
"Dek! Ntar abang jemput ato nggak?!" Teriak Yuta dari dalam kamarnya, dia sedang bersantai, karena sekarang kuliahnya libur sedangkan adeknya masih sekolah di SMA Mitra Bangsa.
"Gausah bang! Ntar adek bareng Mark!" Jawab Hira dengan teriakan juga, padahal mah kamar mereka hadap-hadapan, pintunya juga buka.
"Mark siape?" Tanya Yuta dengan nada yang tajam sambil menegakkan badannya dari acara santuy-menyantuy.
Hira yang tahu dengan nada itu, membalikkan badannya yang tadi membelakangi abangnya, karena sedang menyiapkan buku.
"Temen bang," Perkataan Hira terdengar meyakinkan, tapi dipendengaran Yuta seperti kebohongan.
"Pacar? Ato calon?" Gurau Yuta sambil menggoda adeknya yang sama sekali bersikap datar bak triplek.
"g."
Sebenernya Hira tau, Yuta nggak bakalan suka kalau dia pacaran sama siapapun, tapi dia selalu menggodanya, seperti "kapan punya pacar?" Atau "jomblo mulu, pacarnya mana?" Padahal dia sendiri masih jomblo, kan babik gituloh.
"Dahlah, yuk, gue mau berangkat bang, oh ya, ayah mana, ya? Nggak keliatan dari semalem," Tanya Hira sambil mengikuti abangnya ke garasi untuk mengambil motornya.
"Kan, ayah udah bilang semalem, kalau ayah mau ke luar kota, makanya tadi berangkat pagi-pagi, salah siapa nggak dengerin??" jelas Yuta panjang lebar, membuat Hira jengah
"Ya biasa kali bang, sewot amat ama adek sendiri,"
"Loh? Lo adek gue?"
"Oke, turunin gue dijalanan ntar,"
__ADS_1
"Dengan senang hati,"
"Bmst."
Selama perjalanan mereka meributkan sesuatu yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh akal, karena Yuta gamau diem-diem an mulu, berasa ngojekin katanya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai digerbang sekolah SMA Hira.
"Turun gih," Suruh Yuta
Hira mendecak sebal dengan kelakuan abangnya dari dulu.
Yuta hanya terkekeh melihat adeknya menghentak-hentakkan kakinya karena kelakuan dia, Yuta tau itu dan tambah gencar untuk menggoda adeknya, bukan incest ya? Kan Yuta sama Rin. g
•••
Brakk!!!
Pintu rumah digebrak dengan kencang oleh Si oknum yang sedang murung dan icemosi berat.
"ABAAANG!! HUEEEEEE!!!" Tangisnya pecah seketika masuk kedalam rumah dan berlari kekamar Yuta yang pemiliknya sedang terbaring dikasurnya.
Brakk!!!
"YAK!!!"
__ADS_1
"Apaansih bang! Teriak-teriak mulu," Hira memandang Yuta yang terbangun tadi, karena kaget saat Hira tadi membuka kasar pintu kamar abangnya, dengan tatapan kesal.
Yuta mau protes, tapi tidak jadi, karena melihat wajah adeknya yang murung dan seperti menahan tangisannya.
"Kenapa lagi lo, hm?" Tanya Yuta.
"T-tadi disekolah Hira nggak sengaja nabrak orang ganteng, kan Hira maluu! Hueeee," Jawab Hira yang langsung memeluk abangnya dengan pandangan mata sembabnya.
"Ya serah, sana dah! lo ganggu gue tidur aja" Yuta mengusir Hira, sedangkan Hira menangis lebih kencang dipelukan Yuta.
"Yaudah sih, biarin, besok palingan dah lupa," Ucapnya sebelum tangisan itu semakin kencang dan mengganggu tetangga sebelah.
"B-beneran?" Ujar Hira memastikan dengan wajah sembab, ingus yang keluar masuk hidungnya.
"Eww, lap dulu sana ingus lo anjr!" Yuta bergidik melihat adeknya dengan wajah seperti itu.
Hira menemukan tissue di atas meja belajar Yuta dan tanpa aba-aba langsung mengambilnya, lalu mengeluarkan ingusnya dan membuang tissue itu ditempat sampah yang ada didalam kamar Yuta, membuat Sang pemilik kamar bergidik.
'Punya adek gini amat, Ya Allah,' batin Yuta sabar dengan kelakuan adiknya yang absurd.
**TBC?
gimana? dah ngga bawang kan? xixixi, mmf yh aku nunda" nulisku🥺💔**
__ADS_1