
Malam pun tiba, karena tenda geng Jelly dan semua barang-barangnya terbakar. Para guru akhirat menyewa tenda sederhana dan memperbolehkan mereka untuk menghubungi keluarganya untuk mengirimkan pakaian dan peralatan yang mereka perlukan.
"Parah banget, kita tidur di tenda sempit kayak gini. Siall banget sih!" keluh Debby.
"Kalau kamu gak mau tinggal di tenda ini, tinggal sana sama Bu Erin. Biar kamu satu tenda sama Candy yang sekarang jadi aneh itu!" kata Inez kesal.
Menurutnya semua ini hanya karena ketakutan Candy yang berlebihan. Sampai suasana perkemahan jadi horor. Dan akhirnya semua jadi berantakan.
Bela yang merasa Inez tak perduli pada Candy lantas berdiri dan keluar dari tenda.
"Candy memang penakut. Tapi dia selalu ngikutin apa mau kamu nez, kalau saat seperti ini kamu nyalahin dia. Kamu egois!" kata Bela.
Karena situasi yang tidak kondusif ini, geng Jelly sepertinya semakin tidak kompak.
"Maksud kamu apa? aku egois. Heh, makanya ngaca! lihat kamu, memangnya siapa kamu sampai bisa masuk geng Jelly, kalau bukan karena aku yang setuju kamu masuk geng Jelly, kamu tuh bukan siapa-siapa!" seru Inez kesal sambil berdiri di depan Bela menghadangnya yang mau keluar tenda.
Mendengar perkataan seperti itu, Bela mulai kesal. Tangannya bahkan mulai terkepal.
"Eh sudah, sudah. Kenapa malah pada ribut sih? Ini pasti maunya itu orang, kita ribut. Siapa sih, aku yakin ada seseorang di balik semua ini. Untung di perkemahan, kalau di kota. Aku sudah minta abangku buat bikin tuh orang babak belur!" kesal Debby yang berusaha memisahkan pertengkaran Bela dan Inez.
Bela tak banyak bicara, dia lantas pergi menuju tenda Bu Erin.
Sementara Debby membujuk Inez agar tenang.
"Sudah dong nez, jangan ngomong gitu sama Bela. Geng Jelly mana lengkap tanpa Candu dan Bela. Mendingan kita tengokin Candy. Kok aku masih penasaran ya, kenapa Candy sampai gak bisa ngomong?" tanya Debby.
"Kalau mau tengokin sana, tengokin sendiri. Aku mau tunggu papa aku datang bawa peralatan!" kata Inez yang lantas keluar dari dalam tenda dan menunggu papanya datang.
Debby pun ikut keluar untuk melihat keadaan Candy. Tapi baru saja akan berjalan ke arah tenda Bu Erin. Dia dikagetkan dengan suara minta tolong Bela.
__ADS_1
Debby pun berlari ke arah sumber suara yang sepertinya masuk ke dalam hutan lindung tersebut.
"Bel... Bela! kamu dimana?" teriak Debby bertanya dimana Bela berada.
Sementara Bela, sejak dia akan berjalan menuju ke tenda Bu Erin dengan marah-marah dan hati kesal pada Inez. Tiba-tiba saja ada yang menarik kakinya, membuatnya jatuh terjengkang ke belakang dengan kepala terbentur rerumputan. Bela masih beruntung, karena rerumputan tempat dia jatuh cukup tinggi dan banyak rumputnya dan bukan tanah berbatu. Kalau tidak mungkin saja kepalanya sudah boc0r.
Tak hanya terjatuh sampai terjengkang seperti itu, Bela bahkan diseret sangat cepat oleh sesuatu. Membuatnya tak bisa dengan jelas melihat siapa pelakunya dan dia hanya bisa meminta tolong karena rasa sakit di sekujur punggungnya.
Bela yang memang belajar ilmu bela diri mengangkat kepalanya agar tidak ikut terseret di rerumputan yang ternyata banyak ranting kering.
"Agkhhh... tolong... tolong... sakit, siapa kamu?" tanya Bela yang masih berusaha untuk melepaskan diri.
Tapi rasanya sangat sulit, dia bahkan mulai tidak percaya kalau yang melakukannya adalah satu orang. Karena kedua kakinya benar-benar di angkat dan di seret dengan cepat menuju ke dalam hutan lindung.
Kecepatannya sangat cepat, hingga Bela sama sekali tidak bisa bergerak untuk mencari celah agar dirinya bisa lepas dari orang yang menariknya tersebut.
Mata Bela sudah merah, rasa sakit dan perih di seluruh punggungnya membuat dirinya yakin kalau bajunya pasti sudah terkoyak dan punggungnya pasti sudah terluka.
Sampai Bela melihat ada sebuah pohon kecil, dan saat dia melewatinya Bela lantas meraih pohon itu, membuat si penarik kaki tersebut tak bisa menariknya dan melepaskannya.
Begitu Bela merasa kakinya terlepas, Bela langsung melihat ke arah bawah. Tapi tidak ada siapapun di sana.
"Sialll, pasti boneka itu lagi. Aughk, sakit sekali!"
"Bela.. Bela!"
Suara Debby memanggil Bela. Mendengar suara Debby. Bela pun berteriak memanggil Debby.
"Debby, aku di sini!" kata Bela.
__ADS_1
Debby yang mendengar suara Bela lantas berarti menghampiri ke arah sumber suara tersebut.
Betapa terkejutnya Debby melihat Bela yang sudah tak karuan bentuknya, dan dengan baju bagian belakang sobek sana sini juga mengeluarkan darah.
"Astaga Bela, apa yang terjadi padamu?" tanya Debby bingung.
"Aku di tarik, kakiku di cekal lalu di tarik. Sakit sekali, tolong bantu aku ke perkemahan!" kata Bela yang langsung di angguki oleh Debby.
Debby pun membawa Bela dengan hati-hati ke perkemahan. Sementara di atas sebuah pohon besar. Naomi sedang duduk santai dengan memainkan kedua kakinya, Naomi mengayun-ayunkan kakinya yang memakai sepatu pantofel hitam dan kaos kaki berenda berwarna pink itu.
"He he he he!" tawa khas Naomi membuat suasana hutan yang sunyi menjadi lebih mencekam.
"Itu baru permainan pembuka, yang lebih seru lagi akan segera datang. He he he he. Aku suka bermain!" ucap Naomi sambil tertawa senang.
Begitu Debby membawa Bela ke perkemahan. Dan semua guru mendengar cerita Bela dan luka parah di punggungnya. Pak Bagus dan Pak Adi langsung memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan guru lainnya.
Sementara Bu Erin menunggu ambulans datang untuk segera membawa Bela dan Candy ke rumah sakit.
"Tapi dari kelas kami gak ada yang mengalami hal-hal seperti itu pak Bagus!" kata Bu lestari wali kelas 9C.
"Benar, mungkin anak-anak Bu Erin sudah melakukan sesuatu yang tidak baik! Kalau mau pulang dan mengakhiri perkemahan, anak-anak yang lain pasti kecewa!" lanjut Pak Nando wali kelas 9D.
"Saya setuju, lagipula anak-anak kami baik-baik saja. Sebaiknya anak-anak dari kelas 9B saja yang di pulangkan. Mereka yang bermasalah! Kasihan anak-anak kami sudah membuat banyak rencana untuk perkemahan ini!" lanjut lagi Bu Lestari.
Dan setelah mendengar pendapat semua guru dan wali kelas. Akhirnya kelas 9B yang akan pulang dari perkemahan. Mungkin memang Candy dan teman-temannya sudah melakukan kesalahan.
"Gak seru banget sih, kenapa kita harus pulang?" kata Imel yang berada satu tenda dengan Sisil dan Mia.
"Iya nih, gara-gara Geng jelly nih. Mereka pasti sudah melakukan hal yang tidak benar. Dasar geng tukang cari masalah. Kalau mereka bukan anak orang-orang penting di sekolah, uh... udah aku ajak duel deh. Kesal sekali aku!" kata Tina yang juga kesal harus pulang setelah menantikan perkemahan ini sejak lama.
__ADS_1
***
Bersambung...