
"Yuta makan dulu, jangan murung terus..." ucap Sang ayah sambil menggedor pelan pintu kamar Yuta.
hening
Ya, setiap harinya seperti itu, membuat Sang ayah kewalahan sendiri, karena beliau harus dapat membagi waktu antara kerja, mengganti peran istrinya dan mengurusi kedua anaknya yang tengah murung dan yang masih bayi.
"Maafkan ayah ya Yuta? nggak bisa selamatin mama waktu melahirkan, tapi Tuhan lebih sayang mama. Maafkan ayah ya Yuta?"
Hening lagi
"Yasudah, ayah mau berangkat kerja dulu ya? ayah sudah kirim surat izin ke sekolah kamu," ujar beliau lalu berjalan menuju meja makan untuk meletakkan makanan yang beliau telah siapkan untuk anaknya.
Beliau berjalan menuju keranjang bayi dan mengangkatnya untuk dititipkan ke penitipan anak.
kenapa nggak dirumah saja? kan ada Yuta? well, karena beliau pasti tahu Yuta tidak akan keluar kamar, kecuali waktu dia benar-benar lapar.
krieet! brak!
Pintu tertutup karena ayah Na sudah keluar dari rumahnya dan berjalan menuju ke mobilnya sambil berjalan hati-hati agar tak membangunkan si kecil yang sedang dalam gendongannya.
__ADS_1
•••
srak!
terdengar bunyi sesuatu yang sungguh membuat risih dipendengatan seorang anak laki-laki yang masih betah bergelung didalam selimut itu, namun ia mencoba mengabaikannya.
srak!
suara itu terdengar lagi saat anak itu mencoba untuk menghiraukannya dan membuatnya tak tahan hingga ia bangkit dari tidurnya.
"apasih?!" gusar anak itu, ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan kearah pintu kamarnya, berniat untuk mengecek asal suara itu.
saat ia sudah memegang kenop pintu tersebut.
ia merasa ada seseorang yang memegang pundaknya dengan lembut, ia menoleh cepat dan tidak mendapati apapun.
'mungkin cuma perasaanku saja,' batinnya dan lanjut membuka pintu kamarnya, ia keluar kamar dan mengecek kearah ruang keluarga, karena suara itu begitu jelas saat ia mendekatinya.
swoosh
__ADS_1
Ia merasakan angin berhembus disekitarnya, 'aneh,' batinnya pada dirinya sendiri sambil sedikit merinding.
"Yuta..." anak kecil itu menoleh kesana-kemari, oke kali ini ia benar-benar takut.
"Yuta hadap depan," pinta entah siapa itu, Yuta hanya menurutinya dan saat menoleh betapa terkejutnya dirinya mendapati mama nya berdiri tegap dengan wajah yang masih terlihat sangaaat muda.
"M-mama...?" ucap anak itu pelan, Yuta rasanya ingin menangis kembali, dadanya terasa begitu sesak melihat mama nya berdiri dihadapannya, rasanya ia ingin memeluk erat sosok wanita itu.
ia rindu. sangat teramat.
tapi, ia takut hanya berhalusinasi dan berujung ia menangis serta mengunci diri lagi didalam kamarnya.
"hey sayang...? kenapa menangis?" tanya beliau lembut dengan mendekat kearah Yuta dan mengelus surai Yuta lembut, bisa ia rasakan tangan hangat itu mengelus surainya dengan lembut.
"Yuta... jangan nangis lagi ya sayang? mama nanti diatas nggak tenang," ucap beliau sambil menghela napas sebentar, "jaga ayah sama Hira ya? demi mama, oke? Yuta... pasti bisa!", fyi, mama Yuta telah memberikan anaknya nama jauh-jauh hari sebelum melahirkan dan.... meninggal
Yuta tanpa sadar mengangguk dan merengkuh mama nya dengan erat hingga tidak ingin melepaskan kehangatan yang Yuta rasakan kali ini, ia ingin mengingat kehangatan itu untuk terakhir kalinya, sebelum ia jatuh tak sadarkan diri diruang keluarga tersebut.
Ruang keluarga itu menjadi saksi bisu Yuta dengan janji yang ia emban dari mama nya, ia akan berusaha menjadi laki yang membanggakan kedua orangtua nya, meskipun berbeda alam.
__ADS_1
TBC?