
"Jangan pakai parfum berlebihan Friska!"
"Aqilla kita mau ke sekolah, enggak mau ke kondangan. Jangan pakai lipstik berlebihan, tabarruj!"
"Ini itu lipbalm Azkia, bukan lipstik."
"Elvina jilbabnya turunin, enggak boleh dinaikin."
"Zahro ayo cepetan, dari tadi masa baru pakai seragam."
"Eh lihat kotak pensil ku enggak?"
"Mangkanya Hasya kalau naruh barang itu jangan asal, jadi lupa kan. Ini!"
Azkia sudah seperti ibu-ibu yang merawat lima anak. Ini adalah rutinitas Azkia di pagi hari, selalu mengomentari teman-temannya jika ada yang salah. Ia seperti ini karena peduli sama teman-temannya, ia tidak mau jika ada keamanan yang mengomentari dan berujung di kasih hukuman.
Jam menunjukkan pukul 06.45 akhirnya mereka semua sudah siap, Azkia bernafas lega. Mereka semua keluar kamar, dan Elvina bagian yang mengunci pintu.
"Zah itu dasinya dipakai, jangan digantung gitu di leher." Ujar Azkia menatap Zahro.
"Nanti aja, enggak sempat aku tadi. Lagi pula aku enggak bisa masangnya." Balas Zahro.
Azkia menggeleng kepala pelan. Ia berdecak kesal, namun masih mau membantu Zahro. "Sini biar aku pasangin, ini hari Senin harus rapi. Kalau enggak kamu bisa dihukum karena tidak pakai atribut lengkap, Zah. Kebiasaan deh kamu itu."
Zahro hanya berdehem sebagai respon, kalau dijawab nanti makin panjang omelan Azkia. Azkia ini sudah seperti ibu mereka di asrama, sedangkan Elvina sudah seperti bapak mereka. Ah, apa yang ia pikirkan. Zahro menggeleng kepalanya, mengusir pikiran aneh dalam otaknya.
Mereka berjalan beriringan dengan sesekali melontarkan candaan. Banyak yang menyapa mereka atau hanya sekedar basa-basi, bahkan Zahro sekarang juga ikut disapa. Ya walaupun ujung-ujungnya mereka menanyakan perihal hantu.
Di pertigaan mereka terpisah. "Dadah, sampai ketemu kembali Azkia Hasya!" Friska melambaikan tangannya dengan tersenyum lebar.
Hanya membutuhkan waktu delapan menit mereka sampai di SMA Cahaya. Zahro berjalan terlebih dahulu meninggalkan yang lain, karena hari ini ia ada piket kelas. Gadis itu menaiki satu persatu anak tangga, karena kelasnya ada di lantai dua. Hampir saja ia terjatuh karena kaget, bagaimana tidak kaget jika tiba-tiba ada kepala gelinding ke kakinya.
__ADS_1
"Astaghfirullah!" Zahro mendesis pelan.
Tanpa memperdulikan kepala buntung itu, Zahro tetap melangkah ke anak tangga selanjutnya. Pintu kelasnya sudah terlihat, ia cepat-cepat berlari sebelum bel berbunyi.
Zahro meletakkan tasnya terlebih dahulu di atas meja, lalu ia mengambil sapu dipojokan. Bersamaan dengan ia memegang sapu, tiba-tiba ada tangan butung hitam memegang tangannya juga. Hampir saja ia menjerit, sebelum ia membekap mulutnya sendiri.
Gadis itu menatap tajam tangan hitam itu, seraya berkata, "Lepas enggak? Aku jampi-jampi nih tanganmu agar terbakar, atau aku suruh penjagaku untuk mengenyahkan kamu."
Seketika tangan itu menghilang. Zahro mendesah lega, minta diancam dulu baru lepas. Dasar setan!
Zahro mulai menyapu seisi kelas. Tidak banyak debu, mungkin sudah dipiketi sama yang lain. Sepanjang ia piket, banyak sekali godaan. Entah lantai yang tiba-tiba banjir darah, atau anak kecil berlumuran darah sedang berlarian, atau mbak Kun yang sedang cekikikan di atas genteng. Untung saja ia sabar menghadapi hantu gabut seperti mereka.
Bel mulai berbunyi. Zahro meletakan sapu ditempat sapu, lalu ia memakai topi dan keluar kelas. Cuaca diluar begitu cerah, bakal panas sekali nanti.
Barisan demi barisan sudah penuh, Zahro mendesah pelan lalu berjalan dibarisan paling belakang. Para teman-temannya ternyata menjadi petugas upacara, dan Elvina yang memimpin upacara di pagi hari ini.
"Siaaaaap grak!"
Upacara bendera berjalan dengan khidmat, namun tidak bagi Zahro. Waktu kepala sekolah menyampaikan amanat, tiba-tiba ada gadis yang menjatuhkan dirinya dari lantai tiga ke bawah. Hampir saja Zahro berteriak, namun ia urungkan kala ia melihat semua orang tidak ada yang bereaksi. Sudah pasti itu bukan manusia kan yang baru saja bunuh diri?
Cat sekolahnya yang berupa biru mudah, berubah menjadi cat oren yang lapuk. Para siswa-siswi memakai seragam putih-oren, entah seragam dari sekolah apa itu Zahro tidak tahu.
Aktifitas di sekolah itu tampak berjalan normal, seperti tidak melihat keberadaan Zahro di sana. Zahro ingin sekali menulusuri tempat asing ini namun ia takut jika tidak bisa kembali.
Zahro terus menyakinkan dirinya bahwa kejadian barusan tidaklah nyata, ia memejamkan mata sebentar dan ketika ia kembali membuka mata Zahro sudah kembali ditengah-tengah teman-temannya yang masih mendengarkan amanat dari kepala sekolah.
...***...
Sepulang dari sekolah Zahro masih memikirkan kejadian yang ia alami di sekolah, itu adalah kejadian aneh pertama yang ia pernah alami.
Ia seperti berada di masa lampau, masa yang ia tidak ketahui jelas pastinya tahun berapa itu dan dimana lokasinya. Mengapa itu bisa terjadi padanya? Ini membingungkan.
__ADS_1
Hasya menepuk pundak Zahro pelan. "Zah kenapa?"
Zahro seketika tersadar dari lamunannya, ia menoleh kearah Hasya. Ternyata bukan hanya Hasya yang melihatnya, tetapi semua temannya juga sedang menatapnya.
"Ada apa, Zah?" Tanya Azkia.
"Iya ada apa, kok dari tadi melamun?" Aqilla ikut menimpali.
Zahro bisa merasakan rasa kepo teman-temannya, dilihat dari raut wajah mereka. Apa sebaiknya ia ceritakan saja kepada mereka tentang yang terjadi padanya di pagi hari tadi?
Gadis itu menghembuskan nafas sebentar, "Tadi pas upacara aku mengalami kejadian aneh banget."
Seketika hening. Aqilla gelisah sendiri sembari menatap di sekelilingnya, berbanding balik dengan Aqilla, Frizka justru terlihat sangat antusias.
"Memangnya apa yang kamu alami, Zah?" Elvina bertanya dengan serius, terlihat dari raut wajahnya. Sebenarnya ia takut, namun juga penasaran.
Zahro menatap depan. "Sesuatu yang belum pernah aku alami sebelumnya," ia bergantian menatap kembali teman-temannya. "Waktu amanat upacara aku melihat ada gadis bunuh diri dari lantai tiga ke bawah, tidak lama itu aku seperti ketarik ke masa lampau. Tiba-tiba saja aku berada di tempat asing, tapi aku tahu banget itu masih di sekolah. Tempat asing itu sebuah bangunan sekolah dengan cat bewarna oren, dan murid-muridnya memakai seragam warna putih-oren. Anehnya orang- orang di sana tampak enggak melihatku, aku bener-bener enggak tahu deh kejadian apa yang tadi aku alami."
Mereka tampak memangut-mangut mendengarkan dengan seksama cerita Zahro.
"Terus bagaimana cara kamu kembali, Zah?" Hasya bertanya dengan tampang polosnya seperti biasa.
"Aku merem bentar, dan ketika membuka mata seketika aku kembali."
"Keren ya, itu seperti perjalanan waktu bukan sih?" Ujar Azkia, dari raut wajahnya tidak ada rasa ketakutan sama sekali.
Aqilla memukul pelan lengan Azkia. "Keren dari mana? Serem tahu,"
"Eh dulu aku pernah membaca novel anak indigo, dan kejadian itu ada namanya, cuman aku lupa apa namanya." Frizka berkata dengan penuh ekspresi.
Zahro memangut-mangut. "Sepertinya semua anak indigo perna mengalami hal serupa seperti aku,"
__ADS_1
Kejadian ini mungkin biasa dialami anak indigo lainnya, tidak menutup kemungkinan ia akan mengalami hal lain yang lebih aneh dari ini maka dari itu Zahro harus menyiapkan mentalnya agar tidak terlalu kaget.
...T O B E C O N T I N U E D...