A Doll

A Doll
Bab 3


__ADS_3

Keempatnya lantas saling pandang, ketiga teman Candy jelas melihat luka sayat4n di tangan Candy itu. Dan itu bukanlah main-main.


Inez langsung meminta Debby untuk mengobati Candy. Setiap kelompok memang di wajibkan untuk membawa setidaknya satu buah kotak P3K.


Sambil mengobati Candy, Debby pun bertanya pada temannya itu.


"Sepertinya apa boneka itu?" tanya Debby.


"Tidak terlalu jelas, hanya saja matanya bulat lebar dan merah. Rambutnya panjang, bajunya bagus sekali, sangat halus saat aku menariknya tadi!" kata Candy menjelaskan.


Inez yang mendengar itu lantas berasumsi kalau boneka itu mungkin saja robot yang dimiliki oleh salah atau anak kaya di sekolah dan yang tidak senang geng Jelly.


"Jangan-jangan itu kerjaan Pinky sama geng crown mereka lagi dari kelas 9A?" tanya Inez memikirkan sesuatu yang paling masuk akal.


"Nah itu masuk akal, si May kan paling pinter tuh. Mungkin aja itu robot bikinan mereka. Kita lapor aja yuk sama Bu Erin!" kata Bela menambahkan.


Mereka berempat lantas menghampiri wali kelas mereka Bu Erin. Dan mengadukan apa yang terjadi pada Candy.


"Pokonya ibu harus geledah tenda mereka, saya yakin itu robot ada di sana!" kata Bela sangat bersemangat.


"Pinky dan yang lain? mereka tidak ikut camping kan? mereka mau latihan buat ikut lomba child leaders!" kata Bu Erin.


Keempatnya lantas kembali tertegun dan terdiam.


Bu Erin lantas mendekati Candy.


"Kamu yakin kamu di serang Candy? kamu tidak berhalusinasi atau semacamnya?" tanya Bu Erin.


Candy lantas segera menggelengkan kepalanya di depan Bu Erin.


"Tidak Bu, lihat ini lukanya nyata. Bukan halusinasi!" kata Candy yang berusaha melepaskan perban yang tadi di pasang oleh Debby.


Tapi keempatnya lantas terdiam, ketika mereka melihat setelah perubahan itu dibuka bahkan tangan Candy tidak terluka sedikitpun. Tidak ada noda darah sama sekali.


Keempatnya langsung terkejut bukan main. Bu Erin juga jadi menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Kalian ini! sudah jangan bercanda. Sebaiknya kalian istirahat. 30 menit lagi kalian berkumpul di tengah perkemahan untuk di data dan di bagi tugas ya!" kata Bu Erin yang orangnya memang sangat sabar.


Geng Jelly kembali ke tenda mereka. Mereka mulai bingung dengan apa yang mereka alami.


Tapi Inez, orang yang paling tenang dan realistis dalam kelompok ini mengatakan agar semua melupakan peristiwa tadi.


"Di lupakan bagaimana?" tanya Candy yang masih ketakutan.

__ADS_1


"Ya di lupakan saja. Pasti ada yang mau ngerjain kita ini. Jangan biarkan mereka senang dengan menunjukkan rasa takut kita! sekarang kita istirahat, aku mau kasih kabar papa mama ku dulu!" kata Inez yang masuk ke dalam tenda.


Bela lantas ikut Inez masuk ke dalam tenda. Tapi saat Debby akan menyusul mereka, Candy menarik baju Debby.


"Deb, temenin aku yuk. Aku mau pipis!" kata Candy memelas.


"Ya udah sana!" kata Debby cuek.


"Temenin, aku gak berani!"


"Masih siang Candy!"


"Plis Deb!"


"Ya udah, ayok!" mereka berdua lantas pergi ke toilet portabel yang sudah di siapkan pihak sekolah.


Begitu sampai di toilet umum itu, keadaan di sana ramai sekali. Hingga Candy yang awalnya takut, mulai berkurang rasa takutnya.


Perlahan dia membuka pintu toilet itu, dan begitu dia masuk dan berjongkok. Lehernya mendadak terasa ada yang mencekik.


Candy membelalakkan matanya ketakutan. Dia meraih ke lehernya dan menemukan, merasakan ada dua pasang tangan yang mencekiknya dengan kuat. Candy merasa kesakitan, matanya sudah berair dan merah.


Candy ingin berteriak namun tidak bisa, dengan susah payah Candy berusaha menggapai pintu dengan kakinya. Nafasnya semakin tercekat, tapi kakinya sangat kesulitan saat akan menggapai ke arah pintu untuk memberitahu Debby kalau dirinya sedang di cekik oleh seseorang, atau bahkan sesuatu. Tangan itu kecil, tapi tenaganya sangat kuat.


Dok dok


"Candy, apaan sih? gak ada air di dalam?" tanya Debby.


Dok dok


'Debby tolong, tolong aku Deb!' teriak Candy dalam hatinya.


Debby yang mendengar ketukan dari dalam lantas membuka pintu toilet itu dengan paksa dari luar.


Wusshhh


Sebuah bayangan hitam langsung melesat ke arah atas toilet umum itu.


Mata Debby terbelalak, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Candy yang sudah tak sadarkan diri.


"Tolong... tolong!" Debby berteriak meminta pertolongan.


Mendengar teriakan Debby, dan melihat kondisi Candy yang pingsan dan lemas. Semua orang langsung berduyun-duyun melihat dan menolong mereka. Beberapa orang guru yang datang juga tampak terkejut.

__ADS_1


Sementara itu Mia berdiri tidak jauh dari tempat itu dengan membawa Naomi di tangannya, sepertinya menggendong dengan satu tangan. Karena bagi Mia, Naomi benar-benar ringan.


"Ha ha ha, kamu lihat itu Mia. Itu hanya permainan pembuka, setelah malam ini semuanya akan sangat serius. Benarkah Mia?" tanya Naomi tertawa senang.


Sementara Mia hanya terdiam, tatapan mata Mia kosong. Seperti bukan Mia yang mengendalikan Naomi, tapi Naomi yang mengendalikan Mia.


"Ayo kita kembali ke tenda mu Mia!" kata Naomi.


Dan Mia pun lantas berbalik lalu berjalan menuju ke tendanya.


Para guru sedang berusaha untuk membuat Candy sadar. Seorang guru yang sedikit mengerti tentang kesehatan pun menyiksa kondisi Candy.


"Kondisinya sangat lemah, nadinya sangat lambat. Sebentar aku akan ambil tabung oksigen mini di tendaku!" kata Bu Imas.


Sementara Inez dan Bela yang baru datang semakin terkejut dengan apa yang terjadi pada Candy.


"Kenapa dia?" tanya Inez pada Debby.


"Kami tadi ke toilet umum, aku dengar suara ketukan dari dalam, awalnya aku bertanya apa yang Candy butuhkan, tapi tidak ada jawaban. Kemudian ada ketukan lagi, begitu aku buka paksa pintunya. Candy sudah pingsan!" kata Debby ketakutan.


Debby lantas mendekat ke arah Inez dan berbisik pada temannya itu.


"Dan ada bayangan hitam terbang ke atas toilet!" kata Debby pelan berbisik pada Inez.


Mata Inez langsung terbuka lebar.


"Kamu tidak salah lihat?" tanya Inez dan Debby langsung menggelengkan kepalanya yakin.


Inez mulai tampak khawatir. Sementara itu para guru sudah berhasil membuat Candy sadar. Namun saat Candy sadar, suaranya tidak mau keluar. Mulutnya terus bicara tapi suaranya tak mau keluar. Candy menangis histeris karena hal itu. Ketiga temannya juga ikut panik.


"Bagaimana ini pak bagus?" tanya Bu Erin yang ikut merasa takut.


"Sepertinya ini tidak wajar Bu, aku akan coba panggilkan pemuka masyarakat atau ustadz di sini!" kata pak Bagus.


Sementara pak Adi memberikan saran pada semua murid. Agar mereka permisi atau setidaknya membaca doa dulu sebelum masuk ke toilet atau ke tempat-tempat lain di perkemahan ini.


Dan di saat semua orang sedang berkumpul untuk mendengarkan pengarahan dari para guru.


Candy yang berada di tenda Bu Erin lantas menarik tangan Bu Erin dan menggenggamnya dengan kuat. Ketika dia melihat Naomi berada di tengah barisan para murid yang sedang di berikan pengarahan. Dan tatapan Naomi menatap tajam ke arah Candy dengan kepala yang bergerak ke sana kemari sangat menakutkan.


'Tolong... tolong!' teriak Candy tapi suaranya tidak bisa keluar.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2