
Sudah tiga Minggu sejak kejadian kesurupan masal dan kembali terbukanya mata batin Zahro, membuat gadis itu lebih sering berada di asrama dari pada ikut teman-temannya keluar yang hanya sekedar bermain.
Setelah pulang sekolah Zahro langsung masuk asrama, dan keluar jika ada adzan. Zahro paling malas jika keluar malam, karena makhluk tak kasat mata aktif-aktifnya saat di malam hari. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus mengaji kitab atau tidak ia akan mendapatkan hukuman karena bolos.
Teman sekamar Zahro sudah mengetahui bahwa gadis itu bisa melihat makhluk tak kasat mata, bukan hanya teman-temannya saja melainkan semua santri lain juga sudah mengetahui. Bahkan kini nama Zahro jadi terkenal gara-gara pernah berkomunikasi dengan sosok nenek itu. Bukan hanya terkenal dikalangan manusia, tapi juga dikalangan makhluk astral.
Maka dari itu akibat terbuka kembalinya mata batin Zahro membuat teman-teman sekamar gadis itu, menjadi lebih perhatian dan tidak mengabaikannya lagi.
Mereka takutnya Zahro jadi stress akibat melihat wujud hantu yang wujudnya abnormal. Elvina pernah menghimbau kepada teman-temannya agar lebih perhatian ke Zahro, mau tidak mau mereka mengiyakan permintaan gadis itu dari pada dikasih ceramah dan membawa-bawa tentang undang-undang kemanusiaan.
"Zahro, kok ngelamun? Ada hantu jelek ya?," Hasya bertanya takut-takut.
"Kayaknya ada sosok hantu di sini, buktinya sedari tadi Zahro melamun menatap depan. Atau jangan-jangan.. sukma Zahro di bawah ke alam mereka lagi," Aqilla ikut menimpali. Wajah gadis itu sudah pucat, dia benar-benar takut.
Azkia menggelengkan kepalanya pelan. "Hust! Kalian ini ngomong apa sih, jangan menakut-nakuti dong. Lebih baik kalian mengantri mandi deh, mumpung masih jam setengah tiga."
Sebenarnya Zahro mendengarkan semua apa yang sedang dibicarakan oleh teman-temannya, namun ia lagi malas saja menanggapi mereka.
"Yuk, mandi!" Zahro beranjak dari duduknya. Ia sudah mulai perlahan akrab dengan teman-teman yang lain, Zahro berfikir seperti ia harus mengakrabkan diri. Mau sampai kapan ia menjaga jarak dengan teman-temannya? Zahro tidak enak hati.
Teman-temannya sudah berusaha memperlakukannya dengan baik, masa ia masih memberi batas? Itu sangat tidak adil, bukan? Mau tidak mau Zahro harus bersosialisasi dengan banyak orang, terlepas dari sifatnya yang introvert. Apalagi mata batinnya sudah terbuka kembali, mungkin dengan bergaul dengan yang lain membuat Zahro tidak stress menghadapi makhluk tak kasat mata.
Sepertinya Zahro harus mencontoh Gus Azka, yang tidak menjadikan kemampuan spesialnya menjadi batasan. Yang bisa menghadapi mereka dengan santai.
Azkia, Aqilla, Hasya, Friska, Elvina mereka semua tercengang mendengarkan kata ajakan pertama yang keluar dari mulut Zahro. Lebay memang, namun ini memang kata pertama yang mengandung ajakan dari Zahro. Ralat, kedua maksudnya. Temannya itu selalu ragu melakukan apapun, tidak pernah mengajak terlebih dahulu karena takut ditolak. Dari awal Elvina tahu bahwa Zahro adalah gadis pemalu, yang enggan meminta bantuan kepada orang lain. Analisa Elvina tidak pernah meleset.
Dengan bangga Elvina merangkul pundak Zahro. Dia tersenyum lebar. "Nah gini dong Zah, jangan takut mengatakan apapun. Mulai sekarang jangan jadi pengamat lagi, tapi juga ikut ngobrol."
Zahro tersenyum canggung. Rasanya masih tampak asing.
"Yuk, mandi!" Friska berseru dengan semangat.
Mereka mengambil perlengkapan mandi masing-masing, dan berjalan beriringan keluar dari asrama.
Bisa Elvina pastikan bahwa orang yang tinggal sekamar dengannya, bisa akur dan akrab semua. Yang sudah akrab, bisa lebih akrab lagi.
__ADS_1
Mereka saling melengkapi satu sama lain, memiliki peran masing-masing. Azkia yang Sholehah, Aqilla yang pintar, Elvina yang tegas, Hasya yang ceria, Friska yang suka ngelawak, dan Zahro si indigo ragu-ragu.
Setibanya di kamar mandi mereka mendesah lega, bilik-bilik kamar mandi masih terlihat kosong. Mereka masuk persatu-satu ke dalam bilik.
Zahro melepas jilbabnya, berganti membuka kancing kemejanya. Matanya menelusuri setiap sudut kamar mandi, tiba-tiba gerakan tangannya terhenti ketika netra nya menangkap sosok yang mengintipnya di plafon yang bolong. Sosok hitam berbulu, besar, dan memiliki mata merah. Tidak lain tidak bukan itu pasti genderuwo.
"Astaghfirullah." Gadis itu mengelus dadanya sambil mengucap istighfar dalam hati berulang kali. Mau mandi saja tidak tenang.
Sebenarnya ia mulai terbiasa melihat makhluk astral lagi, namun tetap saja kaget dan ngeri. Zahro kembali mengancingkan kembali kemejanya dan memakai kembali jilbabnya. Gadis itu membalas tatapan dari makhluk itu, menatapnya dengan tajam.
"Bisa enggak sih kamu tuh jangan muncul. Mau mandi nih woi, nanti dulu napa. Kagak setan, kagak manusia sama aja kelakuannya. Sama-sama suka ngintip."
Setelah mengatakan itu di dalam hati, Zahro keluar dari bilik dengan kesal. Ia masih menatap tajam sosok tersebut, sambil berseru, "MIREH'O KON!"
Kedua tangan mengadah ke atas. "Bismillahiladzi laailaaha illahuw. Bismillaah, allaahumma innii a'uudzu bika minal khubutsi wal khabaa-its." Do'a melepas pakaian dan do'a masuk ke kamar mandi telah Zahro baca, setelah itu ia melangkahkan kaki kirinya ke dalam bilik.
Mata Zahro melihat diatas plafon, dan ternyata sosok itu sudah tidak ada. Baguslah ia jadi bisa mandi dengan tenang.
...***...
Malam hari ini Ning Fina tidak bisa mengajar, maka dari itu digantikan oleh Ning Adiba. Sepanjang beliau mengajar para santri menyimak lalu mema'nai.
Ingin rasanya Zahro berteriak marah, ia benar-benar tidak bisa fokus. Dan sekarang ia disamperin anak kecil Belanda yang kepalanya bolong seperti terkena tembakan.
Sosok anak kecil Belanda itu hanya diam namun matanya terus menatap Zahro, dengan rongga mata yang menghitam. Bagaimana dia bisa fokus jika ditatap begitu oleh setan? Zahro akui bocil Belanda itu tampan, namun tetap saja serem apalagi kepalanya seperti mengeluarkan darah dan rongga mata hitam seperti tidak memiliki bola mata.
"Zah kenapa?" Elvina yang duduknya di samping Zahro bertanya dengan berbisik setelah melihat temannya itu duduk dengan gelisah.
Zahro hanya menggeleng pelan. Tidak mungkin kan ia bilang di sini banyak setan yang menggangunya.
"Laten we spelen!"
Kening Zahro mengerut. "Ngomong apa lagi nih bocah." Ia berbicara dalam hati, sedangkan matanya masih menatap depan seolah tidak melihat keberadaan bocah Belanda itu.
Seperti mengerti yang dikatakan Zahro, anak kecil itu tersenyum tipis lalu berkata kembali, "Main."
__ADS_1
Zahro menghembuskan nafas pelan. Sepertinya bocil Belanda ini bisa bahasa Indonesia, walaupun melafalkannya tidak begitu fasih. "Main sendiri aja sana, aku sibuk jangan ganggu."
Sosok anak kecil Belanda itu hanya diam lalu menganguk pelan dan berjalan dengan lesu menjauh dari Zahro, gadis itu menoleh menatap kepergian sosok tersebut. Zahro baru menyadari bahwa kaki sosok anak kecil itu kakinya terdapat luka, seperti luka terkena tusukan benda runcing, yang mengoyakkan kaki mungilnya. Zahro jadi kasihan, entah apa yang dulu anak itu hadapi sampai menjadi hantu menyedihkan seperti sekarang.
Tak terasa waktu mengaji kitab yang diajarkan oleh Ning Adiba telah usai. Beberapa santri sudah meninggalkan aula. Zahro masih memikirkan sosok tadi, matanya menelusuri sekitar aula namun tidak ada sosok tadi, malah ia menemukan sosok wanita dengan rambut panjang sedang menggendong bayi.
Hasya merangkul pundak Zahro. "Hei, kamu kenapa Zah?"
"Lah iya dari tadi celingak-celinguk, cari apa sih?" Friska ikut menimpali.
Zahro menggeleng pelan. "Enggak kok, yuk ke asrama." Ajaknya dengan tersenyum simpul.
"Eh ikut aku beli jajan dong, lapar nih," ujar Aqilla.
Hasya menganguk antusias. "Yok! Aku juga lapar, tapi aku enggak bawah uang. Boleh ngutang enggak sih?"
"Nanti tak pinjami." Balas Elvina.
Mereka berjalan beriringan menuju keluar gerbang. Ingin sekali Zahro misah dengan yang lain dan mencari anak kecil Belanda tadi, namun Hasya menggandengnya. Mau tidak mau ia harus ikut.
"Sampean mau beli apa, Qil?" Tanya Azkia disela-sela langkahnya.
Aqilla tampak berfikir sebentar. "Enaknya beli basreng apa seblak ya, Az?"
"Seblak aja ntar makan ramai-ramai." Sahut Friska berjalan mundur dengan menatap teman-temannya.
Elvina menarik tangan Friska agar temannya itu tidak berjalan mundur. "Di belakang ada batu."
"Seblaknya berapaan?" Tanya Zahro, pasalnya ia hanya membawa uang lima ribu.
"Kemarin aku beli sih sepuluh ribu seporsi." Jawab Azkia.
Zahro menghembuskan nafas pelan. Sudah ia duga pasti kurang uangnya. Friska merangkul pundak Zahro, dan tersenyum lebar. "Uangmu kurang, atau tidak bawah uang? Tenang saja besti, ada bank berjalan kita nyonya Elvina yang sanggup membayar bahkan mentraktir kita semua."
Elvina memiting leher Friska. "Gundulmu iku! Mbok kiro aku juragan lele opo?!"
__ADS_1
...T O B E C O N T I N U E D...
...KAMIS, 15 SEPTEMBER 2022...