![A Second Life [HIASTUS]](https://asset.asean.biz.id/a-second-life--hiastus-.webp)
Kepala Academy bernama Aurora, tepatnya Aurora Suya Wynn Kaymin. Dia adalah wanita terkuat sepanjang sejarah, tentu saja ia berumur lebih dari 100 tahun. Itu yang tertulis di buku, namun aku rasa umurnya jauh dari angka 200 tahun
Baiklah, lupakan itu dulu. Wanita itu kini tengah menatapku, mungkin ia tahu jika ada yang membicarakan hal sensitif tentang dirinya.
...\=\=\=...
Waktu pun berlalu dengan cepat dan kini aku sedang berada di ruangan milik Kepala Academy. Sudah 15 menit aku berdiri di sini tanpa melakukan apapun, hanya menatap wanita berambut Gold yang sibuk dengan dunianya sendiri.
"Nyonya, jika sudah tidak ada kepentingan lagi, saya akan pergi," ucapku dan kini gerakannya terhenti.
Seperti sedang melakukan gerakan slow motion, kini ia menatap tajam kepadaku.
'Okey, sepertinya aku salah berbicara?'
"Buatkan saya teh," ucapnya tiba-tiba.
"Hah?"
"Saya bilang, buatkan saya teh." Ia menaikan suaranya dan menatapku kesal.
"Baik."
Aku pun membuatkannya teh di dapur dalam ruangannya. Untungnya, aku memiliki pengalaman khusus untuk membuat teh dari salah satu misi ku.
Setelah membuatkan teh, aku meletakannya di sisi yang tidak banyak tumpukan dokumen. Akan bermasalah jika tumpukan itu jatuh dan mengenai cangkir teh, bisa-bisa aku yang kena hukum.
*Sluurp*
Ia meminum teh buatanku dan terhenti. Ya, dia membuat gerakan seakan-akan tengah membeku?
"Apakah tidak cocok untuk anda?" tanyaku memberanikan diri.
"Ti-tidak, ini cocok untuk saya," jawabnya "Sebagai hukuman, setiap selesai kelas, kamu akan membuatkan teh untuk saya."
"Hukumannya berapa lama?"
"Sampai kamu lulus."
"Ba- Eh...?"
"Pergilah, sebentar lagi kelas keempat akan dimulai," usirnya.
"Ba-baik, saya permisi Nyonya."
"Ulangi dan panggil saya dengan nama kedua."
"Ha...?"
"Sedari tadi kamu cuma hah saja! Cepat lakukan saja!" serunya dengan kesal.
"Baik, Saya permisi Suya-sama...?"
"Ya! Seperti itu, mulai besok panggil saya dengan itu," ucapnya dan aku hanya bisa mengangguk.
Setelah keluar, aku hanya bisa menghela nafas berat.
'Wanita aneh.'
__ADS_1
...\=\=\=...
Suya POV
'Apakah rumor tentangnya itu tidak benar?'
Lupakan hal tak penting itu. Dibandingkan rumor yang menyebar, aku lebih tertarik pada status miliknya. Seingatku, inti mana yang dimiliki olehnya berwarna Hitam dan sekarang ia sudah memasuki Orange Solid. Itu terlalu cepat, bahkan untuk para bangsawan.
'Baiklah, mari kita ikuti perkembangan yang tidak normal miliknya.'
•
•
Di suatu tempat, ah bukan-bukan... Di Kerajaan Sanctuel, tepatnya di dalam Greja besar. Sebuah ritual tengah berlangsung, aura suci terpancarkan dari lingkaran sihir dan huruf-huruf kuno.
"Apakah ini cukup untuk membunuh Dia dan mengekang keturunan dari Diana?" tanya salah satu dari mereka yang mengenakan jubah putih dengan corak hitam berbentuk segitiga terbalik.
"Seharusnya cukup, kita hanya tinggal mengekang jiwanya agar tidak bisa berkhianat," balas yang lainnya dengan 2 corak segitiga berwarna hitam.
Tak lama setelah mereka berdiskusi, muncul seorang pria berambut pirang di tengah-tengah lingkaran sihir tersebut. Orang-orang yang ada di sana menyeringai di balik jubah mereka masing-masing.
...\=\=\=...
Alardo POV
Sudah 2 hari aku menjadi tukang teh dan karna itu aku mendapatkan title [Butler]. Efeknya lumayan sih, memberikan 10% peningkatan pada semua status jika sedang melayani seseorang.
"Al, mau kemana kamu?"
Suara tak asing itu terdengar, suara yang sudah 2 hari ini tak ku dengar. Lagi pula setiap kelas selesai, aku akan mengendap di ruangan Kepala Academy.
"Suya-sama? Maksud kamu Aurora-sama?" tanyanya.
"Yah, Kepala Academy kita."
"Bagaimana kalau kita ke sana bersama? Aku juga memiliki urusan dengannya."
"Tentu saja."
Kami pun berjalan bersama, diiringi dengan pembicaraan tentang hal pelajaran atau pun Academy. Overall tidak ada yang menarik dalam pembicaraan kami kali ini.
*Tok tok tok*
"Masuk."
Setelah suara dari dalam memperbolehkan kami masuk, Zhea pun membuka pintu dan terpampang lah wajah masam Suya-sama yang masih sibuk dengan dokumen-dokumen yang tidak ada habisnya.
'Aku turut prihatin padanya.'
Semasuknya kami, aku pun langsung memisahkan diri dari Zhea, sedangkan dirinya terlihat bingung atas tindakan ketidak sopanan ku.
•
•
"Jadi bagaimana perkembangannya?" tanya Suya tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Peningkatan peserta dari Academy kita dan itu bermasalah bagi kami," jawab Zhea dengan nada kelelahan.
"Apakah sebanyak itu?" tanya Suya mencoba memastikan kembali.
"Ini baru hari kedua dan sudah lebih dari 100 orang yang mendaftar," jawab Zhea.
"Berarti ada kemungkinan besok akan menjadi puncaknya kah?" gumam Suya.
"Kenapa tidak dibatasi saja jadwal pendaftarannya, misalnya hanya bisa sampai jam sekian dan sebelum masuk ke turnamen nasionalnya, mereka akan dipertandingkan antar siswa Academy ini."
Itu adalah usul yang keluar dari mulut Alardo, sedari tadi ia hanya sibuk dengan membereskan dapur yang ada di ruangan Suya. Entah kenapa dapur itu selalu kotor, padahal Alardo sudah membersihkannya sebelum ia tinggalkan. Bagi Alardo yang gila kebersihan, itu menjadi sebuah misteri tersendiri.
"Itu ide yang bagus. Kalau begitu, Zhea sesuai dengan usul Alardo, kita akan melakukannya dan maksimal pendaftaran sampai jam makan siang," ucapan dari Suya adalah final dan ia terlihat tidak mau tau lagi.
"Baik Aurora-sama, saya akan melaksanakannya. Saya permisi undur diri," pamit Zhea dengan nada penuh hormat, tapi sebelum dirinya keluar, ia menatap kepada Alardo, seakan-akan tengah meminta penjelasan dan hanya dibalas sebuah senyuman tipis.
"Mana teh milikku!" seru Suya dengan nada kesal, tentu saja setelah Zhea keluar dari ruang itu.
"Sebelum itu, bisakah anda menjelaskan tentang ini?!" ucapan Alardo terdengar santai namun penuh dengan tekanan.
"Ada apa dengan itu? itukan dapur!"
"Maksudnya saya, kenapa bisa selalu berantakan ketika saya ingin membuatkan anda teh lagi?!" Kini ia mengeluarkan kekesalannya, kebersihan adalah suatu hal sensitif bagi Alardo.
"Ah itu... Yah, aku mencoba untuk membuat teh atau kopi." Ketika Suya mengatakan hal itu, matanya tak bisa diam di satu tempat.
"Bisakah anda membiarkan saya saja yang menyiapkan teh? Saya akan membuatkan anda lebih banyak teh di teko agar anda lebih mudah untuk mendapatkan sebelum saya datang kemari," ucap Alardo dengan nada pasrah.
Mau bagaimana pun juga, anak-anaknya dulu lebih parah ketika pertama kali ke dapur.
"Anda bisa kan menuangkan teh dari teko?" tanya Alardo mencoba untuk mendapatkan jawaban pasti dari Suya.
"Tentu saja! Kamu pikir aku anak bayi apa?! Aku jauh lebih tua dibandingkan dirimu!" seru Suya dengan wajah yang memerah.
"Buktinya, anda tidak bisa membuat teh atau kopi."
Ucapan tajam itu seakan-akan menjadi sebuah tombak yang menusuk ke dalam hati Suya.
"Daripada itu, apakah kamu tertarik untuk mengikuti turnamen?" tanya Suya, mencoba untuk mengalihkan topik.
"Tidak, tidak tertarik sama sekali."
"Kenapa? Biasanya siswa laki-laki akan sangat tertarik dengan hal ini?" tanya Suya yang penasaran sekaligus bingung.
Tentu saja, selama hidupnya yang sudah ratusan tahun, bahkan ribuan. Ia hanya mengenal laki-laki yang selalu menginginkan kekuatan dan juga dikelilingi oleh wanita-wanita cantik.
Laki-laki yang ia kenal atau yang ia tahu selalu memiliki hasrat yang kuat untuk menang dan obsesi yang dalam akan kekuatan.
"Hidup damai dan tentram adalah mimpi saya, biasanya wanita akan cenderung lebih suka kepada pria yang kuat dan wanita itu sulit sekali untuk dimengerti, jadi saya lebih berharap untuk tinggal sendirian di pegunungan dan mati dalam keadaan tenang."
Jawaban yang tak pernah dibayangkan oleh Suya, ia bahkan hanya terdiam membisu.
"Tapi saya mengerti kok, dunia ini akan menindas orang yang lemah. Tapi bukan berarti saya harus menunjukan kekuatan yang saya miliki kan? Bukankah akan lebih baik jika musuh kita melonggarkan kewaspadaan hanya karna kita terlihat lemah? Itu akan menjadi pukulan telak untuknya."
Lagi, penjelasan yang diberikan oleh Alardo tidak biasa ia dengar atau bahkan ini adalah kali pertamanya ia mendengar tentang ini.
"Kau benar, aku cukup terkesan."
__ADS_1
"Terima kasih, tapi saya lebih terkesan jika anda tidak melakukan hal tidak perlu sampai-sampai membuat saya mengerjakan pekerjaan pelayan."
"Itukan salahmu sendiri," balas Suya dengan nada mengejek.