A Doll

A Doll
Bab 6


__ADS_3

Dan pada akhirnya, geng Jelly harus meninggalkan tempat perkemahan. Tapi mereka menolak untuk ikut bus, mereka memilih ikut mobil suruhan papanya Inez yang tadinya datang untuk mengantarkan peralatan dan pakaian baru karena peralatan Inez yang lama terbakar habis bersama tenda mereka.


Dan itu cukup aneh, kebakaran itu menghanguskan tenda mereka benar-benar habis sampai menjadi abu. Tapi tenda di sebelahnya sama sekali tidak terkena api sedikitpun. Bahkan rumput di luar tenda tersebut tidak terbakar sama sekali.


Bu Erin terlihat kecewa sekali, padahal dia adalah salah satu dari panitia penyelenggara tapi dia harus menemani anak-anak kembali ke sekolah lalu memastikan mereka di jemput oleh orang tua mereka masing-masing.


Awalnya pak Bagus dan pak Adi sangat tidak mengijinkan geng Jelly pergi dengan mobil Inez. Tapi Inez malah menghubungi papanya dan papanya yang merupakan donatur sekaligus ketua yayasan sekolah itu malah marah pada pak Bagus dan pak Adi. Hingga mereka tak bisa berkata apa-apa lagi untuk melarang Inez dan geng Jelly pergi dengan mobil milik papa Inez.


Tapi sayangnya keputusan Inez yang tidak ingin bersama dengan teman-temannya yang kebanyakan memang belum mandi sore itu adalah sebuah awal dari kesalahan besarnya.


Mia yang berada di dalam bus sejak tadi mencari sesuatu yang dia rasa menghilang dari dalam tas ranselnya.


Sisil yang duduk di samping Mia langsung bertanya pada temannya itu.


"Kamu cari apa sih dari tadi Mia, kok kayaknya bingung gitu?" tanya Sisil yang ikut melihat kemana Mia mengarahkan pandangannya.


Mia yang mendengar pertanyaan Sisil pun lantas menoleh ke arah sahabatnya itu.


"Hah... tidak. Tidak ada!" kata Mia yang lantas mencoba untuk bersikap tenang dan wajar.


'Aduh, kemana perginya Naomi. Apa dia akan membuat sesuatu yang mengerikan lagi?' tanya Mia dalam hatinya.


Mia sampai berkata seperti itu, karena Naomi sendiri yang mengakui apa yang sudah dia lakukan pada geng Jelly. Cerita Naomi itu membuat Mia merasa takut sampai ketika Naomi menceritakan apa saja yang sudah Naomi lakukan pada geng Jelly. Mia benar-benar tak berhenti merinding sejak awal Naomi bercerita sampai selesai.


Naomi bercerita pada Mia, kalau dia yang sudah melukai tangan dan mencekik Candy. Naomi yang sudah membakar tenda dan Naomi juga yang sudah menarik Bela sampai seluruh punggungnya terluka.


Melihat Mia malah bengong. Sisil lantas menepuk punggung tangan temannya itu.


"Hei Mia, jangan ngelamun. Katanya di daerah sini tuh 4ngker. Kamu jangan ngelamun ya, banyak berdoa!" kata Sisil memberikan nasehat pada Mia.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Sisil, Mia pun mengangguk paham. Tapi ketika dia akan membaca doa, tiba-tiba saja dia lupa semua doa yang tadinya dia hafal di luar kepalanya. Mia tidak menyerah, dia pikir itu karena dia memang lupa saja sebentar. Seperti saat dia melupakan jawaban ujian yang sudah dia ketahui, hanya saja terlupa sepintas dari ingatan pada otaknya.


Mia semakin gemetaran ketika dia mencoba membaca Basmallah saja tidak bisa sampai selesai.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Mia yang mulai ketakutan dengan apa yang terjadi padanya.


"Kenapa Mia?" tanya Sisil.


"Sil, coba kamu baca bismillah!" kata Mia.


"Bismillahirrahmanirrahim!" ucap Sisil dengan mantap.


Mia mengikuti gerak bibir Sisil, tapi begitu dia membaca sekali lagi kalimat basmalah itu. Tetap saja, kalimat itu tidak bisa keluar dari mulutnya.


Mia sampai menangis, dia benar-benar sangat ketakutan. Kenapa dia tidak bisa mengucapkan kalimat itu padahal itu sudah dia pelajari sejak usianya tiga tahun.


Sisil yang melihat Mia seperti langsung merasa khawatir pada temannya itu. Sisil memegang tangan Mia dan mengusapnya beberapa kali.


"Mia, kamu kenapa?" tanya Sisil.


"Sil, aku tidak bisa mengucapkannya..!" jawab Mia dengan air mata yang kian deras menetes.


"Ada apa?" tanya teman sekelas mereka yang duduk di seberang barisan kursi yang di duduki Mia dan Sisil.


"Tolong panggilkan bu Erin ya!" kata Sisil pada temannya itu.


Teman Sisil yang bertanya itu lantas memanggil Bu Erin yang duduk di barisan depan. Tepat di belakang kursi pengemudi bus.


"Mia, sabar ya. Aduh gimana ini?" tanya Sisil yang panik karena bukan hanya menangis tapi Mia juga gemetaran tangan dan kakinya.


Tak lama setelah di panggil oleh teman Sisil, Bu Erin langsung menghampiri kursi yang di duduki oleh Mia dan Sisil.


"Ada apa nak? Mia kamu kenapa?" tanya Bu Erin yang langsung panik melihat Mia menangis dengan tangan dan kaki gemetaran.


"Bu, tadi Mia nyuruh saya baca bismillah. Katana dia gak bisa mengucapkan kalimat itu Bu. Pas saya baca bismillah, dia menangis dan gemetaran begini!" jelas Sisil pada Bu Erin.


"Sisil nak, kamu pindah dulu ya duduknya. T Dan tolong ambilkan minyak kayu putih di tas ibu!" kata Bu Erin pada Sisil.

__ADS_1


Sisil langsung bangun dan mengambilkan apa yang dibutuhkan oleh Bu Erin.


"Mia sayang, istighfar yok. Ikuti ibu ya nak, astagfirullahaladzim... yok bisa nak, astagfirullahaladzim!"


Bu Erin terus melafalkan kalimat istighfar sambil mengusap kepala Mia. Dan kalimat itu Bu Erin ucapkan terus menerus di telinga Mia.


Bu Erin bertambah cemas ketika dia memperhatikan, meskipun Mia berusaha keras untuk malafalkan kalimat istighfar itu. Dia tetap tidak bisa mengucapkannya.


'Astagfirullah, apa yang telah anak-anak ini lakukan. Kenapa semua jadi seperti ini, tidak wajar seperti ini?' tanya Bu Erin dalam hatinya.


"Bu, ini minyak kayu putih nya!" kata Sisil menyerahkan minyak kayu putih itu pada ni Erin.


Bu Erin hanya sendirian mengantar anak-anak itu ke sekolah. Tidak ada pak Bagas dan pak Adi. Benar-benar hanya Bu Erin dan supir mobil bus itu orang dewas4 di bus tersebut.


Bu Erin hanya bisa terus mengoleskan minyak kayu putih pada tangan, tengkuk dan kaki Mia yang gemetaran sambil terus membaca doa dan ayat-ayat pendek yang dia bisa.


Sementara itu di mobil Inez, tinggal dia dan Debby saja bersama dalam mobil itu. Bersama seorang supir dan asisten rumah tangga Inez yang ikut karena membantu membawakan barang. Sementara Candy dan Bela di bawa ke rumah sakit dekat daerah perkemahan.


"Gak asik banget sih, tahu gini mendingan jalan-jalan aja!" kata Inez kesal.


"Iya, gak nyangka bakalan jadi begini. Siapa sih yang sudah ganggu kita sebenarnya, bikin kesal saja!" sahut Debby.


Cittt


Debby dan Inez yang baru saja mengeluh sampai terkejut ketika supir Inez mengerem mendadak mobilnya itu.


"Yang bener dong pak Samsul!" pekik Inez kesal.


"Ma... maaf non. Itu di depan ada yang berdiri di tengah jalan!"


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2