun yang terjadi suatu saat nanti kepada dirimu Nduk, jangan sesekali punya niatan untuk mengakhiri hidup. Soalnya banyak orang yang sudah mati menyesal pengen balik hidup, apalagi mereka yang mati bunuh diri. Enggak bisa pergi ke ketempat yang seharusnya, mereka berkeliaran di dunia manusia tanpa tahu tujuan. Dan karena itu mereka menyesal karena sudah bunuh diri.


"..Sampean iki anak baik. Ojo sampe kesalahane wong, sampean seng nanggung. Yowis Mbah pamit Nduk, jaga awak e sampean apik-apik. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


"Waalakums salam warahmatullahi wabarakatuh."


Setelah itu para santri yang kesurupan terkulai lemas. Ada yang pingsan, ada juga yang muntah-muntah. Setidaknya keadaan sudah mulai kondusif.


Berbicara mengenai bunuh diri, Zahro jadi kepikiran tentang mbak Yuni. Pasti mbak Yuni sekarang jadi hantu gabut, yang melayang-layang tanpa tahu tujuan. Akibat dari kesalahan orang lain, mbak Yuni harus menanggung akibatnya.


Zahro masih berdiri kaku, sedangkan para santri yang lain sudah pergi entah kemana. Situasi sudah lenggang.


"Aura Lo udah lebih jelas, beda sama sebelumnya yang masih samar. Ngemeng-ngemeng nih ye, Lo sekarang bisa lihat setan?"


Zahro menoleh ke samping, dimana ada Azka yang berdiri satu langkah darinya.


Gadis itu mengangguk sopan. "Iya, Gus."


"Ada sesuatu di belakang Lo. Itu pasti khodam lu kan? Keknya bentar lagi khodam gue, sama khodam lu bakal jadi besti. Suka kan lu bro, punya yang sesama jenis dan seangkatan. Jadi Lo enggak usah gengsi lagi, karena berteman dengan makhluk rendahan kek setan." Azka menatap samping, dimana itu tidak ada siapapun. Namun Zahro melihatnya.


Azka mengerutkan keningnya melihat Zahro terus menatap ke arah sampingnya, dimana sang penjaga berada. "Lo bisa lihat yang jaga gue?"


Zahro menganguk lagi. "Iya, Gus. Dia seorang panglima perajurit perang di era Mataram kuno. Kulitnya sawo matang, tinggi, dan memiliki rahang tegas. Bajunya seperti baju kerajaan." Jelasnya.


Azka melongoh kagum. "Wih, hebat Lo! Biasanya dia sangat menutup diri, biasa dia type setan yang introvert. Jadi, enggak banyak anak indigo yang bisa melihat wujud aslinya." Sosok itu mengerang marah, ia tidak suka disebut 'setan' oleh bocah ingusan seperti Azka. Namun Azka tidak peduli, ia menatap penuh selidik sosok yang jaganya. "Lo kenapa nunjukin wujud asli lu? Lo.. demen ya sama cewek ini? Astaghfirullah, inget kalian tuh beda alam."


Zahro bingung bagaimana harus menanggapi Azka. Sesama indigo, jujur saja Zahro tidak seberani Azka tentang mengatai penjaganya sendiri.


"Gue hanya bisa lihat sih, enggak bisa lihat suatu kejadian cuman dengan menempelkan tangan, ataupun sampai berkomunikasi dengan mereka. Dih, ogah banget! Mending ngobrol sama yayang Asia, daripada ngomong sama setan."


"Astaghfirullah.. dek Azka, enggak boleh berbicara dengan yang bukan mahram berduaan. Dosa," Azka menatap malas sepupunya yang baru datang.


"Bawel lu, kayak emak-emak. Btw, di samping lu ada kunti gatel,"


...T O B E C O N T I N U E D...

__ADS_1


__ADS_2