A Second Life [HIASTUS]

A Second Life [HIASTUS]
Chapter 2: Di Rumah


__ADS_3

Sesampainya aku di rumah atau seharusnya aku bilang mansion karna bangunan ini sangatlah besar untuk dikatakan rumah?


'Tidak adakah yang menyambut kepulanganku setelah menghilang selama seminggu penuh?' bingungku.


Tanpa memperdulikan itu, aku berjalan menuju kamar ku dan mandi, karna aku sudah menghirup aroma tak sedap dari tubuhku sendiri. Aku ini pecinta kebersihan atau kalau kata anak-anak 'Papa penggila kebersihan.', jadi tingkat kekotoran tubuh ini sudah tidak bisa ditolelir lagi.


...\=\=\=...


Selepas mandi dan memakai baju, aku pun berjalan menuju dapur. Para Pelayan yang berpapasan denganku pun selalu berhenti dan menundukan sedikit kepalanya - tanda hormat.


Sesampainya aku di dapur, para pelayan dapur yang tadinya sedang beristirahat pun terkejut akan kedatanganku. Tanpa memperdulikan itu aku turun dan duduk di salah satu meja panjang yang mirip dengan meja piknik yang ada di Australia.


"A-ada apa Tuan Muda Alardo?" Tanya salah seorang pelayan yang ku ketahui bernama Nila.


"Saya lapar, berikan saya makanan yang banyak," jawabku datar.


"Ba-baik, ta-tapi bisakah anda menunggunya di ruang makan keluarga?" Pintanya.


"Memangnya kenapa di sini? Saya malas untuk berjalan lagi, kalian bisa meneruskan aktivitas kalian dan abaikan saja saya," balasku acuh.


"Ba-baik!"


Dengan canggung mereka mencoba untuk kembali ke aktivitas masing-masing. 


Beberapa menit kemudian, Nila kembali dengan membawa sebuah nampan yang berisikan beberapa makanan untukku. 


Aku pun langsung memakan makanan yang telah dihidangkannya dengan cepat, karna perutku sudah keroncongan.


Setelah makan makananku, aku kembali ke kamarku.


Author POV


Seperginya Alardo dari sana, semua pelayan langsung gempar. Karna Alardo yang dulu terkenal tidak pernah mau menghabiskan makanan, bahkan kadang ia tidak makan seharian penuh. Ia juga bukan tipikal orang yang mau masuk ketempat-tempat yang ramai, pria yang disebut-sebut sebagai anak paling menyedihkan diantara keturunan De Roux lainnya.

__ADS_1


Berita ini pun menyebar dengan cepat dan berita itu pun sudah terdengar oleh kepala keluarga De Roux yang sekarang atau bisa di bilang ayah dari Alardo, pria itu bernama Philip Seymour De Roux. Pria berumur 55 tahun dan memiliki 3 istri, istri pertamanya bernama Vienna Callista De Roux, dialah ibu dari Alardo yang sudah meninggal dunia. Istri keduanya bernama Ema Watsonis De Roux, ibu dari dua anak yang bernama Zeck De Roux dan Zhea De Roux. Istri ketiganya bernama Erina, ibu dari 3 anak yang bernama Kyra Fanzel De Roux, Kyna Lidya De Roux dan Jason Stamus De Roux.


Walaupun Alardo anak dari istri pertama, tapi umurnya jauh lebih muda dibandingkan dengan Zeck dan Jason, sedangkan Zhea terpaut 2 tahun dan tentunya Zhea lebih tua. Lalu Kyra dan Kyna, mereka lebih muda di banding dengan Alardo, mereka masih berumur 12 tahun dan mereka berdualah yang paling dekat dengan Alardo.


"Rian, katakan pada Alardo untuk datang ke ruanganku setelah makan malam, aku tau dia tidak akan makan malam bersama," perintah Philip kepada kepala pelayan sekaligus pelayan pribadinya dulu.


"Baik Tuan."


Rian pun pergi menuju kamar Alardo yang berada di pojok ruangan paling kanan di lantai 3.


*Tok tok tok*


"Siapa?" Tanya suara dari dalam yang tentunya adalah Alardo dengan nada datar.


"Saya Rian, maaf mengganggu Tuan Muda, tapi anda mendapat pesan dari Kepala Keluarga," balas Rian yang masih berada di luar.


"Masuklah dan katakan dengan singkat pesannya," saut Alardo.


Rian pun masuk dengan tenang dan melihat kamar Alardo yang biasanya sangat berantakan, kini rapih dan bersih. Bahkan tercium aroma mint dan maskulin yang menyegarkan.


"Jadi apa pesannya?" Tanya Alardo tanpa melirik sedikit pun ke Rian.


"Ah ya, maafkan saya," ucap Rian yang kembali tersadar. "Kepala Keluarga menyuruh anda ke ruangannya setelah makan malam."


"Untuk apa?" Tanya Alardo menyeritkan keningnya tanda ia sedang bingung.


"Maafkan saya Tuan Muda, saya tidak mengetahuinya," jawab Rian sembari menundukan badannya sedikit.


"Baiklah, kau boleh keluar," balas Alardo santai.


"Baik, saya undur diri."


Alardo POV

__ADS_1


Aku menyampingkan pesan tadi, karna ini masih siang dan makan malam saja sekitar jam 8 malam. Aku berfikir untuk menaikan tingkat inti manaku, lagi pula itu hanya bermeditasi, itu sangat mudah dilakukan bukan?


...\=\=\=...


Alardo melakukan penyerapan sedari siang sampai dengan tepat sebelum pelayan mengantarkan makan malamnya ke kamarnya. Selesai makan malam, tepat seperti yang di sampaikan oleh Rian, Alardo pun pergi ke ruang kerja Philip yang letaknya berada di lantai 2.


*Tok tok tok*


"Masuk!"


Alardo pun masuk kedalam dan disana menampakan seorang pria berambut cokelat yang tengah memegang sebuah dokumen.


"Ada apa Ayah memanggilku?" tanya Alardo to the point.


"Ah ternyata kamu, Al," saut Philip sembari meletakan dokumen yang tadi dia pegang. "Duduklah dulu."


Keduanya pun duduk di sofa yang saling berhadapan dan tidak jauh dari meja kerja Philip.


"Ayah ingin kamu kembali ke academy," ucap Philip dengan nada serius.


"Baiklah, tidak masalah untukku," balas Alardo dengan nada santai.


"Sungguh?" tanya Philip dengan nada tak percaya.


"Apakah harus ku ulangi?" balas Alardo sembari menatap malas.


"Ya-Yahh... Tidak perlu, Jadi kapan kamu akan pergi ke academy?"


"Minggu depan paling cepat."


"Bagus kalau begitu! Ayah senang mendengarnya."


'Yah, bagaimana pun, aku ingin tau secara langsung academy di dunia fantasy itu seperti apa,' pikir Alardo.

__ADS_1


__ADS_2