
Inez tampak tidak senang saat dia melihat ke arah depan mobil. Tepatnya posisinya saat ini sedang duduk kursi penumpang bagian belakang, tapi Inez dan Debby sama-sama bergerak ke tengah dan melihat ke arah depan mobil.
Dari tempatnya berada, Inez melihat seorang anak kecil dengan gaun hitam mewah berdiri di tengah jalan membelakangi mobil Inez. Dan anak perempuan tersebut terlihat sedang menari dengan gaya tarian ala spanyol. Jika ada yang tahu tarian Flamenco. Maka gadis kecil dengan rambut hitam bergaun hitam, sepatu pantofel hitam itu sedang mematikan tarian itu sepertinya.
Dia terdengar mengetuk-ngetuk sepatunya ke atas aspal dengan ketukan yang berirama.
"Apa sih anak ini? kemana juga orang tuanya. Sudah malam begini gak di awasi!" kesal Inez yang bergegas ingin turun dari mobil.
Namun saat dia akan membuka pintu mobil, pintu mobilnya terkunci otomatis.
"Pak supir, buka kunci pintu mobilnya. Itu anak harus di kasih pelajaran. Bikin perjalanan orang terganggu aja!" keluh Inez lagi.
"Non, jangan non. Biar dia pergi sendiri saja ya non. Mamang dengar di daerah ini 4ngker tempatnya non. Biar saja deh, nanti habis menari begitu, kalau dia sudah puas. Dia juga bakalan pergi non?" kata supir Inez yang tak mau ambil resiko terhadap keselamatan nona nya.
Pak supir tidak ingin sampai di marahi apalagi sampai di pecat kalau terjadi sesuatu pada Inez.
"Maaf non, tapi tolong dengarkan pak supir ya non!" kata asisten rumah tangga Inez ketakutan.
"Masih percaya saja sama yang begituan. Tahu gak bi, pak supir. Sekarang ini udah jaman milenial. Mana ada sih kayak gitu-gitu. Buka pintunya buruan. Biar aku jewer terus tarik ke pinggir jalan itu anak nakal kurang kerjaan!" Pekik Inez masih kesal.
Debby yang hanya diam saja sejak tadi, sebenarnya sedang memperhatikan gadis kecil yang sedang berdiri membelakangi mereka sambil menghentakkan sepatunya di atas aspal itu.
Dari rambutnya, pakaiannya dan sepatunya. Debby seperti pernah mendengar ciri-ciri pakaian dan anak yang ada di depan itu.
Dan ketika pak supir sudah membukakan kunci pintu mobil, Inez sudah memegang handle pintu dari dalam. Tapi saat akan menariknya, Debby buru-buru menahan tangan Inez.
"Inez, tunggu. Jangan keluar!" kata Debby yang terdengar ketakutan.
"Apa-apaan lagi sih nih orang. Kalau aku gak turun dan kasih pelajaran itu anak. Yang ada kita bakalan di sini aja gak bisa bergerak maju gak bisa mundur juga. Capek aku, mau pulang! mau tidur di kamarku yang nyaman dan kasurku yang empuk!" kata Inez menjelaskan panjang lebar sangking kesalnya.
"Jangan nez, lihat deh anak itu. Postur tubuhnya, pakaiannya. Itu kayak boneka yang kata Candy sudah celakai dia, aku takut nez. Jangan keluar ya!" pinta Debby cemas.
Tapi bukannya mendengar apa yang di katakan Debby. Inez malah menyingkirkan tangan Debby yang menahan lengannya.
__ADS_1
"Minggir, aku gak percaya ya sama omongan Candy, pakai nalar kamu deh. Mana ada boneka yang bisa mencelakai manusia. Halusinasi mereka tuh berlebihan banget tahu gak!" kata Inez masih menyangkal semua pendapat teman-temannya.
Inez tetap tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Debby. Inez tetap keluar dari dalam mobil.
"Pak supir buruan keluar juga, bantuin itu nona Inez. Kalau nanti sampai nona kenapa-napa, bisa tamat riwayat pekerjaan kita!" kata asisten rumah tangga Inez.
"Aduh si nona, di bilangin gak usah keluar juga. Ngeyel banget sih!" keluh pak supir yang kaki dan tangannya memang sudah gemetaran sejak tadi.
"Pak supir buruan, bantuin Inez!" sahut Debby dari belakang sambil bersembunyi di belakang kursi pengemudi yang diduduki oleh Pak supir.
Dengan terpaksa pak supir pun ikut turun dan kalimat dari dalam mobil. Tapi dia tidak menutup pintu, dia pikir kalau ada apa-apa, dia akan langsung kembali masuk ke dalam mobil.
Inez berjalan dengan cepat ke arah anak kecil bergaun hitam itu.
"Heh... bocil. Minggir gak kamu dari sini, iseng banget sih joget-joget gak jelas di tengah jalan!" ujar Inez dengan suara lantang.
Tapi bukannya menghiraukan apa yang di katakan oleh Inez. Gadis kecil itu justru mengacuhkan dan seperti tidak mendengar apa yang Inez katakan.
"Hei Bocil!" pekik Inez dengan nada yang begitu tinggi.
Tapi setelah Inez berteriak, gadis kecil itu lantas berhenti menari. Dia diam, benar-benar diam tak bergerak.
"Minggir!" teriak Inez lagi.
Krieeeetttt
"Aghkkkk!" Inez berteriak kencang ketika melihat gadis kecil itu menggerakkan kepalanya perlahan ke arah kebelakang. Lebih tepatnya gadis itu memutar kepalanya 360 derajat ke arah belakang tanpa membalikkan tubuhnya.
Sontak saja Inez yang melihat wajah tanpa apapun itu menjadi begitu terkejut dan berteriak.
Wajah gadis kecil itu rata, benar-benar rata. Tak adalah alis, tak ada mata, tak ada hidung dan bibir juga.
Pak supir yang juga melihat hal yang sama dengan hal mengerikan yang di lihat oleh Inez langsung menarik nonanya itu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Asisten rumah tangga Inez juga membuka pintu dan menarik Inez yang masih tertegun, tercengang, dengan wajah pucat karena ketakutan ke dalam mobil.
"Pak supir, buruan pak!" kata Denny yang ketakutan setengah mati.
Tangan dan kakinya juga gemetaran.
"Mundur pak, lewat jalan lain!" kata asisten rumah tangga Inez yang begitu panik.
Untung saja SIM pak supir bukan dapat hasil nembak. Jadi dia bisa dengan lihai mengendalikan mobilnya meskipun dalam kondisi panik seperti itu.
Mereka berbalik dan mengambil jalur lain. Sementara Naomi malah tertawa cekikikan melihat orang-orang yang di temuinya barusan ketakutan bukan main.
"He he he he... ini seru. Semakin seru. Aku suka he he he he!" ujarnya di sela tertawa cekikikan nya.
Inez masih tercengang di dalam mobil, sampai Debby menepuk bahu Inez beberapa kali.
"Nez, sadar nez!" pekik Debby.
"Hah!"
Inez baru sadar dia telah berada di dalam mobil. Inez mengusap wajahnya dengan kasar begitu dia ingat apa yang barusan dia lihat.
Kini dia baru percaya, kalau apa yang dikatakan Candy itu benar. Kejadian tidak masuk akal yang terjadi pada Bela itu juga benar.
"Apa itu?" gumamnya bingung.
Dan di tempat berbeda, Mia sudah sampai di sekolah. Bu erin segera menghubungi ibunya. Ibu Mia terkejut bukan main melihat apa yang terjadi pada anaknya.
"Astagfirullah, ini kenapa Bu?" tanya ibunya Mia yang sudah menangis ketakutan karena Mia terlihat bingung dan terus menangis.
Sementara Bu Erin bingung dengan apa yang terjadi pada Mia. Seorang wali murid lain lantas mendekati Bu Erin, Mia dan ibunya Mia.
"Kesambet kali itu Bu!" ujarnya.
__ADS_1
***
Bersambung...