
Pak Adi dan pak Bagus datang ke tenda Bu Erin dengan membawa seorang ustadz yang rumahnya tak jauh dari bumi perkemahan itu.
"Assalamualaikum!" sapa sang ustadz begitu pak Adi dan pak Bagus menunjuk ke arah Candy yang sedang ketakutan.
Candy menggerakkan mulutnya, seperti ingin menjawab salam dari ustadz Samsudin. Tapi sama sekali tidak terdengar suaranya.
Ustadz Samsudin melihat Candy dalam beberapa detik.
"Astagfirullah!" ucap ustadz Samsudin setelah melihat apa yang terjadi pada Candy dari matanya.
"Pak Adi, pak Bagus. Apakah ada yang bernama Mia?" tanya ustadz Samsudin.
Bu Erin langsung mengangguk dan berdiri.
"Ada pak ustadz, salah satu murid saya. Ada apa ya pak ustadz?" tanya Bu Erin.
"Tolong di panggilkan dulu ya pak, Bu. Ini sangat berhubungan dengan apa yang terjadi pada siswi ini, nama kamu siapa?" tanya ustadz Samsudin.
Candy lagi-lagi menggerakkan mulutnya, tapi masih tak bisa bersuara.
"Namanya Candy pak ustadz!" kata Bela mewakili Candy.
"Kenapa harus panggil Mia, pak ustadz?" tanya Inez yang mulai panik.
Ustadz Samsudin lalu menoleh ke arah Inez, tapi Inez langsung membuang wajahnya ke arah lain membuat ustadz Samsudin tidak bisa melihat pada matanya.
"Bu, bisa tolong siswa-siswi yang lain untuk keluar. Hanya bapak ibu guru saja yang di dalam tenda!" kata ustadz Samsudin.
Pak Bagas langsung mengangguk. Dia meminta yang lain keluar. Dan tak lama datanglah pak Adi bersama Mia.
"Ini Mia pak ustadz!" kata pak Adi.
Ustadz Samsudin lantas menoleh ke arah Mia.
Sayangnya ustadz Samsudin tak bisa melihat apapun karena memang Naomi menutupi segalanya. Naomi hanya membuka, apa yang seharusnya ustadz Samsudin lihat saja. Yang Naomi tidak ingin di lihat oleh ustadz Samsudin, Naomi menutupinya dari ustadz Samsudin di mata Mia.
__ADS_1
"Pak guru, Bu guru. Candy telah berbuat salah pada Mia. Dia mendorong Mia sampai jatuh ke dalam sebuah lubang di hutan, rasa bersalah Candy pada Mia yang membuatnya mengalami semua hal itu dan tak bisa bicara!" jelas ustadz Samsudin sesuai dengan apa yang dia lihat dari mata Candy dan Mia.
"Astagfirullah!" kata pak Adi sangat terkejut.
"Candy, keterlaluan sekali kamu!" kata Bu Erin yang sedih anak muridnya ada yang sangat tega berbuat seperti itu pada temannya sendiri.
Itulah alasan ustadz Samsudin meminta semua siswa lain keluar. Agar jangan ada yang tahu tentang hal ini. Akan sangat berakibat tidak baik bagi Candy, dan kalau candy dendam, maka akan sangat tidak baik pula bagi Mia.
"Astagfirullah Candy, sekarang bagaimana pak ustadz. Apa suaranya bisa kembali?" tanya pak Bagus.
Pak ustadz langsung menganggukkan kepalanya.
"Insyaallah!" jawab ustadz Samsudin.
Ustadz Samsudin kemudian melihat ke arah Candy.
"Minta maaflah pada Mia, dengan tulus!" kata ustadz Samsudin.
Bu Erin lantas menuntun Mia untuk berdiri persis di depan Candy. Lantas Bu Erin berkata.
Candy terus berusaha mengeluarkan suaranya, tapi karena hatinya memang sangat enggan meminta maaf pada Mia. Maka suara Cendy itu tak kunjung keluar. Candy hanya mengucapkan maaf, tapi sesungguhnya dia melakukan itu supaya dia dapat bicara lagi, tak ada penyesalan sama sekali di dalam hatinya.
Naomi yang meskipun berada di dalam tas ransel milik Mia di dalam tenda Mia. Tapi dia dapat melihat apa yang di lihat oleh Mia.
Naomi kesal pada Candy yang tak kunjung menyesali perbuatannya. Naomi lantas keluar dari dalam tas ransel itu. Suasana tenda sangat sepi, karena semua orang masih berkumpul di depan tenda Bu Erin untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi geng Jelly tidak ada di sana, mereka kembali ke tenda mereka.
"Gimana kalau Candy cerita semuanya ke Bu Erin? kita juga pasti kena kan?" tanya Debby yang sangat sayang kalau jabatan ketua kelasnya di copot. Dia tidak mau jauh-jauh dari Handika si ketua kelas.
"Gak mungkin, Candy tuh gak ember. Paling dia bilang gak sengaja, atau cuma iseng!" kata Inez yang masih tetap tenang.
Dan di saat mereka semua tengah ngobrol, tiba-tiba mereka mendengar sebuah teriakan dari luar tenda.
"Kebakaran... kebakaran...!"
__ADS_1
Teriak salah satu siswi yang kebetulan lewat di dekat tenda geng Jelly.
Inez yang melihat ada asap dan di dalam tenda terasa panas lantas berniat keluar, namun pintu keluarnya sudah terbakar.
Inez yang memang selalu membawa pis4u lipat pemberian papanya untuk jaga-jaga langsung menggunakan barang miliknya itu untuk merobek tenda yang belum terbakar.
Tapi apesnya bagi mereka, mereka malah keluar di salah satu parit yang di pakai untuk sanitasi.
"Iyuh!" kata Debby.
"Cepat pergi, apinya menyebar!" kata Inez.
Ketiganya lantas berlari menjauh dari tenda mereka. Sekarang semua barang mereka hangus, hanya pakaian yang melekat di tubuh mereka dan tas selempang yang selalu mereka bawa kemana-mana saja yang tersisa.
Karena semua orang juga berada di depan tenda Bu Erin tadi. Jadi mereka juga terlambat untuk membantu.
"Bagaimana bisa terbakar, siapa yang menyalakan api?" tanya Bu Dedeh wali kelas 9A.
"Tidak tahu Bu, kami berada di dalam. Apinya dari luar, itu tadi Ineke yang terik ada kebakaran!" kata Inez tak mau ada yang menyalahkan dirinya atas peristiwa ini karena dia sudah banyak rugi karena kebakaran ini.
"Ineke, coba ceritakan?" tanya Bu Dedeh.
"Tadi saya lewat Bu nih bawa ranting kering mau ke tenda kelompok saya, tiba-tiba saya lihat sudah ada api di tenda Debby dan yang lain!" kata Ineke menjelaskan.
Pak Bagus dan dan pak Adi akhirnya datang dengan anak-anak lain mencoba memadamkan api. Setelah api padam mereka memeriksanya. Tidak ada bau bensin, atau semacamnya yang bisa memicu api meluas. Tapi mereka melihat sebuah kaca yang ada di dekat pancang tenda yang terbakar.
Mereka menyimpulkan panas matahari yang menembus kaca itulah yang membuat tenda terbakar.
"Anak-anak, periksa sekitar tenda kalian. Jika ada kaca seperti ini, atau kaca apapun yang bisa menyebabkan api atau asap. Segera kumpulkan di tempat sampah yang ada di sana itu!" kata pak Bagus.
Geng Jelly saling pandang, gara-gara sebuah kaca? rasanya sangat mustahil.
Mereka masih mengira kalau pasti ada yang tidak suka dengan mereka dan sengaja melakukan semua itu. Tapi pastinya siapa, mereka akan mencari tahu hal itu.
***
__ADS_1
Bersambung...