Zahro

Zahro
7- Pelaris


__ADS_3

Zahro berjalan lesu dengan ditemani teman-temannya, sementara pikirannya melayang di kejadian beberapa jam yang lalu.


Kejadian tadi terjadi begitu saja, dan Zahro masih tidak mengerti maksud dari sosok nenek itu. Zahro tidak bodoh untuk tidak mengerti perkataan dari nenek itu, namun bukan itu yang buat Zahro tidak mengerti. Melainkan maksud arti dari perkataan nenek itu, seolah perkataan beliau mengandung makna sesuatu.


Zahro merasa ada yang janggal dari perkataan nenek itu, seperti akan terjadi sesuatu dengan dirinya. Entah apa itu, Zahro tidak mengerti. Ah, sudah lah kepalanya terasa pusing.


Elvina membuka pintu kamar. Zahro berdiri mematung di depan pintu, Azkia dan Aqilla yang berada di samping Zahro ikut berhenti. Hasya dan Friska yang berada diposisi belakang juga ikut berhenti.


"Kok berhenti?" Friska mengerutkan keningnya menatap teman-temannya yang berada di depan.


Netra Zahro menatap pojok kamar samping lemari Elvina. Baru masuk kamar sudah disambut saja. Sosok perempuan berbaju putih berambut panjang, dengan pakaian yang bercampur tanah dan darah.


Ia kembali melihat mereka dari sekian lamanya. Zahro menghembuskan nafas panjang. Bisa Zahro pastikan bahwa hidupnya di pondok mulai sekarang dan seterusnya tidak akan tenang.


Mereka semua terdiam, ketika mereka melihat mata Zahro tertuju di sudut ruangan. Jadi begini rasanya sekamar sama orang indigo. Itu tidak akan menjadi masalah, selama Zahro tidak menyebutkan ciri-ciri penunggu asrama.


Elvina berinsiatif berjalan terlebih dahulu, disusul oleh Azkia. Aqilla memegang pundak Zahro, menatap penuh keyakinan. "Ayo, masuk."


Zahro tidak membalas perkataan Aqilla, kakinya melangkah masuk. Gadis itu mencoba tidak menghiraukan keberadaan mereka, seolah tidak melihatnya.


Hasya merebahkan tubuhnya di atas lantai, di susul oleh Azkia. Elvina menutup pintu kamar, temannya itu suka sekali lupa tidak menutup pintu.


Friska duduk di depan Zahro, mimik wajah gadis itu menunjukkan penasaran. "Di kamar ini ada sosok apa, Zah?"


Mendengar pertanyaan Friska, Zahro membelalakkan matanya terkejut. Tidak cuman Zahro, melainkan teman-teman yang lain juga. Mereka serempak melotot kearah Friska dengan tajam.


Aqilla menatap Zahro penuh permohonan, agar temannya itu tidak menjawab pertanyaan dari Friska. Jika Zahro menjawab pertanyaan dari Friska, Aqilla ingin pindah asrama. Itu akan mengusik pikirannya.


Zahro menghelah nafas sebentar, lalu tersenyum simpul. "Enggak ada apa-apa kok Fris, di sini."


Helaan nafas lega dari Aqilla terdengar.


Friska menatap Zahro tidak yakin. Temannya itu pasti berbohong. "Yang benar? Sampean enggak bohong 'kan, karena khawatir kita semua takut? Enggak apa-apa Zah, aku enggak takut kok."


Aqilla melempar Friska dengan bantal, dan menatapnya tajam. "Iyo kowe tok iku sing ra wedi. Awas genyo nek kon isek takon, tak tokno kuwe tok kamar."


Friska meneguk ludahnya sendiri. Mengapa temannya itu sekarang menjadi ganas begini. Ia jadi ngeri untuk membantah perkataan Aqilla. Kapan-kapan saja deh ia bertanya empat mata dengan Zahro.


...***...


Adzan magrib berkumandang dipenjuru pesantren. Orang-orang berbondong-bondong berangkat ke masjid setelah mendengar panggilan dari Allah.


Para warga yang rumahnya dekat dengan pesantren ikut jamaah bareng. Baru adzan, namun shaf shaf sudah penuh. Berangkat di awal lebih baik, daripada berangkat setelah Iqamah.


Zahro dan teman-temannya sedang mengambil wudhu di kamar mandi asrama, tetapi mereka harus mengantri terlebih dahulu. Kran air cuman ada lima, maka dari itu antrian cukup panjang.


Zahro mendesah gusar. Rasanya ia segera ingin pergi dari toilet. Gadis itu bergerak tidak nyaman karena sedari tadi banyak yang memperhatikannya, entah dari santriwati lain ataupun para makhluk astral. Beberapa santri bisik-bisik sambil menatapnya, sedangkan para makhluk astral berusaha mendekatinya.

__ADS_1


Elvina melirik Zahro, raut wajah temannya itu seperti gelisah tidak nyaman. Dirangkulnya pundak Zahro. "Sampean kenapa, Zah?"


Zahro mendongak menoleh kearah Elvina, lalu menggeleng pelan. "Ra popo kok."


Akhirnya bagian mereka telah tiba. Zahro masih mengantri di belakang Hasya. Gadis itu menundukkan kepalanya, enggan melihat sekitar.


Ada beberapa sosok yang berusaha mendekati Zahro, dan ada beberapa juga yang mencoba menjahili teman-temannya.


"Zah, aku udah selesai."


Zahro mendongak melihat Hasya. Temannya itu memakai kembali jilbabnya, Zahro buru-buru mengambil wudhu. Ia sudah tidak betah berada di kamar mandi yang banyak sekali dihuni oleh tak kasat mata.


...***...


Waktu menunjukkan pukul 21.05 menit, ngaji malam baru saja telah usai. Jam sembilan malam semua aktivitas di pondok berhenti, tidak ada aktivitas apapun yang menyangkut pesantren diatas jam sembilan.


Walaupun begitu gerbang depan masih dibuka sampai batas jam sebelas malam. Di atas jam sembilan itulah santri-santri bebas melakukan apapun, kecuali tidak melanggar peraturan yang berlaku.


Biasanya di jam-jam ini lah para santri keluar untuk jajan, ataupun nongkrong sebentar di pos ronda.


Rencana awal Zahro yang berniat ingin langsung ke asrama harus pupus, ketika Friska dan Hasya menyeret memaksanya harus ikut jajan diluar gerbang. Mau tidak mau ia harus ikut, lagi pula perutnya terasa lapar.


"Beli apa nih kita?" Aqilla menatap satu persatu teman-temannya.


Azkia berfikir sejenak. "Bagaimana kalau kita beli bakso aja?"


"Ya udah, malam ini kita makan bakso. Jom!" Friska berseru dengan keras. Gadis itu berjalan terlebih dahulu dengan masih menyeret Zahro.


Zahro merasa ia seperti peliharaan Friska, daripada seperti teman. Ingin rasanya terbebas dari jeratan temannya itu.


Mereka berhenti di warung bakso yang cukup ramai. Mata Zahro menatap di sekeliling warung, di suatu titik di mana matanya terkunci.


Ada sosok pocong dengan wajah penuh belatung, sedang menjulurkan lidahnya sampai air liurnya menetes di kuah bakso. Seketika itu Zahro ingin mual.


"Mau berapa bungkus, Mbak?"


"En_"


"Kita enggak jadi beli Mbak." Belum selesai Aqilla memesan, Zahro sudah memotongnya dan menyeret teman-temannya agar segera menjauh.


Mereka kembali masuk gerbang pesantren. Friska menatap sebal Zahro. "Ada apa sih, Zah?"


"Ais! Padahal pengen banget makan bakso," Hasya bergumam pelan, namun masih bisa di dengar sama yang lain.


Zahro menghembuskan nafas sebentar. "Baksonya pake pelaris."


Mendengar pengakuan dari Zahro tentu saja mereka terkejut, namun sebentar sebelum Elvina berbicara. "Dari mana kamu tahu?"

__ADS_1


"Aku tahu karena aku lihat sendiri barusan,"


Friska menatap lamat-lamat Zahro. "Apa yang kamu lihat?"


"Poci, berwajah busuk penuh belatung sedang menjulurkan lidahnya, membiarkan air liurnya menetes ke kuah bakso."


"Yang benar?" Zahro mengangguk menyakinkan, ketika Aqilla menatapnya tidak percaya.


Hasya menunduk lesu. "Yaa.. padahal enak."


"Maka dari itu yang ngebuat baksonya enak, karena sudah terkontaminasi oleh air lur sih poci. Kalau sampean pengin bakso, beli aja di yang lain,"


Wajah Friska tiba-tiba pucat, ia ingin sekali muntah kala mengingat sudah beberapa beli bakso dari warung itu.


Azkia menatap Friska dengan heran. "Sampean kenapa Fris?"


"Pengin muntah, mana aku udah beberapa beli baksonya pakle Udin lagi. Sumpah enggak lagi-lagi deh,"


"Aku juga pernah beli sekali." Hasya ikut menimpali.


Elvina kembali menatap Zahro. "Ada beberapa yang make hal semacam itu, Zah? Biar kita bisa menghindari,"


Zahro mengedarkan pandangannya menatap beberapa orang berjualan dari kejauhan. "Cuman tiga sih. Baksonya pakle Udin, nasi goreng Bu Lik, sama warkop pak Abas. Selebihnya enggak kok, yang lain berjualan dengan jujur."


"Ada enaknya juga ya temenan sama indigo." Celetuk Hasya dengan tersenyum lebar.


"Dih, situ mah enak enggak bisa ngelihat. Lah aku? Hampir gila lihat semua wujud mereka yang bentuknya aneh-aneh."


Dari dalam gerbang ada dua gadis yang berjalan keluar dari gerbang. Mereka berjalan sambil berbincang-bincang. Zahro mengedarkan pandangannya menatap dua gadis itu, disusul oleh teman-temannya yang lain juga ikut melihat.


"Ning Halwah dan Ning Najma mau kemana?" Azkia bertanya kala dua gadis itu berjalan melewati mereka.


Dua Ning itu berhenti, lantas menengok kearah Zahro dan kawan-kawan. Najma tersenyum ramah. "Mau beli bakso di pakle Udin Mbak disuruh ummi."


"Jangan!"


Halwah maupun Najma mengerutkan keningnya kala melihat mereka berbicara serentak barengan.


"Kenapa ya?" Halwah bertanya heran.


"Pokonya jangan 'Ning. Bakso pakle Udin itu ada pelarisnya, Zahro tadi yang lihat." Ujar Friska.


"Zahro santriwati yang diajak berbicara sama sosok nenek tadi ya?" Najma menatap Zahro dengan raut wajah berbinar.


Zahro mengembuskan nafas panjang. Mengapa kini namanya jadi terkenal gara-gara insiden tadi siang? Ya sudah lah, yang penting sekarang namanya jadi viral.


...T O B E C O N T I N U E D...

__ADS_1


__ADS_2