
...TERKENA MASALAH...
Saat Hakai pergi ke ruangan tersebut, entah kenapa dia merasa sistem pembelajaran di dunia ini tidak ada bedanya dengan dunia sebelumnya. Sama-sama memiliki ruangan seperti Ruangan BK.
Claack...
Saat Hakai membuka pintu ruangan tersebut, dia melihat guru yang sedang duduk dengan pandangan tajam ke Hakai. Seperti menunggu kedatangan anak 'bermasalah' yang dipanggil itu.
Tidak lupa dengan tiga orang yang Hakai kesal melihatnya,
"Apa kau yang bernama Amanaka Hakai?" Tanya guru pengurus ruangan tersebut, "Iya, pak." jawab Hakai
deg.. deg.. deg..
Jantung Hakai benar-benar kencang dan mengeluarkan keringat banyak, tekanan di ruangan itu benar-benar seram.
"Membuat onar dihari pertama dan kabur begitu saja? benar-benar tidak bertanggung jawab." Ucapan yang baru saja di lontarkan guru tersebut membuat Hakai kaget, 'Apa?! jangan-jangan aku difitnah oleh Kageya?!' batinnya kesal sambil melirik Kageya
Smirk dari Kageya membuat Hakai benar-benar yakin dengan dugaannya. Hakai segera membantahnya, "Pak, Kageya sendirilah yang merundung salah satu siswa! Aku cuma menghentikan ulah kageya Pak!" Tentu dengan penjelasannya
Guru tersebut mengangguk seraya bertanya ke Kageya, "Apakah benar yang dikatakan oleh Amanaka Hakai, Kageya?"
Kageya membantah, "Apa murid seperti saya terlihat merundung siswa lain? mana ada aku mencoreng nama baik keluarga saya pak, bukan saya yang merundung, melainkan Hakai, Pak!" Pembelaan dari Kageya didukung oleh dua temannya
"A-apa?!! Ma--" Pembelaan diri Hakai dipotong oleh guru pengurus tersebut, "Baiklah, cukup dengan debatnya." Perintah dari guru itu membuat Hakai mengurungkan niatnya untuk membela dirinya lagi
"Nanti akan ada surat keputusan dari kepala Akademi, terima kasih telah menuruti perintah saya, silahkan kembali ke kelas masing-masing." Hakai, Kageya dan kedua temannya menuruti perintah guru itu
"Amanaka." Panggil guru itu, Hakai membalikkan kepalanya, "Jangan berbuat onar lagi."
Mendengar penjelasan guru tersebut membuat Hakai kesal, tapi tak berani mengungkapkan emosinya, "Baik, pak."
Setelah keluar dari ruangan tersebut, Kageya menghampiri Hakai dengan senyum menang, "Kau ingin tahu surat apa yang akan datang kepadamu?"
Hakai benar-benar kesal. Kehilangan kendali, dia menarik kerah baju Kageya, "APA MAKSUDMU HAH??"
"Hei, kau mau mencari masalah lagi hah?" Kageya tertawa kecil. Berhasil membuat Hakai emosi, "Persetan dengan itu!"
Hakai benar-benar naik darah, saat dia mau melayangkan tinjunya, Kageya memberitahu sesuatu kepada Hakai, "Hukumannya, kau akan diskors selama 7 hari dan saat kau mengambil surat itu, disertai dengan orangtua atau wali, kau mau Master Akio datang dengan penuh malu akibat perbuatanmu itu?"
Hakai langsung melepas dan membatalkan memukul Kageya akibat ucapannya barusan, "Lain kali jangan ikut campur urusanku, Pahlawan~"
Usai mengucapkan itu, Kageya dan kedua temannya tertawa terbahak-bahak sembari menjauhi Hakai yang terdiam tertunduk
'Apa-apaan..' Hakai benar-benar malu dengan tindakannya tadi, terlihat seperti pengecut.
Hakai cuma terdiam dan langsung kembali kekelas, namun saat dia hendak memasuki kelas, seluruh pandangan melihat ke dia.
"Hei-Hei, dia habis bermasalah dengan keluarga Shirogami tau!" Bisikan-bisikan itu semakin banyak, Hakai tidak bisa membela dirinya dan memilih untuk mengabaikan bisikan-bisikan itu
'Kedengaran tau.'
Saat hendak duduk, Lili datang menghampiri ke bangkunya, "Hakai, kau tidak apa-apa kan? kau tidak terkena masalahkan? iyakan?" Pertanyaan beruntun dari Lili membuat Hakai hanya bisa tersenyum masam
"Aku difitnah oleh Kageya, dan alhasil aku akan mendapat masalah."
Tiba-tiba ekspresi dari Lili berubah sekejap, auranya tidak bisa berbohong betapa marahnya Lili kepada Kageya karena membuat Hakai dalam masalah
'Shirogami Kageya. Ternyata kau benar-benar ingin hancur ya..' Batin Lili kesal, dia sudah memperhitungkan sebuah rencana untuk menghancurkan Kageya
"Lili? kamu baik-baik saja?" Tanya Hakai khawatir,Lili tersenyum lebar, "Tidak apa-apa kok!"
Hakai yang tidak percaya malah langsung mengelus kepala Lili dengan lembut, "Tidak usah dipikirkan, ini bukan salahmu kok, aku sendiri yang akan menanggung masalah ini."
Wajah Lili menjadi merah dan salah tingkah, "Ha-Hakai.."
"Hm?"
"Ji-jika kau butuh bantuan, kau bisa min--"
Ting ting ting
"Jam istrihat telah selesai mohon perhatian jam pelajaran berikutnya segera siapkan diri anda" (Suara bel)
"Ah, sudah pergantian jam, ayo Lili kita ke tempat latihan pedang." Ajak Hakai sambil menarik pelan Lili, "E-eh?"
Lili hanya pasrah ditarik oleh Hakai, sambil tersipu malu tentunya.
'Ukh, jam sialan! jika kau tidak bunyi tadi, Hakai bisa bergantung padaku!' Batin Lili kesal
"Oh ya, kau mau ngomong apa tadi?"
"Tidak jadi."
__ADS_1
•Lapangan Pelatihan Pedang•
Di lapangan, banyak sekali murid-murid akademi yang berkumpul. Bukan hanya murid baru, murid kelas atas juga ikut berlatih di lapangan itu
"Baiklah, karena kalian telah semua berkumpul ditempat ini kita akan memulai latihan pedangnya!" Ucap Bu Yuri dengan keras.
"Iya, bu!" Tidak kalah keras oleh suara murid perwaliannya
"Anak-anak, Ibu akan jelaskan secara singkat ya, mohon didengarkan dengan seksama." Mereka pun diam dan tenang untuk mendengarkan penjelasan dari gurunya
"Teknik pedang yang akan kita latih kali ini bukanlah pedang biasa, namun pedang sihir!" Jelasnya
"Cara menggunakannya adalah dengan membayangkan pedang dengan dasar elemen tertentu, contohnya saya sendiri akan memanggil pedang sihir milik saya,"
Murid-murid penasaran dengan pedang apa yang akan dikeluarkan oleh guru mereka,
"Pedang pengendali petir yang sempurna,
Inazuma No Ken."
BLEZZZT... BLEEZZT....BLEEZZT
Tiba-tiba, keluar pedang dengan percikan petir, bentuk pedangnya cukup panjang namun bilahnya tipis.
Hakai yang melihat pedang bu Yuri seperti familiar dimatanya, 'Bukankah itu... Katana?'
"Beginilah contoh memanggil atau mengendalikan senjata sihir," bu Yuri memamerkan pedangnya itu kepada murid-muridnya
Murid-muridnya pun terkesima melihatnya, "Waahhh!"
"Jika kalian telah menggunakan senjata sihir itu berarti kalian tidak perlu lagi merapalkan sihir, karena otomatis sihir akan langsung keluar." Penjelasan dari bu Yuri mudah dipahami oleh mereka,
"Apakah kalian paham dengan penjelasanku?" Tanyanya untuk memastikan, "Kami paham!"
"Baiklah, se-- eh?" Pandangan bu Yuri teralihkan oleh salah satu guru juga disana, "Halo, Yuri! Kelas kita gabung bukan?" Tanya guru itu
"Ah! maaf aku melupakannya, anak-anak, kelas kita akan tergabung oleh kelas pak 'Asahi'."
"Yo! salam kenal murid-murid baru!" Perkenalan dari pak Asahi benar-benar membuat murid-murid gemuruh, ya, kecuali Hakai.
"Itukan pak Asahi!"
"Dia yang sering dibicarakan kan?"
Hakai mendengar itu jadi paham kenapa mereka semua gemuruh ketika pak Asahi memperkenalkan diri
"Sudah cukup."
Teguran dari bu Yuri membuat murid-murid yang tiba-tiba gemuruh terdiam langsung. Ajaib bukan?
"HAHAHAHAHA, inilah alasan kau tidak disukai, bu Yuri." Sindiran dari pak Asahi membuat bu Yuri berdecak kesal
"Mari kita mulai tesnya." Saat bu Yuri ingin menunjuk salah satu siswanya, tiba-tiba ada salah satu seorang siswa yang mengangkat tangannya,
"Biarkan aku menjadi contoh mereka."
Itu adalah Shirogami Kageya.
"Grrrrrr..." Saat melihat Kageya, Lili menggertakan giginya. Kesal.
Melihatnya jalan sjaa, Hakai benar-benar tak sudi melihatnya, apalagi melihatnya untuk jadi contoh untuk mereka
'Untuk pembelajaran kau harus bisa Hakai..'
"Rock Hammer." Tiba-tiba keluar palu yang besar berat dan panjang, palu itu sangat berat dan areanya sangat luas, baru saja melihatnya, sudah dipastikan. Palu itu sangat kuat.
"BRAVO! MURID KEBANGGAANKU!" Saat selesai mengeluarkan pedangnya, pak Asahi menepuk tangan dengan meriah. Bangga dengan muridnya.
"Hum." Dan disambut dengan kesombongan dari Kageya
"Kalian lihatkan anak-anak? begitulah contoh lain dari murid pak Asahi." Tak lupa bu Yuri pun menunjukkan kepada anak muridnya dan menjelaskannya kembali
"Muridkuuu, kau benar-benar bersinar sangat terang hari ini!" Dan kembali pak Asahi memuji Kageya hingga Kageya 'lehernya naik sekali' alias sombong
"Pak, aku punya permintaan." Mendengar hal itu, pak Asahi sudah memasang telinga, "Apa itu muridku?"
"Aku ingin melawannya."
Jari tunjuk untuk mengarah ke salah satu murid dari bu Yuri. Ya, Hakai.
"Ohh, kau ingin bertarung denganku? siapa takut!" Hakai tanpa rasa takut berdiri dan berjalan ke arah Kageya berada
"Apa kau bisa, Hakai?" Tanya bu Yuri khawatir kepada Hakai untuk menerima tantangan dari Kageya, "Jangan khawatir, aku akan selalu bisa, bu Yuri."
__ADS_1
Kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh Hakai membuat bu Yuri yakin kepada Hakai, dia tersenyum, "Aku percaya padamu."
Hakai membalas senyum bu Yuri, meyakinkan dirinya akan menang.
"HAKAAIIIII! AKU MENDUKUNGMU!!" Teriakan semangat dari Lili membuat Hakai tambah semangat, "Aku tak akan mengecewakan kalian!"
"Sudah selesai?" Kageya juga sudah bersiap bertarung, mereka sudah memasang badan dan sudah di tempat masing-masing untuk bertarung
"Oke, pertarungan antara Amanaka Hakai dan Shirogami Kageya akan dimulai!"
Wooohhh
Suara gemuruh dari penonton benar-benar heboh, rasa tegang dan rasa penasaran 'siapa yang akan menang?' benar-benar menguasai mereka
"Kageya! Hajar dia!"
"Hajar dia sampai mampus!"
"Hakai! Jangan beri dia kesempatan!"
"Aku mendukungmu, Hakai!
"1...2...3!"
Setelah pak Asahi memulai pertarungan tersebut, Hakai tanpa basa-basi mengeluarkan pedang imajinasi yang ia pikirkan dari tadi
"Datanglah Murasame."
Blezzzttt.....
Setelah menyebutkan pedang imajinasinya. Pedangnya pun muncul, dengan mirip dengan katana, tapi lebih tipis dan lebih panjang. Panjang tipis namun kokoh.
"Heh, Rasakan ini Rock Bullet!" Kageya mengayunkan palu dan keluarlah peluru batu yang terbuat dari sihirnya
Dia memukul peluru batu menggunakan palunya secara beruntun
Tapi, dengan mudah Hakai Menghindar dan menangkis balik peluru batu itu, "tch!"
"ITU BELUM BERAKHIR, SIALAN!" Kageya tidak menyerah dengan satu skillnya, dia mengeluarkan skill lainnya lagi, "Rock Slash!"
Dia mengayunkan palu dengan kuat dan terjadilah sebuah tebasan batu, Hakai awalnya agak kesusahan untuk menghindar, namun dia melihat beberapa celah dan akhirnya dia dapat menghindarinya
'Percuma saja jika kau menyerangku dengan sihir lemah begitu.' batin Hakai sambil tersenyum menang ke Kageya
Kageya benar-benar marah, kenapa skill terkuatnya bisa dihindari oleh Hakai, "APA KAU CUMAN BISA MENGHINDAR?"
Teriakan dari Kageya menghilangkan senyum Hakai, "Aku heran, kenapa master Akio bisa menganggapmu sebagai muridnya?" Tidak pilihan lain untuk menang dari Kageya, jadi dia mau memanas-manasi Hakai
"Apa maksudmu?" Hakai kali ini benar-benar mau memukul Kageya karena membawa-bawa master Akio
"Huh? kau bahkan tak sadar? aduh, Hakai, menurutku master Akio benar-benar menyesal menjadikanmu muridnya."
Ejek Kageya, dan ya, Hakai terpancing provokasi dari Kageya
"Kau ingin tahu alasannya? itu karna kau sangat lemah."
Tatapan mata Hakai sungguh mengerikan, aura membunuhnya benar-benar membara.
"Aku..." Sepatah kata yang dilontarkan oleh Hakai membuat Kageya penasaran, "Kau kenapa hah?"
"AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBUNUHMU, SIALAN!"
Entah rasa apa yang dirasakan oleh Kageya, dia merasa orang yang dilawannya ini bukanlah Hakai, melainkan Iblis.
"Pedang aliran petir hitam, jurus tingkat atas,
Petir Hitam Penghancur."
Duarr
Petir menyambar kearah Kageya, tapi beruntungnya Kageya sempat menyelamatkan dirinya, " *UHUK* Apa-apaan petir hitam itu?"
"HENTIKAN HAKAI!" Teriakan bu Yuri tidak didengarkan oleh Hakai
"Aku pastikan kau akan tamat Shirogami Kageya,
Dark Demon Execution Slash!"
Saat Hakai hendak melancarkan serangan akhir entah darimana, tiba-tiba Akio datang "pelindung hampa!"
tiba-tiba saja keluar suatu sihir yang mirip dengan sihir pelindung namun itu lebih kuat sehingga serangan Hakaipun tertahan, namun karena mengeluarkan serangan kelas atas, 'mana' ditubuh Hakai tak terkendali dan menyebabkan Hakai pingsan.
"akhh... tempat ini??"
__ADS_1
see u next chapter