A Second Life [HIASTUS]

A Second Life [HIASTUS]
Prolog


__ADS_3

"Aku ingin kamu melakukan misi ini."


David memberikan sebuah dokumen yang menyertakan seorang pemuda serta beberapa pria yang mengelilinginya.


Aku membaca isi dari dokumen tersebut secara seksama. Pada intinya, tujuan dari misi ini adalah bunuh diri bersama dengan target. Target bukanlah orang sembarangan, ia memiliki koneksi yang luar biasa pada 'Black World'. Jika dia mati, otomatis struktur pada 'Black World' akan mengalami guncangan yang sangat hebat dan itu akan menguntungkan bagi beberapa pihak.


"Baiklah, tapi jangan beritahu anak-anak itu dan berikan mereka misi yang jauh dariku," ucapku sembari menatapnya tajam.


"Baiklah, itu hal yang mudah bagiku," balasnya dengan nada sombong.


Aku pun bangkit dari posisi duduk dan mulai berjalan kearah pintu, "Jangan mengambil uangku saat aku mati." Aku mengatakan itu sebelum aku benar-benar keluar dari ruangannya.


*Brak*


...\=\=\=...


Saat ini aku sedang berada di dalam cafe bersama dengan anak-anak, mereka terlihat sangat senang dan banyak senyuman yang terukir di bibir mereka. Mereka jugalah yang membuatku bisa merasakan menjadi 'manusia' lagi. Jika di pikirkan kehidupanku bersama mereka tidak bisa dibilang singkat, tapi juga tidak bisa dibilang lama. Kami bertemu saat aku menjalani misi di Afrika, aku menemukan mereka ketika tercetusnya tembakan-tembakan yang diberikan ******* secara asal.


Mereka ada 5 orang yang sekarang berusia sekitar 19-22 tahun, 3 perempuan dan 2 laki-laki. Aku sangat menyayangi mereka sebagai anak-anak ku, lagi pula aku tidak pernah berhubungan romantis dengan seorang pun, entah itu dengan Perempuan atau Laki-laki. Ada kemungkinan aku seorang aseksual?


'Entahlah.'


Selesai dengan makan bersama, aku pun pamit untuk menjalankan misi ku yang kini mengharuskan ku terbang ke Paris.


...\=\=\=...


Paris,


20XX November 30


23.00


Sekarang aku sedang menuju ke tempat ku bermalam. Mana mungkin aku datang ke sini dan langsung membunuhnya, itu tidak mungkin kan? Aku ini hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan super atau seorang dukun.


Hari demi hari sudah ku lewati dan tanpa sadar aku sudah mengikuti target selama satu bulan penuh. Aku pun sudah memasangkan beberapa bom di tempat yang akan menjadi pertemuan dari para petinggi 'Black World' dan tentu saja target akan berada di sana.


Selain itu aku juga sudah membakar seluruh barang-barang milikku termasuk juga alat elektronik dan buku harian ku. Membersihkan sidik jari yang menempel di kamarku dan juga menghapus setiap video CCTV yang terdapat diriku juga.


"Haa~ ini akan menjadi malam tahun baru paling terang di Paris," gumamku sembari menatap sendu pantulan diriku di cermin.


...\=\=\=...


Paris,


20XX Desember 31

__ADS_1


23.00


Jalanan kota Paris sangat ramai malam ini, padahal suhu saat ini dibawah 0°C dan tetap saja semua orang keluar untuk menantikan meletusnya kembang api yang selalu menjadi pusat perhatian dari pergantian tahun.


"Untuk Paris, aku akan memberikan kembang api terbesar yang pernah kalian liat," gumamku sembari tersenyum memandang keluar jendela.


Kini mobil yang mengantarkan ku ke tempat lokasi sudah sampai dan banyak orang-orang terkemuka yang datang untuk merayakan tahun baru bersama, tentunya mereka yang terlibat dalam bisnis-bisnis gelap.


"Senior, aku turut berduka dan semoga anda tenang disana, aku akan menemui mu disana, jadi tunggu aku!" ucap No. 22 dengan nada sedih.


"Mana mungkin tenang, kita ini sudah membunuh banyak orang dan sudah seharusnya kita di tetapkan di Neraka," balasku dengan nada mengejek. "Tapi tenang, aku akan tetap menunggumu di sana."


"Ciii~ setidaknyakan berharap agar bisa masuk Surga," balasnya dan aku mengusap puncak kepalanya.


"Yayaya, sampai jumpa di akhirat!" ucapku setelah mengusap kepalanya itu.


Aku keluar dari mobil dan masuk kedalam gedung, tidak ada kendala sama sekali ketika aku memasuki gedung.


23.30


'30 menit lagi! Sepertinya semuanya juga sudah datang, aku harus mengecek seluruh bom ku, agar semua ini tidak sia-sia.'


Aku meletakkan Bom-bom milikku di tempat-tempat tak terduga, seperti di dalam toilet, di dalam AC dan di beberapa tempat lainnya.


Semuanya terkendali dan jika dipikir ulang, mungkin aku bisa saja tidak ikut mati di dalam gedung, tapi sayangnya target harus benar-benar ku pastikan mati atau bisa ku katakan adalah aku harus membunuhnya sendiri. Bom hanyalah untuk memeriahkan acara pembunuhan ku, jika aku bisa membunuh petinggi lainnya, kenapa tidak? Bukan kah begitu?


(ps: anggep aja percakapan dibawah menggunakan bahasa prancis)


"Selamat Malam semuanya! aku senang banyak undangan yang datang ke sini pada malam ini, tapi sepertinya kita harus memberi sambutan pada seorang pembunuh di sini," ucapnya sembari melirikku.


Aku pun menjadi pusat perhatian semua orang dan ada beberapa yang tertawa sinis. Satu persatu ku tatap sampai pada seorang yang sangat ku kenal selama 31 tahun terakhir kini tengah menatapku dengan tatapan jijik.


"Maaf saja Tuan Rael, rencana pembunuhanmu sudah ku ketahui dan dan dan.... apa kau mau tau apa yang lebih seru lagi???" ucap si target dengan bada riang "Bawakan itu kesini!"


setelah berkata seperti itu, seorang pria mendorong sebuah troler yang di atasnya terdapat 5 kepala yang sebulan lalu makan bersama denganku.


Murka, itulah yang dapat menggambarkanku saat ini


"Aahhh~ aku sangat suka ekspresimu yang seperti ini hahahah," ejeknya.


"Huufftt... Bagaimana kalau kita mulai permainan dariku?" ucapku sembari menatap tajam padanya.


"Uuuuu atu atut uuu gahahahahah!!" ejeknya lagi dan yang lainnya pun ikut tertawa.


*Sreett*

__ADS_1


tepat di keningnya sebuah pisau menancap dengan indah dan itu membuat suasana langsung hening dan mencekam. Yang lainnya pun mulai mengeluarkan senjata mereka, terutama handgun dan yah incaran berikutnya adalah David.


*Dor*


*Dor*


suara tembakan mulai mengalun indah dan teriakan-teriakan dari luar mulai terdengar, tapi aku tidak memperdulikan itu, aku terfokus pada targetku yang berikutnya.


*Dor*


*Dor*


*Sreett*


"Kenapa kau melakukan ini, sialan!" pekikku setelah membunuh dan memotong beberapa pengganggu.


"Kau terlalu berbahaya untukku dan aku iri kepadamu yang selalu dan selalu mendapatkan pujian dari para atasan! Padahal aku sudah bersusah payah mencapai posisiku saat ini, tapi aku tetap tidak di hargai!!!" pekiknya dengan wajah marah.


"Kau terlalu kekanakan, selamat tinggal!"


*Sreett*


Aku memenggal Kepalanya, setelah puas dengan itu. Aku berjalan ke podium dan menatap ke-5 anak-anak ku yang tidak salah apa-apa dan harus menerima akibat dari berhubungan denganku.


"Maafkan Papa, ya?" ucapku yang sudah terduduk lemas, aku merasa ada sesuatu yang meremas jantungku dan membuatku sesak.


*Drap Drap Drap*


Tak lama setelah suara langkah kaki yang banyak itu terdengar, muncullah para bantuan yang sudah memakai perlengkapan perang.


*Dor Dor Dor...*


Mereka pun langsung menembak dan aku tidak menghindar sama sekali.


*Klik*


Padam, kini seluruh kota padam dan tentu saja itu perbuatanku yang berarti sekarang sudah jam 00.00.


"HAHAHAHAHAHA!!!!! AYO KENERAKA BERSAMAKU BRENGSEK!!!!" pekikku.


*Klik*


*DBOOM*


*DUAARRRR*

__ADS_1


Ledakan itu mengakibatkan guncangan yang sangat besar dalam radius 3 kilometer dan Organisasi Gelap pun mengalami keruntuhan, itu membuat para petinggi 'Putih' langsung mengambil tindakan cepat untuk meringkus mereka dan tentu saja mereka mendapatkan data-data tersebut dari Rael tepat sehari sebelum misi bunuh diri itu dimulai.


Kematiannya akan selalu dikenang oleh para anggota organisasi 'Putih'. Walaupun organisasi itu melakukan 'Pembersihan' dengan cara membunuh, tapi mereka juga mendapatkan kenangan hangat dari Rael yang dijuluki sebagai Ice Prince. Tidak pernah terlihat tersenyum kecuali sedang bersama dengan anak-anaknya.


__ADS_2