A Second Life [HIASTUS]

A Second Life [HIASTUS]
Chaper 1: Tubuh Baru dan System


__ADS_3

'Hampa.'


...


Aku tidak tau sekarang berada dimana, tapi satu yang ku tau, aku telah mati. Mungkinkah aku berada diakhirat? Jadi ini rasanya mati?


Aku tidak tau, kehampaan ini sedikit membuatku risih, tapi juga ada rasa nyaman.


"Apakah kamu ingin hidup?"


Tiba-tiba saja suara wanita menggema di pendengaranku.


"Tidak," balasku.


"Baiklah akan ku hi- Eh? Apa?!"


jelas sekali kalau dia terkejut dengan jawaban yang ku berikan.


"Aku tidak tertarik untuk hidup kembali," ucapku memperjelas.


"Ta-tapi kenapa?! Semua orang menginginkan kehidupan kedua tau!" serunya seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Berarti kecuali aku," balasku santai. "Yasudah, biarkan saja aku mati."


"Akan ku berikan kau kekuatan yang besar, pendamping yang banyak dan cantik-cantik! Akan ku berikan kau kekuasaan yang mutlak!" tawarnya.

__ADS_1


"Tapi itu semua tidak kekal bukan? Sudahlah, biarkan aku beristirahat," balasku.


"Kau itu tidak memiliki hasrat hidup apa?!" tanyanya dengan nada frustasi.


"Kau akan mengerti ketika melihat masa lalu ku," balasku santai.


Beberapa saat suara itu hilang entah ke mana dan itu membuat perasaan nyaman itu kembali lagi.


"Sudah ku putuskan! Kau akan ku hidupkan kembali!" ucapnya final.


"Tch, Kau ini siapa sih?!" kesalku.


"Kau bisa menganggap ku sebagai Dewi dan sampai jumpa!" balasnya dan tiba-tiba menjadi hening.


Lalu ada scene yang entah bocah itu membicarakan apa, tapi tiba-tiba saja di tangannya muncul api kecil? Rapalan?! Lalu scene terakhir adalah tubuh bocah itu terbelah menjadi 2 bagian, karna serangan... monster?!


Setelah sebuah film..? itu berakhir, sebuah cahaya yang menyilaukan pun muncul dari arah depanku dan itu memaksaku untuk menyesuaikan pencahayaan di mataku.


Ding!


[Selamat Di hidupkan kembali, Host!]


Kini suara AI itu menggema di kepalaku dan membuatku sedikit waspada.


[Host tidak perlu waspada kepada System, karna System akan selalu membantu Host untuk hidup dengan nyaman di Dunia ini!]

__ADS_1


Lagi-lagi suara itu bergema di kepalaku, tapi karna perkataanya AI atau sesuatu yang mengatakan dirinya sebagai 'System'?- pun membuatku menurunkan kewaspadaan ku.


Aku mulai menatap keseliling ku dan ini seperti hutan yang ada di dalam film tadi atau lebih tepatnya tempat kematian si bocah itu.


[Host sekarang berada di dalam tubuh seorang anak laki-laki dari keluarga bangsawan tingkat Count dan film yang Host maksud tadi adalah sebuah ingatan dari jiwa sebelumnya.]


'Dengan kata lain aku terpindah?'


[Tepat sekali!]


Lalu aku pun mencoba melihat ulang ingatan tersebut. Garis besar dari ingatan bocah ini adalah Dunia ini bernama Terra, Dunia ini terdapat sihir, monster dan lain sebagainya yang seharusnya di duniaku dulu itu hanyalah sebuah karya fiksi saja. Lalu nama ku sekarang adalah Alardo Savon Alterio De Roux, jika namaku yang sekarang dipisah dengan marga keluarga, mungkin artinya Pangeran Bintang Sederhana. Bukankah namanya sangat indah?


Selagi aku berjalan menuju rumah, aku membicarakan beberapa hal dengan system. Contohnya saja seperti system dapat menganalisis secara tepat kondisiku saat ini dan akan ditampilkan di sebuah layar transparan, system menyebutnya sebagai [Status].


Selain itu ia juga menjelaskan jika sebuah inti mana memiliki tingkatannya, dimulai dari yang terlemah adalah Hitam, Merah, Orange, Kuning, Putih dan yang paling sulit dijangkau adalah tingkat tanpa warna atau kita sebut saja sebagai Transparan?


Selain itu, terdapat Level di [Status]ku dan system menjelaskan kalau Level berfungsi meningkatkan Health Poin dengan jumlah yang cukup banyak dan meningkatkan sedikit kapasitas manaku. Bukan hanya itu saja, aku juga mendapatkan bonus poin untuk meningkatkan Strength dan sejenisnya.


System juga memiliki tempat untuk belanja, ntah itu skill, armor, pakaian, senjata dan masih banyak lagi. Namun sayangnya skill yang system punya berada di tingkat menengah keatas, sedangkan tubuh ini saja hanya sedikit mengenal apa itu sihir, karna sebelumnya ia sama sekali tidak berbakat untuk menjadi penyihir.


Maka dari itu, aku menyuruh system untuk menuntunku agar aku bisa terbiasa dengan sihir dan mana. Dari penjelasan system, mana itu mengalir seperti aliran darah dan aku harus bisa merasakannya.


"Haaa~ Aku tidak mengira akan sesulit ini," lesuh ku.


Aku mencoba merasakan aliran mana sembari berjalan, karna terlalu lama di dalam hutan dengan kemampuan yang menyedihkan adalah tindakan bodoh.

__ADS_1


__ADS_2