A Doll

A Doll
Bab 1


__ADS_3

"Dimana-mana hatiku senang, di rumah senang di sekolah senang. Dimana-mana hatiku senang la la la la !"


Semua terlihat sangat gembira, para siswa SMP Pelita Makmur sedang dalam perjalanan menuju bumi perkemahan di salah satu hutan lindung yang terkenal di kota Ini.


Satu buah bus membawa sekitar 30 orang termasuk 2 orang guru dan seorang wali kelas. Kelas 9B SMP Pelita Makmur akan melakukan kemah selama 3 hari di tempat yang sudah ditentukan. Bukan hanya mereka, tapi masih ada 5 bis lagi yang masing-masing membawa murid satu kelas, kelas 9 SMP tersebut.


Tapi di tengah keseruan para murid yang tengah tak sabar menunggu sampai ke tujuan mereka sambil bernyanyi-nyanyi.


Tiba-tiba saja laju bus itu jadi tidak terkendali. Beberapa siswi langsung panik.


Pak Adi, guru bahasa Indonesia langsung berdiri dan menghampiri supir bis tersebut.


"Pak supir, ada apa ini?" tanya pak Adi.


"Pak sepertinya ban sebelah depan kempes!" jawab supir itu yang lantas menepikan bis tersebut ke tepi jalan dan mematikan mesin bus itu.


"Pak Adi ada apa?" yang Bu Erin, wali kelas 9B.


"Ban bus ini mengalami masalah Bu Erin. Tolong suruh anak-anak turun, satu persatu ya. Saya tunggu di luar sambil menertibkan anak-anak yang sudah turun dengan Pak Bagus!" kata pak Adi.


Bu Erin lantas mengangguk paham.


"Baik pak!" kata Bu Erin.


"Mia, eh Mia bangun...!"


Seorang siswi membangunkan seorang siswi lain yang sedang tertidur. Dengan membuka kelopak matanya perlahan siswi yang bernama Mia itu bangun.


"Sudah sampai ya Sil?" tanya Mia pada Sisil yang membangunkannya.


"Belum, tapi kita di suruh turun. Busnya kempes!" kata Sisil langsung memakai tas ranselnya dan menarik tangan Mia yang susah sekali di suruh bangun.


"Heh, cewek *****! gak usah banyak drama deh. Buruan turun, suka banget cari perhatian!" keluh Debby si wakil ketua kelas yang memang tidak terlalu suka dengan Mia.


"Tahu tuh, sukanya cari perhatian guru, cari perhatian Handika si ketua kelas. Cari masalah terus sama kita, geng Jelly!" keluh Candy. Teman dekat Debby dan salah satu dari empat anggota geng Jelly.

__ADS_1


"Kalian tuh kalau mau turun, ya turun aja. Gak usah rempong!" kata Sisil yang tak suka temannya terus menerus diejek dan di remehkan oleh geng Jelly.


"Mau belain dia, sudah hebat kamu. Anak beasiswa saja sok!" ujar Inez salah satu anggota geng Jelly yang merupakan anak pemimpin yayasan di sekolah mereka yang terkenal sangat kaya.


Mendengar Sisil yang membelanya malah di perlakukan seperti itu. Mia lantas bangun dan meraih tas ranselnya.


"Nih, aku sudah bangun! puas kalian. Masalah begini saja ribut!" kata Mia santai.


Mia Carmela, 14 tahun, murid kelas 9 di SMP Pelita Makmur, anak yang hanya punya seorang ibu bernama Rosmawati, sang ayah sudah meninggal sebelum Mia lahir. Ibunya yang terus bekerja keras karena memang mereka tak punya lagi saudara membuat Mia kurang perhatian, kurang ajaran dan kurang pergaulan. Dia tak pandai bertutur kata, kadang niatnya baik tapi apa yang dia lakukan salah. Hanya Sisilia Ana, 14 tahun sahabat yang juga tetangganya. Sisil juga hanya anak dari keluarga sederhana, bedanya keluarganya masih lengkap.


"Nyolot kamu ya? minta di tonjok?" tanya Bela, siswi tomboi anggota geng Jelly juga. Lebih tepatnya dia adalah tukang pukulnya geng Jelly, itu kenapa meski dia tomboi, tidak terlalu pintar, dan tidak pula kaya raya. Tapi dia di terima sebagai anggota geng Jelly oleh Debby.


"Eh siapa mau tonjok siapa? Bela! kamu ini perempuan kenapa tingkahnya kayak preman gitu sih. Sudah... sudah cepat turun. Busnya mau di perbaiki!" kata Bu Erin.


Bela masih mengepalkan tangannya dan melotot tajam pada Mia. Tapi akhirnya mereka semua turun dari bus dan berkumpul di sebuah tanah lapang untuk beristirahat sambil menunggu ban bus tersebut di ganti.


Pak Adi dan pak Bagus meminta semua orang untuk berteduh, karena cuaca memang panas. Tapi pak Adi dan pak Bagus minta agar mereka jangan pergi terlalu jauh.


Namun karena beberapa pohon di dekat tempat itu sudah di tempati orang dan tak ada yang mau berbagi dengan Mia. Maka Mia berjalan lebih jauh ke dalam hutan.


"Eh lihat tuh cewek ***** masuk ke hutan! kita kerjain yok!" ajak Candy yang memang lebih jahil dari ketiga temannya yang lain.


"Iya, aku juga pengen nonjok mukanya yang tengil itu!" kata Bela.


Inez hanya diam, dia sebenarnya tidak punya masalah dengan Mia, dia justru punya masalah sama Sisil tapi karena Mia temannya Sisil. Dia pun ikut ketiga temannya itu masuk ke hutan mencari Mia.


Brukkk


Mia terjatuh karena di dorong begitu keras. Setelah jatuh Mia berbalik dan menoleh ke arah yang mendorongnya. Matanya melotot ketika Bela memukulnya dan membuatnya tak sadarkan diri.


"Parah... sampai pingsan. Mati gak ni cewek *****?" tanya Inez.


"Gak, dia pingsan. Buang aja yuk ke hutan!" kata Debby yang memang sangat ingin Mia menghilang.


Keempatnya saling pandang, tapi mereka pun sepakat untuk membuang Mia yang pingsan ke tengah hutan.

__ADS_1


"Setelah sampai di tengah hutan, di sana ada sebuah lubang besar yang cukup dalam. Akhirnya Bela dan Debby mendorong Mia jatuh ke lubang itu.


Sambil menepuk-nepuk antara dua telapak tangannya. Debby terlihat tertawa puas.


"Mampuss kamu cewek ***** sok kecakepan!"


"Ini sih jahil paling jahil ya, seru banget!" kata Candy ikut tertawa.


Mereka lantas meninggalkan Mia dan kembali ke tempat bus di ganti ban.


Setelah beberapa lama, bus itu selesai di ganti ban. Bu Erin, pak Bagus dan pak Adi meminta anak-anak kembali ke bus.


"Handika, Debby.. di lihat teman-temannya sudah naik semua belum ya!" perintah Bu Erin dan Handika juga Debby lantas mengangguk.


Setelah tidak ada lagi yang terlihat Handika pun kembali memeriksa di dalam bus.


"Dika, aku saja yang periksa di dalam. Itu kamu belum ambil tas kamu!" kata Debby.


Tak lama Debby menemui Andika dan mengatakan semua sudah masuk ke dalam bus. Dan akhirnya karena panas dan lelah, mereka semua langsung istirahat.


Beberapa menit kemudian, Mia membuka perlahan kelopak matanya. Dia terkejut karena sudah berada di sebuah tempat yang gelap. Dan dia sama sekali tidak bisa memanjat ke atas untuk keluar dari lubang itu meskipun sudah sangat berusaha. Mia juga sudah berteriak sampai tenggorokannya sakit tapi tak ada yang mendengar.


Mia pun menangis, dia ingat ibunya. Bagaimana kalau dia mati di tempat ini. Bagaimana dengan ibunya. Mia terduduk lemas, tapi saat dia melihat ke depan. Dia melihat sebuah boneka yang sangat bagus.


Tangan Mia tergerak meraih boneka itu, tapi saat akan meriahnya sebuah ranting berduri di dekat boneka itu mengenai jari Mia dan mengeluarkan darah. Sarah itu menetes ke tubuh boneka, hingga boneka yang tadinya matanya tertutup menjadi terbuka. Tapi Mia tidak menyadarinya.


"Cantik sekali, kamu pasti juga jatuh di sini ya. Kasihan! kamu tidak sendirian sekarang!" kata Mia sambil menangis.


Tapi saat Mia memeluk boneka itu, boneka itu bergerak. Mia takut dan melemparkannya menjauh.


"Ka.. kamu...!"


Boneka yang tergelak itu lantas terbangun sendiri. Dia bahkan melayang ke arah Mia.


"Aku Naomi, darahmu telah membangkitkan ku. Mulai sekarang kamu adalah tuanku, aku akan membantumu keluar dari sini. Aku juga kan membantumu membalas ke empat orang itu!" kata boneka itu membuat Mia gemetar ketakutan.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2